@bende mataram@
Bagian 275
Memang itulah yang dikehendaki Randukintir. Apabila seseorang sudah kena
dipengaruhi rasa dendamnya secara berlebih-lebihan, cara berkelahinya akan
cepat menjadi kalut. Untunglah, pembawaan Sangaji tidaklah seperti belirang
kena bara api. Dalam kegusarannya masih bisa ia mengurai diri. Mendadak
saja ia bisa berpikir, waktu menyergap guru, mereka main bersembunyi, licik
dan licin. Mengapa mendadak kini berlaku sebagai laku seorang ksatria?"
Dengan penuh selidik ia melemparkan pan-dang kepada Malangyuda. Teringatlah
akan kekejamannya ia benci bukan kepalang. Waktu itu, Malangyuda
memperlihatkan senyum licik dan merendahkan. Begitu kena pandang, lantas
saja berkata mengguruh. "Kau ingin menuntut balas? Balaslah aku! Caraku
dahulu menjatuhkan gurumu, me-mang licik. Sekarang menghadapi engkau
masakan perlu bermain sandiwara? Pusaka Bende Mataram dan keris Kyai
Tunggulmanik kini berada di pihakku. Kalau mampu ambillah kembali. Kalau
tidak, dengan pukulanku akan kupaksa engkau menyerahkan secara laki-laki."
"Bagus! Dengan begitu berarti syah!" Randukintir menguatkan dengan tertawa
terkekeh-kekeh. "Kau bisa melaporkan hal itu kepada gurumu di dalam kubur.
Dengan begi-tu, tak usah kau jadi setan untuk meng-uber-uber kami. "Hm,
setan?" potong Malangyuda. "Jadi setanpun, masakan aku takut?" Sehabis
berkata demikian, Malangyuda maju selangkah. Sangaji mengikuti geraknya.
Kemudian berkata, "Mengingat usia kalian, mestinya aku harus memanggilmu
paman. Kalian telah meremukkan tulang belulang guruku. Karena itu, aku
wajib menuntut den-damnya. Berikan obat pemunahnya! Tentang kedua pusaka
itu, tak usah dibicarakan lagi." "Kau takut?" Malangyuda tertawa mengejek.
"Seperti engkau, akupun seorang laki-laki. Tapi guruku selalu memberi
ajaran padaku, manakala aku lagi menghadapi sesuatu perkara yang menyangkut
kesejahteraan seseorang, aku harus berani mengkesampingkan kepentingan
pribadi." "Hahaha... Randukintir! Bocah ingusan ini pandai berkotbah juga,"
teriak Malangyuda. Kemudian membentak, "Baik obat pemunah maupun kedua
pusaka itu tidak akan kuberikan kepadamu. Kau mau apa?" "... kalau begitu,
terpaksa aku melayani kehendakmu," bentak Sangaji dengan gusar. "... bagus!
Gurumu, akulah yang mere-mukkan tulang-belulangnya. Sekarang aku akan
membiarkan engkau memukul dadaku sampai tiga kali. Nah, pukullah!"
Malangyuda mengira, Sangaji adalah makanan empuk yang bisa dipermainkan
sekehendak hatinya seperti bola. Kalau guru-nya bisa diruntuhkan dengan
gampang, menghadapi muridnya tidaklah perlu menguras tenaga. Dalam hal ini,
meskipun ia licin sebagai belut ternyata masih luput perhitungannya.
Sangaji meskipun murid Wirapati menggenggam ilmu ajaran Jaga Saradenta,
Gagak Seta dan Kyai Kasan Kesambi. Maka begitu mendengar tantangan, terus
saja Sangaji mengerahkan ilmu sakti Kumayan Jati. "Bagus! Terimalah pukulan
yang pertama!" teriaknya garang. Seperti diketahui, ilmu sakti Kumayan Jati
bukanlah ilmu sembarangan. Dalam jarak jauh, tenaga pukulannya bisa
meruntuhkan sebatang pohon yang tegak berdiri. Tenaga Sangaji belumlah
sekuat tenaga Gagak Seta. Tetapi waktu itu ia berada dalam keadaan marah,
dendam dan benci. Seketika itu juga, getah sakti Dewadaru yang mengeram
dalam tubuhnya bergolak hebat. Tubuh Sangaji tergoncang-goncang. Terus ia
meliukkan punggung dan melepaskan pukulan. Kesudahannya hebat bukan
kepalang. Malangyuda yang berperawakan tinggi besar, terpental lima belas
langkah dan memekik kesakitan. Begitu jatuh bergedu-brakan di atas tanah
lantas saja melontakkan darah segar. Mereka semua terkejut sampai memekik.
