@bende mataram@
Bagian 274
"Lihatlah! Saudara Citrasoma penunggu wa-rung kopi yang berbudi, ikut
menyesali kalian." Baik Randukintir maupun Malangyuda terus menoleh ke arah
telunjuknya. Di sana berdiri seorang laki-laki berkesan keruh menentang
mereka. "Hai! Kapan kau datang?" seru Randukintir. "Kau pun akan berebut
kedua benda pusaka Bende Mataram." Orang yang di sebut Citrasoma mendeham.
Dengan suara malas, singkat dan pendek ia menjawab, "Kedua benda itu milik
kita bersama. Habis perkara...!" "Itulah jempol!" Sahut Malangyuda dengan
tertawa terkekeh-kekeh. "Tapi si bangsat Bagas Wilatikta berpikir lain.
Kita semua harus menentukan pemiliknya. Barangsiapa bisa mengangkangi kedua
benda itu, dialah yang berhak menjadi pemiliknya yang sah." Mereka
membungkam mulut seolah-olah lagi sibuk menimbang-nimbang. Sekitar tem-pat
itu lantas menjadi sunyi. Sangaji me-longokkan kepalanya dengan diam-diam.
Ia tak kenal mereka dengan sejelas-jelasnya dan tak mengetahui peranan
apakah yang pernah mereka lakukan terhadap gurunya. Tetapi mendengar tutur
katanya, ia yakin mereka adalah sekawan sepaham dalam hal mencelakakan
gurunya. Teringat akan pen-deritaan gurunya, seketika itu juga mendidih
darahnya. "Sebenarnya Pangeran Bumi Gede mau membeli berapa?" Panji
Pengalasan membuka mulutnya. Citrasoma si pendiam menjawab, "Dua gedung,
empat puluh hektar sawah, uang lima ratus ribu rupiah." "Jumlah yang
menyenangkan juga," sahut Randukintir yang mulutnya tajam. "Cuma saja susah
membaginya. Bayangkan jumlah itu dibagi lima. Sawah dan jumlah uang gampang
dibagi. Tetapi membagi dua gedung adalah sulit. Siapa kesudian kebagian
kamar kencing dan kamar pelangsir kotoran? Entahlah kalau kalian tukang
kentut!" Malangyuda tertawa terbahak-bahak. "Kau lupa! Kitapun masih harus
memberi bagian sedikit kepada Bagus Tilam, Suma, Wira, Pitrah dan Salamah.
Merekapun bukankah ikut bekerja pula?" "Kentut!" sahut si mulut jahil
Randukintir. "Bagus Tilam sebentar lagi akan mampus. Masakan perlu segala
tetek bengek? Suma, Wira, Pitrah, dan Salamah cuma cecunguk yang tak punya
guna. Dahulu mereka cuma kita gantung terbalik selama seperempat jam.
Apakah susahnya cuma digantung begitu saja?" "Kau bisa menutup mulutmu
tidak?" tegur Panji Pengalasan. "Ini mulutku sendiri, apa perlu kauusilan?"
"Kita lagi mempertimbangkan jerih payah kita. Janganlah kau ganggu agar
kita bisa menentukan sikap terhadap kemauan Bagus Wilatikta." Mendengar
alasan Panji Pengalasan, mulut jahil Randukintir menurut juga. Segera ia
me-nguasai mulutnya dan memasang kuping. Sejenak kemudian, Panji Pengalasan
merninta keterangan kepada Citrasoma. "Siapa lagi calon pembeli kedua benda
pusaka itu?" "Patih Danurejo II." "Berapa dia menjanjikan upah?" "Empat
gedung, seratus hektar sawah, dua puluh ekor lembu, uang tujuh ratus lima
puluh ribu rupiah." "Haa, ini lebih mendingan!" sahut Randukintir yang tak
bisa menguasai mulutnya lagi begitu mendengar jumlah tawaran. "Hai, diam!"
bentak Malangyuda. "Dengar-kan dulu!" Kena bentakan Malangyuda, Randukintir
melototkan matanya. Menuruti hatinya, ingin ia membalas mendamprat.
Mendadak terdengar Panji Pengalasan bertanya lagi, "siapa lagi?" "Sri
Sultan." "Kentut!" maki Randukintir. "Kenapa kentut?" Citrasoma minta
keterangan. "Kentut!" Dan Malangyuda yang beradat berangasan, lantas saja
mendamprat. "Hai! Kau jangan bilang kentut-kentut terus menerus. Bilanglah
apa sebabnya!" "Aku bilang kentut ya kentut. Masakan kau tak tahu?"
Randukintir melototkan matanya. "Siapa sudi mendengarkan omongan yang
besar. Coba pikir! Masakan Sri Sultan begitu gampang keluar dari istana
semata-mata untuk menemui paduka yang mulia Citrasoma?" "Pintalah
keterangan dahulu dan jangan hanya memaki-maki melulu," sahut Panji
Pengalasan. "Meskipun Pangeran Bumi Gede dan Gusti Patih-pun bukanlah
datang sendiri. Tapi mereka mengirimkan orang-orang kepercayaannya untuk
mengadakan tawar-me-nawar. Kau tahu kini, goblok!" Randukintir rupanya
berhati jujur. Dalam hati mengakui terlalu ceroboh sampai memaki kawan
sendiri. Karena itu meskipun ia kena damprat, kali ini tiada bersakit hati.
la mena-han tertawa cengar-cengir seperti orang gen-deng. "Baiklah! Kau
bicara saja. Memang akulah yang kentut!" katanya. Rekan-rekannya
menggerendengi kecero-bohannya. Kemudian Citrasoma menerangkan jumlah
penawarannya. "Dengarkan! Kali ini bisa kita pertimbang-kan. Sepuluh gedung
bangsawan, lima ratus hektar sawah, seratus ekor lembu. Gang, satu juta
ringgit. Dan siapa yang ikut serta menda-pat pangkat Wedana." "Bagus!"
Mereka berteriak girang hampir berbareng. "Nanti dulu! Rupanya Pangeran
Bumi Gede mendengar penawaran ini. Dengan persetu-juan gusti patih, ia
menjanjikan jumlah penawaran Sri Sultan dua kali lipat. Bahkan, sepertiga
tanah kerajaan diberikan pula dan kita semua dijanjikan pangkat Bupati,"
sahut Citrasoma bersemangat. "Nah, penawaran apa lagi yang kita tunggu?"
"Berikan kepadanya!" teriak Malangyuda. "Kau setuju?" Panji Pengalasan
menegas. "Bukankah itu suatu penawaran yang paling tinggi dan cukup
berharga?" "Dan kau Randukintir?" Si mulut jahil tiada segera menjawab.
Mulutnya masih sengaja cengar-cengir. Dan setelah di desak dua tiga kali,
akhirnya men-jawab, "Aku si tukang pancing. Kebiasaanku melemparkan pancing
dan terus menyaplok hasilnya. Dan tak biasa mengumbar mulut besar
menyebutkan jumlah-jumlah tanpa gede bukti." "Monyet! Kau tak percaya?"
damprat Citrasoma. "Apa yang harus kupercayai? Kentutmu?" "Tunggu Baruna!
Dialah yang mengadakan pembicaraan. Nah, kau nanti akan mendengar sendiri."
Randukintir tertawa terkekeh-kekeh sambil meludahi tanah. "Masakan aku
harus mempercayai mulut Baruna pemalas, penunggu jembatan? Huuu... Mana
dia?" "Aku ada di sini." Tiba-tiba terdengar suara bermalas-malasan.
Sangaji terkejut bukan main. Suara itu datang dari arah belakangnya. Dan
tatkala menoleh, ia melihat seseorang berbaring di atas batu yang berada
kira-kira sepuluh langkah di belakang punggungnya. Kapan orang itu di atas
batu, sama sekali tak dike-tahuinya. Mendadak saja, tersadarlah dia. Ah!
pikirnya dalam hati. Terang sekali mereka bukanlah orang lumrah. Kalau tadi
mereka melihat si Willem, masakan tak ingat pemiliknya? Apa sebab mereka
sama sekali tak menyinggung pemilik Willem. Oleh pertimbangan itu, ia
menyesali ke-tololannya sendiri. Lantas saja timbullah dugaannya, pasti
mereka telah mengetahui keberadaanku. Nampaknya semua gerak-geriknya sudah
diatur demikian rupa semacam jebakan untuk mengelabui mataku. Alangkah
tololku! Dalam pada itu, Randukintir terdengar memaki kalang kabut.
Kemudian men-damprat, "Semenjak kapan kau berada di situ?" "Semenjak
kapan?" jawab Baruna dengan menguap panjang. "Semenjak batang hidung-mu
belum dilahirkan di sini, aku sudah berada di peraduanku. Mengapa?"
"Bangsat! Kita semua saling bertengkar dan kau enak-enak berada di situ.
Turun!" "Naiklah! Malam hari kian nampak terang. Kalau kau berada di sini,
bulan yang tolol itu kelihatan terang benderang... Kau mau apa dariku?"
Randukintir maju dua langkah. Rekan-rekannya mendadak maju pula. Sikapnya
seolah-olah lagi bergerak mengepung sesuatu. "Aku menghendaki bukti
tawar-menawar!" teriak Randukintir. "Tak sudi aku mende-ngarkan ocehan tak
keruan juntrungnya." "Hihaaai Kalian goblok tak mempunyai otak! Hayo
jawablah dahulu pertanyaanku ini. Apakah hak kalian mengangkangi kedua
pusaka itu? Kalau kalian sudah bisa men-jawab, nah itulah baru syah!"
"Kentut!" maki Radukintir. "Apakah kedua pusaka itu kepunyaanmu? Apakah
milik Bagas Wilatikta? Berrr!" Baruna menegakkan badan sambil tertawa
terkekeh-kekeh. "Kalian tahu, kedua pusaka itu datang dari tangan murid
Gunung Damar. Tapi dia kalian jebak begitu rupa. Apakah itu perbuatan
laki-laki? Baiklah! Anggaplah itu suatu per-juangan hidup. Tetapi apakah
kalian tak ingat pembalasan murid Wirapati yang menurut kabar adalah
pewaris kedua pusaka tersebut?" "Kentut! Kentut! Mana dia? Tunjukkan aku di
mana dia berada. Biar bagairriana aku seorang laki-laki. Akan kupintanya
secara berhadap-hadapan. Aku tukang pancing tak bisa main mengintip-intip
seperti kucing!" Mendengar ucapan Randukintir, teranglah sudah bagi
Sangaji. Benar-benar mereka telah mengetahui keberadaannya. Seketika itu
juga, berdesirlah darahnya. Terus saja ia berdiri tegak dengan menggenggam
tinju. Dalam hal mengatur suatu rencana, Sangaji bukan tandingnya. Begitu
melihat Sangaji, mereka bersikap seolah-olah terkejut dan heran. Hampir
berbareng mereka memekik kaget tetapi bergerak maju. Dan Baruna yang berada
di atas batu terus saja merosot ke tanah sambil menguap panjang lagi.
"Siapa?" bentak Malangyuda. "Akulah murid Wirapati. Sangaji namaku," jawab
Sangaji dengan tenang. Mereka memekik terkejut lagi. Randukintir terus
menyahut, "Hai! Apakah engkau hendak membalas dendam? Celaka! Agaknya kau
telah mendengarkan pembicaraan kami. Celaka! Benar-benar kami susah untuk
mengingkari lagi." Hati Sangaji mendongkol mendengar ucap-an Randukintir.
Meskipun andaikata tolol tahulah dia, bahwa mereka terang-terangan telah
mengetahui keberadaannya. Semua pembicaraan mereka telah diaturnya demikian
rupa serta sengaja diperdengarkan. Sangaji yang tak pandai berbicara hanya
menjawab, "Hm!" Dan karena sudah merasa, bahwa persoalan itu harus
diselesaikan dengan adu tenaga, terus saja ia menyelidiki sekitarnya.
Diam-diam ia memuji lawannya. Ternyata mereka menempati garis lintang,
sehingga ia berada pada suatu bidang sempit. Apabila jadi bergerak, ruang
geraknya sangat terbatas. Teringat akan senjata pancing, cangkul dan kapak,
tak terasa tergetarlah hatinya. Randukintir mendadak saja tertawa
ter-gelak-gelak. Kemudian berkata nyaring, "Kami semua ini memang bajingan!
Gurumu Wirapati memang kamilah yang menjebak. Sayang, dia baru sadar
setelah nyawanya hampir terbang. Hm! Hm! Ini semua adalah gara-garanya
orang gede itu! Aku sih.... cuma memancing di pinggir rawa." "Mengapa aku?"
bentak Malangyada. "Hai!" seru Randukintir heran. "Bukankah engkau yang
berpura-pura main kapak di depan warung Citrasoma? Lantas Citrasoma
pura-pura menjadi orang berjasa yang menunjukkan jalan. Di tengah jalan,
Wirapati bertemu dengan Panji Pengalasan yang pandai bermain priyayi.
Saudara kecil! Itu dia Panji Pengalasan yang dahulu berpura-pura dilukai
musuh. Sikapnya menarik dan menawan hati, sehingga gurumu bisa terkecoh.
Hihooo... Gurumu lantas bertemu dengan Baruna yang menguap di belakangmu
itu. Perannya dahulu berada di atas jembatan. Setelah luput dari
pengamatannya, gurumu bertemu dengan aku. Hm, sungguh hebat! Gurumu bisa
membebaskan diri dari sabetan pancingku. Sayang! Sayang! Akhirnya dia tak
bisa lolos dari kepungan kami. Yah... keadaan gurumu seperti keadaanmu
sekarang ini. Meskipun andaikata gurumu berkulit tembaga, bertulang besi
dan berotot kawat, masakan bisa menghadapi kami dengan berbareng.
Kemudian... hai saudara kecil! Sebelum gurumu mati, Malangyuda inilah yang
meremukkan tulang belulangnya! Saudara kecil! Lebih baik cobalah merampas
obat pemunahnya. Siapa tahu, engkau bisa pulang ke gunung dengan selamat!"
Mendengar keterangan Randukintir yang cukup jelas, mendidihlah darah Sangaji.
Bersambung
Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:
Posting Komentar