9.08.2019

@bende mataram@ Bagian 181

@bende mataram@
Bagian 181


"Kak Nuraini," kata Titisari. "Paman Gagak Seta mewarisiku beberapa macam
ilmu sakti. Jika kamu menghendaki, aku akan mengajarimu."


Tetapi Nuraini menggelengkan kepala.


"Terima kasih. Akhir-akhir ini aku mempunyai persoalan yang belum
kuselesaikan. Jika telah selesai, kelak aku akan mencarimu."


Lembut kata-kata Nuraini, tetapi berwibawa dan berpengaruh sehingga
Titisari yang usilan terbungkam karenanya. Tak terasa matahari terus
merangkak-rangkak ke barat. Senja hari mulai tiba.


"Ijinkan aku menengok rumah sebentar," kata Nuraini lagi.


"Mengapa tidak kita bertiga?" Sangaji menyahut dan terus saja bangkit.
"Kita mempunyai tamu. Biarlah kutengok-nya dahulu."


"Tamu?" Sangaji heran. Belum lagi Nuraini memberi keterangan, Titisari
menegas, "Apakah rumah Sangaji berada di suatu pekarangan yang luas?"


Nuraini mengangguk. Matanya terbelalak.


"Yang kaumaksudkan tamu, bukankah orang-orang yang berkendaraan kereta dan
kuda?"


Kembali lagi Nuraini mengangguk. Kemudian berkata, 'Tadi aku ke kali.
Sewaktu hendak pulang, kulihat banyak kereta berkuda berhenti di depan
rumah. Hati-hati, aku berjalan melintasi pagar. Tak tahunya, kamu
mengikutiku. Bukankah begitu?"


Titisari tertawa, lantas menceritakan riwayat pertemuannya dengan Nuraini
kepada Sangaji. Tetapi pemuda itu seolah-olah tiada mendengarkan. Ia nampak
sibuk seorang diri. Memang hatinya sedang diamuk oleh bermacam-macam
perasaan yang datang pergi tiada berketentuan.


Menjelang petang hari, Nuraini pergi seorang diri dan pulang ke pondok
sesudah Isa. Wajahnya nampak cerah dan sekali-kali tersenyum samar-samar.
Titisari melihat perubahan itu, tetapi berlagak seolah-olah tak memperhatikan.


"Malam ini kalian tak dapat menjenguk rumah," kata Nuraini. "Banyak tamu
tak diundang menginap di situ. Dan kalian tahu, siapakah mereka? Mereka
adalah yang pernah muncul di lapangan kadipaten Pekalongan."


"Eh, mengapa mereka sampai di sini?" Sangaji terperanjat. Ia menduga,
pastilah ada hubungannya dengan Wayan Suage. Pikirnya, pantas, Yuyu Rumpung
berkeliaran di sekitar desa ini. Kemudian berkata hati-hati penuh selidik,
"Apakah mereka datang bersama Pangeran Bumi Gede? Mustahillah, apabila
mereka mengetahui rumah Paman Wayan Suage tanpa mendapatkan keterangan
sebelumnya. Nuraini, apakah pendapatmu tentang mereka? Apakah kepentingannya?"


"Siapa tahu?" sahut Nuraini tenang? Dan sama sekali ia tak mengemukakan
pendapatnya. Karena itu, Sangaji jadi gelisah seorang diri. Tetapi melihat
Titisari tetap tenang lam-bat-laun hatinya jadi tenteram juga. Meskipun
demikian, hatinya sibuk menduga-duga.


Malam itu, ia berbaring di depan pintu memandang alam, Nuraini dan Titisari
berada di dalam. Mereka berdua nampak seia sekata. Ia mengira, kalau mereka
berdua sudah tidur dibuaikan mimpinya masing-masing. Tetapi sesungguhnya
tidak demikian.


Titisari yang usilan sebenarnya berpura-pura memejamkan mata. Dengan
diam-diam, ia mengamat-amati gerak-gerik Nuraini yang mendadak berjalan
mondar-mandir di depan dipan.




Gadis itu kelihatan sangat sibuk. Keningnya berkerut-kerut seperti ada
sesuatu soal yang sedang dipecahkan.


Beberapa saat kemudian, Nuraini mencabut suatu benda dari sanggulnya. Benda
itu di-amat-amati, dibuainya lembut dan akhirnya diciumnya berulang kali.
Titisari tersenyum melihat perangainya. Tahulah dia, bahwa benda itu adalah
tusuk rambut hadiah Sanjaya yang tadi pagi dapat dirampasnya. Mendadak
suatu pikiran menusuk benaknya, apakah Sanjaya berada pula di antara
mereka. Jika dia berada di antara mereka, pastilah ayahnya mendampinginya pula.


Nuraini terus menciuminya tiada hentinya. Mulutnya tersenyum manis.
Kemudian mulutnya berkomat-kamit. Dan terdengar dia berbisik, "Kamu memang
nakal, tapi... kamu pandai merusak hatiku."


Titisari terus berpura-pura tidur pulas. Tetapi setiap kali, ia tak lupa
menyenakkan mata untuk menonton sandiwara yang berlaku di depannya.
Mendadak saja Nuraini menyimpan tusuk rambut itu. Kemudian memutar tubuh.
Hati-hati ia berjalan mengendap-endap menghampiri pintu belakang dan
setelah membuka daunnya, terus saja meloncat keluar.


Titisari heran bukan kepalang. Kecurigaannya lantas saja timbul. Dasar dia
berwatak usil-an, maka ia meloncat pula dari pembaringan dan terus menyusul
menyekat kepekatan malam. Dalam hal ilmu berlari, Titisari lebih gesit
daripada Nuraini. Pertama-tama, ia sudah mewarisi sebagian ilmu ayahnya.
Dan kedua, sudah mendapat ilmu petak dari Gagak Seta. Maka sebentar saja,
bayangan Nuraini sudah terkejar. Dilihatnya Nuraini berlari secepat angin
menuju ke timur. Dan ia terus menguntit dari jarak tertentu agar tak diketahui.


Ternyata Nuraini menuju ke rumah usang yang berhalaman luas. Itulah rumah
orangtua Sangaji yang dahulu terbakar habis oleh rombongan penari aneh dari
Banyumas. Wayan Suage yang dapat diselamatkan Wirapati, mencoba
membangunnya kembali. Meskipun tidak sementereng dahulu, tetapi cukuplah
untuk berteduh dua keluarga. Namun hatinya terlalu sedih teringat oleh
peristiwa terkutuk dahulu. Maka ia meninggalkan rumah tak terawat itu untuk
merantau mencari isterinya.


Dalam rumah, dian memancarkan sinar terang. Sedangkan di halaman depan,
beberapa orang bertiduran di tengah alam. Nuraini tak mengenal takut.
Melihat halaman depan terjaga rapat, maka ia memasuki halaman belakang yang
penuh semak belukar. Lantas ia menghampiri dinding rumah dengan
berjinjit-jinjit. Dari luar pagar nampaklah sesosok bayangan berjalan
mondar-mandir pada dinding bambu oleh pantulan cahaya dian. Dan Nuraini
seperti kagum mengamat-amati bayangan itu.


Titisari terus saja melompati pagar belakang dan bersembunyi di belakang
pohon. Melihat Nuraini yang seperti orang linglung mengawasi bayangan yang
bergerak-gerak di dinding, ia jadi geli. Pikirnya, hm... pastilah dia
pemuda puja-annya yang sudah diintipnya semenjak tadi.


Hampir satu jam lamanya, Nuraini tetap tak bergerak di tempatnya. Lama
kelamaan Titisari kehilangan kesabarannya. Dalam hati memakilah dia, Eh...
kamu pengecut benar. Kalau memang cinta, mengapa tak berlaku
terang-terangan. Bukankah kamu bisa menjebol jendela dan terus saja masuk?


Memang Titisari seorang gadis berhati polos. Apa yang terasa dalam hati,
terus saja dilakukan tanpa ragu-ragu dan pertimbangan. Maka begitu ia
melihat sikap Nuraini, lantas saja dia hendak membuat jasa. Dengan gesit ia
meloncat menghampiri jendela dari arah lain.


Ditahanlah napasnya agar tiada mengejutkan Nuraini. Ia bermaksud hendak
mengetuk jendela dan terus melontarkan Nuraini ke dalam. Tetapi baru saja
ia hendak bertindak, mendadak di depannya suatu langkah berderap memasuki
serambi rumah. Terdengar suara menghormat.


"Raden Mas... kita sudah berusaha mencari benda itu. Tapi masih saja belum
berhasil."


"Lantas?" terdengar suara memotong. Titisari mengerling kepada Nuraini.
Nampak gadis itu terkejut girang, dan tahulah Titisari, bahwa yang bersuara
itu adalah Sanjaya.




"Para pendekar sakti masih saja menjaga sungai itu dengan rapat. Mereka
melihat sesosok bayangan yang menyelundup ke dalam kolongan. Bayangan itu
mencurigakan. Sayang, waktu dikejar tiba-tiba bisa melenyapkan diri seperti
setan."


Mendengar ujar orang yang sedang memberikan laporan kepada Sanjaya,
Titisari terperanjat. Apakah bayangan itu bukan Paman Wirapati, guru
Sangaji? pikirnya sibuk. Jika demikian, aku harus berwaspada. Siapa tahu
mereka datang kemari karena benda warisan Wayan Suage pula?


Memperoleh pikiran demikian, segera ia mengundurkan diri dengan
perlahan-lahan. Kemudian menghampiri serambi tengah dan sisi lain.


Bersambung

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar