@bende mataram@
Bagian 272
SANGAJI menggelengkan kepala. Dan melihat kesan mukanya yang
sungguh-sung-guh, Ranggajaya tak perlu menegas lagi. Dengan menghela napas
ia berkata, "Coba kita tak terlibat dalam pertikaian yang tiada gunanya
tadi, pastilah gurumu akan tertolong. Agaknya nasib adinda Wirapati kurang
baik. Entah sampai kapan lagi, ia harus menanggung deritanya." Diingatkan
akan penderitaan gurunya, tubuh Sangaji menggigil tak setahunya sendiri.
Mukanya pucat lesi. Ia tahu ke mana arah kata-kata pamannya itu. Hatinya
lantas saja merasa bersalah. Mendadak saja Gagak Handaka mendeham. Kemudian
berkata perlahan, "Dalam hal ini, janganlah kita menyalahkan siapa saja.
Kalau Bagas Wilatikta bisa membebaskan diri, itulah suatu bukti bahwa kita
kurang berhati-hati." Ia berhenti sebentar. Meneruskan kepada Sangaji.
"Orang itu kami jumpai secara kebetulan belaka. Dahulu Eyang Guru pernah
memperkenalkan seorang tokoh sakti ahli membuat racun yang bermukim di
daerah Gunung Kidul. Namanya Rajahpidekso. Aku dan pamanmu mencari
kediamannya dengan maksud hendak meminta sekedar pertolong-an. Siapa tahu
karena dia seorang ahli racun pasti pula mengenal obat pemunah luka
guru-mu. Ternyata orang tua itu sudah lama meninggal dunia. Untung juga,
anak cucunya bisa menyediakan obat yang kupinta. Tetapi baru saja obat
pemunah itu diterima paman-mu, mendadak saja suatu kesiur angin menyambar
padanya. Tahu-tahu obat pemunah itu telah kena dirampas Bagas Wilatikta.
Berbareng dengan itu, cucu Rajahpidekso jatuh bergedebugan di atas tanah.
Dengan memekik tinggi dan napas terengah-engah ia menceritakan, bahwa Bagas
Wilatikta pernah merampas semacam racun berbisa untuk mencelakai seseorang.
Mungkin, dialah adik tuan yang menjadi korbannya, katanya. Mendengar
keterangannya, terus saja aku melesat memburunya. Waktu itu, pamanmu telah
bertempur dengan Bagas Wilatikta. Dengan bantuanku, akhirnya dia bisa kami
mundurkan. Dan dari tempat ke tempat, akhirnya aku memperoleh pengakuan
dari-padanya, bahwa dialah biang keladi penganiaya gurumu... Sayang, obat
pemunah racun yang mengeram dalam tubuh gurumu masih belum berhasil kami
rampas." Sederhana kata-kata Gagak Handaka, tetapi terasa lebih berwibawa
dan menakutkan daripada Ranggajaya yang beradat panas. Tak terasa Sangaji
menundukkan mukanya ke tanah. Berbagai perasaan merumun hebat dalam
benaknya. "Kudengar selintasan tadi, bahwa dia telah merampas kedua benda
pusaka Bende Mataram. Jika demikian, guru sudah berhasil menemukan tempat
menyimpannya," katanya kemudian dengan setengah berbisik. "Paman! Dalam hal
ini akulah yang berkewajiban untuk merampungkan semuanya. Tetapi
kemenakanmu yang buruk ini, mendadak saja terlibat dalam suatu peristiwa
yang memalukan..." Gagak Handaka tertawa melalui dada me-motong perkataan
Sangaji. Dengan pandang berseri ia berkata, "Mana kudamu?" Oleh pertanyaan
itu, terus saja Sangaji mengisahkan pengalamannya. "Baiklah! Ambilah kudamu
dan susullah kami," tukas Gagak Handaka. "Dan hendaklah mulai kini engkau
berhati-hati terhadap sepak terjang bakal mertuamu. Pamanmu dengan tak
sengaja, mungkin membubarkan kepen-tinganmu. Tetapi semuanya telah terjadi.
Rupanya... engkau akan menghadapi peristiwa-peristiwa yang sulit. Karena
itu, sekiranya engkau tak tahan... mintalah nasehat eyang gurumu." Kedua
pendekar itu kemudian melanjutkan perjalanannya menuju ke barat laut.
Sangaji jadi tambah perasa, la merasa diri seperti seseorang yang
ditinggalkan semuanya. Tiba-tiba saja teringatlah dia kepada ibunya yang
berada jauh di rantau orang. Rasa rindunya terus saja menyanyi-nyanyi
lembut dalam lubuk hati. Perlahan-lahan ia memutar tubuh dan ber-jalan kuyu
mengarah ke selatan. Sepanjang jalan, mulailah dia menyiasati perjalanan
hidupnya. Hm... tak terasa aku telah memasuki tahun 1805. Hampir satu tahun
lamanya aku meninggalkan Ibu. Dahulu aku begitu bersema-ngat hendak berbuat
sesuatu kebajikan, pidmya dalam hati. Dengan doa restu Ibu, aku hendak
menuntut balas kematian Ayah. Musuh Ayah Ibu telah kuketahui kini. Pangeran
Bumi Gede! Tetapi jangankan aku telah berhasil menuntut balas, malahan Guru
kena dianiaya orang. Sedangkan aku, hanya sibuk mengurusi kepentinganku
sendiri... Tetapi teringat akan wajah Titisari, hatinya jadi lemas. Gadis
itu memang liar, nakal dan aneh. Meskipun demikian, tiada alasannya untuk
menjauhi agar bisa berjalan di atas jalan yang dirintisnya dahulu. Titisari
begitu mencintai daku. Masakan aku akan menyia-nyiakan? Ia
menimbang-nimbang. Mendadak pikiran lain datang minta pengadilan. Baik!
Kawinilah gadis itu! Tetapi gurumu pada saat ini menggeletak
mengerang-erang di atas tempat tidurnya, semata-mata untukmu. Apakah
bahagianya berdansa di atas bangkai gurumu? Terkejut ia mendengar
pertimbangan lain itu. Sekaligus terbangkitlah rasa ksatrianya, terus saja
ia lari dengan cekatan menuju Imogiri. "Cinta adalah korban! Guru telah
mengor-bankan segalanya karena beliau mencintai daku. Budinya setinggi
gunung. Jiwaku sendiri belum tentu cukup untuk membalas budinya..." Sangaji
berkomat-kamit seperti orang gendeng. Dan larinya bertambah pesat dan
pesat. Sebentar saja ia telah memperoleh kudanya kembali. Kemudian
membedalkan ke arah utara hendak menyusul kedua pamannya. Namun peristiwa
yang dihadapinya, sesung-guhnya bukanlah suatu peristiwa yang enteng.
Betapa kokoh hatinya umurnya masih muda belia. Tatkala malam hari mulai
melingkupi alam, kembali ia kena goda dan kena rumun. Akhirnya ia
membanting diri di atas gundukan tanah dekat persimpangan jalan Yogya
-Surakarta. Tengah ia merenung-renung tiba-tiba dide-ngarnya derap kuda
berderapan. Ia mene-gakkan kepala dan melihat empat penunggang kuda
mengenakan pakaian seragam mirip seragam kompeni Belanda. Yang berada di
depan tertawa terbahak-bahak. Ternyata di atas kedua lengannya terbujur
seorang wanita setengah umur yang tak berkutik lagi. Wanita itu belum mati,
karena terdengar ia merintih karena kesakitan. Melihat pemandangan itu,
Sangaji heran. Tak disadarinya sendiri tiba-tiba ia sudah ber-ada di tengah
jalan seolah-olah lagi meng-hadang mereka. "Minggir! Minggir!" bentak
laki-laki yang menunggang kuda di sebelah kiri. Orang itu lantas saja
mencabut pedang dan disabetkan miring ke kiri. Sangaji waktu itu sedang
pepat. Ia merasa diri seorang yang terlalu banyak menanggung kesalahan.
Dalam hatinya, ia hendak memperbaiki diri. Maka begitu melihat sepak
terjang empat penunggang kuda yang mau menang sendiri, terbangkitlah rasa
marahnya. Dengan tangkas ia mengelak, kemudian tangannya menyambar
pergelangan tangan perajurit itu dan dihentakkan ke tanah. Tak ampun lagi,
prajurit itu jatuh bergedebukan di atas tanah. "Hai iblis!" bentak yang
lain. "Aku manusia! Bukan iblis! Mengapa perempuan itu?" sahut Sangaji
galak. "Biar kumakan, kusembelih, kunikmati dan kukuliti apa pedulimu?
Inilah urusan kami..." Dalam dada Sangaji merasakan sesuatu yang kurang
beres. Tapi dasar tak pandai berdebat, ia jadi tergugu. Mendadak saja
perempuan yang berada dalam pelukan pera-jurit yang berjalan di depan
mengerang-erang minta pertolongan. Seketika itu juga, hati Sangaji
terkesiap. Tanpa berbicara lagi, terus saja ia melompat hendak merampas.
Perajurit yang membentaknya menghalang di depan dengan menyabetkan pedang.
