@bende mataram@
Bagian 276
Terpaksa Baruna tak dapat berkelahi lagi. Dengan memaksa diri ia menguasai
peredaran darahnya. Namun tak urung, darah segar terlontar juga dari
mulutnya. Randukintir, Citrasoma dan Panji Pengalasan bertiga, diam-diam
bergirang hati. Dengan ter-lukanya Malangyuda dan Baruna berarti kurangnya
saingan mereka. Kemudian dengan hati-hati mereka mendesak Sangaji yang
ternyata tangguh melebihi dugaan semula. Sambil berkelahi Sangaji
memperhatikan gerak-gerik Citrasoma yang serba rahasia. Orang itu
kadang-kadang nampak tersenyum licik dan sekali-kali mengerling kepada
Panji Pengalasan yang berwajah halus seperti priyayi. Senjata Panji
Pengalasan yang berben-tuk sebatang pacul, aneh pula perubahannya: Kadang
kala membongkar tanah, kemudian mementalkan. Setelah berputar mengawang ke
udara dan turun dengan dahsyat mengancam kepala. Selama hidupnya, Sangaji
belum pernah menghadapi senjata semacam itu. Namun demikian tak berani ia
terlalu mencurahkan perhatiannya kepadanya, karena senyum licik Citrasoma
sangat mencurigakan. Si mulut jahil Randukintir, sebenarnya tak boleh
dianggap remeh. Kecuali bersenjata pancing, ia berkelahi di atas egrapgnya.
Sepak terjangnya gesit di luar dugaan. Tetapi terhadap orang-orang ini,
Sangaji memperoleh kesan baik. Suaranya yang keras dan tajam, mengandung
kejujuran. Entah memang demikian pula pengucapan hatinya, hanya setan dan
iblis yang tahu. Selagi mereka bertempur, empat penung-gang kuda yang
berada di luar gelanggang mulai bergerak. Yang seorang tadi kena hajar
Sangaji tatkala menganiaya seorang perem-puan. Tetapi tiga orang lainnya
masih segar bugar. Mereka bertiga merasa bukan tan-dingan Sangaji. Karena
itu, terus saja mempersiapkan senjata panahnya. Kemudian dengan berbareng
melepaskan anak panah yang segera bersuing di udara. Sangaji terkejut
mendengar bunyi desing itu. Menghadapi tiga lawan tangguh itu, ia bersikap
hati-hati. Meskipun belum tentu kalah, tetapi menangpun bukanlah gampang.
Hal itu bisa dimengerti. Gurunya sendiri, Wirapati tak mampu menandingi
dengan berbareng. Mendadak saja, tiga panah terus menyambar. Terkejut ia
mengibaskan tangan dan buru-buru mengelak ke samping. Dengan demikian garis
pertahanannya berubah. Randukintir, Citrasoma dan Panji Pengalasan adalah
tiga pendekar yang berpengalaman. Begitu melihat lowongan, terus saja
menyerang dengan berbareng. Menghadapi bahaya, Sangaji tak menjadi gugup.
Untuk menahan serangan mereka, ter-paksa ia menggunakan ilmu sakti Kumayan
Jati. Seperti diketahui ilmu sakti tersebut, bisa memukul lawan dari jauh.
Sayang, lawannya sedang bergerak sehingga hasilnya tak begitu memuaskan.
Meskipun demikian, daya tekanannya bisa pula menahan rangsakan mereka.
Dalam perbandingan, ilmu Sangaji tak usah takut kalah dibandingkan dengan
mereka. Pada waktu itu, gurunya sendiri belum pasti bisa mengalahkan.
Tetapi karena ia dikerubut tiga orang dan diganggu empat orang dari luar
gelanggang, ia jadi kerepotan juga. Kecuali itu, ia kalah dalam hal
pengalaman dan masa meyakinkan. Randukintir segera melecutkan senjata
pancing yang mendengung di angkasa. Panji Pengalasan dan Citrasoma dengan
geregetan.( gemas) mulai merangsak hebat. Sekalipun demikian, mereka tak
dapat berbuat banyak oleh garis pertahanan ilmu sakti Kumayan Jati yang
rapat bukan main. Bahkan sekali-kali Sangaji mencampur dengan jurus-jurus
ilmu ajaran Jaga Saradenta, Wirapati dan ilmu ciptaan Kyai Kasan Kesambi.
Kedudukannya bertam-bah lama bertambah kuat dan kokoh. Tak lama kemudian
rangsakan senjata Randukintir makin terasa berbahaya. Panji Pengalasan dan
Citrasoma tak mau keting-galan pula. Tekanan mereka, mau tak mau membuat
hati Sangaji gelisah. Kalau terus menerus begini, bagaimana aku bisa
membalas dendam guru. Rupanya, aku tak sanggup menandingi, pikir Sangaji
resah. Benar-benar aku ini seorang laki-laki tiada gunanya hidup lama lagi.
Kalau sampai keempat pembantunya terjun pula ke gelanggang... hm... entah
bagaimana nanti akibatnya. Selagi ia bergelisah, mendadak saja Citra-soma
memekik aneh. Kedua temannya terus saja melesat. Sangaji terkejut dan
kecurigaannya menusuk kepala. Tatkala itu, ia melihat Citrasoma tegak
berdiri kaku bagai mayat. Tubuhnya kemudian melompat tinggi, lalu turun
lagi dengan mengibaskan tangan. Inilah suatu serangan yang aneh dan
mencurigakan. Tanpa berpikir panjang lagi, Sangaji terus menjejak tanah dan
mundur empat langkah. Pada saat itu, penciumannya mencium bau harum dupa.
Pandang matanya jadi kabur. Apabila ia memaksakan diri menjenakkan mata,
sekilas pandang terlihatlah gumpalan asap hitam turun sebagai tirai.
"Celaka!" ia kaget. Tahulah dia, bahwa lawannya sedang menyebar racun bubuk
berupa asap. Segera ia menahan pernapasan-nya. Kemudian melompat mendesak
dengan melontarkan pukulan ilmu sakti Kumayan Jati. Citrasoma heran.
Terang-terang Sangaji telah menghisap racun, namun belum roboh juga. Bahkan
bisa melontarkan pukulan dah-syat tanpa terganggu. Biasanya sekalipun
harimau pasti roboh begitu mencium racunnya. Kenapa dia masih begini gesit
dan segar bugar? pikirnya menebak-nebak. Citrasoma tak tahu, bahwa dalam
diri pemuda itu mengeram getah sakti Dewadaru yang dapat menawarkan segala
racun yang berada di muka bumi ini. Selain itu, madu tabuhan Tunjungbiru
merupakan obat pemunah tiada bandingnya. Karena itu Citrasoma yang
mengandalkan senjata uap beracunnya gagal dalam hal ini. Hatinya mendongkol
bukan kepalang. Dengan kegusaran yang menyala-nyala dalam dadanya, ia
melompat sambil menyerang. Saat itu, Sangaji melepaskan pukulan ilmu sakti
Kumayan Jati untuk yang kedua kalinya. Gugup Citrasoma melesat ke samping.
Walaupun demikian, tak urUng ia masih keserempet juga. Tubuhnya tergoncang
hebat dan hampir saja terpental jungkir balik mencium tanah. "Awas! Bocah
ini benar-benar berbahaya!" serunya terkejut. Dengan cepat ia menyebarkan
racun asap-nya lagi. Randukintir dan Panji Pengalasan yang mengenal
hebatnya racun Citrasoma dengan sebat melompat ke samping. Mereka bebas
dari asap beracun, namun dadanya seperti mau muntah. Itulah sebabnya, tak
berani mereka mendekat lagi. Citrasoma sendiri tak takut menghadapi
racunnya sendiri, karena sebelumnya telah menelan obat pemurahnya. Sangaji
tak sudi menunggu tibanya serang-an itu. Cepat ia menggeser ke samping dan
melepaskan pukulan jurus ciptaan Kyai Kasan Kesambi dengan tenaga lontaran
pergolakan getah Dewadaru. Melihat bahaya itu, gugup Citrasoma mundur
berjungkir balik. Dan begitu desir angin pukulan Sangaji lewat di
antaranya, Panji Pengalasan mendesak maju. Senjata paculnya terus menyambar
dahsyat. Sangaji terkejut. Semenjak tadi sadarlah dia, bahwa senjata Panji
Pengalasan tak boleh diremehkan. Cepat ia mendahului menyerang dada. Oleh
serangan itu, Panji Pengalasan menarik tangan kirinya melindungi dada.
