3.22.2019

CANTING (PART 4)




CANTING (PART 4)


Kedua kaki Sekar mendadak lemas melihat apa yang dilakukan Hadi. Beberapa
pengunjung Westlake resto kini mendekat ke arah mereka berdua. Beberapa
yang lainnya bahkan berdiri dari gazebo dan tempat duduk mereka. Mereka
semua ingin tahu kelanjutannya.


"Duh, Den, jangan begini, Den. Ayo berdiri," pinta Sekar, setengah
berbisik. Ia salah tingkah.


Hadi bergeming. Ia tetap berlutut dengan menyodorkan kotak cincin itu di
hadapan Sekar. Sekar celingukan, tak tahu apa yang harus dilakukan.


"Duh, Gusti... piye iki."


Sekar semakin tampak kebingungan. Sementara semakin banyak saja pengunjung
yang mengerubuti, bahkan beberapa mengeluarkan ponsel mereka untuk merekam
kejadian manis ini.


"Den, ayo, Den. Kita dilihat banyak orang," pinta Sekar lagi.


"Biarkan. Biarkan mereka semua jadi saksi keseriusanku ini," jawab Hadi
dengan sebuah senyum tersungging.


Sekar memejamkan mata. Rasanya ia ingin menangis saja. Debar di hatinya
kian menggelora.


"Sekar Kinasih, hari ini, aku, Hadi Suwito berlutut di hadapanmu untuk
meminta kesediaanmu menjadi istriku. Jika kamu menerima lamaranku, ambil
cincin ini dan pakaikan di jari manismu. Jika kamu menolak lamaranku, ambil
cincin ini dan berikan padaku," ucapnya mantab, masih dengan ketenangan
paripurna. Beberapa pasang mata semakin terpana melihat keduanya.


Hadi sudah cukup lama menyimpan cincin ini. Sepasang cincin yang terbuat
dari logam zirkonium hitam bertuliskan nama Sekar-Hadi yang ia pesan khusus
dari kota Brighton, tepat 2 bulan sebelum kelulusannya dari Queen Mary.
Selain karena alasan bahwa lelaki muslim tidak boleh memakai emas, Hadi
sengaja memilih logam ini karena filosofinya. Pertama, logam ini adalah
jenis logam langka. Sesuatu yang langka, bukankah selalu istimewa? Dan
sesuatu yang istimewa, bukankah memang layak diberikan pada sosok yang juga
istimewa? Kedua, logam zirkonium hitam dipercaya sebagai logam yang
kekuatannya melebihi logam titanium dan bahkan tahan dari panas dan api,
melambangkan harapan Hadi bahwa kelak ikatan cintanya dengan Sekar akan
tumbuh begitu kuat dari segala coba dan uji yang menghalangi.


Hadi terus bergeming, sedang Sekar semakin tampak kebingungan. Rasa malu
yang menderu, geletar-geletar hebat di hatinya yang semakin menggelegar,
semua bercampur menjadi satu.


"Terima... terima..." seseorang bersuara, diikuti suara yang lainnya,
membuat Sekar semakin salah tingkah karenanya.


"Terima... terima...."


Suara itu kian riuh rendah. Sekar memejamkan mata. Angan dan harapannya,
wajah bapak yang merah diselimuti amarah, nasehat-nasehat simbok, juga
wajah teduh Hadi, saling bermunculan di benaknya. Ia sungguh tak tahu harus
bagaimana.


Namun sejurus kemudian, tetiba hatinya terasa dingin, seperti ada tetesan
embun pagi yang menyejukkannya. Entah, rasanya seperti ada kekuatan magis
yang memberinya kekuatan untuk mengambil cincin di depannya.


Riuh rendah itu tak lagi ada. Semua kini terdiam menahan napas, semua ikut
merasa tegang pada apa yang akan dilakukan Sekar pada cincin itu;
menyematkannya di jari manisnya, atau mengembalikannya pada sosok
berkacamata di hadapannya.


Sekar meremas-remas cincin itu, menyembunyikannya di balik jemari lentiknya.


Hadi terperangah saat Sekar menyodorkan tangannya, mengembalikan cincin
yang diambilnya tadi. Puluhan pasang mata yang sedari tadi menunggu
keputusan Sekar tampak kecewa.


"Jadi... kamu menolak lamaranku?" tanya Hadi. Semburat kecewa tergambar
jelas di wajahnya.


Sekar menggeleng. Beberapa orang masih merekam kejadian itu dengan ponsel
mereka.


"Lalu?" Hadi bingung.


Jika Sekar tidak menolaknya, kenapa ia mengembalikan cincinnya?


"Itu... cincinnya... kekecilan," ucapnya perlahan, setengah berbisik.


"Huh?" Hadi terkesiap.


"Saya tidak bisa memakainya di jari manis saya, Den. Nggak muat," ucapnya
lagi. Jemarinya masih menyodorkan cincin itu untuk Hadi. Jantung Hadi
berdegup semakin cepat.


"Jadi, kamu mengembalikan cincin ini hanya karena cincinnya kekecilan?"
tanyanya, memastikan. Sekar mengangguk.


"Kata Den Hadi, kalau saya menerima lamaran Den Hadi, saya harus memakai
cincin itu di jari manis saya, kan?" jelasnya, polos.


Sejenak hening. Hadi berusaha secepat kilat mencerna maksud Sekar, lalu
tersenyum gemas setelah menyadarinya.


"Kalau begitu, pakaikan di jari manapun yang kamu suka. Semuatnya!" katanya
kemudian. Bias suka cita jelas tergambar.


Sejurus kemudian, Sekar mengacungkan jari kelingkingnya dengan cincin
zirkonium hitam yang sudah tersemat di sana. Suasana masih hening. Seperti
halnya Hadi, mereka betul-betul ingin mendengar langsung dari bibir Sekar
bahwa ia menerima lamaran Hadi.


"Apa ini berarti... kamu menerimaku?" Hadi memastikan lagi.


Sekar terdiam sejenak, dan beberapa saat kemudian mengangguk, bersamaan
dengan bibirnya yang bergerak perlahan, "iya, Den."


Sorak sorai pengunjung Westlake resto semakin riuh terdengar, turut
merasakan romantisme yang tercipta di hadapan mereka.


"Sekar Kinasih, maukah kamu menjadi istriku?" ulang Hadi.


Sekar mengangguk pasti, sebab ia sudah tak bisa berkata-kata lagi. Atmosfer
keharuan begitu kuat menyelimutinya, bahkan membelenggunya untuk sekadar
menjawab pertanyaan Hadi dengan kata-kata.


Anggukan Sekar disambung dengan Hadi yang langsung sujud syukur
mendengarnya. Puluhan pasang mata yang berada di sana semakin terkesima.
Alih-alih memeluk sosok yang menerima lamarannya, Hadi justru langsung
bersujud di atas tanah tepi danau tempatnya berpijak untuk meluapkan rasa
gembiranya. Benar-benar pemandangan yang langka.


Beberapa pasang mata menitikkan airmata keharuan melihatnya. Begitupula
Sekar yang tak kuasa menahan bulir-bulir hangat yang begitu saja membasahi
pipinya yang bersemu merah.


"Selamat, Mbak, Mas."


Begitu kata beberapa, sembari menyalami keduanya. Bahkan beberapa wanita
paruh baya menghadiahi Sekar dengan pelukan tanda turut bahagia.


**********


Sepanjang perjalanan pulang, keduanya lebih banyak diam. Hanya sekilas
pandangan dan seutas senyuman yang saling mereka berikan. Luap bahagia yang
tercipta, juga rasa malu yang membuat keduanya tersipu manja, membuat
keduanya tak mampu saling berkata. Meski begitu, semesta tahu bahwa
keduanya tengah bahagia.


Sekar menatap kerlap kerlip lampu dari jendela mobil yang tengah
dikemudikan Hadi. Angannya melanglang buana. Banyak sekali hal tak terduga
yang terjadi dalam hidupnya. Termasuk kisahnya dengan Hadi yang baru saja
ia alami. Dilamar majikan sendiri? Sebuah fase kehidupan yang tak
disangkanya sama sekali.


Dalam budaya Jawa, ada 11 tembang macapat yang menggambarkan perjalanan
hidup manusia, mulai dari Maskumambang yang menceritakan tentang janin yang
kumambang (terapung) di dalam kandungan, Mijil yang menceritakan fase
kelahiran manusia ke dunia, Sinom yang berasal dari kata nom atau muda yang
menggambarkan masa kanak-kanak hingga masa muda manusia, Kinanthi yang
mengisahkan tentang masa pembentukan jati diri manusia di mana dalam masa
itu, seringkali manusia butuh kanthi atau tuntunan dari orang tua,
Asmaradana yang mengisahkan masa masa sedih, bahagia, risau dan cemburu
karena jatuh cinta, Gambuh yang berasal dari kata jumbuh yang berarti
bersatu, yang menggambarkan tentang penyatuan cinta dalam satu biduk rumah
tangga, Dandanggula yang menggambarkan tahapan manusia menjalani manisnya
hidup dalam membina rumah tangga, Durma yang mengandung filosofi mendalam
bahwasanya dalam sebuah kehidupan, adanya duka dan juga perselisihan adalah
sebuah keniscayaan, Pangkur, singkatan dari nyimpang lan mungkur atau
menyimpang dan menghindar, yang mengajarkan bahwa hendaknya manusia terus
berusaha menghindari dari nafsu dunia, juga nafsu yang menggerogoti jiwa,
Megatruh atau megat roh yang berarti fase terpisahnya roh dari badan,
sampai terakhir, Pucung yang berarti pocong atau jasad manusia yang
dibungkus kain mori putih, mengisahkan bahwa kelak seluruh manusia hanya
akan menyisakan jasad yang dibungkus mori (kain kafan) saat dikuburkan di
tempat peristirahatan abadi.


Sekar menghela napas, lalu sejurus kemudian manik matanya melirik sosok
tegap di sebelahnya. Sayang, Hadi juga tengah melakukan hal yang sama
hingga manik mata keduanya beradu pandang beberapa detik lamanya. Sekar
buru-buru mengalihkan padangan. Terlambat. Panah yang muncul dari pandangan
Hadi telah melesat jauh masuk ke dalam hatinya.


Sekar mendesah pelan setelah berhasil mebuang pandangan. Rasa-rasanya, fase
demi fase hidupnya berlalu dengan begitu cepat. Rasanya seperti mimpi bahwa
sebentar lagi ia akan memasuki fase pernikahan.


Diliriknya kembali Hadi yang dengan begitu tenang mengendarai kereta
bermesinnya. Tapi, tiba-tiba ada sesuatu yang menghinggapi hatinya, sesuatu
bernama keraguan.


Benar jika keberadaan den Hadi seringkali membuat hatiku bergetar.
Tapi, apakah aku menerima Den Hadi karena ingin?
Bagaimana jika itu karena dorongan dari suasana haru yang tercipta?
Bagaimana jika itu karena aku terbawa suasana romantisme yang Den Hadi bawa?
Bagaimana jika ternyata itu karena kerumunan orang-orang tadi yang riuh
rendah mendorongku untuk menerima Den Hadi?


"Aw!" Sekar Mengaduh. Kepalanya terantuk jendela, membuyarkannya dari
segala lamunannya. Hadi mengerem mendadak rupanya. Seorang pengendara motor
menyalip tiba-tiba dari sebelah kiri.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Hadi. Rona kekhawatiran jelas tergambar di raut
wajahnya.


"Tidak apa-apa, Den. Saya hanya kaget saja," jawab Sekar, sambil mengelus
elus dahinya.