Mimpipun tidak, bahwa tenaga Sangaji bisa melebihi gurunya. Lantas saja
mereka berge-rak mengepung dan tak berani lagi meren-dahkan lawan. "Ih!
Kalau begitu, benarlah laporan Suma dan Wira," kata Citrasoma keruh.
Sangaji tak mengenal siapa itu Suma dan Wira. Mendadak saja teringatlah dia
kepada empat prajurit penunggang kuda yang meng-aniaya seorang perempuan.
Mengingat keli-cikan dan kelicinan mereka, pastilah keempat prajurit tadi
adalah sekomplotan. Selagi ia sibuk menebak-nebak dua nama yang disebutkan
Citrasoma, di luar gelanggang jumlah mereka bertambah empat orang lagi.
Ternyata mereka adalah empat prajurit penunggang kuda tadi. Melihat
tergelimpangnya Malangyuda, mereka berteriak mengingatkan. "Awas! Jangan
semberono!" Sangaji menoleh dan dengan gusar ia mere-nungi. Dalam pada itu,
si mulut jahil Randukintir terdengar tertawa terbahak-bahak sambil berkata,
"Saudara kecil jangan kepalang tanggung! Tadi dia menantang tiga pukulan
bebas tanpa pajak. Hayo pukul lagi! Biarlah tahu rasa, betapa luas dunia
ini..." Malangyuda nampak tertatih-tatih bangun. Diam-diam ia menyesali
kesombongan diri. Tadi sama sekali ia tak bersedia. Tapi kini setelah
merasakan hebat gempuran Sangaji tanpa malu-malu lagi terus menghunus
senjata kapaknya. "Hai! Kau curang!" teriak Randukintir. Randukintir,
Malangyuda, Citrasoma, Panji Pengalasan, Baruna dan keempat pembantu-nya,
sesungguhnya jago-jago yang menguta-makam kehormatan diri. Meskipun
sekomplotan, tapi dalam hati masing-masing mengharapkan keruntuhan lawan.
Dengan begitu yang mempunyai hak mengangkangi kedua pusaka Bende Mataram
jadi berkurang. Itulah sebabnya, walaupun terkejut sesungguhnya diam-diam
mereka bergirang hati melihat Malangyuda sampai memuntahkan darah segar.
"Randukintir! Tunggu barang sebentar! Kalau aku sudah berhasil membereskan
bocah ini, mengirimkan engkau ke neraka belumlah kasep," bentak Malangyuda.
"Kentut! Kentut! Kau curang!" damprat Randukintir. Kemudian kepada Sangaji,
"Saudara kecil! Hantam terus! Jangan mem-beri waktu bernapas!" Sangaji
tahu, betapapun juga mereka adalah sekawan dan sepaham. Saat itu sadarlah
dia, bahwa ia lagi dikepung sembilan orang sekaligus. Kalau satu demi satu,
rasanya ia masih sanggup mengalahkan. Tetapi apabila sekonyong-konyong maju
berbareng, inilah bahaya. Memperoleh pikiran demikian, terus saja ia
melompat merangsak. Malangyuda menyong-song dengan senjata kapaknya. Tenaga
jas-maninya sudah berkurang, narnun ia masih sanggup memutar kapaknya.
