Blognya alumni SMPN 1 Magelang; berbagi kenangan; berbagi rasa dan berbagi cerita.... OPEN to all of alumnus.
6.03.2014
Kesalahan di Masyarakat dalam Memilih Imam Sholat
From: Boediono
Kesalahan di Masyarakat dalam Memilih Imam Sholat
Hampir di beberapa kampung yang saya temui kebanyakan yang ditunjuk sebagai imam sholat ialah yang lebih sepuh (tua) umurnya. Padahal jika kita kembali kepada ilmu fiqih, usia itu menjadi patokan yang terakhir. Ada beberapa kriteria yang lain sebelum itu, sebagaimana disampaikan oleh Ustad Hasyim.
Sebaiknya yang pertama dituntut menjadi imam adalah yang afshah (lebih fasih) bacaannya. Makhorijul hurufnya dan ilmu tajwidnya.
Setelah itu jika sama-sama fasih maka yang dipilih ialah yang lebih wara' (hati-hati). Dalam artian lebih menghindari sesuatu yang subhat (meninggalkan sesuatu yang tidak jelas hukumnya, antara halal dan haram)
Jika sama-sama wara'maka yang dicari ialah yang pengetahuan ilmu fiqihnya lebh banyak. Jika sama-sama ahli dalam ilmu fiqihnya maka cara terakhir yang digunakan, yaitu siapa yang lebih tua umurnya. Itulah yang dipilih. Berarti sudah jelas, yang diutamakan ialah kefasihannya.
Tetapi kenyataan dan kebanyakan di masyarakat itu terbalik. Bacaannya mau belepotan, ngerti ilmu fiqih nggak, tidak menjaga diri, yag penting umurnya sudah tua. Inilah penyimpangan yang bagi saya sangat besar, jika dibiarkan dapat merusak ibadah sholat.
Saya pernah punya pengalaman. Waktu itu bulan ramadhan, saya ikut salah seorang teman dan menginap di kampungnya (namanya dirahasiakan) selama sepuluh hari. Selama itu pula saya ikut sholat berjamaah di mesjid yang diimami oleh sesepuh kampung yang bacaannya saya katakan sangat buruk (makharij al-huruf dan tajwidnya kebanyakan rusak).
Saya sudah berusaha ngobrol dengan kelurga dan kerabat, bahkan ustadz. Kata mereka sangat sulit untuk menasehati dan merubahnya.
Dibaca : 661 kali
Sumber : Kompasiana
salam,
DioN
Telkom Indonesia(R)
--
Addinu huwa al-aqlu,laa diina liman laa aqla lahu - Agama adalah akal, tidak ada agama bagi orang yang yang tidak berakal
Mengantisipasi Luka -- Siapkan diri untuk menjadi pemenang kedua
From: dewanto
"BERMAINLAH dalam permainan, tetapi jangan main-main. Mainlah dengan sungguh-sungguh, tetapi permainan jangan dipersungguh. Kesungguhan permainan terletak dalam ketidaksungguhannya, sehingga permainan yang dipersungguh tidaklah sungguh lagi." (N Driyarkara)
MEREKA yang sedang berkompetisi dalam pemilihan umum presiden, pada bulan Juli, hendaknya mencamkan betul apa yang pernah dikemukakan oleh salah seorang perintis pendidikan filsafat di Indonesia ini.
Ya, pemilihan presiden mendatang adalah sebagian dari suatu permainan: permainan demokrasi. Dalam permainan ini, kita diajak untuk ikut dalam aturan, mengikuti apa kata wasit, dan boleh berbuat sejauh dimungkinkan dan tidak melanggar hukum. Tujuan utamanya adalah untuk menang, tetapi jangan lupa permainan ini juga melibatkan simpati, pilihan, dan dukungan dari banyak pihak lain.
Polarisasi antarpendukung
Bagaimanapun, akhirnya nanti, permainan harus menghasilkan pemenang. Siapa pun dia. Namun, yang patut diingat di sini adalah bahwa pada akhirnya demokrasi merupakan suatu permainan, di mana permainan tidaklah yang mendominasi dalam kehidupan kita. Masih banyak sektor kehidupan kita yang bisa kita jalani di luar permainan itu. Kita tetap harus hidup dan menjalani kehidupan dengan atau tanpa permainan.
Hal ini penulis sampaikan karena penulis merasa kondisi yang sekarang berjalan ini sudah tidak lagi memiliki semangat bermain. Semangat yang lebih mengemuka saat ini adalah semangat permusuhan, semangat menyingkirkan lawan, dengan segala cara. Dalam banyak hal, kita merasakan ada polarisasi besar antara mereka yang mendukung Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan para pendukung Joko Widodo-Jusuf Kalla.
Pertarungan menuju pemilu presiden bulan Juli semakin hari semakin tajam. Kampanye hitam dilancarkan berbagai pihak kepada lawannya. Seolah tak akan puas hanya dengan mencecar salah satu kelemahan lawan, tetapi sebisa mungkin banyak hal dilakukan untuk menjatuhkan reputasi dan kepercayaan masyarakat kepada sang lawan.
Di sini media berperan besar juga untuk ikut terus memanaskan situasi (media ikut terpolarisasi antara dua kubu tersebut dan membuat pihak netral jadi seolah minoritas). Belum lagi jika kita menengok apa yang terjadi di media sosial, di mana serangan demi serangan dilakukan kepada pihak lawan secara sistematis. Rekayasa, bantahan, serangan tiap hari muncul menyerang pihak lawan.
Situasi semacam ini mudah tergelincir untuk menghasilkan konflik yang lebih terbuka dan mudah mengundang konflik yang menggunakan kekerasan. Konflik sendiri pada dasarnya hal yang alami, tetapi konflik yang menggunakan kekerasan menunjukkan tidak adanya lagi kemauan mendiskusikan perbedaan dalam konflik secara elegan.
Semua pihak tentu ingin memenangkan permainan. Semua pihak tentu ingin unggul dalam pertarungan. Tetapi, siapa yang siap jika pihaknya gagal, kalah, atau perolehan suaranya lebih kecil daripada lawan?
Bersiap untuk kalah juga merupakan bagian dari permainan. Tak mungkin muncul pemenang kembar, kecuali jika sistemnya memungkinkan itu. Tetapi, permainan adalah permainan, di mana jika permainan saat ini usai, masih ada permainan kali lain.
Hal ini perlu ditegaskan. Penulis khawatir jika polarisasi ini berkepanjangan akan menghasilkan luka dalam diri pihak yang kalah dan akan membuatnya jadi gelap mata dan tak lagi berpikir rasional. Konflik yang makin meruncing ini dikhawatirkan membuat banyak pihak lebih siap untuk jadi pemenang pertama ketimbang pemenang kedua. Jika ada pihak yang merasa saat ini di atas angin, ia akan sulit menerima kekalahan dan memungkinkan ia mencari jalan lain untuk mengatasi frustrasinya.
Anomali demokratisasi
Lepas dari pemilu saat ini yang memang sangat brutal (calon anggota DPR yang bertarung suara persis dengan siapa pun yang ada dalam daftar caleg, politik uang yang bertebaran, media partisan yang sewenang-wenang menjajah ruang publik, pelanggaran pemilu yang kerap tak ditindaklanjuti), kita toh diingatkan untuk melihatnya dalam perspektif yang lebih luas. Bagaimanapun, Indonesia masih terus menuju arah pematangan demokrasi dalam dirinya.
Waktu 16 tahun, atau dua windu, masih belum cukup menghasilkan demokrasi yang lebih tertata secara institusi. Anomali-anomali menuju demokratisasi masih terus berlangsung.
