11.15.2019

@bende mataram@ Bagian 273

@bende mataram@
Bagian 273


Ia jadi berkecil hati. Hebat pukulan peristiwa sehari tadi kepadanya.
Dengan kepala kosong ia kembali lagi dan pada tengah malam berada kembali
di tepi jalan Yogya - Surakarta. Pikirannya mulai tertarik kepada gerakan
pasukan seragam yang berkesan kurang wajar. Terang sekali, mereka bukanlah
pasukan kompeni Belanda atau begundal-begundalnya. Juga bukan pasukan
kerajaan mirip pasukan Pangeran Ontowiryo yang pernah dilihatnya. Jika
demikian, pasukan dari mana mereka itu? Waktu itu bulan cerah belum habis.
Di te-ngah malam, bulan remang-remang mulai timbul di langit timur. Suasana
alam jadi remang-remang dan penuh rahasia. Willem diikatnya pada tonggak
jalan dekat pohon kapuk. Dia sendiri menggeletak di atas batu menengadah ke
udara. Sudah sering ia tidur di alam terbuka. Selama itu hatinya ringan dan
terhibur. Sebaliknya kali ini, pepat dan tak menentu. Suasana alam yang
remang-remang meninggalkan kesan menye-sakkan padanya. Tahulah dia kini,
bahwa semuanya itu tergantung pada keadaan hati. Coba, andaikata Titisari
berada di dekatnya... bukankah semua menjadi indah belaka? Kira-kira lewat
larut malam, ia mendengar suara binatang berlari cepat menuju ke arah-nya.
Kemudian hidungnya mengendus bau wangi kemenyan. Berbareng dengan itu,
Willem menggaruk-garukkan kakinya. Oleh suara itu, binatang yang berlarian
menyalak tinggi. Ternyata dua ekor anjing raksasa terus saja menyerang
Willem. Sangaji terkejut. Cepat ia menggeserkan diri dan berlindung di
balik batu. Dari arah barat, selatan dan utara, munculan tiga pelita yang
padam menyala. Dan saat itu pula, Willem mulai bertahan sebisa-bisanya
melawan serangan dua ekor anjing raksasa yang nam-pak galak bukan kepalang.
Menyaksikan Willem kena ganggu, Sangaji hendak meloncat membantu. Tetapi
teringat akan tiga pelita yang padam menyala itu, ia jadi sangsi. Ia
meraba-raba sekitarnya mencari batu. Selagi ia meraba-raba, dari sebelah
barat tiba-tiba terdengar suara helaan napas. Ia menengok dan begitu
menjenakkan mata, hatinya terkesiap. Hampir-hampir ia tak percaya kepada
matanya sendiri. Karena yang dilihatnya adalah sesosok bayangan setingginya
enam tujuh meter. Tapi tatkala bayangan itu selalu mengeluarkan bunyi
duk-duk-duk tahulah dia apa sebabnya. Ternyata bayangan itu berjalan di
atas dua penyangga tongkat bambu (egrang-Jawa) yang berukuran tiga kali
tinggi manusia lumrah. Permainan egrang-egrangan1) seringkali ia melihatnya
sebagai permainan kanak-kanak. Dan bahwasanya seorang dewasa berjalan di
atas egrang itu, benar-benar mengherankan. Apakah orang ini beradat
angin-anginan, pikirnya. Tetapi kian diamat-amati, hati Sangaji kian
menjadi heran. Gerak-gerik orang itu gesit luar biasa. Tahu-tahu dengan
sekali lompat, ia sudah berada di samping Willem. Dan dengan sekali ayun,
dua ekor anjing yang menyalak memekakkan telinga terlontar dua puluh
langkah lebih. Dengan suara bergede-bugan mereka mengkaing-kaing tinggi.
Melihat pertunjukkan itu, Sangaji ter-nganga-nganga. Memukul dua anjing
dengan sekali pukul dan melontarkan sampai dua puluh langkah adalah soal
biasa baginya. Yang mengherankan ialah, dua anjing itu berada di tempat
yang tak segaris. Meskipun demikian mereka terlempar berbareng oleh suatu
kesiur angin. Itulah suatu tanda, bahwa orang itu memiliki tenaga jasmaniah
melebihi orang lumrah. Sekonyong-konyong dari kejauhan ter-dengar tiga
suitan panjang dan nyaring luar biasa. Di tengah malam suaranya bagai pekik
burung hantu. Sesosok bayangan nampak mendatangi dengan kecepatan luar
