9.08.2019

@bende mataram@ Bagian 182

@bende mataram@
Bagian 182


Lantas saja ia mendekam dan mengintip dengan diam-diam. Ia heran berbareng
girang. Karena yang berada di dalam ternyata Sanjaya dan pendekar Madura
Abdulrasim, yang pernah mengadu kepandaian di dalam serambi kadipaten
Pekalongan dahulu.


Sanjaya nampak bermenurig-menung. Kemudian terdengar pendekar Abdulrasim
tertawa melalui dada. Katanya memaklumi, "nDoromas, aku pun pernah menjadi-
anak muda. Apakah nDoromas masih saja terkenang pada tawanan yang sudah
hilang tak karuan itu?"


Sanjaya terkejut. Pandang matanya seko-nyong-koyong berkilat-kilat.
Mendengus, "Paman, tebakanmu setengah benar. Memang semenjak aku berkenalan
dengan dia, hatiku senantiasa tak tenteram. Tak kukira aku berada di dalam
rumahnya."


Maksud Sanjaya adalah membicarakan Wayan Suage, tatkala ditawannya sebagai
seseorang bernama Mustapa. Tetapi baik Abdulrasim maupun Titisari salah
duga. Kedua-duanya mengira, bahwa hati anak muda itu lagi risau memikirkan
Nuraini. Pikir Titisari, hm, kamu dan Nuraini benar-benar lucu. Kamu begini
resah hati memikirkannya. Padahal, gadismu sudah berada di luar dinding.
Gadismu pun gelisah bukan kepalang. Karena mendapat kesan lucu, tanpa
disadari tertawa geli.


Sanjaya terperanjat mendengar bunyi tertawanya. "Siapa?" ia membentak
sambil memadamkan pelita, Abdulrasim pun secepat kilat melesat keluar pintu
dan memburu keluar halaman.


Titisari tak menyahut. Tetapi dengan sebat ia menyambar Nuraini. Dan
sebelum Nuraini sadar akan perbuatannya, ia telah menerkam urat ketiak
sehingga gadis itu tak dapat berkutik. Kemudian berkatalah Titisari sambil
tertawa geli.


"Kak Nuraini! Tak usahlah malu-malu kucing! Tak usah pulalah gelisah, aku
akan mengantarkanmu kepadanya."


Waktu itu kebetulan sekali Sanjaya membuka pintu jendela. Kesempatan itu
dipergunakan Titisari dengan bagus dan cepat.


"Terimalah! Inilah kekasihmu!" katanya. Sehabis berkata demikian ia
melemparkan ke dalam. Dan berbareng dengan gerakan itu ia melesat pula
keluar pagar. Itulah sebabnya, tatkala Abdulrasim sampai di luar tiada
melihat sesuatu kecuali terbukanya pintu jendela.


Sanjaya terperanjat bukan main, tatkala melihat sesosok tubuh terlempar ke
dalam. Entah mengapa, mendadak saja kedua tangannya menyambut dan tanpa
dikehendaki sendiri lantas saja memeluknya.


"Siapa yang bosan mati sampai berani memasuki jendela?" bentak Abdulrasim
dari luar jendela.


"Paman! Masuklah kembali! Nyalakan lampu!" sahut Sanjaya gugup.


Seperti anjing terpukul kepalanya, Abdulrasim melesat ke dalam lewat
jendela. Kemudian dengan cekatan ia menyalakan lampu. Ketika melihat siapa
yang berada di dalam pelukan Sanjaya, tanpa berkata lagi terus saja
ngeloyor pergi. Keruan Sanjaya jadi merah padam mukanya. Tetapi ia harus
menerima keadaan itu.




Perlahan-lahan ia meletakkan tubuh Nuraini di atas lantai. Kemudian mundur
dengan pandang menebak-nebak.


"Apakah kamu masih kenal padaku?" ujar Nuraini dengan suara lembut. Sanjaya
mengamat-amati. Mendadak dia kaget. Katanya gugup, "Kau?" "Ya, aku.
Mengapa?" sahut Nuraini dengan tersenyum.


"Tadi adalah sahabatku yang nakal, dengki dan jahil. Dia mengikutiku dengan
diam-diam. Tiba-tiba melemparkan aku ke dalam tanpa kusadari."


Sanjaya diam menimbang-nimbang sebentar. Kemudian mempersilakan Nuraini
duduk di atas kursi. Gadis itu pun tak menolak. Tetapi ia menundukkan
kepala dan mengunci mulut. Sanjaya merenungi dengan penuh selidik.
Dilihatnya gadis itu agak pucat karena terkejut. Tetapi nampak juga selapis
cahaya merah tanda bergirang. Dadanya berdetakan pula. Sebagai seorang
pemuda yang cerdik dan berpengalaman, tahulah dia menebak hatinya. Karena
dapat menebak, hatinya sendiri seko-nyong-konyong berdebaran pula.


"Apa perlumu mengunjungi aku pada malam hari begini?" tegurnya.


Mendapat pertanyaan demikian. Nuraini tak kuasa menjawab. Kepalanya kian
menunduk. Dan Sanjaya lantas saja jadi perasaan. Teringatlah dia, kalau
gadis itu telah kehilangan ayahnya. Hatinya lantas menjadi iba.


"Adik!" kata Sanjaya penuh iba. "Ayahmu telah meninggal dunia. Kutahu, kamu
akan menjadi anak yatim piatu. Apakah pendapat-mu, jika aku mengajakmu
hidup bersamaku dalam satu keluarga? Kamu akan kuanggap sebagai adikku
sendiri."


"Aku adalah anak-angkat ayahmu... bukan anak kandungnya..." bantah Nuraini.


Sanjaya tersadar. Pikirnya, ya, benar... antara aku dan dia tidak ada
hubungan darah. Mendapat pikiran demikian, bakat buayanya lantas saja
timbul. Tanpa ragu-ragu lagi, ia terus memeluknya. Hatinya berdebaran,
karena angannya sudah mulai menari-nari dalam benaknya.


"Inilah untuk ketiga kalinya aku memelukmu," bisiknya. "Yang pertama
tatkala kita bertanding. Yang kedua, tatkala berada di ambang pintu kamar
tahanan. Dan yang ketiga... ah, sekarang kita tidak ada yang mengganggu lagi."


Mendengar bisik pemuda idaman hatinya, napas Nuraini terasa sesak. Hatinya
berbahagia bukan main, sampai mulutnya tak dapat berkutik.


"Mengapa kamu tahu, aku berada di sini?" Sanjaya berkata lagi.


"Bukankah ini rumah kita?" jawab Nuraini. "Setiap malam kamu selalu
kukenangkan. Di luar dugaanku, kamu tiba-tiba berada di sini. Apakah kamu
sedang menjenguk kampung halamanmu?" Diingatkan tentang rumahnya, dengan
sendirinya teringatlah dia kepada Wayan Suage yang dikabarkan sebagai ayah
kandungnya. Hatinya lantas tergetar, sehingga tanpa disadari ia mengurai
pelukannya.


Syukur, Nuraini sedang tertambat hatinya. Gadis itu tak melihat suatu kesan.


"Kini aku tak berayah-bunda lagi," bisik Nuraini. "Apakah kamu akan
membiarkan aku hidup sebatang kara?"


Sanjaya seorang pemuda yang licin. Mendengar bisik Nuraini, cepat-cepat ia
melenyapkan kesannya. Dan dengan manis sekali ia membalas.


"Kata-kata itu janganlah kamu ulangi lagi. Untuk selama-lamanya aku adalah
kepunyaanmu dan kamu adalah pula milikku untuk selama-lamanya."


Pemuda itu kemudian mengusap-usap rambut Nuraini dengan penuh kasih. Dan
Nuraini puas bukan kepalang. Dengan pandang cemerlang ia menatap wajah
Sanjaya, kemudian menghadiahi suatu senyum madu.


"Benarkah katamu?" ia minta ketegasan.




'Tentu. Aku akan mengawinimu." "Kau tak berpura-pura?"


"Aku bersumpah, jika aku menyia-nyiakan dikau biarlah tubuhku mati terkupas
senjata tajam."


Hati Nuraini tergetar mendengar bunyi sumpahnya. Kemudian ia berdiri
perlahan-lahan dan berkata penuh wibawa.


"Sesungguhnya aku anak yatim-piatu.


Bersambung

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar