@bende mataram@
Bagian 183
Hidup diselimuti alam. Banyak sekali aku tak mengenal tata-santun pergaulan
golongan tertentu. Tetapi aku bukanlah seorang gadis hina. Sekali aku
menaruh hati kepadamu, biar menghadapi lautan api atau terancam ribuan
senjata pun, aku akan tetap mengikutimu ke mana saja kaupergi."
Sanjaya adalah seorang pemuda yang pandai main sandiwara. Tetapi mendengar
bunyi ketetapan hati Nuraini, mau tak mau ia terkesiap. Hatinya berdetakan
dan tiba-tiba saja ia menaruh hormat kepadanya. Dengan sedikit membungkuk
ia berkata, "Adikku engkau adalah kekasihku."
Nuraini mengamat-amati. Kemudian tertawa bahagia. Berkata penuh yakin,
"Sebentar atau lama, kamu pasti kembali ke kota. Aku akan menunggumu di
sini. Di rumah ini. Di rumah ayah-angkatku dan ayahmu. Kapan saja, kamu
boleh mengirimkan utusan ke mari untuk meminangku..." ia berhenti karena
napasnya menjadi amat sesak. Meneruskan, "Sebaliknya...
aku akan menunggumu dan tetap menunggumu selama hayat di kandung badan."
"Tentang hal itu, janganlah kau beragu," sahut Sanjaya cepat. "Setelah aku
selesai mempersiapkan diri, segera aku akan ke mari menjemput dikau."
Mendengar janji Sanjaya, air mata Nuraini tak dapat ditahannya lagi.
Berbareng dengan percikan air mata, gadis itu tersenyum puas. Kemudian
berputar mengungkurkan Sanjaya.
"Kau mau ke mana? Bukankah kamu akan bermalam di sini?" Sanjaya gugup.
Wajah Nuraini jadi merah dadu. Ia menatap Sanjaya. Ketika tiada kesan
buruk, ia tersenyum sambil menjawab, "Aku takkan pulang sebelum engkau
pergi. Sementara aku tidur di rumah sahabatku."
Sanjaya tak dapat menahannya lagi, meskipun besar keinginannya hendak
berada dekat padanya. Ia melihat Nuraini meloncat jendela dan hilang di
seberang sana. Saat itu ia merasa dirinya seolah-oleh sedang bermimpi.
Dengan hati puas, Titisari pulang ke pondoknya untuk terus tidur. Karena
memperoleh pengalaman yang menggembirakan, cepat sekali ia tertidur pulas.
Tahu-tahu, matahari telah menjenguk di udara. Sebentar ia heran, ketika
belum melihat Nuraini. Tetapi apabila mengingat peristiwanya semalam,
segera ia dapat memaklumi. Lantas saja ia mencari Sangaji yang sudah
bersiap dan terus menceritakan peristiwa Nuraini semalam.
Mendengar Sanjaya berada di Desa Karangtinalang, hati Sangaji jadi
berdegupan. Ia curiga dan dalam benaknya timbullah suatu teka-teki gemuruh.
"Jika demikian, tak usahlah kita menunggu dia. Ayo kita berangkat!" ajaknya
gelisah.
Titisari menyetujui dan gadis itu segera mandi. Setelah bersantap, mereka
bergegas menuju ke timur menghindari jalan raya. Maksudnya hendak menjauhi
tamu-tamu yang datang. Tetapi ternyata dusun itu telah sunyi kembali.
Rupanya para tamu sudah meninggalkan dusun semenjak matahari belum
menyingsing, mereka jadi beriega hati.
"Titisari!" kata Sangaji. "Apakah kita meninjau dahulu tempat penyimpanan
kedua pusaka warisan Paman Wayan Suage?"
Titisari meninggikan alis. Sejurus kemudian menjawab, "Ayo kita ke sana.
Tetapi kita harus pandai melihat keadaan."
Mereka berdua kemudian mengarah ke tenggara. Jalan besar yang menuju ke
Desa Kemarangan, Pesantren dan Bener, dihindari. Karena mereka melihat
bekas tapak-tapak kuda dan roda kereta. Sebaliknya mereka menyeberangi
hutan belukar yang penuh dengan semak-semak berduri. Lewat waktu zhuhur,
mereka telah sampai di Dusun Kaliba-wang. Dari sana mereka mengarah ke desa
Gowong dan Singajaya. Dan menjelang petang hari mereka telah berada di tepi
Sungai Jali. Perjalanan mereka tiada mudah. Seumpama tubuh mereka tidak
cukup kuat dan tabah, pastilah tak gampang dapat mencapai desa itu dalam
waktu satu hari saja. Meskipun demikian, mereka bukanlah manusia yang
terdiri dari besi dan baja. Maka rasa lelah akhirnya memaksa mereka untuk
beristirahat
Selagi mereka duduk berdiam untuk melemaskan urat-uratnya,
sekonyong-konyong terdengarlah suara orang berbicara tak jauh di sebelahnya.
"Telah kuketahui tempat penginapan Gusti Ayu Retnoningsih. Dia berada di
suatu rumar dekat pesanggrahan Adipati Purworejo di Gebang."
"Ah! Masa dia berada di sana? Apa kerjanya?"
"Barangkali dia sedang ikut keluarganya bercengkerama siapa tahu."
"Baiklah! Mari kita tinjau dahulu. Apabila benar, menjelang pagi kita
bekerja," sahut yang lain setelah diam sejurus.
Mereka berbicara dengan perlahan-lahan, tetapi keadaan sekitar tempat itu
sunyi senyap, maka tiap patah katanya terdengar sangat jelas.
Sangaji terperanjat. Kecurigaannya timbul sekaligus. Ingin ia menjengukkan
kepala agardapat mengetahui siapakah yang sedang berbicara tadi. Mendadak
Titisari meloncat sambil berkata nyaring.
"Hai Aji! Kau tak sanggup menemukan tempat persembunyianku. Nah, tangkaplah
aku kalau kau mampu!"
Sangaji dapat menebak maksud Titisari yang cerdik itu. Tiada ragu-ragu lagi
ia terus memburunya dengan tertawa geli. Titisari senang melihat Sangaji
dapat menebak maksudnya. Maka ia terus lari berputaran dengan langkah
bergedebukan. Sangajipun berlari-lari pula seperti seorang pemuda dusun
yang goblok.
Dua orang yang sedang berbicara tadi kaget. Karena tak menyangka bahwa di
petang hari terdapat sepasang muda-mudi berada di tepi kali. Tetapi ketika
melihat cara mereka berlari-larian, kecurigaannya hilang.
Mereka menyangka, kalau Titisari dan Sangaji adalah anak kepala desa atau
anak seorang priyayi pangreh-praja. Meskipun demikian, mereka cepat-cepat
menjauh dan menyeberangi kali Jali dengan tergesa-gesa.
Setelah main ubak-ubakan beberapa saat lamanya, Titisari dan Sangaji
berhenti berlari. Kemudian saling memberi isyarat dan terus mengintip dari
jauh.
"Apa mereka bermaksud baik?" Sangaji minta pertimbangan. Titisari menaikkan
alisnya. Dahinya berke-rinyut.
"Yang dibicarakan bukan orang semba-rangan. Paling tidak, mereka telah
mengikuti Putri ningrat itu semenjak lama."
"Apakah perlu kita perhatikan?"
"Hm... malam itu bukankah kita tidak ada pekerjaan? Jurusan yang harus kita
tempuh pun menyeberangi sungai pula. Baiklah, daripada kita menganggur,
kita ikuti mereka dari jauh. Siapa tahu ada totonan yang menarik hati."
Sangaji tahu kalau Titisari adalah gadis yang nakal dan usilan. tetapi apa
yang dikatakan, tiada terlalu salah. Percaya kepada kecerdasan otaknya, ia
menduga bahwa Titisari pasti telah dapat
menebak sebagian besar dari pembicaraan mereka meskipun hanya beberapa
patah kata. Maka ia menyetujui sarannya.
Si Willem dan kuda putih milik Titisari segera diseberangkan dengan
hati-hati. Syukurlah, meskipun arus sungai sangat deras, tetapi tiada
dalam. Maka setelah berjuang beberapa waktu lamanya, mereka berhasil
mencapai seberang sana dengan selamat.
Malam hari, bulan tiada di udara. Alam hitam lekam seolah tersekati tirai.
Hanya bintang-bintang bergetar lembut jauh di angkasa dan tiada pedulian
seperti semenjak Adam belum dilahirkan. Angin pegunungan mulai meniup
tajam, menggelitikkan bulu roma. Anjing-anjing pedusunan sekali-kali
menggonggong menghardik sasaran yang dicu-rigai.
Tak lama kemudian mereka telah sampai di perbatasan Desa Gebang. Willem dan
si kuda putih disembunyikan di dalam ladang teta-naman. Dan mereka
melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Bersambung
Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:
Posting Komentar