@bende mataram@
Bagian 185
"Aji! Sekiranya kamu orang yang mau menculik puteri itu, apakah yang akan
kaulakukan setelah mengetahui si bandot ampek itu yang tidur terlentang di
atas pembaringan."
Sangaji tak pandai bergurau, tetapi begitu mendengar ujar Titisari mau tak
mau tersenyum geli juga. Sekiranya tak berada di atas pohon, pasti dia akan
tertawa lebar. Tak disadari, ia jadi mengamat-amati segulung tubuh yang
terlentang berselimut rapat di atas pembaringan.
Kurang lebih pukul satu malam, terdengarlah suara daun bergemerisik.
Kemudian delapan bayangan meloncati pagar pesanggrahan dan langsung
menghampiri jendela kamar. Titisari menarik lengan Sangaji agar
memperhatikan gerak-geriknya. Ternyata kedelapan bayangan itu terus membuka
jendela tanpa ragu-ragu lagi. Kemudian melompat berbareng melewati jendela.
Di dalam kamar, pelita masih saja menyala. Sekilas pandang Titisari
mengenal beberapa orang di antara mereka. Itulah penggem-bala-penggembala
tabuan kelingking sang Dewaresi yang pernah merasakan kesaktian Gagak Seta.
Dua orang di antara mereka mengembangkan kain kasar semacam tenda,
sedangkan yang lain membuka sebuah goni besar. Dengan cekatan mereka
mendekati pembaringan dan terus saja menungkrap korbannya. Dengan sekali
renggut Sondong Majeruk yang berada di atas pembaringan terus diangkat dan
dibelesakkan ke dalam goni. Yang bertugas membawa goni, lantas mengikat
erat dan dipanggul di atas pundak. Mereka bekerja dengan cepat dan tanpa
bersuara seperti sudah terlatih rapi. Kemudian dengan memberi isyarat,
berbareng meloncati jendela dan bersembunyi di kegelapan malam.
Sangaji bergerak hendak mengejar, tetapi Titisari mencegahnya cepat.
"Bukankah pesanggrahan sudah ada yang menjaga?" bisik gadis itu. "Biarkan
mereka bertempur dahulu. Kita turun ke gelanggang setelah mereka kecapaian."
Sangaji tak membantah. Dan segera ia melihat kedelapan orang penculik itu
melarikan diri ke utara. Di belakang mereka berkelebat pulalah sepuluh
orang yang membawa tongkat bambu. Itulah laskar Gagak Seta yang berjaga
dengan diam-diam di sekitar pesanggrahan.
Setelah mereka lenyap dari penglihatan, Sangaji dan Titisari turun ke
tanah. Dengan bergandengan tangan, mereka terus mengikuti dari jauh. Mereka
sudah memiliki ilmu petak Gagak Seta, karena itu langkahnya cepat luar
biasa dan tiada menerbitkan suara apa pun juga.
Ternyata rombongan si penculik dan laskar Gagak Seta melintasi batas desa
dan terus menuju
ke timur laut. Mereka berkejar-kejaran hampir satu jam lamanya dan akhirnya
berhenti di sebuah rumah batu tua. Rombongan penculik memasuki rumah batu
itu, sedangkan laskar Gagak Seta dengan cekatan mengurungnya rapat- rapat.
Titisari mengajak Sangaji mengitari rumah dan melompati pagar dari arah
belakang. Ternyata rumah batu itu adalah bekas benteng kompeni pada masa
Perang Giyanti. Serambi depannya lebar dan diterangi dengan obor buah
jarak. Di ruang tengah duduklah seorang laki-laki setengah umur yang
mengenakan pakaian bersih dan mentereng. Dialah sang Dewaresi, raja tak
bermahkota dari daerah Banyumas.
Sangaji dan Titisari segera bergerak dengan hati-hati. Mereka bisa menilai
kesaktian orang itu. Kalau Yuyu Rumpung yang berbahaya saja sudi
mengabdikan diri menjadi salah seorang penasihatnya, pastilah kesaktian
sang Dewaresi berada di atasnya. Mendapat pertimbangan demikian mereka jadi
sangsi, apakah Sondong Majeruk mampu menghadapi apa lagi mengalahkan.
"Paduka sang Dewaresi," kata pemimpin dari delapan penculik yang baru tiba
dengan membungkuk hormat. "Gusti Ayu Retnoningsih sudah berhasil hamba angkut."
Sang Dewaresi tiada menyambut ujarnya. Dia hanya tertawa dingin. Kemudian
melemparkan pandang ke arah pekarangan sambil berkata lembut.
"Sahabat-sahabat! Mengapa hendak memasuki rumah dengan cara bersembunyi?
Silakan masuk saja!"
Sangaji kaget. Pikirnya, hebat orang ini. Anak buah Paman Gagak Seta sudah
berlaku dengan hati-hati dan tiada sembarangan bergerak. Meskipun demikian
bisa diketahui.
Sesungguhnya pada saat itu, anak buah Gagak Seta masih saja bersembunyi.
Dan mereka akan tetap berada dalam persembunyiannya sebelum memperoleh
tanda atau isyarat dari Sondong Majeruk.
Sang Dewaresi tiada berkata lagi. Dengan berdiam diri ia memperhatikan goni
penung-krap korbannya. Sejurus kemudian dia menggerutu.
"Hm... tak pernah kusangka, kalau puteri bangsawan itu begini mudah
mengunjungi tempatku." Dengan tenang ia berdiri dari tempatnya kemudian
menghampiri goni itu seraya mencabut sepucuk senjata tipis berbentuk pedang
panjang.
Sangaji dan Titisari terperanjat. Mereka yakin, kalau sang Dewaresi sudah
mengetahui siapakah yang berada dalam goni itu. Diam-diam mereka berdua
menyiapkan segenggam isi sawo sebagai senjata bidiknya, hasil ajaran Gagak
Seta.
Sekonyong-konyong terdengarlah suara berdesing. Beberapa batang anak-panah
mengaung di udara menyambar sang Dewaresi. Itulah anak-panah laskar Gagak
Seta yang sudah mengkhawatirkan nasib temannya. Dengan tenang, sang
Dewaresi mengibaskan pedangnya. Beberapa anak panah di-sapunya bersih
sedangkan tangan kirinya berhasil pula menjepit dua batang pula.
Rekan-rekan Sondong Majeruk terperanjat sampai memekik. Paiman lantas saja
berseru nyaring, "Paman! Keluarlah cepat!"
Mendengar seruan itu, dalam goni itu lantas saja terjadi suatu pergerakan
cepat dan tangkas. Terdengar goni terobek dan menyambarlah sebatang golok
ke arah sang Dewaresi. Kemudian Sondong Majeruk membebaskan diri dari
tungkrapan itu dengan bergulungan. Orang itu sebenarnya hendak menyerang
sang Dewaresi dengan cara tiba-tiba. Tetapi ternyata rencananya gagal,
karena sang Dewaresi benar-benar tak mudah diingusi.
Dalam pada itu sang Dewaresi telah menangkis serangan golok dengan mudah.
Melihat siapa yang keluar dari dalam goni tertawalah dia perlahan. Ujarnya,
"Eh, mengapa malam ini ada sulapan? Apakah seorang puteri bisa berubah
menjadi seorang bandot runyam? Benar-benar
suatu ilmu sulap goni yang hebat!"
Terang sekali, dia mengejek Sondong Majeruk. Tetapi Sondong Majeruk tiada
menggubris ejekannya. Dengan melambaikan tangannya, ia memberi aba-aba
kepada rekannya agar mengepung lawan. Dan dengan serentak rekan-rekannya
melompat ke dalam gelanggang.
"Selama beberapa hari ini, banyak laporan yang mengadukan tentang
penculikan gadis-gadis. Bukankah itu semua adalah perbuatanmu yang
terhormat Tuan besar?" ia mendamprat.
Sang Dewaresi tertawa melalui hidung. Dengan tenang ia menjawab,
"Sebenarnya hanya empat orang. Dan dengan menyesal terpaksa kuwartakan,
bahwa mereka tidak begitu cantik. Hm... sama sekali tak kukira, kalau
polisi-polisi desa bisa mengenakan pakaian sejembel pengemis."
"Aku memang pengemis merdeka. Mendengar laporan tentang penculikan itu,
terpaksalah aku, si pengemis melongok mencari jejak biang keladinya. Tak
tahunya tuanlah yang terhormat yang menjadi pemetiknya."
"Begitu?" sahut sang Dewaresi dengan angkuh. "Sebenarnya adalah suatu
kehormatan besar, sampai aku sudi berkenalan dengan gadis-gadis di sini.
Apakah Tuan menyesali? Baiklah, malam ini biarlah kukembalikan. Tapi
seperti kukabarkan tadi, mereka tidak begitu cantik. Hanya lumayan saja
untuk iseng pada malam perantauan."
Setelah berkata demikian, sang Dewaresi memberi perintah kepada
anak-buahnya agar membawa keempat gadis culikannya. Dan dengan cepatnya,
anak-buahnya membawa empat gadis ke serambi depan. Pakaian mereka nampak
kusut dan pandang matanya kuyu menyedihkan. Terang sekali, mereka habis
diperkosa dalam suatu sekapan.
Melihat mereka, Sondong Majeruk menggeram. Lantas dia berkata lantang,
"Tuan yang terhormat. Sebenarnya siapakah kamu?"
"Aku bernama Dewaresi. Keluarga Arya Singgela. Apa perlu kamu mengetahui
namaku?" "Hm, karena dengan peristiwa ini, terpaksalah aku memberanikan
diri untuk menangkapmu."
"Silakan, jika kamu mampu," jawab sang Dewaresi dengan tertawa. Kemudian
memasukkan pedangnya ke dalam sarungnya. Rupanya ia hendak melawan Sondong
Majeruk dengan tangan kosong.
"Bagus!" seru Sondong Majeruk dan dengan sekali gerak ia telah
mempersiapkan suatu serangan. Mendadak saja dia mendengar kesiur angin dan
sesosok bayangan berkelebat luar biasa cepat di depannya. Untung dia
tangkas. Cepat ia mengelak. Meskipun demikian lehernya kena juga tersambar
selintasan.
Sondong Majeruk adalah seorang polisi desa. Dia terkenal sebagai seorang
polisi yang disegani, karena pandai berkelahi dan termasuk seorang pendekar
yang tangguh. Dalam setiap pertempuran, belum pernah dia dikalahkan. Tapi
kini hampir saja dia kena dijatuhkan dalam satu gebrakan saja. Sudah barang
tentu, hatinya tercekat dan parasnya berubah hebat.
Cepat ia memutar tubuh dan menghantam sang Dewaresi dengan dahsyat.
Mendengar kesiur anginnya, tak berarti sang Dewaresi menangkis.
"Aji! Rupanya dia mengerti tentang Ilmu Kumayan Jati. Lihatlah jurusnya!"
bisik Titisari. Sangaji yang sedang menumpahkan seluruh perhatiannya kepada
gelanggang pertempuran mengangguk kecil.
Bersambung
Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:
Posting Komentar