4.02.2014

Kamu itu siapa? Hingga merasa pernah mengenal kami


From: A.Syauqi Yahya 


Selasa, 01/04/2014 18:02 WIB

Puisi Pemilu

Sajak untuk Para Politisi: Kamu Itu Siapa?

ERWIN DARIYANTO - detikNews

Jakarta - Aneka spanduk kampanye yang bertebaran di mana-mana, atau kunjungan seorang calon anggota legislatif nyatanya tak membuat rakyat jadi simpati. Apalagi kehadiran para politisi sifatnya musiman, hanya satu kali dalam lima tahun.

Rakyat seperti sudah apatis dengan janji-janji yang disebar para politisi. Hingga akhirnya mereka menumpahkan kekesalannya dalam bentuk puisi. Seperti syair yang dikirin Andri di bawah ini. Melalui syair dia menyindir, siapa sang politisi yang kini rajin hadir menyapa rakyat.

Kamu Itu Siapa?

Kamu itu siapa?
Hingga tiba-tiba merasa bisa mengubah nasib kami

Kamu itu dari mana?
Mendadak hadir di tengah sulitnya hidup dengan sekarung janji

Kamu itu kenapa?
Sampai merasa paling bisa membawa amanat berat sebuah negeri

Kamu itu ke mana saja?
Saat piring-piring kami berdenting kering dari butiran nasi

Kamu dulu di mana?
Ketika lapak dan rumah kami hancur tergusur oleh sejuta arogansi

Kamu itu punya apa?
Hingga begitu yakin bisa surutkan lautan kecewa serta air mata duka kami
Lalu ratusan fotomu sudah tersebar di sepanjang jalan dan sudut kota
Berlatar bendera organisasi, dengan jas berdasi, senyum paling memikat juga rambut licin berkilat
Kau jual slogan dan janji-janji surga buat kami
Kau tawarkan hidup paling indah di masa depan
Kau bawakan pula harapan tercantik tentang masa depan sebuah negeri

Kamu itu siapa?
Hingga merasa pernah mengenal kami
�
Andri - Surabaya


jika PDI-P meraih suara tidak mencapai 20% pada 9 April mendatang, maka sudah pasti ada kecurangan dari lawan poltik dalam demokrasi.


From: A.Syauqi Yahya 

Pengamat : Komunikasi Politik PDI-P Sangat Buruk
Senin, 31 Maret 2014 | 19:56

http://www.suarapembaruan.com/politikdanhukum/pengamat-komunikasi-politik-pdi-p-sangat-buruk/52177

Puan Maharani. [Google]
[JAKARTA] Pakar komunikasi politik Universitas Paramadina, Jakarta, Hendri Satrio menilai, komunikasi politik yang dijalankan elite Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) sangat buruk.

"Komuniasi mereka tidak taktis dan bersahabat, cendrung resisten dan menutup diri," katanya.

"Tim PDI-P harus segera memperbaiki komunikasi politik mereka. Karena bila tidak diubah, maka dukungan yang selama ini sudah ada bisa berbalik menjadi negatif," kata Hendri di Jakarta, Senin (31/3).

Ia menanggapi pidato Ketua Harian Badan Pemenangan Pemilu DPP PDI-P Puan Maharani saat kampanye di Kupang, akhir pekan kemarin. Dalam kampanye itu, Puan mengatakan, PDI-P tidak mau dikalahkan dengan dicurangi. Menurutnya, jika PDI-P meraih suara tidak mencapai 20% pada 9 April mendatang, maka sudah pasti ada kecurangan dari lawan poltik dalam demokrasi.

Hendri mengingatkan, PDI-P pernah mengalami kekalahan dua kali di pemilu sebelumnya. Karena itu, komunikasi politik yang positif mutlak dilakukan oleh PDI-P.

"Mereka harus mengubah gaya dan pesan kuncinya untuk menjaga suara yang mereka miliki saat ini, ingat suara yang saat ini didapat belum nyata karena sebatas survey. Belajarlah dari 2004 dan 2009. Saat ini semua partai memiliki peluang yang sama," tuturnya.

Dosen Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FIISIP) Universitas Indonesia Ade Armando juga menilai, pernyataan Puan terlalu emosional. Dia meminta Puan supaya menganalisis indikasi kecurangan perolehan suara PDI-P dari polling dan jajak pendapat yang selama ini dilakukan oleh berbagai lembaga survei.