Mendadak saja, Sangaji membatalkan serang-an dan terus menyabet lambung.
Sudah barang tentu Panji Pengalasan kaget sampai memekik. Tahu-tahu,
tubuhnya terpental dan menggelinding seperti bola. Dengan jatuhnya dua
lawan, Sangaji bisa bernapas agak lega. Mendadak saja di luar dugaan,
keempat pembantu mereka yang berada di luar gelanggang melepaskan panah
dengan berbareng. Dan batang panah lang-sung mengancam padanya, tetapi yang
lain-nya menyerang si Willem. Melihat bersuingnya dua batang panah
mengancam Willem, Sangaji terkejut. Gugup ia mengibaskan tangan menangkis
panah yang menusuk padanya. Kemudian dengan gugup ia melontarkan pukulan
dari jauh. Jarak antara dia dan Willem kurang lebih dua puluh langkah.
Meskipun tenaga lontarannya cukup kuat namun belum mampu menyapu bersih.
Dengan hati mencelos5) ia melihat menyam-barnya sebatang panah yang agak
mencong kena pukulannya namun masih saja membidik sasarannya. "Jahanam!
Mengapa memanah kuda?" ben-tak Sangaji dengan gemetar. Terus saja ia
bersuit tinggi. Mendengar suitannya, Willem bergerak menggeser badan.
Dengan begitu luputlah ia dari ancaman panah. Namun masih saja menyerempet
ekornya, sehingga ia kaget berjingkrakan. Menyaksikan betapa gugupnya
Sangaji melindungi kudanya, mereka seperti tergugah penglihatannya. Terus
saja dengan licik me-nyerang Willem. "Bunuh dahulu kudanya!" Mereka saling
memberi aba-aba. Sangaji gusar bukan kepalang mendengar teriakan mereka.
Terus saja ia melompat melindungi Willem. Begitu melihat Willem
berjingkrakan, dengan gagah ia berkata. "Willem! Jangan takut!" Waktu itu,
Malangyuda dan Baruna sudah dapat bergerak kembali. Sekalipun
gerak-geriknya belum leluasa, namun dengan datangnya mereka Sangaji jadi
kerepotan. Apa lagi mereka berkelahi seperti anjing gila oleh dendam dan
rasa benci yang meluap-luap. Randukintir, Panji Pengalasan dan Citrasoma
melibatnya dengan berbareng sehingga ia tak dapat melindungi Willem. Sedang
empat orang yang bersenjata panah bergerak menyerang WiHem. Betapa gugup
dan gelisah hati Sangaji, tak dapat dilukiskan lagi. Ia bertempur dengan
berlari-larian. Perhatiannya lebih ditumpahkan kepada keselamatan si
Willem. Tetapi apabila ia hendak mendekati, kelima lawannya terus saja
melibatnya. Dengan begitu sia-sialah usahanya hendak membebaskan si Willem
dari ancaman mereka. Hm... kalau saja aku bisa melepaskan tali ikatannya,
pikirnya. Namun maksud itu tak gampang-gampang bisa dilaksanakan. Mendadak
saja empat batang panah nampak menyambar. Gugup ia menjejak tanah dan tanpa
berpikir panjang lagi, terus saja menubruknya. Hebat kesudahannya. Keempat
batang panah itu kena ditangkisnya mencong. Sebaliknya dialah yang menjadi
korban. Dalam saat kedudukannya belum kokoh, kelima lawannya menyerang
dengan berbareng. Ia memekik kaget. Maklumlah, baru saja ia melompat dan
belum lagi mendarat di atas tanah dengan baik. Maka dengan terpaksa ia
menangkis sebisa-bisanya. Keras melawan keras. Mereka berlima bukanlah
orang-orang biasa. Mereka semua adalah kawanan pendekar yang memiliki
tenaga sakti. Perban-dingan tenaga Sangaji waktu itu, barangkali lagi satu
melawan dua. Karena itu, begitu kena benturan lima tenaga dengan berbareng,
seketika itu juga tergoncanglah tubuhnya. Apalagi kedudukannya, belum
kokoh. Tak ampun lagi, ia terpental dua langkah dan memuntahkan darah
segar. Malangyuda girang melihat jatuhnya lawan.
Bersambung
Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:
Posting Komentar