9.11.2019

@bende mataram@ Bagian 186

@bende mataram@
Bagian 186


Dalam pada itu, Sondong Majeruk mulai mendesak, la berbesar hati, melihat
lawannya tak berani menangkis pukulannya. Maka dengan sebat ia memutar pula
dan mengulangi serangannya. Serangannya kali ini, dapat digagalkan pula
oleh sang Dewaresi dengan mengelakkan diri. Dia jadi penasaran. Cepat-cepat
ia menyilangkan kedua tangannya ke da-da. Kemudian memutar tubuh dan
menyerang lagi.


"Itulah jurus 'makan sate kambing', pecahan keempat," bisik Sangaji kepada
kekasihnya. Titisari


mengangguk.


Sang Dewaresi ternyata seseorang yang pandai melihat gelagat. Begitu
melihat lawannya bukanlah suatu makanan empuk, segera ia bertindak
hati-hati. Kemudian membalas menyerang pula. Sasarannya adalah pundak
kanan. Sondong Majeruk cepat mengelak dan kembali ia menyerang dengan jurus
makan sate kambing.


Kali ini sang Dewaresi dapat memperlihatkan kepandaiannya. Luar biasa gesit
ia mengelak. Dan dengan mendadak tubuhnya melesat ke belakang punggung
lawan sambil melontarkan serangan.


Sangaji dan Titisari terkejut. "Inilah suatu serangan susah ditangkis!"
kata mereka dalam hati. Rupanya anak buah Sondong Majeruk sadar pula, bahwa
pemimpinnya berada dalam bahaya. Mereka bergerak serentak hendak menolong.
Tetapi Sondong Majeruk ternyata cukup gesit. Dengan tenang, ia mendengar
desir angin.


Untuk mengelak dan menangkis, terang tak sempat lagi. Maka ia memutar tubuh
dan menyambut serangan itu dengan jurus makan sate kambing lagi.


Sang Dewaresi ternyata tak berani menangkis serangan itu untuk kesekian
kalinya. Gesit ia memiringkan tubuh ke belakang dan melompat mundur dua
langkah.


"Hebat!" Sondong Majeruk mengeluh dalam hati. Kini ia tak mau
berlalai-lalai lagi. Ke mana saja sang Dewaresi bergerak, selalu ia
berusaha menghadapi dengan berhadap-hadapan. Tetapi ternyata, ia kalah jauh
dengan sang Dewaresi. Setelah bertempur selama dua puluh jurus, tujuh belas
kali dia terancam bahaya. Untung ia ketolongan oleh jurusnya Ilmu Kumayan
Jati yang sakti, makan sate kambing.


"Rupanya Paman Gagak Seta hanya mewarisi dia satu jurus belaka," bisik
Titisari.


Sangaji mengangguk. Teringat dia akan pengalamannya sewaktu melawan Yuyu
Rumpung. Waktu itu, dia sudah memiliki tiga jurus ilmu sakti Kumayan Jati.
Meskipun demikian tak dapat dia mengalahkan. Apa lagi Sondong Majeruk yang
hanya memiliki satu jurus belaka kini harus menghadapi sang Dewaresi.
Diam-diam ia mengkhawatirkan keselamatan Sondong Majeruk, berbareng merasa
syukur karena kini dia telah mewarisi empat belas jurus ilmu sakti Kumayan
Jati dalam waktu hampir dua bulan saja.


Pertempuran itu berjalan terus. Sang Dewaresi telah berhasil mendesak
Sondong Majeruk ke pojok. Sebagai seorang yang sudah berpengalaman, tahulah
Sondong Majeruk apakah maksud lawannya. Maka dengan mati-matian, ia
berusaha mempertahankan diri dan bergerak sedikit demi sedikit ke tengah
ruang. Tetapi sang Dewaresi pun bukanlah pula lawan yang kena digiring
semaunya. Dengan tertawa panjang tiba-tiba tangannya menyambar dengan
dibarengi berkelebatnya tubuh. Tahu-tahu, dagu Sondong Majeruk kena
dihajar. Dan belum lagi Sondong Majeruk sempat menangkis, sang Dewaresi
sudah menghajar tulang rusuknya empat kali. Sudah barang tentu Sondong
Majeruk mundur terhuyung-huyung dan roboh di atas lantai.


Anak-buahnya lantas saja menyerang berbareng. Tetapi dengan sekali sambar,
sang Dewaresi berhasil menangkap tengkuk dua orang dan dibenturkan dengan
suatu hentakan. Kedua orang itu lantas saja jatuh terkapar, sedangkan yang
lainnya jadi ketakutan.


"Hm, kalian kira siapakah aku ini?" dengus sang Dewaresi dengan angkuh.
Kemudian meneruskan dengan diselingi tertawa merendahkan, "Kalian kira, aku
bisa dengan mudah terjebak? Semenjak tadi, tahulah aku siapa yang berada
dalam goni itu."


Dengan melambaikan tangannya ia memanggil beberapa anak-buahnya yang datang
dengan mendorong seorang gadis yang berpakaian agak kusut. Semua yang
melihat termasuk Sangaji dan Titisari terperanjat belaka. Karena gadis itu
ternyata Gusti Ayu Retnoningsih.


Dengan wajah berbangga hati, sang Dewaresi berkata, "Hm, bagaimana kalian
bisa berpikir, kalau aku bisa kalian akali. Selagi kamu bandot busuk masuk
ke dalam goni, aku sudah berada dalam rumah. Dengan mudah aku mengundang
puteri bangsawan itu. Dia mengira, aku adalah




salah seorang di antara rombongan kalian. Begitu tiba, dia lantas kugondol
pergi mendahului kalian. Aku sudah bersiaga menunggu kedatangan kalian.
Nah, kalian mau apa sekarang?"


Anak buah Sondong Majeruk tiada yang dapat berkutik. Mereka masih saja
dalam suatu keheranan. Dan sang Dewaresi berkata lagi, 'Tadinya aku menaruh
perhatian sewaktu si bandot busuk itu memperkenalkan diri sebagai anak-buah
Gagak Seta, memang aku kenal si jembel tua itu. Kutaksir, anak-buahnya
pasti hebat. Tak tahunya hanya begini macamnya. Mengingat dia, aku
mengampuni jiwamu. Aku hanya ingin memiliki kedua butir gundu matamu."


Setelah berkata demikian, Sang Dewaresi menghampiri Sondong Majeruk yang
tak dapat berkutik lagi. Kemudian dengan mengembangkan jarinya, ia hendak
mencukil kedua gundu matanya. Tapi pada saat itu, mendadak berkelebatlah
sesosok bayangan yang terus menolak tangan sang Dewaresi yang nyaris
menempel di kelopak mata.


Sang Dewaresi terperanjat. Ia mendengar sambaran angin yang sangat dahsyat.
Sebelum sadar apa artinya itu, tiba-tiba saja kakinya telah kena tergeser
sampai dia mundur terhuyung dua langkah. Inilah hebat dan mengherankan.
Selama dia menjadi raja tak bermahkota di wilayah Banyumas, belum pernah ia
bertemu dengan lawan seberat kali ini. Siapakah dia? Tatkala sudah bisa
tegak berdiri, cepat ia mengamat-amati. Alangkah herannya! Karena dia
adalah seorang pemuda yang pernah dilihatnya di alun-alun Pekalongan dan di
sebelah Desa Karangtinalang. Menurut laporan Yuyu Rumpung dia sepanjang ini
lumrah saja. Bagaimana sekarang ternyata begini hebat.


Sesungguhnya dia adalah Sangaji. Tatkala melihat sang Dewaresi hendak
mencukil mata


Sondong Majeruk, tanpa memedulikan akibatnya lantas saja ia melesat memberi
pertolongan. Begitu ia berhasil mengundurkan sang Dewaresi, lantas berkata
lantang, "Kau berhati jahat. Kamu sudah menculik seseorang keturunan
bangsawan, tetapi tingkah-lakumu malahan kurang ajar. Semestinya kamu harus
minta maaf dan bertobat!"


Sang Dewaresi menenangkan hatinya, kemudian tertawa geli mendengar ujar
Sangaji. "Apakah alasanmu?"


"Apakah matamu tidak melihat sekalian orang gagah di kolong langit ini?"
"Hm—maaf, maaf. Baiklah karena kamu orang gagah, aku bersedia minta maaf."


"Tak berani aku menyebut diriku orang gagah," sahut Sangaji agak sulit.
Maklumlah, dia tak pandai berperang lidah. "Aku hanya memberanikan diri
untuk mencegah perbuatanmu yang terkutuk. Nah, kembalikan puteri itu kepada
yang berhak. Dan enyahlah kau dari wilayah ini!"


Mendengar tuntutan Sangaji, sang Dewaresi tertawa panjang. Kemudian
mengejek, "Berapa umurmu Tuan muda yang mengaku orang gagah? Kamu yang
belum pandai beringus, berani memberi nasihat dan menggurui aku?"


Sangaji terhenyak menghadapi bunyi ejekan itu. Ia seperti mati kutu.
Mendadak berkelebat-lah sesosok bayangan lagi dari jendela. Dialah Titisari
yang segera berkata kepada Sangaji.


"Aji! Hajarlah jahanam busuk itu!"


Sang Dewaresi terperanjat tatkala melihat Titisari. Sejurus kemudian
berkata dengan nada merendah.


"Eh, bukankah ini puteri Adipati Surengpati? Nama Nona senantiasa terlekat
dalam benakku dan takkan kulupakan seumur hidupku. Bukankah Nona bernama,
Endang Retno Titisari? Sayang, sewaktu kita berjumpa di kadipaten
Pekalongan dan di luar Desa Karangtinalang terjadi suatu gangguan. Itulah
sebabnya, tak dapat aku berbicara seleluasa-luasanya."


Disebut sebagai badut, sang Dewaresi tiada bersakit hati. Bahkan dia
tertawa lebar dengan mata berkilat-kilat. Katanya seperti memohon.


"Nona! Bukankah Nona datang pula untuk memintakan kebebasan puteri
bangsawan itu? Baiklah, aku akan membebaskan semua. Aku pun berjanji dan
bersumpah, takkan mencari




wanita lain lagi, asalkan kamu sudi mendampingi aku seumur hidupku. Nah,
bukankah itu suatu tukar-menukar yang adil dan bagus?"


Bersambung

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar