@bende mataram@
Bagian 277
Dengan memutar kapak ia berniat hendak menghabisi nyawa. Tetapi tatkala
kapaknya hampir membabat tubuh, mendadak saja pancing Randukintir
melibatnya dan memukul balik. "Hai bangsat! Kenapa?" bentaknya. "Kentutmu!"
maki Randukintir dengan melo-totkan mata. "Masakan kau yang akan menjadi
pemilik kedua pusaka Bende Mataram? Mana bisa?" Malangyuda heran bukan
main. Se-konyong-konyong sadarlah dia. Tahulah aku kini, pikirnya. Jikalau
anak ini mati di tangannya, bukankah dia akan mempunyai suara besar dalam
penentuan membagi hasil? Oleh pertimbangan itu, ia menjadi kalap. Sekarang
ia tak lagi mengancam Sangaji, tetapi berbalik memukul Randukintir. Mereka
terus saja saling menggebrak. Panji Peng-alasan yang bisa berpikir segera
menegur. "Hai kenapa kau saling hantam?" Baik Malangyuda maupun Randukintir
tak menjawab. Tetapi seperti berjanji mereka ber-gerak melebat. Mau tak mau
Panji Pengalasan terpaksa menangkis. Citrasoma yang cerdik tak sudi
melibatkan diri. Dengan tersenyum licik ia maju mendekati Sangaji bersama
Baruna. Pada waktu itu, darah Sangaji masih saja menyembur. Napasnya
mencekik leher. Walaupun demikian, ia masih sadar meng-hadapi lawan. Dengan
memaksa diri ia berdiri tegak dan menghalang melindungi Willem. Keempat
penunggang kuda melepaskan anak panahnya lagi. Sangaji jadi putus asa.
Pikirnya, habislah sudah usahaku. Benar-benar aku ini seseorang tiada guna.
Dengan mengangkat tangan ia mengibaskan lengan. Dua panah kena disampoknya
jatuh. Dua panah lainya menyerempet kedua pundaknya hampir berbareng.
Darahnya lantas saja mengucur membasahi dada. "Serahkan saja nyawamu!" Kata
Citrasoma dengan tersenyum dengki. Meskipun engkau berotot kawat bertulang
besi masakan bisa melawan tenaga gabungan kami." Ucapan Citrasoma itu,
meskipun menya-kitkan hati sesungguhnya benar. Diam-diam Sangaji mengeluh
dalam hati. Pikirnya, keem-pat penunggang kuda itu andaikata tidak
mengganggu masakan aku tak mampu melawan. Teringat akan gurunya yang kena
siksa demikian rupa, menggigillah seluruh badan-nya. Apakah ia harus
menyerah begitu saja menerima nasib? Tidak! Dan sekonyong-konyong
teringatlah dia, bahwa dalam kantongnya tersimpan segenggam biji sawo, dari
Gagak Seta. Dahulu ia pernah memperoleh ilmu menimpuk biji sawo dari Gagak
Seta. Selama itu, belum pernah mempergunakan atau mengingat-ingatnya, ia
menganggap senjata itu kurang perwira. Gurunya dahulu, Wirapati berpaham
demikian juga. Tetapi kini, ia lagi menghadapi soal mati atau hidup.
Keempat penunggang kuda itu jadi penasaran karena panahnya kena disemplok,
waktu itu mulai memasang anak panahnya lagi. Mereka semua tergolong manusia
setengah biadab. Tidak hanya berdaya wajar, tetapi menggembol senjata racun
pula. Sebaliknya, biji sawo ini tiada berbisa. Apakah aku tak boleh melawan
senjata mereka dengan senjata timpukan? Sangaji berimbang-imbang. Tiba-tiba
ia mendengar salah seorang penunggang kuda mulai melepaskan panah.
Citrasoma yang tersenyum licik, membarengi menyerang pula. Saat itu
benar-benar ia merasa terdesak. "Baiklah! Demi membalas dendam, biarlah aku
menggunakan senjata bidik ini, Guru! Izinkan aku!" Sangaji mengambil
keputusan. Dengan sekali melompat, ia memukul Citrasoma dengan sisa
tenaganya. Meskipun tenaga tekanannya jauh berkurang, namun mengingat
pengalaman, Citrasoma tak berani menyongsong. Orang itu mengelak ke
sam-ping. Dan waktu itu, Sangaji terus menyampok anak panah yang mendesing
membidik si Willem. Berbareng dengan itu, ia melepaskan biji-biji sawo enam
kali sekaligus. Inilah untuk yang pertama kalinya, ia menggunakan senjata
ajaran Gagak Seta. Seperti diketahui, ajaran membidikkan biji sawo itu
tidak hanya mengutamakan lontaran tenaga jasmani belaka, tapi harus pula
mengingat tata pernapasan. Dalam hal tata napas, Sangaji sudah mahir.
Itulah sebabnya, sama sekali tak menemui kesulitan. Apalagi, ia sudah boleh
dikatakan paham akan gaya ilmu ciptaan Kyai Kasan Kesambi yang mengutamakan
tekanan tata napas dan jalan darah yang berbareng. Keempat penunggang kuda
itu sama sekali tak sadar akan datangnya maut. Kecuali tak menduga sama
sekali, sambaran biji sawo sama sekali tak terlihat dalam malam bulan
remang-remang. Tahu-tahu dada mereka kena bidik dan tembus seperti
tertusuk. Mereka menjerit berbareng dan jatuh bergedebukan dari atas
kudanya. Jerit mereka, mengagetkan Randukintir, Panji Pengalasan dan
Malangyuda yang sedang saling bergebrak. Terus saja mereka berhenti
berkelahi dan mengarahkan pandangnya kepada keempat pembantunya. Mereka
heran melihat Sangaji masih bisa bergerak, bahkan mencoba melawan serangan
Citrasoma. "Mari kita singkirkan dahulu bocah itu. Baru kita menentukan
sikap!" ajak Panji Pengalasan dengan bersungut-sungut. Sangaji sendiri tak
mengira, akan memper-oleh hasil begitu baik dan gampang. Hatinya yang mulai
menciut kini timbul harapannya. Pikirnya cepat, tenagaku sudah berkurang.
Biarlah mereka kulawan dengan timpukan biji sawo. Bagaimana kesudahannya
masakan harus kupikirkan? Dari pada menyerah, biarlah aku berjuang sampai
saat ajalku. Benar juga. Terus saja ia melepaskan senjata bidiknya sambil
mendekati si Willem. "Awas!" teriak Citrasoma. Mereka berlima bukan seperti
keempat pembantunya. Kecuali ilmu kepandaiannya jauh di atas mereka,
sesungguhnya sudah bisa menggunakan senjata gerak cepat. Karena itu, begitu
mendengar peringatan Citrasoma lantas saja melesat ke samping sambil
menyerang. Mau tak mau Sangaji, terdesak lagi dalam kerepotan. Teringatlah
akan kudanya, cepat ia melompat sambil mengibaskan tangan memangkas tali
pengikat. Dan sekali kena pemangkas tangannya, si Willem terbebas dari
hukuman. Kuda itu lantas saja berjingkrak melompat ke udara. "Serang!"
teriak Malangyuda. Randukintir terus saja menyabetkan senjata pancingnya
berbareng dengan senjata pacul Panji Pengalasan. Malangyuda sendiri tak
ketinggalan. Sedangkan Citrasoma dan Baruna mengepung dari belakang
punggung menghadapi jalan ke luar. Dengan menggerung Sangaji memapaki
senjata mereka sambil menyabitkan biji sawo. Beberapa saat lamanya dia bisa
bertahan. Tapi lambat laun tenaganya mulai habis. Darahnya sudah agak
banyak membasahi tubuhnya. Dadanya terasa sesak dan matanya mulai
berkunang-kunang pula. Tak kusangka bahwa akhirnya aku mati di sini,
keluhnya dalam hati. Rupanya nasibku samalah halnya dengan Ayah dan Guru.
Tapi watak Sangaji tak gampang-gampang menyerah. Sewaktu berumur 14 tahun,
ia bertahan mati-matian terhadap cemeti Mayor de Groote. Ia pernah pula
membabi buta melawan empat pemuda Belanda yang jauh lebih perkasa dari
padanya. Meskipun akhir-nya kemudian ia dilemparkan ke dalam parit, namum
dalam hatinya emoh menyerah. Begitu juga kali ini. Terang sekali tenaganya
makin lama makin habis tak ubah seperti sebuah pelita nyaris kehabisan
minyak. Namun dengan mendadak timbulah ke-nekatannya hendak mati berbareng.
Oleh keputusan itu, segera ia menarik serangannya. Kemudian dengan segala
kekerasan hati, mengumpulkan sisa tenaganya. "Biariah aku melepaskan
pukulan ilmu sakti Kumayan Jati dengan jurus ilmu ciptaan Eyang Guru.
Sebelum menutup matanya, inginlah aku mengetahui apakah aku sudah berhasil
menggabungkan kedua ilmu sakti itu." Tatkala lagi memepelajari rahasia tata
tena-ga ilmu sakti Kumayan Jati, Gagak Seta mengetahui bahwa dalam diri
Sangaji mem-punyai getah ajaib Dewadaru. Kecuali itu, Sangaji mempunyai
ilmu Bayu Sejati ajaran Ki Tunjungbiru. Kedua ilmu itu bertentangan
sifatnya. Masing-masing bersandar pada tenaga pokok Dewadaru. Menurut Gagak
Seta, apabila Sangaji berhasil melebur dua ilmu sakti tersebut ke dalam
getah sakti Dewadaru yang mempunyai sifat menghisap, siapa saja takkan
tahan menerima pukulannya. Sebaliknya, sebelum berhasil ia dilarang
menggunakan dua ilmu gabungan. Bahayanya akan memakan diri sendiri. Dahulu
dia pernah jatuh pingsang sewaktu mencoba menggunakan dua ilmu gabungan
tersebut. Kini, Sangaji hendak menggunakan kedua ilmu sakti sekaligus.
Yakni, ilmu sakti Kuma-yan Jati dan ilmu ciptaan Kyai Kasan Kesambi yang
mempunyai tata napas dan tata tenaga sendiri. Sudah barang tentu, bahayanya
sangat besar. Tetapi pada saat itu, ia tak memikirkan lagi soal hidup dan
mati. Tekadnya hanya hendak mati berbareng dengan kelima musuhnya sebagai
pembalas dendam gunanya. Demikianlah, maka pada saat itu, getah sakti
Dewadaru mulai menggoncang seluruh tubuhnya. Ilmu sakti Kumayan Jati dan
ilmu ciptaan Kyai Kasan Kesambi saling berebut mencari sandaran tenaga.
Seperti diketahui, Gagak Seta dan Kyai Kasan Kesambi adalah dua orang
pendekar yang mempunyai kedudukan masing-masing. Dalam suatu per-lombaan
adu ilmu kepandaian, mereka meru-pakan saingan berat. Dengan sendirinya,
ilmu masing-masing jauh berbeda. Itulah sebabnya, kedua ilmu tersebut
lantas saja saling bertempur dengan sengit. Tanpa disadari Sangaji sendiri,
ilmu Bayu Sejati yang bersifat mempertahankan diri terus saja timbul karena
merasa kena serang. Dengan demikian dalam diri Sangaji terjadilah suatu
medan laga yang dahsyat bukan main. Randukintir, Malangyuda, Panji
Pengalasan, Citrasoma dan Baruna sudah barang tentu tak mengetahui
perubahan itu. Mereka hanya melihat, betapa tubuh Sangaji menggigil sampai
tergoncang-goncang. Napasnya tersengal-sengal dan memenuhi kesulitan
mempertahankan diri. Diam-diam mereka bergi-rang hati. Terus saja mereka
menubruk dengan berbareng dan melontarkan pukulan menentukan. Pada saat
itu, mata Sangaji sudah berku-nang-kunang. Apa yang terjadi di sekitar
dirinya hanya nampak berkelebat seperti bayangan. Mendadak ia mendengar
kesiur angin. Tanpa berpikir lagi, ia memapaki dan melontarkan suatu
pukulan ilmu gabungan dengan sekaligus. Kesudahannya hebat bukan main.
Sangaji terpental sepuluh langkah dan memuntahkan darah segar IagL Luka
dalamnya bertambah parah. Kemudian jatuh pingsan. Tetapi kelima lawannya
tiada bebas dari hantamannya yang kuat luar biasa. Mereka mundur
terhuyung-huyung dengan mata berkunang-kunang. Dalam hati, mereka terkejut.
Bersambung
Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:
Posting Komentar