Kita tidak ingin demokrasi mundur ke belakang dan menjadikan kita—sebagai bangsa— kembali ke zaman barbar, di mana kekuatan fisik untuk menghancurkan dijunjung tinggi dan membuat mereka yang berbeda pendapat dilibas, disingkirkan, tak diberi ruang, dan lain-lain. Kita berharap mereka yang sedang bertarung ini siap untuk juga menerima kekalahan secara sportif, menunjukkan diri sebagai seorang negarawan yang telah berkompetisi politik secara sehat, dan mau mengakui keunggulan lawan. Pada akhirnya, semua proses politik yang kita lakukan ini adalah untuk menghasilkan Indonesia yang jaya, Indonesia yang sejahtera. Untuk itu, kita semua—dari pihak mana pun kita berasal—dipanggil untuk berkarya bagi bangsa.
Sudah terlalu banyak luka yang kita miliki sebagai bangsa. Ada baiknya kita tak lagi menambah luka bagi negeri berpenduduk keempat terbesar di dunia ini, juga negeri yang memiliki luas wilayah terbesar keempat sedunia. Kita harus berkontribusi pada dunia sebesar jumlah penduduk dan luas wilayah kita. Pekerjaan rumah kita sebagai bangsa masih banyak. Oleh karena itu, karena permainan ini menjelang usai, siapkan diri untuk menjadi pemenang kedua sehingga tak mengorbankan rakyat dan bangsa ini dengan amarah atau luka yang berasal dari sikap tak bisa menerima kekalahan.[]
Opini Kompas
03 Juni 2014
Oleh
IGNATIUS HARYANTO ( @ignharyanto ), Peneliti Media di LSPP, Magister Filsafat dari STF Driyarkara
~~~~~~~~~~~~~
Risma: Dolly tak Ditutup, Tapi Diubah Wajahnya
Senin, 02/06/2014 20:45 WIB
Resty Armenia - detikNews
Jakarta - Dalam pertemuannya dengan Menteri Sosial, Walikota Surabaya, Tri Rismaharini menegaskan, pemerintah kota Surabaya akan mencoba mengalihkan profesi para pekerja di kawasan lokalisasi Dolly. Hal tersebut rupanya pernah dilakukan pemkot Surabaya terhadap kawasan eks lokalisasi Dupak Bangunsari.
"Dolly bukan ditutup, melainkan mengalihkan profesi para pekerjanya. Seperti yang sudah kami lakukan di kawasan Dupak Bangunsari," tutur Risma di gedung Kemensos, Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat, Senin (2/6/2014).
Eks Lokalisasi Dupak Bangunsari yang masih berada di Surabaya telah ditutup dan dialihkan menjadi sentra produksi makanan tahun lalu, rupanya membuahkan hasil yang manis. Para eks PSK yang dulunya menghuni kawasan Dupak Bangunsari saat ini telah beralih profesi menjadi pedagang makanan olahan yang menuai omset yang fantastis setiap bulannya. Rata-rata setiap pedagang produksi makanan olahan ini meraup keuntungan hingga Rp 10 juta
Rencananya, para pekerja di Gang Dolly seperti para PSK, penjual miras, penjual kondom, dan lainnya akan dialihkan profesinya ke sektor pekerjaan lain yang berbasis industri rumah tangga.
"Bisa dialihkan ke penjualan telur asin, bawang goreng, dan lain-lain. Di Dupak sudah tumbuh hingga 10 industri rumah tangga yang memproduksi batik," jelasnya.
Untuk mencegah kembalinya PSK ke pekerjaan lamanya, Pemkot Surabaya juga melakukan berbagai upaya. Mulai dari sweeping kota secara rutin, memberikan bantuan modal, hingga membeli bangunan bekas wisma lokalisasi.
"Ada 10 unit bekas penginapan dan wisma di Gang Dolly yang ditawarkan kepada Pemkot. Rencananya akan kami ubah menjadi broadband learning center, perpustakaan, lapangan futsal, taman, dan ruang publik yang lain," tutup Risma.
Untuk usaha penutupan Gang Dolly ini, Pemkot Surabaya mengaku tak berjuang sendiri. Kemensos memberikan bantuan yang digunakan untuk uang saku para PSK, sedangkan dari Gubernur Jatim memberikan bantuan untuk para mucikari. Sedangkan Pemkot Surabaya sendiri fokus kepada rekondisi, seperti pengalihan profesi, pemberian infrastruktur, dan peralatan untuk usaha.