"Hmm, sekarang, puas puaskan memanggilku dengan embel embel den. Setelah
menikah nanti, tidak akan ada panggilan itu lagi karena kamu akan
memanggilku Mas Hadi. Bukan Den Hadi lagi," kata Hadi sebelum menjalankan
mobilnya kembali, dengan senyum khasnya yang begitu menentramkan hati.


Sekar menundukkan kepala mendengarnya.


"Mas Hadi." Sekar mencoba menggumamkannya dengan sangat pelan, hingga
Hadipun tak mendengarnya.


Ah, kenapa rasanya aneh sekali?


**********


Rumah sakit JIH. Jogja International Hospital.


Ajeng melangkah perlahan menuju restoran Parsley yang berada di ujung rumah
sakit, di sebelah konter pengambilan obat. Lupa sarapan membuat kepalanya
pusing dan perutnya melilit tak tertahankan.


Hari itu ramai sekali. Shofa dan kursi di lobi semua penuh terisi. Begitu
juga dengan konter-konter admisi. Sambil memijit-mijit leher bagian
belakang, Ajeng mengedarkan pandangan. Semua tampak sibuk melihat ponsel
masing-masing. Ada yang bergerombol melihat satu ponsel, ada yang melihat
ponselnya sendiri. Tapi sepertinya, mereka tengah melihat hal yang sama.


"Mungkin ada yang sedang viral di social media," pikirnya.


"Monggo, Dok."


Salah satu pelayan restoran meletakkan satu porsi nasi goreng Parsley
kesukaan Ajeng. Menu yang selalu dipesannya saat makan di tempat ini.


Ajeng mengernyitkan dahinya. Beberapa pelayan Parsley juga tengah
bergerombol sambil melihat sesuatu di ponsel mereka.


"Mbak, itu ada apa kok ramai-ramai? Di depan, orang-orang juga gitu. Ada
yang lagi heboh, to?" tanyanya pada pelayan yang baru saja mengantarkan
nasi gorengnya.


"Wah, Dokter Ajeng pasti sibuk banget sampai ketinggalan info yang lagi
hits," jawabnya. Ajeng semakin penasaran dibuatnya.


"Iya, to? Ada apa memangnya?" tanyanya lagi.


Pelayan itu mengeluarkan ponselnya. Membuka salah satu akun sosial
medianya, dan menunjukkan sebuah video pada Ajeng.


"Ada yang semalam melamar ceweknya, Dok. Di Westlake. Romantis banget,
sumpah. Baper baper baper," jelasnya antusias.


Ajeng menerima ponsel pelayan yang masih terus antusias menjelaskan video
yang sedang viral itu. Dilihatnya video itu dengan seksama. Namun baru 2
detik ia melihatnya, Ajeng langsung merasa lemas tak berdaya. Sunggingan
senyum di bibirnya juga hilang seketika. Ia mengenal sosok lelaki yang ada
di video itu. Sosok yang telah bertahun-tahun menghuni seluruh sisi
hatinya. Hadi Suwito, yang teramat dicintainya.


Dadanya bergemuruh, napasnya mendadak tersengal dan kedua pelupuk matanya
memanas. Dadanya serasa hampir meledak saat Ajeng melihat cara Hadi menatap
gadis yang berdiri di hadapannya. Sebuah tatapan hangat penuh cinta yang
tak pernah sekalipun Hadi tunjukkan untuknya.


Mata Ajeng yang berair mulai berkunang-kunang. Pusingnya semakin
menjadi-jadi. Jemarinya bergetar hebat. Rasanya tak ada lagi kekuatan
tersisa di sana hingga ponsel di tangannya terjatuh begitu saja.


Tepat saat ia melihat Hadi sujud karena si gadis menerima lamarannya, Ajeng
kehilangan kesadarannya. Namun sebelum semua menjadi gelap, ia sempat
mendengar beberapa orang berteriak, juga merasakan ada tangan yang berusaha
menyangga tubuhnya.


Bersambung.


**********




Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar