Aku lagi wae mudhun saka bis kota, ing terminal
Soekarno-Hatta, Tidar. Sak klebatan ing pesawangan
esuk mruput kang linambaran pedut iku ana
tangan kang ngawe-awe ing sabrang dalan gedhe,
tak deleng rada suwe, jebul kancaku SMP kang
jeneng Silvi, kenya ayu kang nate dadi rebutan
ketua kelasku lan guru olahraga nganti antem-
anteman nanging loro-lorone ora entuk, amarga
Silvi milih kekancan cedhak karo aku kang kalem
lan tansah oyak-oyakan rangking karo slirane. Karo
dheweke aku wis 17 tahun ora ketemu. Bungahe
atiku, kembang sekolahan kang wis rong windhu
luwih ora ketemu jebul ora lali marang rupaku
kang nganti umur telung puluh siji iki tetep 'imut'
kayadene bocah SMA jare. (ora apa ta ngalem
awake dhewe?)
Silvi: "Slamet, to?" (dheweke takon nalika aku wis
ana ngarepe)
Aku: "Lho...kleru, jenengku Paidi..." (aku masang
rai rada kuciwa jebule Silvi ora kelingan jenengku,
malah nyeluk aku Slamet, kaya jeneng Kebo bule
ing kraton Surakarta wae hehehe). Bener kandhane
kanca-kancaku, iki sing jenenge Kelingan Rasane
Ora Kelingan Jenenge... Ora luwih saka limang
menit, lambene kang tansah teles lan mbranang
tanpa gincu iku wis lanyah nyebut jenengku kaya
17 tahun kepungkur, malah banjur nglanyahi
lambeku nganti pira-pira nggauta awakku melu
kaku lan keju... [carita fisik eh fiksi]
Blognya alumni SMPN 1 Magelang; berbagi kenangan; berbagi rasa dan berbagi cerita.... OPEN to all of alumnus.
6.12.2014
Fiksi
ojo
Ojo patah semangat yo lur sing uwes yo uwes , ibarat e sego gudeg ra nganggo endok
- Jomblo rasah bingung. Sing pacaran ki yo akeh sing endinge mung digantung, sing LDR juga akeh sing atine akhire mung ngglundung...
- Wingi jare sengit ning saiki disanding, kui ibarat menggok tanpo riting, resiko ngguling...
- Kemecer naksir ra wani nyatakne cinta, ha yo mung ibarat printer tanpo tinta ..
- Lha wong lawan jenis we iseh akeh sing gelem kepincut, mosok mung goro2 ditolak pisan njuk nyalimu kisut!
- Kesetiaan cen sok imposible. Katresnan sing kenthel, sok mung kalah karo isi dompet sing kandel...
- Makane mantan ojo mung siji.... Dadi nek kelingan kenangan ki ben iso gonta-ganti, mayan nggo variasi
nanti Amien Rais tambah bingung ngomong apa?
From: <syauqiyahya@gmail.com>
Sabtu, 28 September 2013 | 23:27 WIB
Risma
Putu Setia
Nama lengkapnya Tri Rismaharini. Jabatannya Wali Kota Surabaya. Tapi saya belum pernah bertatap muka dengan dia. Saya bukan arek Suroboyo. Saya hanya kagum melihat wajah Surabaya yang lebih bersih. Tamannya asri, sungainya jernih, jika dibandingkan dengan di masa lalu. Dari warga, saya tahu, inilah prestasi Wali Kota Risma.
Kebetulan saya ingin menulis seorang tokoh. Tapi kenapa Risma, yang tak membuat berita pekan-pekan ini? Kenapa bukan Ruhut Sitompul, yang gegap-gempita di berbagai media? Saya harus mengatakan dengan jujur, saya ingin menulis sesuatu yang serius untuk bangsa ini, bukan menulis lelucon. Saya ingin mengajak pembaca untuk optimistis melihat Indonesia ke depan, bukan larut dalam perseteruan para badut. Risma adalah pilihannya.
Risma adalah pejabat publik yang tahu apa yang harus dikerjakannya. Ia tidak memasang baliho mengajak rakyatnya menyukseskan program pembangunan--seperti para bupati di daerah saya. Ia langsung blusukan. Tatkala hujan, dia meninjau sungai apakah ada pintu air yang tersumbat. Pada saat jalanan kotor, dia memunguti sampah untuk memotivasi warga merayakan kebersihan. Karena itu, saya tak heran jika Risma langsung memberhentikan ajudannya yang merasa jijik tatkala disuruh memungut sampah.
Risma apa adanya. Dia pernah ikut mengatur lalu lintas saat Surabaya terkena macet parah. Padahal para pejabat di pusat masuk ke busway jika ada macet atau dikawal polisi bersirene mengaung. Wanita ini ingin menjadikan Surabaya kota yang bebas pelacuran--suatu langkah terpuji meski itu sangat berat. Caranya tidak dengan mengerahkan Satpol PP yang membawa pentungan. Tidak pula dengan mengerahkan preman yang mengamuk sambil berteriak "hancurkan maksiat..., hancurkan maksiat...". Risma datang berdialog dengan para pelacur, memberi motivasi bahwa pekerjaan itu tidak di jalan yang benar dan generasi yang tumbuh di lokalisasi bukanlah generasi yang sehat. Setelah ia memberikan motivasi itu, para pelacur diberi keterampilan, dan lokalisasi pun ditutup. Tempat prostitusi yang sudah ditutup adalah Bangunsari, Dupaksari, dan Klakah Rejo. Target akhir tahun ini, lokalisasi Dolly--dan para "pemburu seks" tahu bagaimana kejayaan Dolly.
Prestasi Risma itu diakui, bukan hanya oleh masyarakat, tetapi juga para elite politik. Dan itu membuat Risma diharap-harap mau "dinaikkan statusnya", misalnya, mau dijadikan calon Gubernur Jawa Timur, bahkan belakangan mau diundang konvensi calon presiden oleh sebuah partai. Risma menolak tegas. Alasannya sederhana, khas rakyat. Jabatan itu "diatur oleh Yang Di Atas", bukan dikejar-kejar. Tentu ini menarik, pada saat jabatan presiden "dikejar" oleh banyak orang, bahkan ada yang sampai mengemis-ngemis minta dipilih sambil menebar berbagai impian. Risma tak pernah mikir jabatan itu.
Masih banyak lagi prestasi yang membuat saya tertarik menulis soal Risma, sekaligus yang membuat saya punya harapan kepada negeri ini di tengah karut-marut politik golongan. Ketika teman saya tahu bahwa saya akan menulis soal Risma, dia langsung heran: "Kenapa tidak menulis Joko Widodo, yang kini diharap-harap menjadi presiden?" Saya sempat terkekeh: "Saya kan hobi main biliar. Mengincar bola tertentu bisa dengan menyundulkan bola lain." Ah, teman saya pura-pura bego. Coba semua kata Risma dalam tulisan ini diganti Jokowi, esensinya tetap sama. Kalau terang-terangan saya memuji Jokowi, nanti Amien Rais tambah bingung ngomong apa. Bangsa ini punya pemimpin yang bermutu dan membuat kita optimistis. Risma atau Jokowi pemimpin yang akan dilahirkan semesta.
SBY tidak Terima disebut tidak Serius Berantas Korupsi
From: Suhardono
Tjahjo tetep WEDI
From: A.Syauqi Yahya
Timses Jokowi-JK Berharap SBY Tetap Netral
KOMPAS.com/Indra Akuntono
Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Tjahjo Kumolo
Kamis, 12 Juni 2014 | 12:57 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Tim Pemenangan pasangan nomor urut 2 Joko Widodo dan Jusuf Kalla, Tjahjo Kumolo mengapresiasi keputusan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono yang memilih netral dalam pemilu presiden 2014. Meskipun Presiden RI itu membebaskan kader pertainya untuk memihak kubu mana pun, Tjahjo berharap SBY tetap netral.
"Kami apresiasi SBY yang ambil posisi netral walaupun anak buahnya bebas pilih ke mana. Kami harap terus begitu," kata Tjahjo dalam diskusi di Jakarta, Kamis (12/6/2014).
Menurut Tjahjo, sikap netral SBY akan berdampak pada struktur pemerintahan dan suasana yang dibangun menjelang pilpres. SBY sebagai seorang presiden diharapkan dapat membangun suasana pemilu yang kondusif dan adil.
"Kalau SBY netral kami optimis struktur pemerintahan akan netral. Pilpres ini juga tanggung jawab SBY sebagai presiden yang akan mengakhiri masa jabatannya, harus bangun suasana adil," ujarnya.
Tjahjo menambahkan, lawan pilpres kubu Jokowi-JK bukanlah pasangan rivalnya, Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa melainkan kekuasaan yang tidak netral dan kecurangan yang dirancang untuk kepentingan kelompok tertentu.
Penulis: Ambaranie Nadia Kemala Movanita
Editor: I Made Asdhiana
--
HOS Tjokroaminoto
From: Boediono
Raden Mas Hadji Oemar Said Tjokroaminoto dalam Perspektif Kebangsaan dan Ideologis
M. Raditio Utomo
12 Jun 2014 | 09:11
Sumber: HOS Tjokroaminoto/Kompasiana (kompas.com)
"sosialisme yang wajib dituntut dan dilakukan oleh umat Islam, dan bukan sosialisme yang lain, melainkan sosialisme yang berdasar kepada azas-azas Islam belaka."
- Tjokroaminoto
Pak Tjokro dan Sarekat Islam
Raden Mas Hadji Oemar Said Tjokroaminoto, atau kerap disapa Pak Tjokro oleh orang pada masanya, adalah seorang yang lahir di Madiun pada 16 Agustus 1882. Ia merupakan seorang yang berasal dari keluarga bangsawan, kakeknya menjabat sebagai Regent (Bupati) Ponorogo. Karenanya, sedari awal, pendidikan Pak Tjokro sudah diarahkan untuk menjadi pegawai negeri, kendati itu bukanlah keinginannya. Ia menyelesaikan pendidikan di OSVIA (Opleidingschool Voor Inlandsche Ambtenaren), sekolah bagi para calon administratur bumiputera, sebelum akhirnya bekerja sebagai pegawai negeri di daerah Ngawi. Ia hanya bertahan selama 7 tahun sebagai pegawai negeri. Dalam pengembaraannya, ia sampai di Surabaya lalu kembali melanjutkan pendidikan di BAS (Burgerlijke Avond School) pada jurusan mesin, kemudian bekerja di pabrik gula. Sembari bekerja di pabrik gula, pada 1907, ia juga mulai menulis di harian Bintang Soerabaja.
Sejarah mengenal Pak Tjokro sebagai pemimpin SI (Sarekat Islam) yang paling fenomenal. Namun, banyak orang belum tahu bahwa SI hanyalah bentuk yang lebih lanjut dari sebelumnya yang merupakan SDI (Sarekat Dagang Islam) yang berdiri pada tahun 1905. SDI didirikan oleh H. Samanhoedi yang awalnya didedikasikan sebagai koperasi pedagang batik Surakarta. Tujuan didirikannya SDI adalah untuk memperkuat pemberdayaan pedagang lokal, khususnya batik. Seiring perkembangannya, SDI akhirnya berubah nama menjadi SI yang bermarkas pusat di Surabaya. Salah satu tokoh pemrakarsanya adalah Pak Tjokro. Namun demikian, pemerintah kolonial melalui Gubernur Jendral Alexander Idenburg tidak bersedia memberikan status badan hukum kepada pengurus pusat SI. Idenburg hanya bersedia memberikan status badan hukum kepada pengurus-pengurus SI lokal. Penulis menduga bahwa pemerintah kolonial sudah bisa mengendus pergerakan SI, sehingga tidak memberikan status badan hukum kepada pengurus pusat SI sebagai langkah mengerdilkan organisasi tersebut. Namun demikian, akhirnya pada 1915, Centraal Sarekat Islam (CSI) dideklarasikan melalui kongres ke-3 SI (yang juga Kongres Nasional CSI Ke-1) dengan Pak Tjokro sebagai pemimpinnya. Kongres tersebut juga dianggap sebagai tonggak pertama penggunaan istilah "Nasional" dalam sejarah Indonesia, yang akhirnya terlupakan dan tergilas oleh PNI (Perserikatan Nasional Indonesia) oleh Bung Karno yang kemudian tercatat dalam sejarah sebagai pelopor istilah "Nasional".
Bapak dari Bapak Bangsa
Pak Tjokro juga dikenal sebagai bapak ideologis dari banyak tokoh pergerakan Indonesia, diantaranya Soekarno, Abikusno, Semaoen, Alimin, Muso, Agus Salim, KH. Mas Mansyur, Kartosoewirjo, dan masih banyak lagi. Dari banyak tokoh tersebut tiga diantaranya merupakan tokoh penting dalam sejarah pergerakan nasional: Soekarno, Semaoen, dan Kartosoewirjo. Meskipun berasal dari satu bapak yang sama, dalam perjalanannya ketiga orang tersebut justru saling menikam dan menghabisi secara ideologis. Hal ini bisa terjadi karena sedari awal Pak Tjokro sudah menyadari adanya pluralitas dan kemajemukan bangsa Indonesia, karenanya pula, Pak Tjokro tidak pernah bersikap ekslusif meskipun dirinya sendiri lebih dekat dengan Islam sebagai ideologi. Semaoen, dengan dukungan jaringan Komintern (Komunis Internasional) yang anti-pan islamis yang diusung oleh Pak Tjokro, akhirnya berhasil mengkooptasi kaum muda beberapa SI lokal untuk berubah haluan menjadi Komunisme yang kemudian mendeklarasikan SI Merah yang juga merupakan embrio dari Partai Komunis Indonesia. Hingga akhirnya, sang bapak memecat Semaoen dari keanggotaan SI, dan Semaon pun lebih leluasa mengembangkan jaring-jaring pengaruh komunismenya. Meskipun, banyak kalangan menilai langkah Pak Tjokro tersebut sudah terlambat dan seharusnya dilakukan jauh sebelum SI Merah berkembang. Sedangkan, Kartosoewirjo merupakan salah satu pimpinan PSII (Partai Sjarikat Islam Indonesia) semasa penjajahan, namun, kemudian memimpin pemberontakan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia). Pun, mendeklarasikan NII (Negara Islam Indonesia) pada 1 Agustus 1949.
Kisah Soekarno tak jauh berbeda. Soekarno sendiri merupakan anak didik yang paling digemari oleh Pak Tjokro. Dalam beberapa catatan sejarah, tak jarang Soekarno menirukan gaya orasi Pak Tjokro di depan cermin saat malam, hingga kawan-kawan seperguruannya semisal Darsono dan Alimin menertawainya. Namun, gaya itulah yang ternyata membuat Soekarno populer dalam hal orasi. Berapi-api, pemilihan kata yang elok, dan gesture yang tegas adalah beberapa hal dari gaya orasi Pak Tjokro yang kemudian menyelinap ke dalam Soekarno yang kemudian membesarkan nama Soekarno sendiri. Hingga akhirnya, Soekarno yang memenangkan pertempuran ideologis itu dengan memberangus Pemberontakan Madiun yang menyebabkan tertembak matinya Muso. Juga, pemberantasan Pemberontakan DI/TII yang berhasil memejahijaukan Kartosoewirjo hingga akhirnya divonis hukuman mati dan dieksekusi. Ada empat ajaran pokok Pak Tjokro pula yang terus dipegang Soekarno kelak hingga memimpin negeri ini, keempat ajaran pokok itu ialah,
1.Islam adalah agama yang mengajarkan ide-ide demokrasi.
2.Islam merupakan dasar pokok bagi pendidikan moral dan inlektual.
3.Pemerintah Hindia-Belanda tidak boleh ikut campur dalam bidang agama
dan tidak membuat diskriminasi atas agama-agama yang ada di Indonesia.
4.Rakyat harus diberi kesempatan berpartisipasi dalam politik.
Dalam kiprah politiknya, Soekarno kerap mengewejantahkan empat ajaran pokok Bung Tjokro itu, salah satu tafsirannya sebagai sekulerisme, "Tidak perlunya negara mengatur persoalan agama dan agama mengatur persoalan negara. Sebab meskipun agama dipisahkan dari negara, tidak berarti agama akan dikesampingkan dalam kehidupan kenegaraan. Juga tidak mungkin keputusan-keputusan politik negara akan bertentangan dengan prinsip-prinsip agama yang dianut masyarakat, apabila lembaga parlemen yang mengeluarkan keputusan-keputusan itu beranggotakan orang-orang yang yakin akan kebenaran ajaran agamanya."
Gagasan Sosialisme-Islam Pak Tjokro
"Islam dan Sosialisme" adalah salah satu manifesto Pak Tjokro yang paling fundamental yang menjelaskan hubungan Islam dengan Sosialisme, dasar-dasar historis atas Islam yang sosialis, dan penjelasan penolakannya atas Marxisme dan Kapitalise, serta mengapa Sosialisme-Islam layak untuk Indonesia. Buku tersebut diterbitkan pada tahun 1924, di kala isme-isme yang ada sedang digandrungi pelajar-pelajar Indonesia. Kehadiran buku "Islam dan Sosialisme" menawarkan sebuah alternatif baru di luar isme-isme yang masuk dari dunia barat, seperti Komunisme, Liberalisme, Kapitalisme, dan Islamisme itu sendiri.
"Islam dan Sosialisme" dibuka dengan tulisan, "sosialisme yang wajib dituntut dan dilakukan oleh umat Islam, dan bukan sosialisme yang lain, melainkan sosialisme yang berdasar kepada azas-azas Islam belaka." Pak Tjokro berpendapat bahwa Sosialisme yang digagas dalam Islam dibangun di atas kemajuan budi pekerti rakyat. Lebih lanjut lagi, Pak Tjokro mengatakan bahwa Islam dengan tegas mengharamkan riba', yang oleh Marx disebut nilai lebih, dengan demikian jelas pulalah bahwa Islam menentang Kapitalisme. Pak Tjokro juga memberikan ilustrasi lain tentang bagaimana Islam menentang Kapitalisme dan Islam kompatibel dengan Sosialisme, yaitu dalam konsep dasar muamalah Islam, dimana Islam mengingatkan akan celaka orang yang mengumpulkan harta untuk kesia-siaan. Jadi dalam sistem muamalah Islam, praktek yang mengarah pada penimbunan atau penumpukan modal dan barang adalah dilarang. Demikian juga Islam melarang praktek riba karena dianggap benih kapitalisme. Pak Tjokro kemudian menyimpulkan dua prinsip utama dalam Islam, yaitu Kedermawanan Islami dan Persaudaraan Islam.
Sebuah Tanggapan
Dari beberapa ulasan, yang bertebaran di dalam jaringan internet, mengenai Pak Tjokro, penulis mengetahui bahwa Pak Tjokro merupakan pribadi dengan pemahaman yang luas dalam hal dunia pemikiran dan merupakan seorang yang open minded. Hal tersebut tercermin dari bagaimana pada akhirnya murid-murid Pak Tjokro memiliki fokus ideologi yang beragam, sebut saja Nasionalis Soekarno dan Komunis Semaoen. Namun, ada sebuah sifat Pak Tjokro yang ditengarai menjadi salah satu sebab meluasnya perpecahan SI, yakni keinginan Pak Tjokro untuk menyenangkan semua pihak dan berdiri di atas semua golongan. Dari berbagai ulasan mengenai "Islam dan Sosialisme" pula, penulis menyimpulkan bahwa Pak Tjokro sebagai seorang Islam belum mempunyai pemahaman yang mendalam terkait Islam itu sendiri. Lemahnya pemahaman Islam Pak Tjokro dapat dideteksi dari kurang tergalinya prinsip "doa orang yang tertindas akan lebih dikabulkan", dalam Al-Qashash:5 misalnya, "Dan kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas (mustadhafin atau dhu'afa) di bumi dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi bumi". Hal ini membuat gagasan Pak Tjokro terasa kentang (kena tanggung) dan parsial. Padahal, gambar besar yang ditawarkan Pak Tjokro sudah cukup baik dan cukup menyentuh praksis. Kendati demikian, perlu diakui bahwa Pak Tjokro terlambat menyebarkan virus gagasan Islam-Sosialisnya, Semaoen melalui SI Merah lebih cepat menyebarkan gagasan-gagasan Komunismenya dan ternyata kompatibel dengan situasi dan kondisi rakyat saat itu yang notabene tertindas oleh mata rantai kolonialisme Belanda dan feodalisme kaum priyayi.
Salah satu hal yang juga bisa diambil sebagai teladan dari Pak Tjokro adalah bunuh diri kelas yang beliau lakukan. Di awal tulisan ini, diulas bahwa Pak Tjokro merupakan seorang keturunan priyayi dengan kakek seorang regent. Dengan fasilitas demikian, bukan hal yang mustahil jika Pak Tjokro bisa mendapat pendidikan yang baik, juga bukan tidak mungkin jika Pak Tjokro bisa meraih posisi yang baik sebagai Pangreh Praja. Seandainya saja Pak Tjokro lebih memilih menjadi pengabdi kolonialis, mungkin tidak mustahil Soekarno tidak memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Bahkan Soekarno sendiri berkata, "Andaikata Tjokroaminoto masih hidup, tentulah bukan saya yang menjadi presiden, melainkan dia. Saya ini tidak ada apa-apanya dibanding dia."
Bahan Acuan: http://tjokroaminoto.wordpress.com/> 26/01/2014, 15.03 WIB
Dibaca : 109 kali
Berkarya Dengan Mata Batin
From: "A.Syauqi Yahya"
Kamis, 17/04/2014
Berkarya Dengan Mata Batin, Jalaluddin Rumi Hasilkan Syair nan Abadi (09:58 WIB)
"Ia adalah penyair yang menyiarkan kebahagiaan dan cinta," kata Brad Gooch, penulis biografi Rumi, seperti dilansir pada BBC (15/04/2014). "Karyanya muncul saat ia harus menghadapi perpisahan dengan sahabatnya, Shams. Tapi juga dari cinta pada Sang Sumber Ciptaan, dan pandangannya dalam menghadapi kematian."
Pesan dari penyair besar dan tokoh sufi, Rumi, seperti terus muncul dan berkomunikasi dengan manusia hingga kini. Di mana beberapa abad telah berlalu sejak kematiannya. Salah satu pemikirannya yang paling terkenal adalah kata-kata : "Di luar ide dari perilaku benar dan salah, ada sebuah lapangan. Aku akan menemui di sana."
Menurut Gooch, penulis biografi Rumi yang telah menjelajah ke tempat-tempat Rumi menghabiskan hidupnya, ada banyak misteri dalam sosok Rumi.
"Syairnya sangat provokatif dan bisa dimunculkan dalam beragam konteks waktu. Terutama saat kita sudah memahami tradisi sufi, dan mengerti makna ekstase dan penyatuan juga kekuatan dari syair," kata Anne Waldman, pendiri Jack Kerouac School of Disembodied Poetics di Naropa University.
"Melalui bentangan waktu, tempat dan budaya, mengartikulasikan syair dari Rumi, membuat kita merasa hidup," kata Lee Briccetti, Direktur Eksekutif Poets House, juga sponsor di National Library untuk seri Rumi. Menurut Bricetti, Rumi membantu kita mencari cinta dan ekstase dalam keseharian di hidup kita.
Pujian lain bagi karya-karya Rumi datang dari Coleman Barks, penerjemah dari teks buatan Rumi ke bahasa Inggris. "Ia memiliki sebuah imajinasi yang segar. Memunculkan perasaan yang sangat dalam. Ia juga memiliki selera humor dan permainan dengan kebijaksanaan," kata Barks.
Pada tahun 1976, seorang penyair bernama Robert Bly melihat naskah terjemahan dari karya Rumi, ia pun mengatakan, "Sajak ini harus segera dilepaskan dari sangkarnya."
Akhirnya hingga kini, kedalaman Rumi dalam mata batinnya yang ia tuangkan menjelma jadi buku-buku besar yang populer hingga saat ini. Tak hanya di Timur Tengah, tapi juga di Amerika Serikat dan di seluruh dunia. Beragam teks Rumi pun menjadi perhatian dan studi menarik bagi berbagai pihak untuk menyimpannya, mengorganisirnya dan menerjemahkannya ke dalam banyak bahasa.
(ass/utw)