6.02.2014
The Politics of Kissing Hands
From: dewanto
The Politics of Kissing Hands
Oleh Muhammad Ainun Nadjib
30 April 2014
Esai
Seorang pembaca harian ini dari Bogor, yang tulus hatinya dan tegak pikirannya, yang bersahaja hidupnya maupun sangat serius hajinya — sejak beberapa bulan yang lalu menuntut saya agar menuliskan lewat rubrik ini suatu masalah yang ia sodorkan kepada saya melalui surat. Masalah yang baginya amat sangat penting, dan alhamdulillah bagi saya juga amat sangat penting.
Lebih alhamdulillah lagi karena Rasulullah Muhammad saw, juga sangat concern terhadap soal ini, terbukti lewat banyaknya sabda beliau yang khusus mempermasalahkannya. Juga bagi Allah swt sendiri — sepengetahuan saya — soal ini juga termasuk tema primer dan prinsipil yang harus diurus oleh hamba-hambaNya secara murni dan konsekuen.
Mustahil kalau bagi Allah masalah ini tergolong sekunder. Hal mengenai siapa yang dihormati dan siapa yang menghormati, telah ia informasikan acuan dasar akhlaq atau moralitasnya. Allah tidak memerintahkan agar seorang bapak atau ibu merunduk di depan anak-anaknya, melainkan anak-anak yang dengan prinsip birrul walidain wajib menghormati bapak-ibu mereka.
Bukan karena iseng-iseng saja Allah menciptakan adegan di mana ia memerintahkan para malaikat agar bersujud kepada Adam. Episode ini tidak bisa diubah misalnya dengan meletakkan iblis sebagai aktor yang disembah sementara Adam mensujudinya. Menurut salah satu logika tafsir, begitu satu malaikat menolak menyembah Adam, turun derajat atau kualitas malaikat itu — dari "cahaya" menjadi "api". Ilmu bahasa Alquran kemudian juga berkembang mengacu pada kasus ini, di mana nur (cahaya) selalu dipakai untuk menggambarkan kemuliaan di akhirat, sementara nar (api, neraka) digunakan sebagai simbul dari kehinaan dan kesengsaraan.
Padahal nur dan nar berasal dari komposisi huruf dan rumpun kosakata yang sama.
Iblis ogah menyembah Adam karena alasan feodalisme dan alasan penolakan terhadap regenerasi. Alasan feodalnya, atau bahasa simbolisasi Qur'aniyahnya bernama takabur (gemedhe, sok lebih hebat), karena Iblis merasa dirinya terbuat dari material atau dzat yang lebih tinggi, halus, kualitatif, dan lebih mulia dibanding Adam yang hanya sedikit lebih tinggi dibanding keramik yang sama-sama terbuat dari tanah liat. Padahal Allah sudah menetapkan bahwa Adam itu ahsanu taqwin (sebaik-baik ciptaan), karena manusia dianugerahi "cakrawala" (kemungkinan), sementara malaikat atau iblis hanya memiliki "tembok statis" (kepastian) untuk baik atau kepastian untuk buruk. Manusia yang mengolah dirinya dalam kebenaran akan berkualitas mengungguli malaikat, sementara manusia yang memperosokkan diri dalam kesesatan akan berderajat lebih rendah dibanding iblis dan setan.
Sedangkan alasan "penolakan terhadap sunnah regenerasi" — maksudnya adalah ketidaksediaan iblis untuk menerima kepemimpinan manusia atas alam semesta. Bagi iblis manusia itu "anak kemarin sore" kok mau sok memimpin.
Emangnya dia sudah pernah ikut penataran P-4 atau memiliki sertifikat Pekan Kepemimpinan HMI atau PMII! Kok berani-beraninya menjadi khalifah! Apakah manusia sudah punya pengalaman dan jam kerja kepemimpinan, sehingga berani sombong mencalonkan diri atau tenang-tenang saja ketika diputuskan oleh Allah untuk menjadi pemimpin?
Demikianlah, karena hakekat eksistensi manusia adalah "pengembaraan ke cakrawala kemungkinan" — maka ia bisa tiba pada ruang, waktu dan posisi untuk berhak dihormati atau justru wajib menghormati.
Para nabi, rasul, dan auliya' sukses memposisikan diri untuk dihormati oleh para malaikat, ditemani oleh makhluk-mahkluk rohaniah itu ke manapun mereka pergi.
Sementara banyak manusia lain, misalnya Gendheng Pamungkas, sengaja atau tak sengaja melakukan mengembaraan untuk memposisikan diri agar justru menghormati iblis. Bahkan kita semua ini sesungguhnya diam-diam memiliki dimensi-dimensi nilai empirik yang membuat kita layak menghormati iblis — berkat suksesnya rekruitmen dan mobilisasi mereka atas kita-kita yang hina ini.
Kaum ulama juga terdiri atas manusia-manusia biasa yang menempuh cakrawala. Mereka bisa tiba di suatu maqam tinggi, suatu istiqamah, suatu tempat berdiri nilai — yang membuat mereka dihormati oleh ummatnya, dihormati oleh umara, didatangi oleh pejabat gubernur, menteri, dan presiden. Namun bisa juga kaum ulama tiba pada suatu derajat yang tidak mengandung kualitas istiqamah apa-apa, tidak memiliki cahaya kemuliaan sebagai golongan yang 'alim — sehingga justru mereka dalam tatanan struktural keduniaan justru berderajat untuk selalu sowan kepada umara.
Lebih mengasyikkan lagi kerena sangat banyak ulama, keulamaan, dan kelembagaan ulama yang legitimasinya berasal dari umara. Derajat mereka sangat rendah, dan tak berkurang kerendahannya meskipun ditutup-tutupi dengan seribu retorika dunia modern mengenai partnership antara ulama-umara atau dengan dalih-dalih dan alibi-alibi apapun.
Ulama-ulama jenis ini keadaannya sangat mengenaskan hati. Mereka selalu mengikatkan tangannya pada borgol kekuasaan. Membungkukkan punggungnya di hadapan penguasa dunia, bahkan tidak berkeberatan sama sekali untuk mencium punggung tangan sang penguasa. Di zaman terang dahulu kala terdapat banyak cerita mengenai 'kesombongan' ulama yang tak mau dipanggil penguasa, karena derajat ulama bukanlah ditimbali atau didhawuhi oleh penguasa, melainkan dihormati dan dibutuhkan oleh penguasa. Di zaman bebendhu sekarang ini, banyak ulama bukan saja akan sangat senang kalau dipanggil menghadap ke istana penguasa, tapi bahkan selalu mencari jalan, lobi dan channel bagaimana bisa menghadap penguasa.
Sowan ulama kepada umara adalah sebuah mainstream bahasa kolaborasi terhadap kekuasaan. Sowan adalah pernyataan kesetiaan politik ulama kepada umara. Ulama yang membungkuk dan mencium tangan penguasa adalah simbolisasi dari tidak hidupnya etos zuhud di kalangan ulama.
Sowan mencerminkan ketergantungan kaum ulama kepada kekuasaan, keamanan politik praktis, dan mungkin juga jatah-jatah ekonomi — meskipun sekedar arisan naik haji atau dibikinkan satu unit gedung pesantren.
Yang paling salah dari episode-episode sejarah semacam ini adalah Anda-anda yang pusing kepala gara-gara tetap saja meyakini bahwa mereka adalah ulama.
Pernah dimuat di Keranjang Sampah Harian Umum Republika.
Pemprov DKI sangat menghormati warga
From: suhardono_ar
"Saya Tinggal di Sini Lebih Lama dari Umur Kamu, Hok"

Minggu, 1 Juni 2014 | 13:17 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com -- Pelaksana tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menyadari bahwa masih banyak warga Jakarta penghuni bantaran sungai dan bantaran waduk yang enggan untuk dipindah ke rumah susun. Dia menilai, keengganan warga tersebut disebabkan karena mereka sudah terlalu lama tinggal di kawasan tersebut.
"Saya tahu mungkin bapak-bapak dan ibu-ibu ada yang sudah lama tinggal di pinggir sungai. Ada yang bilang, 'Saya tinggal di sini lebih lama dari umur kamu, Hok'," katanya saat acara peluncuran HUT ke-487 Kota Jakarta yang dilaksanakan di Jembatan Marto, Kebon Kosong, Kemayoran, Jakarta Pusat, Minggu (1/6/2014).
Meski demikian, Basuki mengatakan bahwa penertiban yang dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bukan bermaksud untuk merendahkan warga, justru dia menilai Pemprov DKI sangat menghormati warga.
Oleh karena itu, Pemprov DKI bermaksud menyediakan lahan tempat tinggal yang dinilainya jauh lebih layak dibanding harus tinggal di bantaran sungai dan bantaran waduk.
Selain itu, Basuki juga mengungkapkan bahwa Pemprov DKI saat ini tengah berencana membangun ruang terbuka hijau di tengah sejumlah permukiman padat. Karena itu, dia mengimbau warga yang memiliki lahan yang relatif luas agar bersedia melepas dan menjualnya ke Pemprov DKI.
"Nanti tamannya bisa dipakai buat olahraga. Sekarang kan sewa gedung olahraga sudah mahal. Yang datang kebanyakan orang-orang yang pakai mobil. Orang kampung jadi ngiri. Karena itu, orang di kampung perlu disediakan lahan untuk olahraga juga," tuturnya.
"Tapi tamannya nanti dibangun di tempat yang tidak bisa dilalui mobil, supaya lahannya tidak disalahgunakan untuk tempat parkiran," tambahnya kemudian.
6.01.2014
Dolly
From: <syauqiyahya@gmail.com>

Minggu, 01 Juni 2014 | 00:42 WIB
Dolly
Putu Setia
Mari lupakan sejenak soal capres-cawapres. Meski segera memasuki masa kampanye, urusan copras-capres yang riuh selayaknya diselingi urusan lain. Saya tawarkan Dolly. Bukan kisah Dolly Parton dan juga tak menelusuri Tante Dolly yang mewariskan Gang Dolly itu. Ini cerita tebak-tebakan apakah upaya Ibu Tri Rismaharini berhasil menutup lokalisasi Dolly.
Gang Dolly begitu populer. Lokalisasi yang berada di Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Surabaya, Jawa Timur, ini akan ditutup oleh Wali Kota Surabaya Risma pada 19 Juni nanti, 10 hari sebelum memasuki bulan suci Ramadan. Apakah Risma, wali kota dengan seabrek penghargaan, berhasil menutup lokalisasi terbesar di Asia Tenggara itu? Apa pun hasilnya, ini berita penting, sepenting berita Piala Dunia di Brasil, dan jauh lebih penting dari kampanye capres yang bikin bodoh rakyat itu.
Bisnis esek-esek di Dolly dilayani lebih dari seribu wanita pelacur. Mau angka lebih pasti, ini catatan bulan lalu: ada 1.187 pelacur dengan 311 muncikari. Angka itu melonjak dibanding akhir 2012 sebesar 1.022 pelacur dan 292 muncikari. Jadi, pertumbuhannya meyakinkan setiap tahun. Wali kota sebelum Risma gagal terus menutup Dolly. Wali kota Bambang Dwi Hartono, misalnya, hanya berhasil menahan pertumbuhan Dolly dengan membatasi jumlah pelacur di tiap wisma.
Kini Risma tegas menutup Dolly, tapi tidak kejam, apalagi melanggar HAM. Tak ada wanita penghibur ataupun muncikari yang diculik. Risma melakukan dialog berkali-kali dan menjanjikan modal usaha kepada setiap pelacur setelah melakukan serangkaian pembinaan. Tak ada janji-janji untuk jabatan atau lapangan pekerjaan tertentu bagi yang lain, seperti tukang parkir, muncikari, dan para preman. Tak ada janji, misalnya, kalau Dolly berhasil ditutup, tukang parkir itu akan ditampung di tempat lain dengan status "tukang parkir utama".
Langkah Risma tidak mulus. Muncul koalisi penentang penutupan Dolly dari ormas dan LSM dadakan. Koalisi ini adalah gabungan masyarakat sekitar yang sehari-hari mencari nafkah di gang yang kini sudah tak mirip gang itu. Alasannya, rezeki terganggu, bahkan menjadi pengangguran lantaran sulit mencari kerja. Jadi, koalisi yang semata-mata urusan cari makan. Hebatnya, koalisi ini didukung juga oleh sejumlah "intelektual" yang mungkin sakit hati kepada Risma dengan alasan yang "ilmiah". Misalnya, kalau Dolly ditutup, bagaimana jika pelacur itu bergentayangan ke jalan-jalan, bukankah lebih sulit mengontrol kesehatannya? Penutupan Dolly hanya membikin resah kota lain yang akan menampung wanita yang terusir itu. Dan mereka pun menyebut Lamongan, Tuban, juga Bali, akan terkena dampak sistemik dari tutupnya Dolly.
Risma tetap konsisten, ora mikir dengan alasan itu. Ibu yang dijuluki Singa Kota itu punya alasan lebih manusiawi: memutus generasi yang merendahkan harga diri dengan menjual tubuh. Risma mengulang senjatanya yang terkenal ampuh, mengaku menangis dan miris ketika menyaksikan kehidupan di Gang Dolly, melihat anak-anak kecil dan usia remaja berada dalam "kawah prostitusi". Dan Risma pun bicara dalam bahasa agama yang sederhana: mbok mencari nafkah di jalan yang halal, jadilah wanita terhormat.
Saya tak tahu siapa nanti yang menang, seperti juga saya sulit menebak siapa yang menang di Brasil, serta siapa yang menang menjadi presiden, Jokowi atau Prabowo. Tapi, kalau Tuhan memihak kebenaran, orang-orang jujur, ikhlas dan sederhana, bekerja sesuai dengan perintah agama, dialah yang lebih besar menang. Dolly mungkin berhasil ditutup seperti Kramat Tunggak di Jakarta, lenyap tanpa bekas.
Babi Yar
From: <syauqiyahya@gmail.com>
Senin, 02 Juni 2014
Babi Yar
Pada 1961, Yevgeny Yevtushenko menulis sajak tentang orang-orang yang terbunuh di jurang panjang yang suram di timur laut Sungai Dnieper:
Akulah tiap orang tua
yang di sini
ditembak mati
Akulah tiap anak
yang di sini
ditembak mati
Dua puluh tahun sebelumnya, di jurang di Ukraina itu, di Babi Yar, hampir 34 ribu orang Yahudi-termasuk anak-anak, orang tua, perempuan-dibunuh pasukan Jerman hanya dalam waktu dua hari, 29-30 September 1941.
Yevtushenko bukan Yahudi; sajak itu, "Babi Yar", menyatakan, "dalam diriku tak ada darah Yahudi." Tapi ia menggugat apa yang terjadi di tempat itu sebagai kebuasan yang sedang dilupakan-dan dengan demikian juga kebuasan lain di masa lalu yang tak diakui. Penyair Rusia ini menuliskan sajaknya setelah Stalin mangkat dan orang bisa membacanya sebagai pengingat kekejaman yang pernah terjadi di masa lalunya sendiri-sebagaimana kita di Indonesia akan bisa membacanya dengan ingatan yang mirip.
Tentu, pembantaian Jerman terhadap orang Yahudi tak terbandingkan-karena tiap kekejaman sebenarnya tak bisa dibandingkan. Seperti yang di Babi Yar itu. Seorang sopir truk pasukan Jerman yang berada di tempat itu menceritakan kesaksiannya:
Setelah ditelanjangi, orang-orang Yahudi itu digiring ke dalam jurang, melalui dua atau tiga celah masuk. Ketika mereka sampai di dasar, para petugas Schutzpolizei mendorong mereka agar berbaring di atas mayat orang-orang yang baru saja ditembak. Semua terjadi dengan cepat. Mayat itu berlapis-lapis. Seorang polisi datang dan menembak leher tiap orang Yahudi di tempat ia terbaring dengan senapan semi-otomatisâ EURO |. Begitu satu orang Yahudi tewas, si penembak akan berjalan melintasi tubuh orang mati itu untuk menembak korban yang lain. Ini berlangsung tanpa henti, dan semua-laki-laki, perempuan, anak-anak-dihabisi. Anak-anak dibaringkan dekat ibu mereka dan ditembak bersama-sama.
Tapi, dengan kekejaman yang membunuh hampir 34 ribu orang dalam dua hari, yang tak terbandingkan itu tetap memergoki kita dengan pertanyaan tentang manusia pada umumnya: sebuas itukah makhluk ini?
Dari sejarah Jerman, jawabnya bisa bermacam-macam. Ada kebencian rasial kepada mereka yang berbeda, dan sejak sekian abad yang lalu yang berbeda itu berarti Yahudi. Ada perasaan bangsa yang terhina dan rakyat yang menderita setelah kekalahan dalam Perang Dunia I, disertai kerinduan akan negara kuat, pemimpin yang kuat, dengan dendam yang berkobar.
Tapi, dengan sebab-musabab yang khas Jerman seperti itu, Hitler dan rezimnya tetap ingin diakui sebagai bagian dari sesuatu yang universal. Sang FÃ 1/4 hrer percaya bahwa kehidupan pada dasarnya bengis: "Hukum kehidupan di dunia," kata Hitler dalam sebuah jamuan siang 10 Oktober 1941, "mengharuskan pembunuhan yang terus-menerus, agar mereka yang mutunya lebih baik bisa hidup."
Yang merisaukan adalah bahwa pembunuhan memang terjadi di tempat lain, dilakukan bangsa lain-seakan-akan sejarah tak bisa berubah, manusia pada dasarnya bengis, dan Hitler membawakan tata normatif yang benar: "hukum"-nya layak sebagai hukum, bersifat kekal, dan berlaku di mana saja.
Tapi kita ingat: ia menyebut "kehidupan". Kehidupan berubah. Beberapa kekejaman yang terjadi bukanlah sekadar versi baru dari thema yang itu-itu juga. Hitler sendiri berada dalam zaman yang lain dari zaman Genghis Khan, misalnya, dengan ambisi dan hasrat yang lain dan cara-cara melaksanakan hasrat yang lain pula.
Maka ketika ia mengemukakan bahwa pembunuhan adalah "hukum kehidupan", ia sesungguhnya mencoba menghalalkan kekejaman dan pembinasaan yang dirancang dan dilaksanakannya. Ia seperti hendak mengatakan, "Aku tak bersalah, aku hanya menjalankan apa yang sudah ada dan akan ada terus dalam sejarah manusia."
Yang tak diakuinya ialah bahwa ia perlu mengajukan apologi itu (atas nama "hukum kehidupan") karena ada sesuatu yang lain, yang berada di luar "kehidupan" yang dilihatnya: ada suatu tata normatif yang berbeda, sesuatu yang belum ditaklukkannya.
Dan itulah yang kemudian terbukti. Tata normatif Hitler tak bisa bertahan, bukan hanya karena ia kalah perang. Sajak Yevtushenko menuturkan: bila kekejaman menemukan sekutunya di masa lain, di tempat lain, demikian juga sang korban. Sang "aku" yang merasa senasib dengan mereka yang dibantai di jurang Babi Yar juga melihat dirinya di tempat pembunuhan yang jauh, di sebuah hari yang jauh:
Dan di sini, pada salib, aku mereka musnahkan dalam siksa,
Dan sisa paku itu di tubuhku masih ada
Dengan kata lain, kepada kekejaman baru akan selalu ada gugatan baru. Juga orang-orang yang berkata "tidak" secara baru.
Goenawan Mohamad
Langganan:
Postingan (Atom)