@bende mataram@
Bagian 278
Sama sekali tak terduga, bahwa Sangaji nampak luka parah masih mempunyai
sisa tenaga begitu dahsyat. Dan belum lagi keheranannya lenyap mendadak
saja punggung mereka terasa ces dingin kemudian berubah panas. Randukintir
terkejut setengah mati. Cepat ia memutar hendak mendamprat Malangyuda.
Pikirnya, keji benar kau Malangyuda! Mengapa kau memukul aku dengan
diam-diam selagi tak berjaga-jaga...? Tapi ia batal sendiri, karena melihat
Malangyuda tiba-tiba roboh ke tanah tak berkutik lagi. Selagi seseorang
yang mata pencariannya mengandalkan keperkasaan diri, sudah terlalu sering
ia menghadapi bermacam mara bahaya dan ancaman, la tak menjadi gugup.
Dengan mengerung ia meloncat hendak melepaskan pukulan ke arah Panji
Pengalasan. Tetapi orang itu nampak bersempoyongan dan jatuh tengkurap
pula. Dan di sana ia melihat melawan seorang laki-laki brewck yang melayani
dengan sekali-kali memperde-ngarkan suara tertawanya. Siapa lagi kalau
bukan Bagas Wilatikta. "Monyet! Iblis!" maki Randukintir. "Inilah caramu
memukul orang dari belakang?" Bagas Walatikta tak menjawab. Dia hanya
mempergandakan bunyi tertawanya. Selang beberapa saat lamanya, baru
berkata, "Kau mau maju majulah!" Randukintir mendongkol setinggi leher.
Terus saja ia mengayunkan tangan. Mendadak saja, tenaganya lenyap dan
kemudian jatuh terhuyung-huyung bersama egrangnya. Kembali lagi Bagas
Wilatikta tertawa melalui hidungnya. Tatkala itu Citrasoma sedang
melontarkan pukulan bertubi-tubi dengan tangan dan kerisnya. Tapi begitu
kena tangkis, ia memekik kesakitan. "Monyet!" maki Randukintir dari jauh.
Napasnya mulai tersengal-sengal. Suatu hawa dingin dan panas dengan
berbareng merayapi seluruh urat nadinya. Tahulah dia, bahwa Bagas Walatikta
tadi sudah menggunakan ilmu saktinya yang bernama Aji Gineng. Nama Aji
Gineng diambil dari kisah Arjuna Wiwaha. Diceritakan, raja raksasa
Nirwatakawaca setelah bertapa selama sepuluh tahun memperoleh aji tersebut
dari Hyang Rendra. Kesaktian aji itu dapat menguras habis tenaga manusia
yang kena pukulannya. Randukintir sadar akan bahaya. Tak berani lagi ia
mengumbar suara. Sebaliknya lalu mengatur napas dan mencoba melawan
kesaktian Aji Gineng dengan ilmunya sendiri. Dalam pada itu, Citrasoma yang
kena pu-kulan Aji Gineng, terus saja menggigil ke-dinginan. Sejenak
kemudian, roboh tak berkutik tak sadarkan diri. Pada saat itu Sangaji dalam
keadaan se-tengah sadar. Tak mampu ia berdiri, bahkan mencoba berkutikpun
tiada tenaga lagi. Karena itu, kedatangan Bagas Wilatikta sama sekali tak
diketahuinya. Panji Pengalasan yang jatuh tersungkur mencoba berkata,
"Bagas Wilatikta! Jauh-jauh sudah kudengar maksudmu hendak mengangkangi
kedua pusaka itu. Selama ini engkau menggenderangkan diri sebagai laki-laki
sejati. Mengapa menyerang dari belakang? Bukankah ini perbuatan manusia
keji?" "Hahaha..." potong Bagas Wilatikta. "Mengadu tenaga adalah binatang.
Sebaliknya siapa yang bisa menggunakan akal itulah manusia. Dalam medan
pertempuran, akal, siasat dan tipu muslihat adalah lumrah. Kalian dahulu
menjebak Wirapati dengan akal pula. Kini, akupun menggunakan akal. Apakah
celanya?" Didebat demikian, Panji Pengalasan tak dapat berbicara lagi. Ia
tahu, Bagas Wilatikta adalah manusia tangguh. Kecuali itu pandai
menggunakan akal dan mengatur siasat. Bahwasanya dia kena terjebak,
sudahlah semestinya. "Kentut! Tiba-tiba Randukintir memaki. "Benar aku
termasuk begundalmu, tapi aku tak ikut campur." "E, hem! Apakah bedanya
dengan per-buatanmu sekarang. Bukankah engkau kini ikut pula berkomplot
menghadang murid Wirapati? Hm hm... mana bisa kalian luput dari
pengawasanku? Sekarang sudah nyata siapa yang kalah dan menang. Aku seorang
diri sudah bisa menjatuhkan kalian dengan berbareng. Apakah perlu
dibicarakan lagi?" Suatu kesunyian terjadi. Mereka yang kena hantam Bagas
Wilatikta sadar akan bahaya. Pintu maut terbuka lebar di hadapannya. Dalam
keadaan tak bisa berkutik, sekali Bagas Wilatikta mengayunkan tangannya
berarti mengirimkan nyawa mereka ke udara. Mereka semua kenal sepak terjang
dan perangai Wilatikta. Sekali bertindak tak kepalang tanggung. Sangaji
yang rebah setengah sadar, men-dadak memperoleh tenaga baru. Hal itu
dise-babkan oleh daya sakti getah Dewadaru. Tatkala tadi timbul suatu
persaingan hebat antara ilmu Bayu Sejati —Kumayan Jati dan ilmu ciptaan
Kyai Kasan Kesambi, getah sakti tersebut kena diombang-ambingkan. Setelah
ketiga ilmu sakti tersebut lenyap, Dewadaru mulai menghisap tenaga
jasmaniah. Itulah sebabnya, Sangaji rebah tak dapat berkutik kehabisan
tenaga. Kemudian suatu hal yang membuat nyawanya tertolong karena ia jatuh
pingsan. Dengan demikian tiada kegiatan tata jasmaninya. Dan begitu
Dewadaru tak mem-peroleh perlawanan dengan sendirinya lantas menusup
kembali ke jalan darah. Tanpa di-sadari Sangaji sendiri, ia membangunkan
peredaran darah dan sedikit demi sedikit menghimpun tenaga muminya. Sayang
sekali, Sangaji dalam keadaan luka parah, sehingga tenaga yang terhimpun
merembes ke luar. Meskipun demikian, dibandingkan dengan keadaan kelima
lawannya pada saat itu, ia jauh lebih beruntung. Tatkala menjenakkan mata,
ia heran apa sebab kelima lawannya tiada menyerang lagi. Sekonyong-konyong
ia mendengar percakapan yang penghabisan itu yang disusul dengan suatu
kesunyian. Ia menegakkan kepala dan melihat sesosok tubuh. Waktu itu bulan
kian menjadi cerah, sehingga berewok Bagas Wilatikta samar-samar terlihat
juga. Dan begitu ia mengenal siapa dia, hatinya tergetar. "Hai Citrasoma!
Malangyuda! Panji Penga-lasan! Baruna dan Randukintir! Dengarkan, kalian
sendiri yang menetapkan siapa yang berhak memiliki kedua pusaka Bende
Mataram," kata Bagas Wilatikta. "Dan aku datang untuk menetapi perjanjian
ini. Apakah kalian berpenasaran?" Sangaji menebarkan penglihatannya.
De-ngan keheran-heranan, ia menyaksikan beta-pa kelima lawannya tadi jatuh
terkapar di atas tanah tanpa berkutik. "Bangsat!" maki Malangyuda yang
sudah bisa memperoleh sisa tenaganya. "Selagi kita bertempur, kau memukul
dari belakang. Kalau Citrasoma dan Baruna sedang bertempur mengkerubut
seorang laki-laki berewok yang ternyata adalah Bagas Wilatikta. kau seorang
kesatria, marilah kita bertempur sampai mati di kemudian hari..." "Ajalmu
sudah di depan matamu, masih saja kau berlagak ksatria sejati?" bentak
Bagas Wilatikta. Kemudian tertawa perlahan sambil berkata, "Kau sendirilah
yang goblok. Siang aku sudah berada di sini, tapi telingamu begitu tuli."
MendengarMeapafTBagas Wilatikta, Sangaji terkesiap. Maklumlah, semenjak
memperoleh ilmu sakti Kumayan Jati dan ilmu ciptaan Kyai Kasan Kesambi,
panca indra bekerja sangat peka. Walaupun demikian, masih juga belum bisa
menangkap beradanya Bagus Wilatikta. Hal itu membuktikan, bahwa Bagas
Wilatikta memiliki ilmu sangat tinggi jauh di atasnya. Memperoleh
pertimbangan demikian, diam-diam ia mengeluh dalam hati. Sekonyong-konyong
Bagas Wilatikta ber-putar menghadap padanya. "Kaupun telah sadar lagi.
Napasmu mulai teratur. Tetapi sisa tenaga yang kau peroleh paling banyak
tiada melebihi manusia lum-rah." Kembali Sangaji terkejut. Orang itu
benar-benar hebat. Pantas kedua pamannya memuji keperkasaannya, tatkala
lagi bertem-pur mengadu tenaga. "Kau bernama Sangaji bukan?" katanya
meneruskan. Tadi kudengar engkau menye-butkan namamu sendiri.
Kuperingatkan, ja-ngan sekali-kali kau menyebutkan nama begi-tu gampang di
tengah lapangan. Coba, andaikata dahulu aku tak mendengar ujarmu perkara
kedua pusaka Bende Mataram secara kebetulan tatkala engkau berjalan bersama
guru dan pamanmu, masakan gurumu kena aniaya orang." Ontuk ketiga kalinya,
Sangaji terkejut lagi. Masih teringat segar dalam benaknya, bagai-mana ia
kelepasan kata sewaktu menggam-barkan tentang kedua pusaka Bende Mataram
yang diwariskan Wayan Suage kepadanya. Tatkala itu ia mendengar suara
bergemeresek. Ternyata selain Titisari, masih terdapat manusia berewok itu
dengan rekan-rekannya. Dan malam itu pamannya Bagus Kempong beradu tenaga
dengan Bagas Wilatikta sehingga luka parah. Kemudian seorang laki-laki
berperawakan tinggi semampai datang menjenguk, sewaktu Bagus Kempong dan
Wirapati beristirahat di gardu Dusun Salatiyang. Teringat perawakan
Randukintir, hatinya terkesiap. "Hihihaaa..." Bagas Wilatikta tertawa
me-lalui dada. Baiklah kuterangkan sebab mu-sababnya gurumu kena aniaya.
Kedua pu-saka itu sudah sepuluh dua puluh tahun yang lalu menjadi
pembicaraan orang. Tahu-tahu ia berada dalam genggamanmu. Kami terus
menguntit gurumu. Lantas menje-bak sampai ke Ambarawa. Dan di sana guru-mu
kena pukulan beracun. Tulang iga-iganya kena remuk orang itu yang bernama
Ma-langyuda." "Bohong!" tiba-tiba Sangaji memotong. "Tak percaya aku. Guru
takkan kalah melawan dia." Bagas Walatikta tertawa berkakakan sambil
berputar mengarah kepada Malangyuda. Kemudian berkata nyaring, "Hai
Malangyuda! Dengar sendiri. Selagi anak belum pandai beringus sudah bisa
membedakan antara ksatria dan bangsat. Kau berlagak seorang ksatria sejati
segala. Cuh! Nah, kau mau bilang apa?" ia berhenti mengesankan. Lalu kepada
Sangaji. "Ucapanmu betul. Gurumu memang takkan kalah melawan dia. Kami
semua tahu menaksir kekuatan gurumu. Karena itu, dia harus kami jebak
bersama. Setelah jatuh, ksatria sejati Malangyuda itu lantas berlagak
seorang pahlawan yang mau menentukan pukulan penghabisan. Dalam keadaan
sete-ngah pingsan, gurumu diremukkan tulang-tulangnya." Mendengar
keterangan Bagas Walatikta, Sangaji menggigil oleh dendam dan marah
melebihi batas. Malangyuda sendiri lantas menggerung. Namun tak dapat
membatah. "Tapi kau jangan kecil hati," kata Bagas Wilatikta. "Aku tahu,
kau menanggung den- dam. Aku nanti yang membalaskan dendam. Lihat!"
Mendadak saja, ia melesat menerjang Malangyuda. Dengan tiga kali hantaman,
Malangyuda roboh terguling. Nyawanya kabur entah ke mana. Sangaji kaget.
Terhadap Malangyuda me-mang ingin ia membalas dendam. Tapi ia tak menduga,
bahwa Bagas Wilatikta bisa berbuat begitu mendadak dan kejam luar biasa.
Sebaliknya begitu Malangyuda mati kena pukulan Aji Gineng, rekan-rekannya
mengeluh berputus asa. "Kau puas bukan?" teriak Randukintir. "Nah, bunuhlah
kami. Dengan begitu kedua pusaka itu memjadi milikmu." "Membunuh engkau
gampangnya seperti membalik tangan. Apa perlu tergesa-gesa?" sahut Bagas
Wilatikta dengan tertawa licik. "Hm... biarlah dia membunuh kita," sam-bung
Citrasoma yang telah sadar dari pingsannya. "Masakan tahu di mana kedua
pusaka itu kini berada..." "Cuh!" Bagas Wilatikta meludah. Kemudian
menggerung, "Masakan aku tak tahu. Siang-siang aku sudah berada di sini.
Bukankah kedua pusaka itu kau sembunyikan di dalam gerumbul itu?" Muka
Citrasoma berubah hebat. Meskipun dalam malam hari, Sangaji seolah-olah
meli-hat betapa pucat dia. Bagas Wilatikta sendiri merasa menang.
Bersambung
Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:
Posting Komentar