Dengan me-ngaung-ngaung di udara, kapaknya terus membabat pinggang. Sangaji
terkejut. Untung, dia tadi telah menyaksikan kehebatan senjata lawan
tatkala sedang mengadu kepandaian melawan Randukintir. Pertunjukan tadi,
barangkali dimaksudkan untuk mengecilkan hati Sangaji. Tapi kini mendadak
berubah memusuhi diri. Karena dengan gesit, Sangaji dapat mengelakkan dan
melawan dengan pukulan-pukulan ciptaan Kyai Kasan Kesambi. Seperti
diketahui, ilmu ciptaan Kyai Kasan Kesambi pernah mengejutkan
pendekar-pendekar sakti seperti Kebo Bangah dan Adipati Surengpati. Bisa
dibayangkan betapa hebat dan kokoh. Kecuali itu, untuk beberapa kali
Sangaji pernah mengujinya. Mula-mula ter-hadap Warok Kudawanengpati dan
Watu Gunung sahabat Lumbung Amisena. Ke-mudian kepada Setan Kobar dan
beberapa prajurit Pangeran Bumi Gede. Setelah itu diperlihatkan di hadapan
tokoh-tokoh sakti Adipati Surengpati, Kebo Bangah dan Gagak Seta. Mereka
semua terkejut dan heran. Karena itu, menghadapi perlawanan Malangyuda yang
dahsyat, sama sekali hatinya tak gentar. Dengan cepat jurus ciptaan Kyai
Kasan Kesambi telah melibatnya. Sekonyong-konyong pukulan ilmu sakti
Kumayan Jati terlepas lagi. Dan untuk kedua kalinya Malangyuda terpental
jungkir balik. Senjata kapaknya terbang di udara dan tepat menjatuhi
punggungnya. Menyaksikan betapa gampang Malangyuda dijatuhkan, Randukintir,
Panji Pengalasan, Citrasoma dan Baruna benar-benar terkejut. Mereka kini
yakin benar, bahwa Sangaji tak boleh dianggap lawan remeh lagi. Maka terus
saja mereka menyerang berbareng. Di sinilah terbukti, betapa licik dan
licin mereka. Sama sekali mereka tak malu sampai mengeroyok seorang pemuda
yang usianya jauh berada di bawahnya. Untuk kedua kalinya Malangyuda
terpental jungkir balik kena pukulan ilmu sakti Kumayan Jati. Senjata
kapaknya terbang di udara dan tepat menjatuhi punggungnya "Membabat rumput
harus sampai ke akar-akarnya!" teriak Panji Pengalasan dan Citrasoma dengan
berbareng. "Bagus! Majulah semua!" tantang Sangaji. Kelima orang itu
mempunyai senjata andalan masing-masing. Randukintir bersenjata pancing,
Panji Pengalasan sebuah pacul, Citrasoma sebilah keris, Malangyuda sebatang
kapak dan senjata Baruna berbentuk ular-ularan seperti cis. Masing-masing
mempunyai caranya sendiri. Pada saat itu, Malangyuda tak dapat bergerak
lagi. Meskipun demikian keempat kawannya merupakan lawan yang luar biasa
tangguh. Sangaji sadar, bahwa ia harus memukul mereka dengan sekaligus.
Kalau lalai sedikit saja akan besar bahayanya. Sebab betapapun juga, ia
akan kalah napas apabila mereka maju secara bergiliran. Melihat gerak-gerik
mereka, Baruna adalah lawan yang terlemah. Waktu itu Baruna berada di
belakangnya. Maka dengan sebat ia menyerang Citrasoma yang kaget setengah
mati. Buru-buru Citrasoma menghunus kerisnya, kemudian menusuk telapak
tangan. Sangaji menduga, lawan itu pasti tangguh. Senjatanya termasuk
senjata tusuk yang tajam. Biasanya orang menusuk ke lambung atau dada. Tapi
dia hanya menusuk telapak tangan. Teringatlah dia ajaran gurunya, bahwa
seseorang yang tangguh tak begitu memperhatikan sasaran tusukannya. Karena
dia hanya mengutamakan tikaman gertakan, untuk kemudian memukul dengan
tangan ke arah bidiknya yang berbahaya. Ajaran gurunya ternyata tepat.
Dengan tiba-tiba Citrasoma menyabet pinggang. Terus saja Sangaji melibat
dengan jurus ciptaan Kyai Kesambi. Setelah itu sekonyong-konyong melesat ke
belakang dan menghantam Baruna dengan pukulan ilmu sakti Kumayan Jati.
Inilah suatu serangan di luar dugaan Baruna. Dan begitu kena, dia
terjungkal miring dan jatuh tertengkurap mencium bumi. Pada saat itu
pancing Randukintir dan pacul Panji Pengalasan turun dengan berbareng.
Sudah barang tentu Sangaji terancam hebat. Sebat luar biasa ia menyambar
tubuh Baruna dan dilemparkan untuk menyongsong senjata mereka. Waktu tangan
Citrasoma sedang membabat. Begitu melihat sambaran tubuh Baruna, tak sempat
lagi ia menarik. Mau tak mau ia harus memapaki. Dengan sikunya ia mendorong
dan berbareng melompat ke samping. Dan yang untuk kedua kalinya, Baruna
jatuh bergedebrukan ke tanah. Dengan merangkak-rangkak, ia keluar
gelanggang. Kemudian duduk bersila mengatur napas.
Bersambung
Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:
Posting Komentar