Blognya alumni SMPN 1 Magelang; berbagi kenangan; berbagi rasa dan berbagi cerita.... OPEN to all of alumnus.
8.10.2014
Pulisi...oh..pulisi ....
From: <syauqiyahya@gmail.com>
Minggu, 10/08/2014 13:48 WIB
Polisi yang Ditangkap Karena Pungli di Comal Sempat Buang Uang Barang Bukti
Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Macet mengarah ke Comal
Semarang - Oknum polisi yang ditangkap Propam Polda Jawa Tengah karena dugaan melakukan pungli di Jembatan Comal sempat membuang barang bukti berupa uang sekitar Rp 900 ribu. Hingga saat ini sudah 10 oknum polisi anggota satlantas Polres Pemalang yang diduga melakukan aksi tersebut.
Dari informasi yang diperoleh detikcom, penangkapan oleh Tim Gabungan Propam dan Provost Polda Jateng tersebut dilakukan pada hari Sabtu (9/8/2014) kemarin sekitar pukul 00.30. Penangkapan diawali dari dua orang oknum yaitu ?Aipda TY dan Briptu W. Saat itulah Aipda TY membuang uang Rp 900 ribu dari seseorang.
Kabid Propam Polda Jateng, Kombes Pol Hendra Supriyatna saat dikonfirmasi membenarkan hal tersebut. Kemudian dari penangkapan dua oknum itu berkembang kepada delapan rekannya.
"Benar, dari dua oknum totalnya menjadi 10 oknum. Kami periksa karena melakukan pungutan liar," kata Hendra saat dihubungi melalui telepon selulernya, Minggu (10/8/2014).
Lebih lanjut, Hendra menambahkan 10 oknum tersebut terancam dengan hukuman disiplin kategori berat. Namun tidak menutup kemungkinan para oknum tersebut dihukum karena melanggar kode etik.
"Akan ada hukuman disiplin kategori berat, ditempatkan di sel khusus. Kalau dalam perkembangannya ditemukan pelanggaran kode etik, maka akan dikenakan hukuman kode etik," tegasnya.
Sementara itu ?Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Pol Alloysius Liliek Darmanto mengatakan ?masih ada kemungkinan jumlah oknum yang terlibat pungli tersebut bertambah. Karena pemeriksaan 10 oknum tersebut masih berlangsung dan juga masih memeriksa saksi-saksi termasuk sopir truk yang dimintai pungutan.
"Ini bisa saja lebih dari 10 orang karena kami juga memeriksa saksi dari sopir truk. Untuk alirannya, mereka pakai sendiri, tidak sampai menyebar," pungkasnya.
Diketahui, Jembatan Comal sisi utara atau dari arah Jakarta-Semarang sudah diperbolehkan dilewati dua arah ?untuk kendaraan kecil, sedangkan kendaraan dengan tonase lebih dari 10 ton harus memutar melewati jalur tengah dan selatan. Sementara itu, perbaikan permanen jembatan Comal sisi selatan masih terus dilakukan dan diperkirakan rampung dalam waktu 2 bulan hingga 3 bulan.
7.27.2014
Eduuunnn...Rp 325 miliar
From: <syauqiyahya@gmail.com>
Sabtu, 26 Juli 2014 | 18:02 WIB
Pemeras TKI Nikmati Rp 325 Miliar per Tahun

rno-Hatta bisa menikmati Rp 325 miliar per tahunnya. Hal itu bisa terjadi karena jumlah TKI mencapai sekitar 360.000 orang yang lalu-lalang melalui Bandara Soekarno-Hatta.
Menurut Bambang, hasil itu merupakan pemerasan yang dilakukan oknum dengan memaksa para TKI untuk menukarkan mata uang asing dengan harga yang murah, biaya transportasi, dan pengeluaran barang dari pesawat. "Jika hanya 130.000 TKI yang diperas dengan nominal Rp 2,5 juta, mereka dapat Rp 325 miliar," ujar Bambang dalam pesan pendeknya kepada Tempo, Sabtu, 26 Juli 2014.
Bambang menuturkan nilai itu merupakan putaran hasil pemerasan yang dinikmati oleh oknum TNI Angkatan Darat, anggota polisi, dan preman yang selalu menunggu para TKI.
Sebelumnya, KPK bekerja sama dengan Badan Reserse dan Kriminal Mabes Polri serta Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan melakukan inspeksi mendadak di Bandara Soekarno-Hatta pada Jumat tengah malam, 26 Juli 2014, hingga Sabtu dinihari. (Baca: KPK Sidak Bandara Soekarno-Hatta, 14 Orang Digelandang)
Tim menemukan 18 orang yang diduga pemain lama yang memeras TKI dengan berbagai modus. Di antaranya mereka terdapat anggota TNI Angkatan Darat dan polisi. (Baca: Sidak di Bandara, 4 Orang Lagi Ditangkap)
Dalam sidak itu hadir pula Ketua KPK Abraham Samad serta dua Wakil Ketua KPK: Adnan Pandu Praja dan Zulkarnain. Kepala Bareskrim Polri Inspektur Jenderal Suhardi Alius dan Direktur Utama Angkasa Pura II Tri Sunoko juga turut serta.
Menurut Tri Sunoko, pemerasan TKI yang terjadi di wilayah kerjanya itu sudah berlangsung hampir sepuluh tahun. Menurut dia, pihaknya sudah beberapa kali menindak oknum pemeras TKI. Namun mereka selalu kembali dan melakukan tidakan serupa. "Hasil sidak ini bisa menjadi bahan evaluasi dan mencari tahu titik mana yang diwaspadai untuk memberantas premanisme, calo, dan pemerasan," ujarnya.
HUSSEIN ABRI YUSUF
Powered by Telkomsel BlackBerry®
7.25.2014
ABADI
Pantura Disebut Proyek Abadi, Ini Kata PU
TEMPO.CO, Bogor - Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum Djoko Murjanto menyadari proyek jalur pantai utara (pantura) sering disebut-sebut sebagai proyek abadi. Tiap tahun menjelang Lebaran, topik perbaikan pantura selalu ramai diperbincangkan.
"Pertanyaan yang selalu dilontarkan pada saya adalah mengapa pantura jadi proyek abadi," kata Djoko pada Kamis, 12 Juni 2014. (Baca: Reportase Jalan Pantura, Jawa Timur Paling Siap)
Djoko menjelaskan semua proyek jalan sebenarnya adalah proyek abadi. Menurut Djoko, ketika suatu jalan digunakan, penanganannya harus terus-menerus dilakukan. "Jadi, tidak pantura saja. Seluruh jalan di dunia ini memang proyek abadi," ujar Djoko Murjanto.
Dia mengatakan terjadi kesalahpahaman di masyarakat karena menganggap baru ada proyek bila ada badan jalan yang terganggu. Padahal, tidak semua pekerjaan jalan dapat terlihat mata. (Baca: Lebaran, 500 Meter Jalan Pantura Diaspal per Hari)
Djoko menyebut empat jenis kegiatan yang dilakukan Bina Marga terkait perbaikan jalan. Pertama adalah pemeliharaan rutin setelah suatu jalan dikatakan mantap. Selanjutnya, setelah empat tahun akan dilakukan pemeliharaan berkala. Dua jenis kegiatan ini bisa saja tidak kentara terlihat. Sedangkan dua kegiatan lain, yakni rekonstruksi dan pembangunan jalan, adalah jenis kegiatan yang memang berpotensi mengganggu badan jalan.
Menurut Djoko, sepanjang tahun ini tak banyak pekerjaan besar yang dilakukan terkait perbaikan pantura. "Pekerjaan terbesar kami tahun ini hanya saat banjir bandang di pantura lalu," ujar Djoko.
Perbaikan jalur pantura tahun ini, menurut Djoko, masih on track. Djoko optimistis seluruh proses perbaikan akan rampung pada 28 Juni 2014 atau tepat H-30 Idul Fitri. (Baca: Ini Penyebab Kerusakan Ruas Pantura Paling Parah)
Edan benar macetnya !
From: A.Syauqi Yahya
KAMIS, 24 JULI 2014 | 21:23 WIB
Pantura Macet Parah, Jakarta-Pamanukan Butuh 8 Jam
TEMPO.CO, Jakarta - Arus mudik pada Kamis malam, 24 Juli 2014, sudah mulai mengular panjang. Rute yang melalui Pantai Utara Jawa sudah diserbu para pemudik, sehingga jalurny sudah dipenuhi kendaraan yang merayap. Bahkan rute Jakarta-Pamanukan yang saat normal bisa ditempuh dalam waktu 2,5-3 jam kini harus ditempuh dalam waktu 8 jam.
Itulah yang dialami Suriaji, pemudik asal Pamulang, yang memulai perjalanan melalui "jalur neraka" Pantura pada Kamis siang pukul 12.00 WIB dari rumahnya di Tangerang Selatan. "Saya baru bisa sampai Pamanukan pukul 20.00 WIB," katanya dengan wajah kelelahan. (Baca juga: Mangindaan: Jumat Puncak Arus Mudik)
Dia berangkat melewati jalan tol lingkar luar Jakarta atau JORR lalu masuk menuju Jalan Tol Cikampek. Dua ruas jalan tol ini sudah padat kendaraan sejak Kamis siang. Bahkan, untuk membayar tiket di pintu keluar Jalan Tol Cikopo, Cikampek, Suriaji bersama ribuan pemudik lainnya harus mengantre sepanjang 500 meter.
Lepas dari pintu Jalan Tol Cikopo, jalanan juga tak lancar. Kedaraan kembali merayap mulai Simpang Jomin sampai Pamanukan. Rata-rata kecepatan kendaraan hanya 20 kilometer per jam. "Sengsara deh," tuturnya. Dia bersyukur, seusai Pamanukan, jalanan sudah mulai sedikit lancar. (Baca juga: Jembatan Comal Bisa Dilalui Bus Kecil)
Hal serupa dialami Dono. Dia berangkat sebelum pukul 12.00 dari Jakarta Timur dan sampai Palimanan pukul 19.00 WIB. "Edan benar macetnya. Untuk keluar Jalan Tol Cikopo pun harus antre sejauh 1 kilometer," ujar Dono.
Jalur selatan juga sudah mulai dibanjiri pemudik. Tanti, pemudik dari Jakarta yang berangkat sejak pagi, baru sampai di Tasikmalaya pada sore hari. Padahal, dalam keadaan normal, Jakarta-Tasikmalaya bisa ditempuh dalam waktu 5-6 jam saja.
BS
--Saur
Pas deh buka nya :D
Suami: Puasa hari ini banyak banget godaannya yah mii!!!
Istri: Masa sih paa apa aja tuh godaannya paa???
Suami:Tadi ada cewe cantik,manis, imut, semok lagi. Kena tilang terus katanya takut pulang sendirian. Minta dianterin. Yahh papa anterlah mii pake motor. Pas naik dia meluk terus papa singkirin tangan dia. Papi masih ingat kalo lagi puasa.
Istri:Alhamdulillah!!!
Suami: Sampai di jalan turunan papi ngerem. Trus badannya nempel di pundak papi mii, papi jauhin supaya ga nempel lagi. Papi masih ingat kalo lagi puasa
Istri: Syukurlah pii!!
Suami: Di jalanan nanjak dia mau meluk tapi papi bilangin "jangan yah saya lagi puasa"
Istri: Bagus deh pii!!
Suami: Sampai di rumahnya papi di bikinin minum terus papi tolak soalnya kan lagi puasa
Istri: Ohh so sweet papi!!!
Suami: Rupanya rumahnya lagi kosong mii, orangtuanya lagi pergi. Truss papi di seret ke dalam kamarnya mii.
Istri: Jiahh tapi kamu masih ingat kalo lagi puasa kan pii
Suami: Kebetulan adzan buka puasa udah bunyi. Alhamdulillah ya mii, papi ingat dengan pesan mami "berbukalah dengan yang manis2"
Istri: KAMPRRREEEEEET!TTT!! Golok mana Golok!
╋╋ム┣┫ム╋╋ム ┣┫ム╋╋ム┣┫ム
--
--
Semangat Tebu Preman dan Bibir Terkatup
From: Boediono
Semangat Tebu Preman dan Bibir Terkatup
POSTED BY ADMINISTRATOR ⋅ 21 JULI 2014 ⋅ 31 KOMENTAR
Senin, 21 Juli 2014
Manufacturing Hope 137
Waktu saya duduk-duduk santai di bawah pohon besar bersama seluruh karyawan inti di halaman Pabrik Gula (PG) Kwala Madu, Langkat, Sumatera Utara, Jumat sore lalu, tiba-tiba angin sangat kencang menerjang kawasan itu. Debu, pasir, dan dedaunan kering ikut menimpa kami. Sebagian debu masuk hidung, mata, dan mulut yang lagi terbuka.
Omong-omong serius menjelang malam ke-21 bulan puasa sore itu terhenti seketika. Masing-masing sibuk mengucek mata, membersihkan rambut, dan meludah dari mulut yang kering. "Ini memang lagi musim angin. Angin bahorok," ujar GM PG Kwala Madu sambil gaber-gaber. Setelah angin reda, omong-omong diteruskan. Sambil waswas akan datangnya bahorok berikutnya.
Angin kencang seperti itu langsung menjadi topik "tadarus Ramadan" yang hangat di bawah pohon sore itu. Juga tentang panjangnya musim hujan di situ. Sebuah tantangan berat yang harus diatasi. Sulit sekali menanam tebu di iklim seperti itu. PG Kwala Madu selalu sulit mengejar prestasi pabrik-pabrik gula di Jawa.
"Tanahnya memang tidak cocok untuk tebu," ujar Dirut PTPN II Bhatara Moeda Nasution yang mendampingi saya. Karena itu, Belanda dulu hanya mau bikin pabrik gula di Jawa.
"Tanaman tebu memerlukan iklim yang teratur. Perlu batas yang tegas antara musim hujan dan musim kemarau dan harus ada waktu yang nyaris tanpa hujan sama sekali selama empat bulan terus-menerus," ujar Dr Aris Toharisman saat saya telepon dari bawah pohon di Langkat itu. Dr Aris adalah direktur Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) di Pasuruan, Jawa Timur.
Tapi, pabrik gula ini sudah telanjur ada. Kapasitasnya terlalu besar untuk ditutup: 4.000 tcd (ton tebu per hari). Waktu itu pemerintah Orde Baru memang berambisi untuk swasembada gula. Banyak pabrik baru didirikan. Di Sulsel 3 pabrik, di Sumut 2, dan di Kalsel 1. Yang di Sulsel didirikan di Takalar, Bone, dan Camming. Ketika tiga pabrik ini mengalami kesulitan yang panjang, orang menyebutnya terkena TBC, sesuai dengan huruf pertama nama tiga lokasi itu.
Alhamdulillah, sejak tahun lalu yang dua pabrik (TB) sudah membaik, tinggal yang C yang masih batuk-batuk. Ini karena lahan tebunya tidak cukup lagi lantaran diduduki masyarakat di awal reformasi dulu.
Tentang satu pabrik yang di Kalsel, inna lillahi wa inna ilaihi rajiun, sudah wafat. Pabriknya sudah jadi besi tua dan di atas kuburannya kini ditanam sawit. Sudah tidak bisa dihidupkan. Mayatnya pun di dalam kuburnya sudah tinggal tulang-belulang.
Sedangkan dua yang di Sumut, ya itu tadi. Jadi sumber kerugian besar yang berkepanjangan. Tapi, saya bertekad untuk tidak menutupnya. Terutama yang di Kwala Madu. Tahun lalu perbaikan manajemen sudah mulai menunjukkan hasil. Untuk pertama kali dalam 20 tahun terakhir bisa mencapai rendemen 7. Tapi, untuk lebih dari itu, harus dicari jenis tebu yang cocok.
Saya masih yakin ilmu pengetahuan yang kini sudah begitu majunya akan bisa mengatasinya. Tantangannya memang sangat besar dan banyak, tapi justru di situlah asyiknya. Ilmu pengetahuan, disiplin tinggi, dan kerja keras harus jadi solusi.
Tahun lalu saya sudah meningkatkan anggaran penelitian tebu menjadi Rp 5 miliar dari sebelumnya, selama bertahun-tahun, hanya Rp 1 miliar.
Tahun ini saya minta ditingkatkan lagi menjadi Rp 10 miliar. Ahlinya cukup memadai. Ada lima doktor di situ. Di bawah Dr Aris yang selalu lulus cum laude di tiga jenjang pendidikan tingginya. S1-nya IPB jurusan tanah; S2-nya di NSW, Australia, bidang bioteknologi; dan S3-nya di Ulm, Jerman, di bidang teknologi pangan.
Putra kelahiran Kuningan tahun 1966 ini memang baru saya terjunkan memimpin tim riset ini 2012 lalu. Intinya: harus ditemukan bibit tebu jenis "preman Medan". Jangan sekali-kali menanam tebu biasa. Jenis tebunya harus yang sekaligus tahan atas semua persoalan yang panjang ini: tahan angin (batang harus kaku), tahan hujan, tahan hama penggerek batang raksasa, tahan hama penggerek batang garis-garis, tahan penyakit daun hangus, penyakit busuk batang, penyakit pembuluh luka api, dan banyak lagi.
Tidak ada penyakit tebu yang lebih banyak daripada di Medan ini. Mengatasinya pun amat sulit. Ibarat komplikasi penyakit, obatnya harus saling bertentangan. Ini ibarat sakit gula komplikasi dengan liver. Yang satu jangan minum gula, yang satu lagi perlu banyak gula.
Tapi, sekali lagi saya masih yakin ilmu pengetahuan bisa mencarikan jalan keluar. Dr Aris sudah punya kesimpulan. "Tebunya harus dari jenis tebu liar," katanya. Yakni perkawinan antara tebu yang baik dan rumput liar sejenis gelagah. Varietas itu sudah dilahirkan di laboratorium P3GI dengan kombinasi lebih dari 20 jenis. Semuanya lagi diuji coba di Kwala Madu.
Mana di antara 20 kombinasi itu yang cocok ditanam di Medan baru akan diketahui dua bulan lagi. Kini tanaman uji coba itu baru berumur empat bulan. Kesimpulan baru bisa dibuat setelah tanaman berumur enam bulan. Semoga berkah Lailatul Qadar bisa sampai ke tanaman tebu.
Jumat-Sabtu-Minggu kemarin saya memang ke Medan, Pangkalan Susu, Langkat, Jember, Lumajang, dan Surabaya. PLTU Pangkalan Susu yang sangat besar itu, baik ukurannya (2 x 200 mw), lebih-lebih persoalannya, alhamdulillah sudah memasuki tahap uji coba. Saat saya berkunjung ke situ, turbin unit 2 sedang diuji. Beberapa jam kemudian saya mendapat laporan, turbinnya sudah berhasil diputar maksimal: 3.000 rpm. Ada harapan besar krisis listrik di Medan berakhir di 100 hari terakhir kabinet Presiden SBY.
Hari itu, setelah Jumatan di Masjid Tuan Guru Basilam, ke PG Kwala Madu, dan ke Pesantren Syekh Marbun Medan, saya langsung ke Surabaya, Jember, dan Lumajang. Di Surabaya tahun ini PT SIER (Persero) kembali menjadi tuan rumah khataman Alquran oleh 1.500 hufaz (orang-orang yang hafal Alquran 30 juz).
Di Jember saya ke PG Semboro. Pabrik gula ini tidak hanya berhasil bangkit, tapi juga bisa menghasilkan kristal terbaik. Lalu syukuran di Pesantren Bustanil Ilmu Al Gozali yang berambisi menjadi "Pondok Gontor di Timur".
Setelah Duhuran di rumah Rais Syuriah NU Jember KH Muhyiddin Abdusshomad, saya ke Lumajang untuk meninjau PG Jatiroto. Di sinilah saya harus menjawab pertanyaan sulit para petani tebu: mengapa di saat petani lagi sangat bergairah, kok gula rafinasi impor membanjiri pasar secara masif"
Saya tertegun menghadapi pertanyaan itu. Lama saya terdiam. Tidak ada kekuatan di bibir saya untuk membuka mulut. (*)
Dahlan Iskan
Menteri BUMN
Lebih lengkap simak comments nya :
HTTP://DAHLANISKAN.WORDPRESS.COM/2014/07/21/SEMANGAT-TEBU-PREMAN-DAN-BIBIR-TERKATUP/#COMMENTS
7.24.2014
Jembatan Comal Sudah Bisa Dilalui !!!
From: A.Syauqi Yahya
Kamis, 24/07/2014 08:33 WIB
Jembatan Comal Sudah Bisa Dilalui, Ganjar Pranowo: I Proud of You Team!
Elza Astari Retaduari - detikNews
Foto: twitter @ganjarpranowo
FOKUS BERITA
Amukan Gubernur Ganjar
Jakarta - Jembatan Comal mulai subuh ini, Kamis (24/7/2014), sudah mulai bisa dilalui kendaraan kecil. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo pun memberikan apresiasinya kepada seluruh tim perbaikan jembatan Comal.
Ganjar memberikan kabar gembira dengan memposting foto di akun twitternya. Foto tersebut menunjukkan para pekerja yang memperbaiki jembatan Comal bersama anggota tim lainnya mempersilahkan kendaraan melewati jembatan yang berada di Pemalang itu.
"Tim Comal saat mempersilakan melewati jembatan hasil kerja mereka! I proud of u (saya bangga dengan kalian)," caption yang ditulis Ganjar dalam postingan fotonya, Kamis (24/7/2014), sekitar pukul 07.00 WIB.
Selain itu, pria yang lahir di Karanganyar ini pun juga memposting ucapan terima kasihnya. Ganjar berterima kasih kepada sejumlah pihak atas kerja mereka yang dengan cepat dapat memperbaiki jembatan Comal yang ambles demi memperlancar arus mudik.
"Yth Pak Menteri PU, Dirjen Bina Marga. Polri, TNI, Kemenhub, Dinas Bina Marga dan Dishub Pemprov, Bupati Pemalang cs, seluruh pekerja jembatan Comal: terima kasih!," ucap Ganjar.
--