CANTING PART 5
Hadi memijit-mijit dahinya. Ia sedikit pusing. Dari tadi, puluhan pesan
masuk ke ponselnya. Begitu pula dengan akun social medianya dengan ratusan
notifikasi yang terus muncul tanpa jeda. Ia tak menyangka lamarannya pada
Sekar semalam menjadi begitu viral di dunia maya. Hanya dalam hitungan jam,
kisah lamarannya pada Sekar jadi trending di berbagai social media.
"Patut dicontoh. Lelaki ini sujud syukur setelah lamarannya diterima."
"Bikin baper! Lihat cara gadis ini menerima lamaran kekasihnya."
"Ya Tuhan, sisakan 1 lelaki seperti ini untukku."
"Nggemesin. Cincin lamarannya dipakai di kelingking gara-gara kekecilan."
......
Hadi tersenyum membaca beberapa headline di portal berita online dan
caption beberapa orang yang diunggah di social media. Senyumnya semakin
melebar saat ada sebuah akun facebook menuliskan kisah lamarannya pada
Sekar semalam dengan judul "Cinderela versi Jawa" untuk menggambarkan
hubungannya dengan Sekar, kisah cinta majikan dan pada rewangnya.
Semalam, beberapa orang menghampiri berdua saat mereka baru saja akan
beranjak meninggalkan Westlake resto. Mereka penasaran mengapa Sekar
memanggilnya dengan sebutan den. Tak dinyana, mereka justru semakin
terkesima setelah mereka tahu bahwa Sekar adalah rewangnya. Hadi yakin,
salah satu dari mereka yang menulisnya di dunia maya dan membuat hastag
#cinderelajawa trending di social media.
Hadi mendongakkan kepalanya, menilik keadaan di luar dari jendela di
sebelahnya. Tampak beberapa pekerja di teras rumah produksi tengah menggoda
Sekar. Hadi kembali tersenyum melihatnya, bahkan tertawa kecil saat melihat
Sekar berusaha mencubit mereka yang terus menggodanya, mengingatkannya pada
masa-masa itu, saat Sekar kecil berusaha mencubitnya karena begitu kesal
dengan godaannya.
Namun sejurus kemudian, senyum Hadi hilang. Ponselnya masih terus berbunyi.
Pesan-pesan itu datang tanpa henti, menanyakan kejadian malam tadi. Teman
SMA, teman kuliah, kolega, keluarga, semua bertanya hal yang sama. Sayang,
alih-alih mengucapkan selamat karena lamarannya diterima, beberapa dari
pengirim pesan itu justru sibuk mempertanyakan keputusannya menikahi
rewangnya. Sebuah keputusan yang dianggap oleh beberapa dari mereka sebagai
keputusan sembrono, hingga membuat Hadi membiarkan saja pesan-pesan itu
menumpuk tanpa ada balasan darinya.
Memangnya kenapa kalau ia menikahi rewangnya sendiri? Bukankah Mariya
Qibtiya, salah satu istri kanjeng nabi adalah seorang budak yang kemudian
dimerdekakan dan dinikahi oleh kanjeng nabi?
Hadi kembali menyeruput tehnya yang tak lagi hangat dan menghabiskannya
hingga tak ada setetespun yang tersisa. Ia berdiri, meluruskan badan
tegapnya, lalu berjalan menuju pendopo rumahnya. Hembusan angin membuat
pikirannya sedikit tenang.
Hadi menerawang, mengedarkan pandangan pada langit-langit pendoponya.
Pendopo pada rumah Jawa memang sengaja dibuat terbuka tanpa pembatas pada
keempat sisinya, melambangkan sikap keterbukaan pemilik rumah terhadap
siapa saja yang datang ke sana. Sama halnya dengan hatinya. Hadi tak pernah
membatasi hatinya hanya untuk orang-orang yang secara sosial sederajat
dengannya saja, hingga ia tidak peduli status Sekar yang hanya seorang
rewang, seorang buruh batik. Meski secara status sosial memang mereka
berbeda, Hadi tetap memilih Sekar menjadi ratu di hatinya. Sayang, tak
semua orang berpikir sama sepertinya.
Hadi terhenyak. Ponselnya kembali berbunyi. Kali ini ada panggilan dari
nomor yang dikenalnya dan entah mengapa Hadi langsung mengangkatnya. Hadi
memicingkan mata. Suara di seberang sana bukanlah suara pemilik nomor yang
dikenalnya.
"Nanti kalau kanjeng ibu kondur, tolong sampaikan kalau aku ke JIH
sebentar," pesan Hadi pada Sekar, beberapa saat kemudian.
"Ke JIH? Den Hadi sakit?" tanya Sekar. Jelas, ada rona kekhawatiran di
sana. Apalagi wajah Hadi terlihat sedikit pucat.
"Kenapa? Khawatir, ya kalau calon suamimu ini kenapa kenapa, hmm?" tanya
Hadi, membuat Sekar salah tingkah karenanya.
"Ya sudah, kalau kamu khawatir, ayo ikut saja," godanya.
Sekar merutuki dirinya. Harusnya ia tak usah bertanya karena jawaban Hadi
lagi-lagi berhasil menggetarkan hatinya. Hadi tersenyum melihat Sekar yang
tersipu.
"Aku mau menjenguk temanku. Nanti jangan lupa sampaikan pada kanjeng ibu,
ya," pesan Hadi lagi sembari menyalakan motornya. Ia sengaja tidak
menggunakan mobilnya untuk menghindari antrian kendaraan di jalanan Jogja
yang rasa-rasanya semakin hari semakin macet saja.
Sekar menatap nanar punggung Hadi yang semakin menjauh. Ada sesuatu yang
sebetulnya ingin diceritakannya, sesuatu yang ia alami pagi tadi yang
membuatnya tak enak hati.
**********
"Gimana Ajeng, Yo?" tanya Hadi pada sosok berkumis tipis di hadapannya,
setibanya ia di JIH. Haryo Penangsang namanya. Sahabat Hadi sejak mereka
masih bersekolah di SMAN 3 Yogyakarta.
"Nggak apa-apa, Di. Ajeng baik-baik saja. Lemas karena lupa sarapan,"
jelasnya. Mereka berdua berjalan beriringan ke kamar Ajeng.
"Syukurlah. Tapi, kenapa kamu menghubungiku pakai nomer Ajeng? Tak kiro
sopo mau kok suarane bedo," kata Hadi.
"Ponselku mati. Ajeng yang tadi memintaku menghubungimu. Katanya Ajeng
ingin bicara sesuatu," jelas Haryo.
"Di, sebetulnya...."
Haryo ragu untuk melanjutkan perkataannya, namun Hadi sudah terlanjur
penasaran karenanya.
"Opo, Yo? Ada apa?" tanyanya.
Haryo memberi isyarat agar Hadi mengikutinya untuk duduk di salah satu
shofa lobi.
"Ajeng pingsan setelah melihat video lamaranmu yang sedang viral itu.
Untung tadi aku sedang di sana dan langsung menangkap tubuhnya. Jika tidak,
mungkin Ajeng sudah jatuh ke lantai," jelasnya, membuat Hadi cukup tersentak.
Sorot mata Hadi meminta penjelasan.
"Jadi begini, Di. Benar Ajeng pingsan karena lupa sarapan. Saat kita
kelaparan, kadar glukosa dalam tubuh kita menurun. Itu yang membuat Ajeng
lemas. Tapi, Rasa kaget yang luar biasa bisa menyebabkan kerja jantung
bermasalah. Itu juga yang membuat Ajeng pingsan," jelasnya. Hadi masih tak
menangkap arah pembicaraan Haryo.
"Sik, sik. Maksudmu Ajeng kaget melihat video viral itu?" tanya Hadi. Haryo
mengangguk.
"Kok iso? Aku kira Ajeng akan ikut senang aku akan segera mengakhiri masa
lajang. Tahu sendiri aku yang sering dibully di group SMA kita karena
hampir kepala 3 tapi belum menikah juga. Bahkan Ajeng juga sering ikut
membully," kata Hadi lagi. Haryo mendesah.
"Di, seriously?" ucapnya. Hadi mengernyitkan dahinya.
"Apa, Yo? Kok aku nggak paham dengan arah bicaramu." Haryo kembali mendesah.
"Kamu masih tidak mengerti kenapa Ajeng bisa kaget setengah mati, bahkan
sampai pingsan setelah melihat videomu itu?" tanyanya lagi. Hadi menggeleng.
"Gusti... nduwe kanca pintere eram, tapi kok ora peka babar blas," gerutu
Haryo. Hadi semakin tidak mengerti.
"Ajeng itu cinta sama kamu, Di."
Bagai disambar petir di siang bolong Hadi mendengarnya. Ajeng mencintainya?
Bagaimana bisa?
"Ajeng sendiri yang tadi cerita. Sekarang temui dia. Coba jelaskan dan
tenangkan hatinya agar dia lebih bisa menerima. Tapi, Di, soal lamaranmu
itu..."
"Apa? Kamu juga ingin mempertanyakan kenapa aku memilih rewangku sendiri
seperti yang lainnya?" Hadi memotong kalimat Haryo sebelum Haryo sempat
menyelesaikannya. Haryo tersenyum, lalu kembali berdiri, mengajak Hadi
berjalan kembali.
"Bukan, Di. Soal lamaranmu, aku tulus ingin mengucapkan selamat untukmu
dan... Sekar. Eh namanya benar Sekar kan? Aku tahu kamu sudah lama memendam
rasa padanya," katanya. Hadi terkesima mendengarnya.
"Bagaimana kamu bisa tahu?" selidiknya.
"Sorot matamu tidak bisa berbohong, Di. Setiap aku ke rumahmu dan Sekar
membawakan minuman untuk kita, aku ingat bagaimana kamu menatapnya. Lisanmu
memang diam saja. Tapi pandanganmu mengatakan kamu mencintainya."
Hati Hadi berdesir mendengarnya. Sejelas itukah sinyal cinta yang terekam
di sorot matanya? Bahkan orang lain saja sampai bisa begitu mudah membacanya.
"Aku tidak tahu alasanmu, tapi aku yakin, dia punya keistimewaan yang
berhasil memesonakanmu. Jaga dia baik-baik, Di. Bangun bahagiamu
bersamanya. Sekarang, kamu temui Ajeng. Jelaskan agar hatinya lebih
tenang," katanya sambil menepuk pundak Hadi, lalu berlalu menuju ruang
prakteknya kembali.
Hadi sedikit ragu untuk membuka pintu kamar Ajeng, hingga ia hanya berdiri
mematung dengan terus memegang gagang pintunya. Rasanya aneh saja. Hadi
tidak pernah mengira Ajeng punya rasa untuknya. Benar mereka dekat, namun
hanya cukup dekat, bukan terlalu dekat. Kedekatan yang sama dengan
kedekatan Hadi dengan beberapa teman perempuan lainnya. Lagipula,
rasa-rasanya Ajeng tidak pernah menunjukkan sinyal apapun yang menunjukkan
bahwa ia punya rasa untuknya. Atau jangan-jangan, Ajeng sudah melakukannya
namun Hadi yang tidak bisa menangkapnya?
Hadi menghela napas cukup panjang sebelum akhirnya membuka pintu itu. Ajeng
tengah menatap nanar ke arah jendela hingga tak menyadari kehadirannya.
"Jeng?" sapanya, kikuk. Ajeng menoleh dan tersenyum. Sebuah senyuman yang
dipaksakan. Kedua matanya tampak sembab.
"Kamu kenapa?" tanya Hadi, sambil menggeser sebuah kursi ke sisi ranjang.
"Maaf, Mas. Tadi aku minta tolong Mas Haryo untuk menghubungi Mas Hadi.
Aku.... " Tenggorokan Ajeng mendadak tercekat. Ia bahkan tak mampu untuk
menyelesaikan sebuah kalimat.
"Sudah, sudah. Tidak usah dilanjutkan, Jeng. Aku sudah mendengar dari
Haryo," katanya. Ia tahu Ajeng tak akan sanggup untuk langsung
mengatakannya. Sorot mata Ajeng menunjukkan itu semua.
Sejenak hening. Namun beberapa saat kemudian, keheningan itu pecah, seiring
dengan tangis Ajeng yang mendadak pecah.
"Menangislah jika itu bisa membuatmu tenang, Jeng. Jangan dipendam,
keluarkan semua. Setelah itu, kamu akan sedikit tenang dan kita bisa
bicara," sambungnya lagi.
Hadi menyodorkan segelas air mineral yang diambilnya dari meja di sisi
kanan ranjang. Ajeng menerimanya dan meminumnya setelah ia lebih bisa
menguasai dirinya.
"Video itu...." Ajeng kembali tercekat. Rasanya ada sebongkah beban yang
begitu berat. Hadi menghela napas.
"Iya, Jeng. Video itu benar adanya. Aku akan segera menikah dengannya,"
jelas Hadi. Ia berusaha tampak tenang, meski sejujurnya ia merasa sangat
tidak nyaman. Airmata Ajeng kembali berlinang.
"Jadi, selama ini kedekatan kita tak berarti apa-apa?" tanya Ajeng di sela
tangisnya.
"Tentu saja berarti, Jeng. Hanya saja, sebagai sahabat. Bukan sebagai yang
lainnya," jawab Hadi yang masih terus berusaha menyamankan diri.
Mendengar jawaban Hadi, Ajeng semakin tidak bisa menguasai diri.
"Memangnya apa kelebihannya dibandingkan aku, Mas? Dia hanya gadis 18
tahun. Labil, belum matang. Dia juga hanya seorang rewang. Kenapa Mas Hadi
memilih dia?" Tangis Ajeng semakin pecah.
Hadi menejamkan matanya sejenak. Sejujurnya ia bingung harus bagaimana.
"Jeng, baik kamu atau dia, itu sama-sama istimewa. Kamu istimewa sebagai
Ajeng, dia istimewa sebagai Sekar. Masing-masing punya keistimewaan
sendiri. Jika kemudian aku memilihnya, itu karena hatiku berhenti padanya,"
jelas Hadi. Ajeng masih terisak.
"Seperti halnya saat kita memilih frekuensi radio. Mana yang kita klik
dengannya, di situ kita akan menghentikan pencarian kita," sambungnya lagi.
Ajeng menghapus airmatanya.
"Kenapa tidak terus memutar tombolnya? Mungkin saja kamu akan menemukan
frekuensi dengan isi yang lebih bagus jika terus memutarnya, Mas," sanggah
Ajeng.
Hadi mendesah. Kondisi emosi Ajeng sedang tidak bagus.
"Jeng, orang yang sudah klik dengan frekuensi itu, dia akan terus berhenti
di situ. Beberapa mungkin akan mencari frekuensi lain sambil menunggu iklan
yang berjalan, meski mungkin nanti akan kembali lagi ke frekuensi yang
pertama. Tapi aku bukan bagian dari mereka. Aku lebih memilih untuk tetap
di frekuensi yang sama, menunggunya meskipun harus ada jeda iklan,
menikmatinya, tanpa berpikir untuk menggeser tombol ke frekuensi lainnya,"
jelas Hadi panjang lebar.
Ulu hati Ajeng terasa begitu sakit. Ada duri sembilu yang menancap dalam di
sana. Sepertinya sudah tidak ada harapan baginya. Airmatanya kembali
menganak sungai.
"Sudah dari jaman kita kuliah aku memendam rasa untukmu, Mas. Apa Mas Hadi
tidak merasakan itu? Apa sedikitpun Mas tidak pernah punya rasa yang sama
selama bertahun-tahun kita saling kenal?" Isak tangis Ajeng kembali terdengar.
"Jeng, maafkan aku jika mungkin kamu sudah menunjukkan sinyal-sinyal
cintamu, tapi aku tidak mampu menangkap itu. Maafkan aku jika keputusanku
ini menyakiti hatimu."
Hadi tulus memintamaaf. Ia memang tidak peka pada sinyal cinta yang mungkin
pernah Ajeng tujukan untuknya, karena kepekaan hatinya hanya berfungsi
ketika itu menyangkut Sekar, tambatan hatinya. Selain itu, Hadi memang tak
pernah punya rasa yang sama untuk Ajeng, tak peduli banyaknya orang yang
sering mengatakan betapa cocoknya mereka berdua. Alasannya, karena dari
awal hati Hadi sudah berhenti pada Sekar, rasa sayang seorang kakak pada
adiknya, yang kemudian tumbuh subur menjadi cinta, hingga hatinya tak
pernah sedetikpun berpaling pada yang lainnya.
"Bodohnya aku. Kalau saja dari awal aku berani mengutarakan rasa cintaku,
apa mungkin Mas Hadi akan membalas cinta itu?" Sesal Ajeng. Penantiannya
rupanya hanya sebuah kesia-siaan belaka.
"Tidak baik untuk berandai-andai seperti itu, Jeng. Apapun yang terjadi,
kuwi kabeh saka kersaning, Gusti. Yang perlu kita lakukan hanya satu,
nglakoni, jalani. Sekarang, tenangkan dirimu. Jangan seperti ini. Ini bukan
Ajeng yang kukenal selama ini. Aku yakin kamu tidak selemah ini," hibur
Hadi. Ajeng menundukkan kepala mendengarnya.
"Jadi sesakit inikah patah hati itu?" isaknya pilu.
"Jika ternyata cinta itu menyiksa, kenapa Gusti Pangeran menumbuhkan cinta
ini di hatiku, Mas? Kenapa?" tanya Ajeng. Kepalanya masih tertunduk.
"Karena sesungguhnya tidak ada cinta yang menyiksa, Jeng. Yang
menjadikannya menyiksa adalah ketidakmampuan kita untuk mengelolanya.
Ingat, Jeng. Tresno kuwi kadang kaya criping tela. Isa ajur yen ora
ngati-ati le nggawa," jawab Hadi bijak, membuat Ajeng sedikit terhenyak.
"Aku pamit ya, Jeng. Satu pesanku, tolong jangan siksa dirimu sendiri,"
pamit Hadi, kemudian berlalu, meninggalkan Ajeng yang masih dirundung pilu.
Ajeng menatap punggung Hadi yang hilang di balik pintu. Ia mendesah. Hadi
pasti ingin segera pulang ke rumahnya untuk menemui gadis itu. Ia pernah
beberapakali bertemu dengannya, saat ia berkunjung ke rumah Hadi bersama
beberapa teman-temannya. Ia sungguh tak menyangka gadis ingusan itu yang
mengalahkannya untuk mendapatkan hati Hadi.
Ajeng kembali tergugu. Tiba-tiba ia merasa begitu membenci gadis itu.
**********
Sekar tengah menyapu pendopo saat Hadi datang. Biasanya simbok yang
melakukannya. Hanya saja, sudah seminggu ini simbok mudik ke kampungnya,
mengurus ayah Sekar yang sedang terganggu kesehatannya.
"Sekar, ayo kita percepat tanggal pernikahan kita," kata Hadi segera
setelah ia memarkirkan motornya.
Sekar terkesiap mendengarnya. Sapu di tangannya jatuh tiba-tiba.
(Bersambung)
**********
Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:
Posting Komentar