Ade mencermati, dari hasil poling dan jajak pendapat beberapa lembaga survei, suara yang diperoleh PDI-P sebenarnya juga biasa saja tidak pernah lebih dari 20%. “Itu sebelum PDI-P menjadikan Joko Widodo (Jokowi) sebagai Capres. Bahkan setelah Jokowi dideklarasikan sebagai Capres pun, suara yang diperoleh PDIP hanya sampai 21%. Itu artinya, nama Jokowi juga tidak terlalu ‘nendang’ untuk perolehan suara PDI-P. Ini artinya, pada saat Pemilu Legislatif nanti bisa saja suara PDI-P kurang dari 205,” papar jebolan Florida State University, USA ini.

Ditegaskan Ade, pernyataan Puan Maharani di hadapan massa PDI-P saat berkampanye tersebut, bukan melalui pemikiran yang matang. Menurutnya,  dalam situasi politik seperti sekarang, jangan mengeluarkan statemen-statemen yang mengundang perdebatan.

"Jangan juga menjadi seperti Prabowo kedua yang ketika berkampanye kebanyakan mengumbar emosi," tandasnya. [R-14/N-6]

--

Sopo iki? Jokowi kah ....



From: <djuliadi55@gmail.com>


Selasa, 01/04/2014 17:56 WIB

Puisi Pemilu

Sembunyi

Ahmad Toriq - detikNews

Jakarta - Pembaca detikcom Alfin Praditama mengirim puisi politik yang diberi judul sembunyi. Puisi ini dia tulis di Sidoarjo untuk menyindir seorang politikus yang hebat dalam bersembunyi.

Entah siapa politikus yang disindir Alfin. Puisinya bercerita soal politikus yang bersembunyi saat Indonesia dilanda kekacauan, lalu muncul bak seorang pahlawan. Berikut puisi lengkap Alfin yang diterima detikcom, Selasa (1/4/2014):

SEMBUNYI

Kau berkoar tentang janji
Saat kampanye kau berjanji merubah indonesia,
Tapi ingatkah....
Saat kau sembunyi saat indonesia dilanda kekacauan,
Bagaikan anak kecil yang bersembunyi disaat perang

Kuakui engkau memang hebat dalam sembunyi,
Tapi sepertinya memang itu lah salah satu atau bahkan satu-satunya keahlianmu,
Sebelum dia datang kau mengobral janji,
Setelah datang kau mengobral serangan...

Sudah cukup...
indonesia butuh pemimpin hebat,
Bukan seorang anak kecil yang membuktikan bahwa dia sudah dewasa,
Kemampuanmu sebatas bermain sembunyi

Kau selalu mencari kesalahan orang lain,
Kau selalu menyindir orang lain,
Kau dahulu sembunyi dan tiba tiba keluar bak super hero yang ditunggu kedatanganya dan di elu elu kan,
Padahal kau hanya sampah yang menunggu untuk dibuang

Lebih baik engkau mundur secara terhormat,
Karena itu lebih baik untukmu.

Sidoarjo, 1 april 2014
Dari: Alfin praditama

Jadi piye mas Jok?


From: A.Syauqi Yahya


Pemilu 2014, Surat Tuk Dikau, Mas Jok.

Bhayu Parhendrojati

02 Apr 2014 | 00:18

Hi Mas Jok,

Saya warga DKI Jakarta yg berharap banyak tentang dirimu dan pula wakil mu, "Koh Ahok". Di 11 Juli dan 20 September 2011 Silam, saya dan juga keluarga besar saya yang kebetulan dari Jawa Tengah, Purworejo 'ramai-ramai' menggunakan hak pilihnya ke Mas Jok dan Koh Ahok. Di sini harapan kami sekeluarga besar sekali ke mas Jok lho, pun ini linear dengan apa yang diharapkan jutaan orang yang kebetulan bernaung di Jakarta. Mas Jok, Jakarta ini masalahnya ndak cuma macet dan banjir tho' mas? Disini jutaan orang belum bertempat tinggal, di sini jutaan orang masih sulit mengakses pendidikan dan kesehatan, dan di sini jutaan orang masih sulit untuk sekedar makan makanan yang terkenal dengan jargon 4 sehat, 5 sempurna. Dengan dasar itulah, kami 'memujamu' untuk dapat lakukan pembaharuan di Jakarta tercinta ini.

Dan ketika hari perhitugan suara tiba, kami dan segenap warga Jakarta yang memilih dirimu pun penuh sukacita atas kemenangan dikau, mas Jok dan Koh Ahok, karena anda berdua menggaungkan konsep "Jakarta Baru", dimana di perspektif kami tentunya akan ada keadilan dan proses yang benar-benar sesuai sunnatullah selain mengatasi problematika Jakarta berikut turunannya. Mas Jok, saya sudah lama sekali tinggal di Jakarta, saya pun kebetulan menempuh dimana Mas Jok belajar, yaitu UGM, dimana saya di didik untuk selaras antara pikiran dan prilaku saya. Tentunya Mas Jok dulu pun pernah di gembleng oleh para Maha Guru yang punya olah pikir mengagumkan dengan lelaku yang boleh dikatakan sangat sederhana tho mas Jok? Mudah-mudahan mas Jok masih inget wejangan dan lelaku para tetua yang sudah menerangkan akal dan hati mas Jok di Yogyakarta sana.

Mas Jok, walau saya warga Jakarta namun saya di Jakarta ini hanya tinggal mengontrak di Jakarta sini walau dengan posisi saya yang sudah menjabat menjadi seorang Manager dan mas Jok bisa melihat dan membuktikan jika 80%-90% lebih warga yang mencari dan berkontribusi kepada Jakarta hidupnya masih jauh dari layak. Mas Jok sadar hal itu kan ya? Kalau pun bisa memiliki rumah, lebih dari 90% warga Jakarta hanya bisa memiliki dan tinggal di pelosok, (termasuk saya yang hanya mampu memiliki rumah di pelosok) dimana kita mengenalnya sebagai Bekasi, Depok, Bogor, Tanggerang bahkan ada yang di Bandung.

Jadi dengan memilih anda dan Koh Ahok, kami warga Jakarta punya ekspektasi yang sangat besar terhadap anda berdua mas Jok dan Koh Ahok, dan itupun yo ndak cuma 2 tahun mas Jok. Karena di setiap kampanye mu, dirimu dan Koh Ahok selalu menyisipkan jika mas Jok akan ada di Jakarta selama 1 periode masa Gubernur DKI Jakarta dan ndak akan tergiur dengan pencalonan capres 2014. Jadi piye janji mu Mas Jok? Mana komitmen dirimu? Mana integritas mu mas? Kok jadinya begini tho? Kenapa demi sebuah partai anda seperti kerbau tercucuk hidungnya dan seperti tidak punya akal sehat dan hati yang penuh NUR? Mas Jok, iki piye tho?

Lagi, banyak pihak, baik masyarakat DKI Jakarta dan pun para pengamat jika sesungguhnya anda di Jakarta ini dapat dikatakan belum berbuat apa-apa, Dan kalau boleh, saya akan uraikan satu-satu ya mas Jok, agar anda ingat lemesanmu dan juga jauh dari rasa jumawa bin ujub,

1. Masalah Banjir, persentasi keberhasilan anda dan Koh Ahok masih jauh yang diharapkan, walau jujur ada sedikit perubahan dimana organisasi yang anda pimpin, di sini Pemda DKI beserta para rekanan/ kontraktor walau masih sangat pelan tetapi sudah berjalan. Dan jujur saya bisa berikan angka 2 (dua) dari 10 (sepuluh) di sini. Dimana angka 0.5 (nol koma lima) saya berikan ke era Pak Foke.

2. Masalah Macet, anda hampir tidak berbuat apa-apa di sini, untuk busway masih lungsuran dari Pak Jenderal Sutiyoso, Pak Gub DKI 2 (dua) kali periode, 1997 - 2007. Pengadaan bus busway pun banyak menuai masalah, dari sisi merk, harga dan jadwal, anda dan koh Ahok kalau boleh saya beri angka 5 (lima) dari 10. Dimana angka 5 (lima) pun saya berikan ke zamannya Pak Foke si sang Ahli-nya.

3. Masalah Perumahan Bantar Kali, anda pun sebenarnya copy paste konsep saja. Anda pun hanya memindahkan dari rakyat yang sebenarnya punya nilai jual tanah yang tinggi ke sekedar rusun sederhana yang nilainya jauh di bawah rumah yang mereka punya sebelumnya. Kecuali, cara pandang anda tentang orang-orang yang tinggal di tanah tanpa surat, anda ada nilai plus di sini. Dan untuk ini saya pun memberikan nilai 2.5 (dua koma lima). Dan era Pak Foke saya berikan nilan -5 (minus lima).

4. Belum lagi operasinal KJS dan KJP yang saat ini masih jauh tungku dari api, masih banyak perlu revisi dan perbaikan. Dan bukankah Pak Foke juga punya program seperti ini dengan Jamkesda dan kejar paket 9 tahun, dan ini pun bersinggungan dengan programnya Pemerintah Pusat mengenai Jamkesmas tho mas Jok. Jadi menurut saya, program anda tidaklah istimewa kalau boleh dibilang ini hanya menjalan SOP dan amanat perpu dan UU mengenai mencerdaskan kehidupan bangsa dan memelihara rakyat terlantar, dalam konteks kesehatannya. Jadi angka anda di sini saya berikan 0.5 (nol koma lima) dari Pak Foke yang saya berikan nilai 0.5 (nol koma lima) juga.

5. Masalah Penambahan Jalan di DKI Jakarta pun anda punya angka tidak bermutu, dimana anda memberikan sinyal positif untuk menambah tol dalam kota untuk proyeknya Kementrian PU, Pak Foke punya konsep lebih bagus dalam hal ini. Dia membuat bypass di Jalan Antasari dan Jl Dr Satrio. Anda? Anda hampir tidak berbuat sama sekali dalam hal ini. Angka saya dalam hal ini hanya 0 (nol) dan Pak Foke saya berikan nilai 5 (lima).

6. Apalagi dalam masalah sosial, kebudayaan dan politik. Anda disini punya angka -5 (minus lima), angka yang sama yang dapat saya berikan ke Pak Foke.

7. Cara anda memimpin. Saya kasih angka 5 (lima) untuk hal ini, karena anda dekat dan 'terlihat' tulus dengan rakyat yang anda pimpin. Karena saya tida berhak menilai hati orang sesungguhnya, dan saya menilai dari gestur dan mimik muka anda. Dan untuk ini Pak Foke saya beri nilai 2 (dua) karena cenderung angkuh dan minteri.

Jadi piye mas Jok?

Semoga mas Jok arif lan waskito dalam menyikapi hal ini yo mas.

Kalau pun nanti anda jadi Presiden nanti, mungkin citra anda akan jauh lebih harum dari sekedar kerja anda yang punya nilai jauh dari membanggakan alias haya ngepas saja.

Sadar yo mas Jok, sadar tho. Ojo gede ati lan gede sirahe cuma karena di dukung Ibu Megawati yang secara kualitas pun semua orang sudah tahu siapa dia itu.

Pun sejujurnya anda ini telah mbalelo dari janji, komitmen dan integritas kepada warga DKI Jakarta khususnya dan kepada negeri ini pada umumnya. Subhanallah.
Dibaca : 6 kali

Magelang (copas detiknews)


From: zuama bin laden 


Dana Operasional KPUD Magelang Rp 500 Juta Raib Dirampas

Tri Joko Purnomo - detikNews

Magelang - 3 Panitia Pemilih Kecamatan (PPK) jadi sasaran aksi kriminal. Uang Rp 500 juta lebih yang baru diambil dari bank raib dirampas. Polisi masih mengejar pelaku.

Peristiwa ini terjadi di Jalan Raya Magelang-Semarang, tepatnya di Desa Sambung, Kecamatan Secang, Magelang, Selasa (1/4/2014). Saat itu, mobil dinas bernopol AA 141 B yang ditumpangi Darsin, Manulang, dan Widayat mengalami bocor ban.

Darsin dan Manulang turun dari mobil dan mengganti ban. Sedangkan Widayat menjaga tas berisi uang di dalam mobil. Tiba-tiba 2 orang bersepeda motor mendekat dan merampas tas yang dibawa Widayat. Sempat terjadi tarik menarik, tapi pelaku berhasil merampas tas dan langsung kabur. 

Diduga pelaku telah merencanakan aksi dan membuntuti korban yang mengambil uang di bank serta memasang ranjau agar mobil korban gembos. "Korban tidak melihat pelaku membawa senjata, hanya terjadi tarik-menarik saja," kata Kapolsek Secang AKP Sukirman.

Divisi Hukum dan Pengawasan KPUD Magelang Reni Puji Astuti mengatakan dana itu sebenarnya akan digunakan untuk operasional seperti honor petugas dan pembuatan TPS. Rencananya, petugas pengambilan dana akan dikawal polisi. Tapi Reni mengaku tidak tahu kenapa akhirnya hal itu tidak dilakukan. 

"Kami tunggu prosesnya, akan kami laporkan ke atasan dulu untuk langkah selanjutnya," jelas Reni.

Kasus ini masih ditangani polisi. 3 Anggota PPK yang menjadi korban perampasan diperiksa.

Pemilih Jokowi Belum Tentu Memilih PDIP


From: <syauqiyahya@gmail.com>


Selasa, 01/04/2014 16:27 WIB

Pemilih Jokowi Belum Tentu Memilih PDIP

Elvan Dany Sutrisno - detikNews

Jakarta - PDIP dinilai sedang menghadapi masalah serius. Masalah itu adalah loyalis pendukung pencapresan Joko Widodo (Jokowi) belum tentu memilih PDIP di Pileg 9 April nanti.

"Pemilih Jokowi memang belum tentu memilih PDIP. Apalagi waktu untuk memilih Jokowi beda dengan pemilihan PDIP (Pileg dan Pilpres-red). Masih banyak rakyat yang lebih percaya Jokowi dibandingkan dengan PDIP," kata pakar komunikasi politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio, kepada wartawan, Selasa (4/1/2014).

Oleh karena itu, kata Hendri, PDIP saat ini berusaha keras meyakinkan rakyat agar memilih partai banteng moncong putih. Terlebih Jokowi bisa dicapreskan jika PDIP meraih suara signifikan di Pemilu 2014 mendatang.

"Bila suara PDIP gagal nembus suara itu maka mau tidak mau PDIP harus berkoalisi, meski Jokowi tetap capres karena yang memiliki elektabilitas tinggi di PDIP hanya Jokowi," ujarnya.

Sebenarnya PDIP sudah menyadari adanya persoalan tersebut. Karena itu Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri secara langsung terus menyerukan agar masyarakat memilih PDIP jika ingin Jokowi jadi presiden.

"Kalau kalian mendukung Pak Jokowi menjadi presiden, maka pileg ini harus juga dimenangkan PDIP dulu!" orasi Mega saat berkampanye di Lapangan BKB Sukarame, dekat Jembatan Ampera, Palembang, Jumat (28/3/2014).

4.01.2014

Sowan


From: A.Syauqi Yahya

Selasa, 01/04/2014 11:14 WIB

Prabowo Sempat Sowan, Mega Menolak

Deden Gunawan - detikNews

Jakarta - Penetapan Gubernur DKI Jokowi menjadi capres PDIP membuat gerah Prabowo Subianto. Betapa tidak, Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri pernah meneken perjanjian bakal mendukungnya di Pilpres 2014. Namun janji tinggal janji.

Bagi Prabowo, tak ada persoalan di antara PDIP dan Gerindra yang membuat perjanjian Batu Tulis itu menjadi tidak patut ditepati. Prabowo mengaku tak pernah berbuat salah dan menodai perjanjian yang diteken di kediaman Megawati di Jl Teuku Umar, Jakarta Pusat, itu.

"Saya merasa tidak pernah berbuat sesuatu yang salah. Saya selalu menghormati Ibu Mega. Saya merasa tidak pernah berbuat yang merugikan Ibu Mega atau merugikan PDIP, saya selalu menghormati beliau," kata Prabowo seperti dikutip dari Majalah Detik edisi 122, Selasa (1/4/2014).

Prabowo mengaku sudah berjuang keras memenangkan Mega-Pro di Pilpres 2009 silam. Dana tak sedikit sudah dikeluarkan Prabowo, kabarnya sampai ratusan miliar rupiah.

"Jadi saya merasa kenapa saya tidak diperlakukan dengan baik. Dalam arti, kalau mau berpisah kan bisa dipanggil. Katakanlah 'Mas Bowo, kondisi politik bisa berubah. Saya dapat desakan dari bawah, saya harus mencalonkan orang lain. Mohon pengertiannya," kata mantan Danjen Kopassus ini.

Prabowo mengaku sudah berusaha menjalin komunikasi dengan Megawati Soekarnoputri. Prabowo meminta waktu lewat Sekjen PDIP Tjahjo Kumolo, namun tak ada respons. Bahkan saat Prabowo sowan ke Mega pun tak diterima.

"Jadi, terakhir saya berusaha itu waktu Idul Fitri. Saya merasa dulu kan pernah menjadi wakil beliau, walaupun calon wakil presiden di tiket beliau. Saya datang Idul Fitri. Tetapi dilaporkan atau tidak, beliau tidak keluar. Setelah saya menunggu cukup lama, hampir satu jam tidak keluar, saya pulang," kenang Prabowo.

"Setelah itu saya berusaha minta waktu, sampai hari ini saya belum diterima, tidak apa-apa," ujarnya.

Baca wawancara selengkapnya di Majalah Detik edisi 122 yang terbit 31 Maret 2014.

Share: Twitter | Facebook | Email
(7) Komentar | Kirim komentar
Baca Juga:
Prabowo: Kok Saya Disepelekan, Seperti Dianggap Tidak Ada

--