3.27.2014

Ada ada aja


From: <djuliadi55@gmail.com>


Senin, 24/03/2014 17:34 WIB

Cerita Hajriyanto Temui Pemilih Golkar yang Dukung Jokowi

Danu Damarjati - detikNews

Jakarta - Ketua DPP Partai Golkar Hajriyanto Y Thohari mengisahkan pengalamannya menemui simpatisan Golkar di wilayah Jawa Tengah. Ternyata, banyak simpatisan Golkar yang mendukung capres PDIP Joko Widodo.

Ini diceritakan Hajriyanto pada diskusi 'Persaingan Capres-Cawapres Menjelang Pemilu' di Ruang Perpustakaan MPR, Senayan, Jakarta, Senin (24/3/2014).

"Saya kampanye di Sragen (Jateng). Di sana kata mereka kalau Pemilu Legislatif akan milih Golkar semua," kata Hajri.

Lalu Hajri bertanya soal capres pilihan warga. Dia agak berdebar hati menunggu jawaban siapa yang akan dipilih orang Sragen. Ternyata, meski di Pileg memilih Golkar, tapi di Pilpres mereka akan memilih Jokowi.

"Tapi mereka katakan Pilpres belum tentu (milih capres Golkar). Saya deg-degan juga. Mereka milihnya Jokowi," kata Hajri yang gaya bertuturnya sesekali memecah tawa penyimak diskusi di lokasi.

Hajri juga menceritakan soal aspirasi pemilih Golkar di Wonosobo, Jawa Tengah. Setali tiga uang dengan warga Sragen, mereka juga suka Jokowi.

"Di Wonosobo mereka memilih Jokowi. Karena dia lugu orangnya," ungkapnya.

Menurut analisis Wakil Ketua MPR ini, karakter lugu itulah yang menjadi daya pikat Jokowi. Sekarang, masyarakat lebih memilih tokoh berpenampilan lugu daripada tokoh yang 'klimis dan serba tertata'.

"Lugu adalah orang yang melakukan apa yang ada dalam hatinya. Ya kita lihat saja Si Lugu (Jokowi) ini nanti," tandas Hajriyanto mengajak peserta diskusi menantikan Pilpres 2014.

Fahri Terlalu "Maksain" Kritik PDIP Melawan Lupa PKS: Janji Anis Matta


From: A.Syauqi Yahya

Eva Sundari: Fahri Terlalu "Maksain" Kritik PDI-P

KOMPAS/Raditya Helabumi

Senin, 24 Maret 2014 | 20:18 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Eva Kusuma Sundari mengatakan, kritik yang dilontarkan Sekretaris Jenderal Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Fahri Hamzah kepada PDI-P terlalu memaksakan diri. Eva menilai Fahri melepaskan kritik di luar konteks persoalan yang terjadi pada saat PDI-P berkuasa.

"Konteksnya jangan dilepas dalam menilai masa lalu. Presiden (Megawati) saat itu hanya menerima mandataris dari MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat)," ujar Eva saat dihubungi, Senin (24/3/2014).

Eva mengatakan, pada masa pemerintahan Megawati, presiden wajib menjalankan Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN). Presiden juga bertanggung jawab sepenuhnya kepada MPR, bukan kepada partainya ataupun partai lain di DPR. Dengan kata lain, kata Eva, kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh Megawati atas sepengetahuan MPR, yang terdiri dari berbagai partai politik.

Anggota Komisi III DPR RI itu mengatakan, masa pemerintahan Megawati merupakan periode transisi pasca-lengsernya Soeharto. Pada waktu itu, Megawati harus melaksanakan kesepakatan yang ditandatangani Soeharto dengan International Monetary Fund (IMF), termasuk privatisasi badan usaha milik negara. "Jadi, privatisasi itu bukan kebijakan Mega," katanya.

Menurut Eva, apa yang dilakukan Fahri merupaka bentuk kampanye hitam dengan mengungkit-ungkit masa lalu PDI-P. Eva mengatakan, PDI-P siap membalas setiap serangan politik dengan jawaban yang rasional dan terukur.

"Dia (Fahri) terlalu maksain diri untuk mendelegitimasi PDI-P. Ini kan PDI-P polling-nya lagi bagus, Jokowi lagi bagus. Masyarakat sudah tahu mana partai yang dinyatakan korup," ujarnya.

Sebelumnya, melalui akun Twitter, Fahri mengkritik kinerja PDI-P ketika Megawati menjadi presiden pada 2001-2004. Dengan mengutip tulisan ekonomo Sunarsip, ia mengatakan bahwa Megawati banyak menjual aset negara kepada asing.

Penulis: Rahmat Fiansyah
Editor: Laksono Hari Wiwoho



"Mungkin nanti akan kami sampaikan pada perayaan 17 Agustus (tidak disebutkan tahun berapa). Saat ini, konsentrasi kami adalah pembenahan spiritual pengurus dan kader di daerah," katanya menambahkan. Sumber: antaranews.com.

Kini, sudah 8 bulan setelah 17 Agustus 2013, tapi janji Anis tersebut belum juga ditepatinya. Mungkin Anis akan menyangkalnya dengan mengatakan janji tersebut tidak terikat pada tahun, karena ia tidak menyebut secara spesifik waktunya. Tapi, bisa jadi Anis telah melupakannya. Dengan pikiran positif, Anis mungkin lupa sabagaimana Fahri. Oleh karenanya perlu bagi Anis untuk diingatkan pada janjinya tersebut.

#MelawanLupaPKS

Dibaca : 114

Kisah Koordinator



From: <syauqiyahya@gmail.com>

Kisah Koordinator Pengumpul Massa Kampanye  

TEMPO.CO, Jakarta - Tjao Tji Hu, 50 tahun, menyesap tehnya saat selesai mengatur puluhan warga yang dibawanya masuk ke dalam aula Gelanggang Olahraga Cendrawasih, Cengkareng, Jakarta Barat. Ahu, sapaan akrabnya, mengatakan 50 orang itu adalah warga Pekojan yang biasanya menghadiri kampanye-kampanye partai politik. "Mereka sudah biasa ikut kampanye, jadi tidak kaku lagi," kata Ahu kepada Tempo, Senin, 24 Maret 2014.

Ahu mengatakan sudah menjadi koordinator pengumpul massa sejak 1999 dan telah memiliki banyak rekan lewat profesi sampingannya itu. Tiap masa kampanye, ia akan berkoordinasi dengan teman-temannya untuk mengatur jadwal orang-orang yang akan ikut kampanye. Alasannya, biasanya seorang koordinator memiliki partai spesialisasi masing-masing. "Jadi, warganya tetap sama, tapi yang koordinator yang mengajaknya berbeda," katanya.

Ia mengatakan rekan koordinatornya biasanya memiliki pekerjaan utama selain menjadi koordinator. Sebab, upah sebagai pengumpul massa tak cukup. Ahu yang berprofesi sebagai distibutor popok bayi sekali pakai itu merincikan uang kampanye yang diterimanya biasanya bersisa Rp 200 ribu setelah dibagi ke simpatisan dan dikurangi uang transportasi. (Baca: Kampanye Caleg, Politik Uang Mulai Terendus)

Uang itu lebih sering digunakannya untuk menambal fasilitas umum, seperti pengasapan dan kebersihan di lingkungan tempat tinggalnya di Bandengan Utara III, RT 011 RW 012, Penjaringan, Jakarta Utara. Keputusan itu dipilihnya lantaran ia merupakan mantan pengurus RW di wilayah itu.

Namun ia tak menampik profesi koordinator massa kampanye juga menjadi tambang emas jika lobinya canggih. Ahu mengisahkan temannya yang menerima Rp 10 juta di luar tugasnya sebagai koordinator pada setiap masa kampanye dari seorang calon legislator asal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. "Kalau diseriusin, sih, bisa ikut tajir juga," ujarnya. (Baca juga: Prabowo Kampanye Naik Kuda, Ahok: Kan Turunan Diponegoro)

Untuk setiap kampanye, biasanya Ahu menerima Rp 250 ribu sebagai uang transportasi untuk menyewa satu unit Mikrolet. Nilai tersebut akan lebih besar jika untuk kampanye akbar.

Ihwal upaya menyetir pilihan simpatisan, Ahu mengatakan warga yang hadir sebagai simpatisan tak memusingkan janji yang diumbar calon legislator yang sedang berkampanye. Menurut dia, masyarakat saat ini sudah sangat mumpuni menimbang caleg yang layak dipilih atau tidak. "Mereka cuma mau uangnya. Soal pilihan, sih, tak bisa diutak-atik," kata Ahu. (Baca: Golkar Sebut Pemilih di Desa Tak Kenal Jokowi dan Diserang Lawan Politik, Jokowi: Aku Rapopo)

LINDA HAIRANI

Politik Tidak Seperti Bisnis


From: A.Syauqi Yahya


"Kalau businessman, apa yang diucapkan itulah yang dipegang,

Dahlan: Politik Tidak Seperti Bisnis
SELASA, 25 MARET 2014 | 12:00 WIB

Menteri BUMN Dahlan Iskan (kiri) tertawa bersama Dalang Ki Anom Suroto (tengah) saat menggelar Selamatan Budaya-Nonton Wayang Bareng Dahlan Iskan di halaman Rumah Dahlan, Jalan Bali, Surabaya (18/3). TEMPO/Fully Syafi

TEMPO.CO, Jakarta -Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dahlan Iskan, menyatakan politik tidak seperti bisnis. "Kalau businessman, apa yang diucapkan itulah yang dipegang, tapi politik tidak seperti itu," ujar dia seusai peresmian sambungan pipa baru di Perumnas Klender, Jakarta Timur, Selasa, 25 Maret 2014.

Dahlan mengungkapkan saat ini dirinya belum menjadi calon presiden. Oleh karena itu, peserta konvensi calon presiden Partai Demokrat ini mengatakan belum bisa berkomentar mengenai pencalonan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo sebagai calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.  "Saya baru komentari itu kalau nanti sudah jadi calon presiden," ucapnya.

Dahlan menuturkan, ia belum melihat ada lembaga survei yang tidak menempatkan namanya di nomor satu jajaran konvensi Partai Demokrat. Meskipun demikian, ia mengatakan telah menyiapkan mental. "Biar pun rating tertinggi, tapi saya sudah menyiapkan mental kalau memang tidak terpilih," kata Dahlan.

MARIA YUNIAR

Plesir ke Maladewa


From: Boediono

Home › Kolom › Fokus

Maladewa

25 Maret 2014 06:00 WIB



Arif Supriyono

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Arif Supriyono

Di wilayah Asia, negara Maladewa tergolong paling sempit. Jumlahnya penduduknya pun paling sedikit. Luas wilayah negara yang berbatasan dengan India dan posisinya berjarak sekitar 700 km sebelah barat daya Sri Lanka ini hanya sekitar 298 km2. Luas ini tak sampai separuhnya dari wilayah Jakarta yang mencapai 661, 52 km2.

Sampai akhir 2013, penduduk yang tinggal di sana hanya sekitar 350 ribu jiwa. Hampir sama dengan jumlah penduduk satu kecamatan di kawasan Pulau Jawa.

Negeri ini pernah berada di cengkeraman penjajah Portugis selama 15 tahun. Setelah itu, sejak 1887 hingga merdeka pada 26 Juli 1965, Maladewa masuk dalam koloni Inggris.

Mulai berdiri sebagai suatu wilayah tersendiri, Maladewa alias Maldives senantiasa berbentuk Kesultanan Islam. Negeri ini bahkan berani menyatakan 100 persen penduduknya beragama Islam. Mereka umumnya berasal dari keturunan Persia/Arab, Indian, Afrika, India, dan Sri Lanka yang telah beranak-pinak dan membentuk komunitas sendiri.

Ketinggiian wilayah Maladewa hampir sejajar dengan laut yang mengelilinginya. Kawasan tertinggi di negara kepulauan yang dikelilingi pulau karang (atol) itu hanya sekitar 2,3 m di atas permukaan air laut. Jadi, jangan heran andai kelak permukaan air laut naik maka pulau ini pun bisa  tenggelam karenanya. Adapaun rata-rata ketinggian di kepulauan Maladewa hanya sekitar 1,5 m di atas permukaan air laut.

Popularitas negara ini nyaris tak terdengar. Prestasi olahraga mereka juga tak sampai mencuat. Untuk urusan sepak bola dengan mereka, kita boleh berbangga diri. Tim sepak bola mereka masih kalah 'kelas' dari timnas Indonesia.

Timnas kita berada di peringkat 128 dunia --berdasarkan ranking yang disusun Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA)-- sedangkan mereka hanya bercokol di posisi 170. Dalam sebuah laga persahabatan di Bandung pada 2010 lalu, timnas kita unggul 3-0 atas Maladewa. Apalagi untuk urusan tepok bulu, Maladewa tak ada apa-apanya dibanding negara kita.

Maladewa yang menurut bahasa Sansekerta berarti untaian/berkalung pulau itu memang memiliki 20 atol. Pulau karang itu mengelilingi dengan indah wilayah negeri mereka. Keberadaan barisan atol itu pula yang mungkin membantu negeri mereka dari serbuan banjir pada 1987. Bahkan, sapuan badai tsunami pada 2004 lalu pun tak sampai meluluhlantakkan seluruh penjuru negeri, meski banyak kawasan rusak parah.

Negara yang memiliki tujuh provinsi itu mengandalkan ekspor ikan tuna sebagai pemasukan utama negaranya. Di samping itu, pariwisata juga menjadi primadona lain untuk mengeruk devisa negara. Ketenaran Maladewa lebih banyak terkait dengan sensasi dan promosi. Pada tahun 2006 misalnya, Maladewa mencatat rekor dunia sebagai negara dengan jumlah penyelam (scuba diving) paling banyak dalam satu kesempatan. Rekor ini lalu pecah saat Indonesia mengambil alih sensasi itu pada 2009.

Maladewa juga menjadi negara pertama yang memunyai kedutaan besar dalam dunia maya pada 2007. Tak lama berselang, dengan dipimpin Presiden Muhamed Nasheem,  Maladewa juga menjadi negara pertama di dunia yang rapat kabinetnya berlangsung di dalam laut. Dalam rapat kabinet itu, semua peserta membubuhkan tanda tangan atau deklarasi untuk aksi menyongsong perubahan iklim global.

Nilai sensasi serta promosi itu bertambah 'setengah' tatkala beberapa hari lalu beredar foto Ketua Umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie (Ical), dan anggota DPR, Azis Syamsuddin yang tengah berwisata menggunakan pesawat pribadi ke Maladewa pada tahun 2010. Bagi para anggota dewan --apalagi tokoh sekaliber Ical-- berwisata ke luar negeri merupakan sesuatu yang jamak belaka.

Hal yang menjadi agak aneh bagi publik adalah dua cewek yang menyertai, yakni artis cantik kakak-beradik Marcella Zalianty dan Olivia Zalianty. Semuanya sudah mengakui, peristiwa dan foto-foto itu benar adanya dan bukan rekayasa. Keberadaan boneka beruang yang ikut nampang di foto pun diakui.

Mereka juga menjelaskan kedekatan secara pribadi antara kerabat Ical dengan keluarga dua artis itu. Saya pun yakin, ada orang lain yang ikut di antara mereka, paling tidak sang pilot dan pramugari.

Berpelesir dengan orang yang sudah dikenal dekat juga merupakan hal yang lazim. Menjadi tidak lazim karena dalam gambar itu mereka hanya berempat: dua laki-laki dan dua perempuan yang bukan muhrim. Tak ada orang tua dari dua perempuan itu yang terlihat dalam gambar tersebut. Lokasinya wisatanya pun di luar negeri pula.

Saya tak hendak membahas lebih jauh karena ini bisa menimbulkan fitnah yang mahadahsyat. Saya pun tak punya bukti lebih dari itu. Apalagi, ini menjelang pemilu serta pemilihan presiden. Saya hanya mempersilakan masyarakat awam untuk merenung dan berpikir menurut akal sehat masing-masing.

Kalau hasil perenungan itu berbuah hal positif, ya bersyukurlah. Sebaliknya, kalau kemudian menemukan simpulan negatif, maka beristighfarlah.


Red: Maman Sudiaman

Komentar [0] | facebook | twitter

Berpikir Instan Ala Kemendikbud


From: <syauqiyahya@gmail.com>

Berpikir Instan Ala Kemendikbud



Mochamad Syafei

26 Mar 2014 | 16:27

Sekolah kalang kabut juga saat KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) diberlakukan mulai tahun 2004.  Karena ada mata pelajaran baru yaitu TIK.  Kenapa?  Karena tak ada guru TIK di sekolah.  Maka, sekolah-sekolah di Jakarta pun mengambil guru TIK asal bisa utak-atik sedikit tentang komputer.

Lalu, pada Kurikulum 2013 mata pelajaran TIK mendadak sontak dihilangkan.  Kemudian muncul pelajaran baru Prakarya.  Berarti, Kemendikbud sedang mengulangi persoalan sama.  Ketiadaan guru untuk mata pelajaran baru di satu sisi.  Dan kehilangan pekerjaan untuk guru-guru TIK, di sisi lain.

Terus?

Solusi instannya, alihkan guru-guru TIK menjadi guru prakarya.  Semudah itukah?  Jelas tidak!  Tidak semua, kalau tidak mau dikatakan tidak ada, guru TIK yang bisa mendadak sontak bisa mengajarkan pelajaran baru Prakraya.  Mereka tidak punya latar belakang secuil pun untuk itu.  Apa yang bisa diajarkan oleh orang yang tak punya latar belakang secuil pun tentang mata pelajaran yang diajarkannya?  Kalau mereka masih punya hobi prakarya mendingan.  Seandainya, suka pun tak punya, lalu apa yang diharapkan?  Sebuah kebijakan main-main yang tak memperhitungkan kondisi lapangan atau memang para pejabat Kemdikbud yang lebih suka berpikir instan?

Guru-guru TIK sudah menyampaikan aspirasinya.  Namun tak ada pejabat kemendikbud yang bisa berbuat apa-apa karena memang selama ini mereka tak bisa berbuat apa-apa.  Entah, apa yang bisa mereka perbuat.  Seakan nasib seseorang tak pernah masuk dalam benak mereka.  kebijakan yang muncul selalu terkesan asal.

Belum lagi masalah jam pelajaran.  Pada kurikulum 2006 atau KTSP, ada pengurangan jam belajar yang cukup signifikan.  Mata pelajaran seperti Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, dan IPS langsung dipangkas dari sebelumnya 6 jam per minggu menjadi hanya 4 jam per minggu.  Sehingga, mendadak sontak, banyak sekolah yang kelebihan guru, di satu sisi, dan banyak guru yang kekurangan jam mengajar di sisi lain.  Lebih parah lagi, saat sertfikasi mensyaratkan jumlah jam minimal 24 jam.  Apa yang terjadi?  Hampir ribuan guru yang kehilangan hak tunjuangan setifikasinya.

Lalu, pada kurikulum baru jam pelajaran bertambah, Bahasa Indonesia, MTK, PKn, Agama, OR, Seni atau dapat dikatakan hampir semua pelajaran bertambah jamnya.  Sehingga, sebentar lagi akan muncul problem baru yaitu kekuarangan guru.  Bukan karena banyak yang pensiun tapi karena utak-atik kebijakan secara instan oleh Kemendikbud.

Belum lagi, masalah pusatisati guru yang diotonomidaerahkan terus akan dipusatkan kembali.  Kebijakan yang cuma bolak-balik tanpa kajian yang baik.  Sehingga selalu muncul kesan instan pada setiap kebijakan kemendikbud.

UN juga serupa dan sama.  Ada, tak ada, ada, tak ada, atau kebijakan-kebijakan semisal pendaerahan pencetakan soal juga merupakan kebijakan yang instan.

Lalu apa yang dapat diharap dari Kemendikbud untuk pendidikan di negeri ini?  Semoga menteri baru pada saat muncul presiden baru lebih memahami tentang du nia pendidikan dan tak lagi berpikir dengan pola instan.

Cara kerja instan hanya akan melahirkan manusia instan.  Pendidikan yang menjerumuskan.

Dibaca : 19 kali

Arjuna


From: DioN Erbe 

Arjuna
Arti nama

Dalam bahasa Sanskerta, secara harfiah kata Arjuna berarti "bersinar terang", "putih" , "bersih". Dilihat dari maknanya, kata Arjuna bisa berarti "jujur di dalam wajah dan pikiran".

Arjuna mendapat julukan "Kuruśreṣṭha" yang berarti "keturunan dinasti Kuru yang terbaik". Ia merupakan manusia pilihan yang mendapat kesempatan untuk mendapat wejangan suci yang sangat mulia dari Kresna, yang terkenal sebagai Bhagawadgita (nyanyian Tuhan).

Ia memiliki sepuluh nama: Arjuna, Phālguna, Jishnu, Kirti, Shwetawāhana, Wibhatsu, Wijaya, Pārtha, Sawyashachi (juga disamakan dengan Sabyasachi), dan Dhananjaya. Ketika ia ditanya tentang sepuluh namanya sebagai bukti identitas, maka ia menjawab:
" Sepuluh namaku adalah: Arjuna, Phālguna, Jishnu, Kirti, Shwetawāhana, Wibhatsu, Wijaya, Pārtha, Sawyashachi dan Dhananjaya. Aku dipanggil Dhananjaya ketika aku menaklukkan seluruh raja pada saat Yadnya Rajasuya dan mengumpulkan harta mereka. Aku selalu bertarung sampai akhir dan aku selalu menang, itulah sebabnya aku dipanggil Wijaya. Kuda yang diberikan Dewa Agni kepadaku berwarna putih, itulah sebabnya aku dipanggil Shwetawāhana. Ayahku Indra memberiku mahkota indah ketika aku bersamanya, itulah sebabnya aku dipanggil Kriti. Aku tidak pernah bertarung dengan curang dalam pertempuran, itulah sebabnya aku dipanggil Wibhatsu. Aku tidak pernah menakuti musuhku dengan keji, aku bisa menggunakan kedua tanganku ketika menembakkan anah panah, itulah sebabnya aku disebut Sawyashachī. Raut wajahku unik bagaikan pohon Arjun, dan namaku adalah "yang tak pernah lapuk", itulah sebabnya aku dipanggil Arjuna. Aku lahir di lereng gunung Himawan, di sebuah tempat yang disebut Satsringa pada hari ketika bintang Uttarā Phālgunī berada di atas, itulah sebabnya aku disebut Phālguna. Aku disebut Jishnu karena aku menjadi hebat ketika marah. Ibuku bernama Prithā, sehingga aku disebut juga Pārtha. Aku bersumpah bahwa aku akan menghancurkan setiap orang yang melukai kakakku Yudistira dan menaburkan darahnya di bumi. Aku tak bisa ditaklukkan oleh siapa pun. "

Kelahiran

Dalam Mahabharata diceritakan bahwa Raja Hastinapura yang bernama Pandu tidak bisa melanjutkan keturunan karena dikutuk oleh seorang resi. Kunti (istri pertamanya) menerima anugerah dari Resi Durwasa agar mampu memanggil Dewa-Dewa sesuai dengan keinginannya, dan juga dapat memperoleh anak dari Dewa tersebut. Pandu dan Kunti memanfaatkan anugerah tersebut kemudian memanggil Dewa Yama (Dharmaraja; Yamadipati), Dewa Bayu (Marut), dan Dewa Indra (Sakra) yang kemudian memberi mereka tiga putra. Arjuna merupakan putra ketiga, lahir dari Indra, pemimpin para Dewa.

Sifat dan kepribadian

Arjuna memiliki karakter yang mulia, berjiwa kesatria, imannya kuat, tahan terhadap godaan duniawi, gagah berani, dan selalu berhasil merebut kejayaan sehingga diberi julukan "Dananjaya". Musuh seperti apapun pasti akan ditaklukkannya, sehingga ia juga diberi julukan "Parantapa", yang berarti penakluk musuh. Di antara semua keturunan Kuru di dalam silsilah Dinasti Kuru, ia dijuluki "Kurunandana", yang artinya putra kesayangan Kuru. Ia juga memiliki nama lain "Kuruprāwira", yang berarti "kesatria Dinasti Kuru yang terbaik", sedangkan arti harfiahnya adalah "Perwira Kuru".

Di antara para Pandawa, Arjuna merupakan kesatria pertapa yang paling teguh. Pertapaannya sangat khusyuk. Ketika ia mengheningkan cipta, menyatukan dan memusatkan pikirannya kepada Tuhan, segala gangguan dan godaan duniawi tak akan bisa menggoyahkan hati dan pikirannya. Maka dari itu, Sri Kresna sangat kagum padanya, karena ia merupakan kawan yang sangat dicintai Kresna sekaligus pemuja Tuhan yang sangat tulus. Sri Kresna pernah berkata padanya, "Pusatkan pikiranmu pada-Ku, berbaktilah kepada-Ku, dan serahkanlah dirimu pada-Ku, maka kau akan datang kepada-Ku. Aku berkata demikian, karena kaulah kawan-Ku yang sangat Kucintai".[1]

Masa muda dan pendidikan

Arjuna dididik bersama dengan saudara-saudaranya yang lain (para Pandawa dan Korawa) oleh Bagawan Drona. Kemahirannya dalam ilmu memanah sudah tampak semenjak kecil. Pada usia muda ia sudah mendapat gelar "Maharathi" atau "kesatria terkemuka". Ketika Guru Drona meletakkan burung kayu pada pohon, ia menyuruh muridnya satu-persatu untuk membidik burung tersebut, kemudian ia menanyakan kepada muridnya apa saja yang sudah mereka lihat. Banyak muridnya yang menjawab bahwa mereka melihat pohon, cabang, ranting, dan segala sesuatu yang dekat dengan burung tersebut, termasuk burung itu sendiri. Ketika tiba giliran Arjuna untuk membidik, Guru Drona menanyakan apa yang ia lihat. Arjuna menjawab bahwa ia hanya melihat burung saja, tidak melihat benda yang lainnya. Hal itu membuat Guru Drona kagum bahwa Arjuna sudah pintar.

Pada suatu hari, ketika Drona sedang mandi di sungai Gangga, seekor buaya datang mengigitnya. Drona dapat membebaskan dirinya dengan mudah, namun karena ia ingin menguji keberanian murid-muridnya, maka ia berteriak meminta tolong. Di antara murid-muridnya, hanya Arjuna yang datang memberi pertolongan. Dengan panahnya, ia membunuh buaya yang menggigit gurunya. Atas pengabdian Arjuna, Drona memberikan sebuah astra yang bernama "Brahmasirsa". Drona juga mengajarkan kepada Arjuna tentang cara memanggil dan menarik astra tersebut. Menurut Mahabharata, Brahmasirsa hanya dapat ditujukan kepada dewa, raksasa, setan jahat, dan makhluk sakti yang berbuat jahat, agar dampaknya tidak berbahaya.

Pusaka

Arjuna memiliki senjata sakti yang merupakan anugerah para dewata, hasil pertapaannya. Ia memiliki panah Pasupati yang digunakannya untuk mengalahkan Karna dalam Bharatayuddha. Busurnya bernama Gandiwa, pemberian Dewa Baruna ketika ia hendak membakar hutan Kandawa. Ia juga memiliki sebuah terompet kerang (sangkala) bernama Dewadatta, yang berarti "anugerah Dewa".



Pada suatu ketika, Raja Drupada dari Kerajaan Panchala mengadakan sayembara untuk mendapatkan Dropadi, puterinya. Sebuah ikan kayu diletakkan di atas kubah balairung, dan di bawahnya terdapat kolam yang memantulkan bayangan ikan yang berada di atas. Kesatria yang berhasil memanah ikan tersebut dengan hanya melihat pantulannya di kolam, berhak mendapatkan Dropadi.

Berbagai kesatria mencoba melakukannya, namun tidak berhasil. Ketika Karna yang hadir pada saat itu ikut mencoba, ia berhasil memanah ikan tersebut dengan baik. Namun ia ditolak oleh Dropadi dengan alasan Karna lahir di kasta rendah. Arjuna bersama saudaranya yang lain menyamar sebagai Brahmana, turut serta menghadiri sayembara tersebut. Arjuna berhasil memanah ikan tepat sasaran dengan hanya melihat pantulan bayangannya di kolam, dan ia berhak mendapatkan Dropadi.

Ketika para Pandawa pulang membawa Dropadi, mereka berkata, "Ibu, engkau pasti tidak akan percaya dengan apa yang kami bawa!". Kunti (Ibu para Pandawa) yang sedang sibuk, menjawab "Bagi dengan rata apa yang sudah kalian peroleh". Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Kunti, maka para Pandawa bersepakat untuk membagi Dropadi sebagai istri mereka. Mereka juga berjanji tidak akan mengganggu Dropadi ketika sedang bermesraan di kamar bersama dengan salah satu dari Pandawa. Hukuman dari perbuatan yang mengganggu adalah pembuangan selama 1 tahun.

Perjalanan menjelajahi Bharatawarsha

Pada suatu hari, ketika Pandawa sedang memerintah kerajaannya di Indraprastha, seorang pendeta masuk ke istana dan melapor bahwa pertapaannya diganggu oleh para raksasa. Arjuna yang merasa memiliki kewajiban untuk menolongnya, bergegas mengambil senjatanya. Namun senjata tersebut disimpan di sebuah kamar dimana Yudistira dan Dropadi sedang menikmati malam mereka. Demi kewajibannya, Arjuna rela masuk kamar mengambil senjata, tidak mempedulikan Yudistira dan Dropadi yang sedang bermesraan di kamar. Atas perbuatan tersebut, Arjuna dihukum untuk menjalani pembuangan selama 1 tahun.

Arjuna menghabiskan masa pengasingannya dengan menjelajahi penjuru Bharatawarsha atau daratan India Kuno. Ketika sampai di sungai Gangga, Arjuna bertemu dengan Ulupi, puteri Naga Korawya dari istana naga atau Nagaloka. Arjuna terpikat dengan kecantikan Ulupi lalu menikah dengannya. Dari hasil perkawinannya, ia dikaruniai seorang putra yang diberi nama Irawan. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanannya menuju wilayah pegunungan Himalaya. Setelah mengunjungi sungai-sungai suci yang ada di sana, ia berbelok ke selatan. Ia sampai di sebuah negeri yang bernama Manipura. Raja negeri tersebut bernama Citrasena. Ia memiliki seorang puteri yang sangat cantik bernama Citrānggadā. Arjuna jatuh cinta kepada puteri tersebut dan hendak menikahinya, namun Citrasena mengajukan suatu syarat bahwa apabila puterinya tersebut melahirkan seorang putra, maka anak puterinya tersebut harus menjadi penerus tahta Manipura oleh karena Citrasena tidak memiliki seorang putra. Arjuna menyetujui syarat tersebut. Dari hasil perkawinannya, Arjuna dan Citrānggadā memiliki seorang putra yang diberi nama Babruwahana. Oleh karena Arjuna terikat dengan janjinya terdahulu, maka ia meninggalkan Citrānggadā setelah beberapa bulan tinggal di Manipura. Ia tidak mengajak istrinya pergi ke Hastinapura.
Ilustrasi mengenai Kerajaan Dwaraka, kediaman Kresna di daerah Gujarat, dimana Arjuna bertemu dengan Subadra. Lukisan dari kitab Hariwangsa, dibuat sekitar abad ke-16.

Setelah meninggalkan Manipura, ia meneruskan perjalanannya menuju arah selatan. Dia sampai di lautan yang mengapit Bharatawarsha di sebelah selatan, setelah itu ia berbelok ke utara. Ia berjalan di sepanjang pantai Bharatawarsha bagian barat. Dalam pengembaraannya, Arjuna sampai di pantai Prabasa (Prabasatirta) yang terletak di dekat Dwaraka, yang kini dikenal sebagai Gujarat. Di sana ia menyamar sebagai seorang pertapa untuk mendekati adik Kresna yang bernama Subadra, tanpa diketahui oleh siapa pun. Atas perhatian dari Baladewa, Arjuna mendapat tempat peristirahatan yang layak di taman Subadra. Meskipun rencana untuk membiarkan dua pemuda tersebut tinggal bersama ditentang oleh Kresna, namun Baladewa meyakinkan bahwa peristiwa buruk tidak akan terjadi. Arjuna tinggal selama beberapa bulan di Dwaraka, dan Subadra telah melayani semua kebutuhannya selama itu. Ketika saat yang tepat tiba, Arjuna menyatakan perasaan cintanya kepada Subadra. Pernyataan itu disambut oleh Subadra. Dengan kereta yang sudah disiapkan oleh Kresna, mereka pergi ke Indraprastha untuk melangsungkan pernikahan.

Baladewa marah setelah mendengar kabar bahwa Subadra telah kabur bersama Arjuna. Kresna meyakinkan bahwa Subadra pergi atas kemauannya sendiri, dan Subadra sendiri yang mengemudikan kereta menuju Indraprastha, bukan Arjuna. Kresna juga mengingatkan Baladewa bahwa dulu ia menolak untuk membiarkan kedua pasangan tersebut tinggal bersama, namun usulnya ditentang oleh Baladewa. Setelah Baladewa sadar, ia membuat keputusan untuk menyelenggarakan upacara pernikahan yang mewah bagi Arjuna dan Subadra di Indraprastha. Ia juga mengajak kaum Yadawa untuk turut hadir di pesta pernikahan Arjuna-Subadra. Setelah pesta pernikahan berlangsung, kaum Yadawa tinggal di Indraprastha selama beberapa hari, lalu pulang kembali ke Dwaraka, namun Kresna tidak turut serta.

Terbakarnya hutan Kandawa

Pada suatu ketika, Arjuna dan Kresna berkemah di tepi sungai Yamuna. Di tepi hutan tersebut terdapat hutan lebat yang bernama Kandawa. Di sana mereka bertemu dengan Agni, Dewa Api. Agni berkata bahwa hutan Kandawa seharusnya telah musnah dilalap api, namun Dewa Indra selalu menurunkan hujannya untuk melindungi temannya yang bernama Taksaka, yang hidup di hutan tersebut. Maka, Agni memohon agar Kresna dan Arjuna bersedia membantunya menghancurkan hutan Kandawa. Kresna dan Arjuna bersedia membantu Agni, namun terlebih dahulu mereka meminta Agni agar menyediakan senjata kuat bagi mereka berdua untuk menghalau gangguan yang akan muncul. Kemudian Agni memanggil Baruna, Dewa Lautan. Baruna memberikan busur suci bernama Gandiwa serta tabung berisi anak panah dengan jumlah tak terbatas kepada Arjuna. Untuk Kresna, Baruna memberikan Cakra Sudarsana. Dengan senjata tersebut, mereka berdua menjaga agar Agni mampu melalap hutan Kandawa sampai habis.

Arjuna dalam masa pencapaian sorga
Relief Arjuna dan Siwa pada candi Surawana (Surowono), Jawa Timur. Di sini tampak Arjuna dan Siwa yang menyamar sebagai pemburu, sedang bertengkar mengenai siapa yang telah memanah babi hutan.

Setelah Yudistira kalah bermain dadu, para Pandawa beserta Dropadi mengasingkan diri ke hutan. Kesempatan tersebut dimanfa'atkan oleh Arjuna untuk bertapa demi memperoleh kesaktian dalam peperangan melawan para sepupunya yang jahat. Arjuna memilih lokasi bertapa di gunung Indrakila. Dalam usahanya, ia diuji oleh tujuh bidadari yang dipimpin oleh Supraba, namun keteguhan hati Arjuna mampu melawan berbagai godaan yang diberikan oleh para bidadari. Para bidadari yang kesal kembali ke kahyangan, dan melaporkan kegagalan mereka kepada Dewa Indra. Setelah mendengarkan laporan para bidadari, Indra turun di tempat Arjuna bertapa sambil menyamar sebagai seorang pendeta. Dia bertanya kepada Arjuna, mengenai tujuannya melakukan tapa di gunung Indrakila. Arjuna menjawab bahwa ia bertapa demi memperoleh kekuatan untuk mengurangi penderitaan rakyat, serta untuk menaklukkan musuh-musuhnya, terutama para Korawa yang selalu bersikap jahat terhadap para Pandawa. Setelah mendengar penjelasan dari Arjuna, Indra menampakkan wujudnya yang sebenarnya. Dia memberikan anugerah kepada Arjuna berupa senjata sakti.

Setelah mendapat anugerah dari Indra, Arjuna memperkuat tapanya ke hadapan Siwa. Siwa yang terkesan dengan tapa Arjuna kemudian mengirimkan seekor babi hutan berukuran besar. Ia menyeruduk gunung Indrakila hingga bergetar. Hal tersebut membuat Arjuna terbangun dari tapanya. Karena ia melihat seekor babi hutan sedang mengganggu tapanya, maka ia segera melepaskan anak panahnya untuk membunuh babi tersebut. Di saat yang bersamaan, Siwa datang dan menyamar sebagai pemburu, turut melepaskan anak panah ke arah babi hutan yang dipanah oleh Arjuna. Karena kesaktian Sang Dewa, kedua anak panah yang menancap di tubuh babi hutan itu menjadi satu.
Lukisan dari Himachal Pradesh yang dibuat sekitar abad ke-19, menggambarkan adegan saat Arjuna dijemput oleh para penghuni kahyangan.

Pertengkaran hebat terjadi antara Arjuna dan Siwa yang menyamar menjadi pemburu. Mereka sama-sama mengaku telah membunuh babi hutan siluman, namun hanya satu anak panah saja yang menancap, bukan dua. Maka dari itu, Arjuna berpikir bahwa si pemburu telah mengklaim sesuatu yang sebenarnya menjadi hak Arjuna. Setelah adu mulut, mereka berdua berkelahi. Saat Arjuna menujukan serangannya kepada si pemburu, tiba-tiba orang itu menghilang dan berubah menjadi Siwa. Arjuna meminta ma'af kepada Sang Dewa karena ia telah berani melakukan tantangan. Siwa tidak marah kepada Arjuna, justru sebaliknya ia merasa kagum. Atas keberaniannya, Siwa memberi anugerah berupa panah sakti bernama "Pasupati".

Setelah menerima anugerah tersebut, Arjuna dijemput oleh para penghuni kahyangan untuk menuju kediaman Indra, raja para dewa. Di sana Arjuna menghabiskan waktu selama beberapa tahun. Di sana pula Arjuna bertemu dengan bidadari Urwasi. Karena Arjuna tidak mau menikahi bidadari Urwasi, maka Urwasi mengutuk Arjuna agar menjadi banci. Kutukan itu dimanfaatkan oleh Arjuna pada saat para Pandawa menyelesaikan hukuman pembuangan mereka dalam hutan. Sesuai dengan perjanjian yang sah, Pandawa harus hidup dalam penyamaran selama satu tahun. Pandawa beserta Dropadi menuju ke kerajaan Wirata. Di sana Arjuna menyamar sebagai guru tari yang banci, dengan nama samaran Brihanala. Meskipun demikian, Arjuna telah berhasil membantu putra mahkota kerajaan Wirata, yaitu pangeran Utara, dengan menghalau musuh yang hendak menyerbu kerajaan Wirata.

Meletusnya perang

Setelah menjalani masa pembuangan selama 13 tahun para Pandawa ingin memperoleh kembali kerajaannya. Namun ketika sampai di sana, hak mereka ditolak dengan tegas oleh Duryodana, bahkan ia menantang untuk berperang. Demi kerajaannya, para Pandawa menyetujui untuk melakukan perang.

Arjuna menerima Bhagawadgita
Arjuna memilih Kresna daripada tentara Kresna. Lukisan dari Himachal Pradesh, sekitar akhir abad ke-18.