Sangaji telah memperoleh keputusan dalam hati. Maka dengan tangkas ia
menangkisnya, kemudian dengan sekali pukul terjungkallah lawannya. Pukulan
Sangaji bukanlah pukulan lumrah. Sekalipun hanya dilontarkan dengan
sembarangan, kesiur anginnya membawa tenaga ilmu sakti Kumayan Jati. Itulah
sebabnya, begitu perajurit itu kena pukulnya, terus saja rebah tak
berkutik. Melihat temannya roboh kena sekali pukul, pecahlah keberanian
rekan-rekannya. Dengan berteriak-teriak salah seorang di antara mereka
menyambar tubuh rekannya dan diba-wanya lari berserabutan. Yang celaka
adalah nasib perempuan setengah umur yang ternya-ta luka parah. Dia terus
saja dilemparkan de-ngan dibarengi tendangan telak. Tatkala jatuh di tanah,
napasnya telah tersita. Sangaji merenungi dengan hati terharu. Dengan
pedang rampasan ia menggali lubang hendak mengubur mayat itu. Tetapi baru
saja ia menggali beberapa jari, terdengarlah kembali derap kuda bergemuruh.
Tak lama kemudian suara hiruk pikuk dengan disertai aba-aba. Ternyata yang
datang adalah sepasukan perajurit berseragam kurang lebih berjumlah 250
orang. Dengan membawa pedang rampasan dan mayat, Sangaji meloncat ke
punggung si Willem. Kuda hadiah Willem Eberfeld bukan-lah kuda sembarangan.
Begitu ditunggangi, terus saja membedal menyeberang sawah. "Bagus! Kau
bersembunyilah di sini! Aku ingin menengok mereka," bisik Sangaji kepada
Willem. Tapi kali ini Willem salah tangkap aba-aba majikannya. Dengan
meringkik tinggi, men-dadak saja lari berbalik dan menerjang barisan itu.
Karuan saja Sangaji menjadi gugup. Untung, dia pernah mempunyai pengalaman
menyerbu lawan dengan berkuda tatkala kakak angkatnya Willem Eberfeld
bertempur melawan Mayor de Groote. Karena itu, begitu melihat barisan
bergerak hendak mengadakan perlawanan, dengan gesit ia memutar pedangnya.
Dalam sekejap saja, beberapa perajurit jatuh bergelimpangan di tanah.
Sebenarnya Sangaji tiada mempunyai per-musuhan dengan mereka. Soalnya dia
hanya mempunyai kesan buruk terhadap mereka karena keempat orang penunggang
kuda berseragam tadi menganiaya seorang perem-puan begitu hebat. Tatkala
melihat usia perempuan itu. Teringatlah dia kepada ibunya yang semenjak
tadi merisaukan hatinya. Dalam benaknya, seolah-olah ibunya yang tengah
mengalami siksa. Itulah sebabnya, ia melabrak dengan benar-benar.
Gerak-geriknya dahsyat, cekatan dan tangkas. Tetapi jumlah mereka terlalu
banyak. Mau tak mau Sangaji harus melihat gelagat. Maka dengan hati
setengah mendongkol ia memutar kudanya dan dilarikan sekencang-kencang-nya.
Prajurit-prajurit itu berteriak-teriak setinggi langit dan melepaskan anak
panah laksana hujan lebat. "Tangkap bangsat itu! Tangkap bangsat itu!"
Mereka memaki-maki kalang kabut. Sangaji memutar pedangnya dan terus
membedalkan kudanya. Willem adalah kuda jempolan. Ia mengerti, majikannya
dalam bahaya. Maka larinya sepesat angin. Sebentar saja telah lenyap
ditelan kegelapan malam. Beberapa waktu kemudian, Sangaji tiba di suatu
persimpangan jalan yang sunyi senyap. Dengan sebelah tangan masih memapah
mayat, ia meloncat ke tanah. Cepat ia meng-gali lubang dan mengubur
perempuan itu de-ngan penuh hormat. Perempuan itu terang bukan sanak bukan
kadang, tetapi bagi Sangaji mempunyai kesan hebat bagi dirinya. Terus
menerus ia diganggu rasa rindu dendam terhadap ibunya Membayangkan
seolah-olah bahwa perem-puan itu adalah ibunya sendiri, tak terasa
ter-perciklah air matanya. "Ibu bukan seperti dia!" ia membisiki diri
sendiri. "Aku yakin, Ibu masih hidup segar-bugar. Hanya saja Ibu pasti
menung-gu-nunggu kabar beritaku..., Ibu! Aku pasti datang... Tetapi musuh
Ibu belum kulunasi ... tunggu barang satu dua bulan lagi..." Keadaan
dirinya memang lagi berada dalam sarwa perasa. Sehabis membayangkan keadaan
ibunya, mendadak saja teringatlah ia pula kepada Titisari yang kini
terenggut dari-padanya.
Bersambung
Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:
Posting Komentar