biasa. Kedua ekor anjing yang mengkaing-kaing kesakitan terus saja berdiri
tertatih-tatih menyonsongnya. Bayangan itu ternyata seorang laki-laki
berperawakan tegap, bercam-bang tebal dan berpakaian serba hitam. Kedua
anjing itu terus saja mengibas-ibaskan ekornya seperti lagi mengadu.
Sangaji mengamat-amati orang itu dengan lebih seksama, kesannya berwibawa
benar. Meskipun pada malam hari, Sangaji seolah-olah melihat sinar matanya
yang cemerlang, la membawa sebatang kapak yang diselipkan di pinggang.
Dengan sekali ayun, dua ekor anjing yang menyalak didekat Willem itu
dilontarkan dua puluh langkah lebih oleh Randu Kintir. "Randukintir!"
teriak orang itu. "Kenapa kau menghajar kedua anjingku? Kata orang, memukul
anjing samalah halnya dengan me-nantang majikannya. Benar-benar kau seorang
biadab tak tahu aturan!" "Saudara Malangyuda!" sahut Randukintir. "Aku
seorang tukang pancing. Kerjaku cuma berada di tepi rawa dan sungai.
Kebiasanku menjaga hasil pancinganku. Melihat anjingmu menyalaki kuda, aku
jadi usilan. Sangkaku ia lagi hendak menggerogoti ikan pancingan. Meskipun
demikian, aku hanya mendepaknya. Coba kalau aku lupa daratan, sekali
kemplang kedua anjingmu akan pelesir ke neraka. Tetapi biarlah aku minta
maaf padamu." Setelah berkata demikian, Randukintir membungkuk hormat
sebagai pernyataan maaf dengan setulus-tulus hati. Namun demikian, masih
saja ia menongkrong di atas egrangnya. Terang sekali, hatinya tak sudi
minta maaf. Sekali pun demikian, Malangyuda sudah puas dibuatnya.
"Randukintir!" katanya, "Bagaimana dengan urusan Bagas Wilatikta?"
Mendengar nama Bagas Wilatikta, Sangaji terkejut dan segera menajamkan
pendengar-annya dengan penuh perhatian. "Ia mencoba memisahkan diri. Bende
Mataram dan keris Tunggulmanik hendak dikangkangi. Hm... mana bisa begitu?
Malam ini menurut perjanjian ia hendak datang ke mari. Di sini ia hendak
mengambil penentuan. Dia seorang diri dan kita berempat. Nah, biar-lah dia
menumbuk tembok," jawab Randu-kintir. Malangyuda tertawa tergelak-gelak
sampai tubuhnya berguncangan. "Aku Malangyuda jauh-jauh datang ke mari
untuk memenuhi undangan," katanya. "Tak kusangka, bangsat itu mempunyai
maksud begitu. Kita semua sudah bekerja dengan rapi waktu menjebak
Wirapati. Di antara kita pun, seorang kena dilukai sehingga hidup tidak
mati pun tidak. Masakan dia bersikap seolah-olah seorang majikan besar
hendak mengangkangi kedua pusaka itu? Hm! Dengan kepandaiannya yang tidak
berarti itu, ia hendak memaksa kita tunduk padanya? Ih! Jangan harap!"
Mendengar disebutnya Wirapati, hati Sangaji tergetar. Sekaligus tahulah
dia, bahwa musuh yang dicarinya kini sudah berada di depan hidungnya.
Menurut kata hati, ingin sekali ia segera menerjang. Mendadak teringatlah
dia bahwa Randukintir menyebutkan berempat. Pikirnya, membasmi rumput harus
sampai ke akar-akarnya. Biarlah kutunggu barang sebentar. . Tatkala itu
Randukintir lantas saja tertawa terbahak-bahak. Katanya bergelora,
"Me-mang... di kolong langit ini kecuali saudara Malangyuda tiada orang
lain yang sanggup mengalahkannya. Bukankah Malangyuda berarti
malang-melintang ke segala penjuru tanpa tandingan?" Malangyuda tertawa
tinggi mendengar ungkapan2» itu. Hatinya girang benar. Men-dadak bertanya,
"Randukintir! Sewaktu kau mendengar bunyi mulutnya yang begitu besar,
mengapa tidak lantas menamparnya?" "Aku mendengar kabar ini dari Citrasoma
dan Panji Pengalasan yang menjaga kedua pusaka tersebut. Kala itu, aku lagi
memancing. Karena itu, tak dapat aku menyenangkan harapanmu." "Bagus!
Sesudah kau kini habis memancing, mengapa kau tak mencarinya? Apa kau takut
padanya?" "Takut? Apakah yang kutakutkan?" sahut Randukintir uring-uringan.
Malangyuda tertawa mendongak. Kemudian membentak, "Randukintir! Selama ini
aku kagum pada Bagas Wilatikta. Kuakui pula, bahwa bagiku segan. Sekarang
kauhilang, tak takut padanya. Bukankah hal itu samalah halnya merendahkan
daku? Baiklah, sekarang kita mencoba-coba me-ngadu kepandaian. Ingin aku
merasakan, apakah engkau mempunyai kepandaian yang berarti untuk menjajal3)
ilmu Bagas Wilatikta." "Hm! Hm! Aku tukang pancing, selamanya mau bekerja
apabila ada hasilnya," sahut Randukintir. "Baik! Kalau aku kalah, anggaplah
aku tak berhak lagi mempunyai andil perkara kedua pusaka itu." Dan
berbareng dengan ucapannya itu, Malangyuda terus menyerang dengan
kapak-nya. Randukintir ternyata benar-benar gesit. Meskipun masih berada di
atas egrangnya yang tegak berdiri bagai tiang, ia dapat me-nyingkir dengan
gerakan indah dan tangkas luar biasa. Kemudian bagaikan kilat, ia mem-balas
menyerang. Tetapi musuhnya bersenjata kapak. Bagai-manapun juga, ia kalah
dalam hal mengadu tenaga. Maka tahu-tahu ia mengeluarkan sebilah galah
dengan benang pengait. Ternyata itulah sebuah pancing yang dibuatnya
sebagai senjatanya. Terus ia menyongsong gempuran kapak Malangyuda, keras
melawan keras. Masing-masing mempunyai senjata an-dalan. Yang satu tajam
dan kuat. Lainnya, lemas dan lembut. Meskipun demikian, senjata mereka
masing-masing mengeluarkan bunyi desing dan gaung yang hebat. Senjata
pancing Randukintir menyambar-nyambar seperti kilat. Setiap kali berbentur
gagang kapak lawan, segera hendak melilitnya. Sebaliknya kapak Malangyuda
seperti mempunyai mata. Apabila hampir kena gubat, mendadak saja terus
membetot berbareng memapas ke samping. Pada suatu kali tenaga benturan
mereka benar-benar mengenai sasaran yang dikehendaki. Masing-masing kena
dipentalkan dua langkah dengan pekikan heran. "Randukintir!" teriak
Malangyuda. "Kepan-daianmu memainkan pancing boleh juga. Clntung aku bukan
ikan goblok, sehinggga tak mudah kau beri umpan. Hai! ilmu kepandaian
apakah itu namanya?" "Kentut! Kentut!" maki Randukintir. "Inilah ilmu
kepandaian kentut!" "Randukintir! Aku bicara dengan setulus hatiku apa
sebab engkau membalas dengan cara begitu rupa?" Malangyuda jadi sakit hati.
"Engkau bertanya aku sudah menjawab. Bukankah sudah terbayar? Kau mau
me-ngompak hatiku yang goblok, huuu.... masakan bisa?" MENDENGAR UCAPAN
RANDUKINTIR, MALANG YUDA tertawa terbahak-bahak dan terus membungkuk
hormat. Dan buru-buru Randukintir membalas hormatnya dari atas egrangnya.
Mendadak saja terdengar suara berdesing. Kaget Randukintir menengadahkan
mukanya. Belum lagi ia sempat bergerak, sebongkah tanah telah menghantam
salah satu tongkatnya. Hebat tenaga pelempar bongkahan tanah itu, karena
tongkat Randu-kintir kena dipentalkan. Dan dengan berjungkir balik,
Randukintir mendarat ke tanah. "Siapa?" Ia membentak terkejut. "Memberi
hormat sesama kawan, masakan masih saja menongkrong di atas egrang?" sahut
suatu suara. Di saat itu juga munculah laki-laki berperawakan ramping dan
gerak-geriknya halus. Ia menyandang sebuah cangkul di atas pundaknya.
Agaknya, cangkul itu merupakan senjata andalannya. Tadi ia seperti
mencangkul tanah. Mendadak saja bongkahan tanah yang kena cangkulnya terus
melesat menghantam tongkat egrang Randukintir. "Eh, Panji Pengalasan!" seru
Malangyuda. "Kami sedang bermain-main. Mengapa kau ikut campur?" "Kita
adalah sesama rekan. Masakan kalian bisa bermain-main tanpa menunggu aku?"
sa-hut Panji Pengalasan dengan suara lembut.


Bersambung

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar