9.09.2019

@bende mataram@ Bagian 184

@bende mataram@
Bagian 184


Desa Gebang ternyata merupakan sebuah desa yang terpandang juga. Rumah
penduduk tegak berdiri di seberang-menyeberang jalan. Dan rata-rata terdiri
dari papan kayu yang cukup rapat. Dibandingkan dengan keadaan desa lainnya,
sesungguhnya Desa Gebang termasuk sebuah desa yang makmur.


Dengan mudah mereka mendapatkan pesanggrahan Adipati Purworejo yang
terletak di tepi desa menghadap ke selatan. Halamannya luas dan dari balik
dinding rumah nampak cahaya dian berpencaran menggapai alam ria.


Mereka segera balik mencari kudanya. Dan di tengah ladang itu, mereka
berbaring melepaskan lelah. Sangaji dan Titisari adalah dua serangkai
muda-mudi yang masih penuh semangat. Kecuali itu, sudah mempunyai
pengalaman agak lumayan bergaul dengan alam. Itulah sebabnya, mereka mulai
bisa bertiduran dengan begitu saja di tengah alam tanpa banyak pertimbangan
lagi. Tubuhnya terlalu kuat pula melawan serangan angin dan hawa bumi.


Lewat tengah malam, mereka bangkit berbareng. Tubuhnya cukup segar kembali,
dan mereka bergegas memasuki desa. Keadaan desa sunyi-senyap, lengang dan
mencurigakan. Mereka terus meloncati pagar pesanggrahan dan memanjat pohon
yang berdiri tegak di luar kamar ruang tengah. Dengan beraling-aling
segerombol mahkota daun, mereka menjenguk ke dalam lewat celah-celah atap.
Apa yang mereka lihat, membuat hatinya terperanjat karena kagum.


Di dalam kamar itu nampak tujuh orang wanita yang jelita. Ketujuh wanita
itu duduk bersimpuh di atas lantai menghadap seorang gadis yang sedang
merenda. Itulah Gusti Ayu Retnoningsih yang dimaksudkan kedua orang yang
berbicara di tepi Sungai Jali tadi. Wajahnya cantik luar biasa.


Melihat kecantikan Gusti Ayu Retnoningsih, Umbulah kenakalan Titisari.
Gadis itu lantas saja mencubit paha Sangaji, sampai anak muda itu
kelabakan. Karena Titisari tiada bersuara, maka mau tak mau Sangaji harus
menderita cubitan itu dengan mengunci mulut.


Tak lama kemudian, terdengarlah suara gemeresek di luar halaman. Titisari
menarik lengan Sangaji agar berwaspada. Dan dengan segera, mereka melihat
dua sosok bayangan berkelebat memasuki halaman. Melihat bentuk tubuhnya,
mereka segera mengenalnya sebagai seorang laki-laki yang berbicara di tepi
kali petang hari tadi. Kedua orang tadi langsung saja menuju ke bawah
jendela dan mendengarkan suara dehem tiga kali.


Dua wanita yang bersimpuh segera membuka jendela sambil minta penjelasan.
"Siapakah yang datang mengunjungi kami?"


Dua orang tadi lantas saja melesat memasuki kamar dengan melewati jendela.
Melihat mereka, Gusti Ayu Retnoningsih cepat-cepat mempersilakan duduk
sambil menanyakan namanya.


"Hamba bernama Tukimin dan dia adalah kemenakan hamba bernama Paiman,"
sahut laki-laki jangkung sambil bersembah.




Gusti Ayu Retnoningsih mengamat-amati muka Tukimin dengan cermat. Melihat
mukanya penuh bekas luka, mendadak matanya bersinar. Menegas, "Bukankah
kamu ini yang terkenal dengan nama Sondong Majeruk?"


Laki-laki itu terkejut. Kemudian bersembah sekali lagi sambil menjawab,
"Ah, Gusti Ayu benar-benar bermata tajam. Memang hamba digelari orang
sebagai Sondong Majeruk. Sebenarnya tak berani hamba digelari sebagai
Sondong Majeruk. Sebenarnya tak berani hamba mengenakan nama keramat
seorang tokoh kenamaan pada zaman Pesantrenan. Pernah pada suatu kali hamba
bertemu dengan guru Gusti Ayu Retnoningsih, sang Perwira Suryaningrat,
salah seorang murid Kyai Kasan Kesambi pertapa sakti di Gunung Damar. Hamba
banyak memperoleh ajaran-ajaran ilmu gelar dan gulung dari padanya. Dan
semenjak itu, hamba merasa diri hamba sekerdil ibu jari. Lantas hamba
memutuskan hendak menggunakan nama hamba yang asli saja."


Mendengar orang itu menyebutkan nama Suryaningrat sebagai guru Gusti Ayu
Retnoningsih, Sangaji terperanjat sampai tubuhnya bergetar. Tahulah dia,
bahwa Suryaningrat adalah adik seperguruannya gurunya Wirapati. Seperti
diketahui, Kyai Kasan Kesambi mempunyai lima orang murid. Gagak Handaka,


Ranggajaya, Bagus Kempong, Wirapati dan Suryaningrat, dengan sendirinya
menjadi adik-seperguruan Sangaji.


"Sangatlah besar rasa terima-kasihku, kamu sudi membantuku menghadapi
bahaya tak terduga ini. Ayahku telah berangkat pulang dahulu ke timur. Dan
aku diperintahkan menunggu Kangmas Ontowiryo di sini. Mendadak salah
seorang dayangku memberi kabar tentang maksud jahatnya. Di dalam hal ini,
sangatlah besar terima-kasihku kepadamu. Aku akan patuh dan mendengar semua
kata-katamu."


"Gusti Ayu! Janganlah menyanjung-nyanjung hamba demikian tinggi. Kedatangan
hamba ini, semata-mata karena dititahkan junjungan hamba sang Perwira Gagak
Seta agar melindungi Gusti Ayu. Jadi sudah selayaknya, bahwa sanjung puji
itu harus dialamatkan kepada beliau," sahut Sondong Majeruk dengan takzim.


Mendengar disinggungnya nama Gagak Seta, Sangaji jadi terperanjat lagi.
Sekaligus sibuklah dia menduga-duga tentang diri Gagak Seta. Apakah orang
jempol itu mempunyai laskar terpendam? Mengingat dia dahulu pernah berjuang
melawan Belanda di samping Pangeran Mangkubumi I, maka tiada mus-tahillah
kini mempunyai pengikut bekas laskar pejuang. Mendapat pikiran demikian,
hatinya jadi tenteram dan bertambah-tambahlah dia menaruh hormat kepada
orang tua itu. Mendadak lengannya kembali dicubit Titisari. Bisik gadis
cilik itu, "Adik seperguruanmu begini cantik. Mestinya kamu harus
memperlihatkan jasa."


Merah muka Sangaji mendengar kata-katanya. Meskipun berotak sederhana,
tahulah dia ke mana maksud kalimat gadis itu. Tapi ia heran, bagaimana
Titisari bisa mengerti kalau Gusti Ayu adalah adik-seperguruannya. Belum
lagi dia berbicara, Titisari seolah-olah telah dapat membaca isi hatinya.
Katanya berbisik lagi, "Tiap orang di seluruh penjuru dunia ini, masa tak
mengenal nama murid Kyai Kasan Kesambi?"


Alasan Titisari benar-benar masuk akal dan bernalar. Maka dia membatalkan
maksudnya hendak berkata, dan mengarahkan perhatiannya kembali kepada Gusti
Ayu Retno-ningsih.


"Gusti Ayu! Jahanam itu benar-benar bagaikan binatang. Setiap kali
mengadakan perjalanan, belum pernah ia pulang dengan tangan kosong. Pasti
ada barang dua-tiga gadis yang dibawanya pergi. Malam ini dia akan
tertumbuk batu. Sekarang, baiklah Gusti Ayu.


Hamba mempunyai akal untuk menjebak dia," kata Sondong Majeruk gagah.


Gusti Ayu Retnoningsih mengangguk perlahan. Setelah memberi isyarat kepada
sekalian dayangnya, masuklah dia ke kamar lain. Kini tinggal Sondong
Majeruk dan Paiman yang berada dalam kamar itu.




Sondong Majeruk kemudian menghampiri pembaringan. Tirai disingkapnya dan
nampaklah pembaringan itu diselimuti kain sutera ungu yang indah. Tetapi
anak-buah Gagak Seta itu tanpa memedulikan segala terus saja naik ke
pembaringan dan berbaring terlentang. Kedua kakinya yang kotor berlumpur
dan pakaiannya yang usang kelihatan seperti seonggok sampah ditimbun di
atas selimut pembaringan yang indah bersih.


"Berjagalah kau di luar. Sekalian teman-teman harus bergiliran meronda
kemari," perintahnya kepada kemenakannya.


Tanpa berbicara lagi, Paiman terus saja meloncat jendela dan hilang dalam
kegelapan malam. Sondong Majeruk, turun pula dari pembaringan. Setelah
menutup jendela rapat-rapat seperti semula, kembali dia berbaring tak
peduli di atas pembaringan yang berselimut indah. Tirai pembaringan
kemudian ditutupnya dan ia menyelimuti tubuhnya rapat-rapat.


Titisari yang cerdas otak segera tahu apa maksud orang itu. Bisiknya kepada
Sangaji, "Rupanya anak buah Paman Gagak Seta bertingkah laku seperti dia
juga. Dia bisa berjena-ka dalam menghadapi bahaya. Bukankah dia bermaksud
menggantikan kedudukan puteri itu?"


Sangaji mengangguk dengan menutup mulut, karena mengetahui sekitar
pesanggrahan dijaga oleh orang-orang pandai. Sebaliknya Titisari yang
usilan, tak betah dengan suasana yang terlalu tegang senyap. Segera ia
mencari dalih dengan mencubiti lengan dan paha Sangaji sambil sekali-kali
menggoda.


Bersambung

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar