3.21.2019

CANTING (PART 3)




CANTING (PART 3)


"Apa, to, kalian ini," sungut Sekar. Semua tertawa.


"Jadi, sudah sejak kapan Mbak Sekar sama Den Hadi pacaran? Kok tahu-tahu
sudah lamaran?" selidik seorang gadis berambut panjang.


"Iya, gimana ceritanya, Mbak, kok Mbak Sekar bisa dilamar Den Hadi?" Gadis
di sebelahnya juga penasaran.


Sekar terdiam. Sejujurnya, ia sendiri juga tidak tahu alasan Hadi
melamarnya. Ia tidak tahu kenapa Hadi memilihnya. Beberapakali Hadi membawa
koleganya, atau teman kuliahnya ke rumah. Saat membawakan makanan dan
minuman untuk mereka, Sekar bisa melihat dengan jelas bahwa banyak
gadis-gadis luar biasa, pintar, sekaligus kaya raya di sekitar Hadi. Tapi
entah kenapa Hadi justru memilih anak ingusan sepertinya.


"Aku... aku juga nggak tahu," jawab Sekar, jujur.


"Cie... nggak tahu apa nggak tahu?" ledek seseorang. Sekar kembali tersipu.


Dari dalam, Hadi tersenyum mendengarnya. Dipandanginya sosok yang
dicintainya itu dari balik celah jendela. Hati Hadi berdesir.


Awalnya, Hadi tak menyadari bahwa ada cinta bersemayam di hatinya. Namun
kian hari, rasa itu semakin menggelora. Jarak 10 tahun usia keduanya
membuat Hadi menyayangi Sekar layaknya adiknya. Apalagi Hadi anak tunggal.
Tapi saat Sekar kian beranjak dewasa, rasa sayang Hadi sumbuh subur menjadi
cinta. Bukan cinta kakak pada adiknya, tapi cintanya sebagai lelaki dewasa
kepada seorang gadis yang ingin dinikahinya. Cinta layaknya cinta Adam dan
Hawa.


Hadi suka perangai Sekar. Kalem, sopan, namun berpendirian. Selain itu,
keuletannya menorehkan kesan tersendiri di sudut hati Hadi. Masih terekam
dalam ingatannya saat Sekar kecil ikut sibuk membantu pekerjaan simbok.
Tangan-tangan mungilnya sigap membawa piring-piring kotor dari meja makan
ke wastafel. Meski belia, ia tak pernah tega membiarkan simbok bekerja
sendirian. Gemas, sesekali Hadi menggodanya, memainkan piring kotor di
tangannya hingga Sekar kecil tak mampu meraihnya.


"Ih, Den Hadi jelek!"


Begitu gerutunya saat digoda, dan biasanya, Hadi membalasnya dengan
mengacak-acak rambut berombaknya. Rambut yang kini selalu ditutupi jilbab
oleh pemiliknya.


Waktu berjalan, Sekarpun semakin menunjukkan kedewasaan. Hingga rasa gemas
yang dahulu muncul saat melihat Sekar kecil berusaha membawa piring-piring
kotor, berubah menjadi rasa yang menggelora saat melihat Sekar dengan
senyum manisnya tengah mengepel ruang tengah. Hadi juga tak bisa lupa rasa
hatinya yang terus berdesir manja saat Sekar menyajikan makanan untuknya,
atau menyiapkan pakaiannya. Getaran hebat selalu mengguncang dadanya saat
ia membayangkan bahwa Sekar membawakan segelas teh hangat untuknya dengan
status sebagai istrinya, bukan sebagai rewangnya.


Semakin hari, bayang-bayang Sekar semakin melekat di hati. Benih cinta itu
kini bersemi, semakin memenuhi hatinya dengan warna pelangi. Hadi sudah tak
tahan lagi. Ia memberanikan diri untuk bicara pada ibunya, Sundari, bahwa
ia ingin mengikat Sekar dalam ikatan suci. Gayung bersambut. Sundari
menyetujuinya. Buncah bahagia semakin menguasainya saat ayah Sekar juga
menyambut dengan suka cita lamarannya. Minggu depan, Hadi dan keluarga akan
ke kampung halaman Sekar untuk lamaran resminya.


Hadi melebarkan celah jendela di hadapannya. Ia ingin melihat pencuri
hatinya yang masih sibuk membatik itu lebih lama lagi.


Aku tidak tahu apa yang terjadi denganku. Yang kutahu, kini aksara cintaku,
kidung rinduku, semuanya mengalir untukmu. Semuanya berhenti di kamu. Sama
sekali tak bercabang pada siapapun selainmu.


"Melamun, Di?"


Hadi tersentak. Sebuah tepukan kecil mendarat di pundaknya.


"Kamu sedang memperhatikannya?"


Sosok yang masih terlihat sangat cantik di usianya yang tak lagi muda itu
berdiri di sebelah Hadi.


"Sudah sejak lama Ibu tahu kalau kamu mencintainya, Di. Sorot matamu selalu
mengatakan itu," sambungnya lagi.


"Apa Kanjeng Ibu betul-betul ridha? Apa Kanjeng Ibu betul-betul tidak
masalah jika mungkin nanti ada satu atau dua mulut yang mempertanyakan
status sosial Sekar yang menurut kebanyakan orang berbeda dengan kita?"
telisik Hadi.


Sundari tersenyum.


"Ibu ridha, Le. Menikah itu ibadah. Jadi kenapa Ibu harus tidak ridha?
Kenapa harus memikirkan perkataan orang? Apalagi Sekar itu anak baik-baik.
Kejar bahagiamu. InsyaaAllah, Gusti Pangeran uga paring restu."


Hadi mencium takzim punggung tangan ibunya. Sosok luar biasa yang menjadi
panutannya sejak sang ayah pergi meninggalkan dunia.


Sundari membelai lembut kepala putra semata wayangnya. Pelupuk matanya
memanas, dan sejurus kemudian airmata menggenang di sana. Ada keharuan luar
biasa. Dibelainya kembali rambut Hadi. Rasanya baru kemarin Sundari
menggendong Hadi sambil melantunkan tembang jawa Lela Ledhung sambil
menepuk-nepuk pantatnya agar ia tertidur. Tapi kini putranya telah dewasa,
bahkan sebentar lagi akan segera mengakhiri masa lajangnya, menjadi
pemimpin dalam rumah tangga yang akan ia bina bersama pujaan hatinya.


Tak lela lela lela ledhung.
Cup menenga aja pijer nangis.
Anakku sing bagus rupane.
Yen nangis ndak ilang baguse.
Tak gadang bisa urip mulya.
Dadiya priya kang utama.
Ngluhurke asmane wong tuwa.
Dadiya pandekaring bangsa.


[Timang timang anakku sayang.
Diamlah, jangan menangis.
Anakku yang tampan,
Jika terus menangis, ketampananmu akan hilang.
Kudoakan kelak hidupmu mulia.
Mengharumkan nama orang tua.
Dan menjadi pahlawan bagi bangsa.]


Perlahan, bibir Sundari melantunkan tembang itu lagi sambil jemarinya terus
membelai Hadi. Hadi menikmatinya sambil terus memandang pencuri hatinya
dari balik celah jendela.


**********


Temaram cahaya bulan membuat suasana romantis kian tercipta. Di sebuah
gazebo di pinggir danau di Westlake resto, Sekar tampak menundukkan
pandangan. Lagi-lagi ia tak mampu membalas tatapan Hadi. Apalagi mereka
hanya berdua saja, jarak mereka hanya terpisah meja.


Hadi sengaja mengajak Sekar ke tempat ini, sebuah restoran dengan suasana
yang begitu asri, dengan gazebo-gazebo di tepi danau yang berjejer rapi.


"Kenapa diam saja?" Hadi membuka percakapan. Sekar masih menundukkan
pandangan. Ia meremas jemarinya.


"Kamu jadi lebih banyak diam sejak aku mengutarakan lamaranku. Apa kamu...
tidak setuju?" sambung Hadi lagi.


Sekar bingung harus menjawab apa. Rasanya begitu aneh saat ia berdua saja
bersama majikannya. Sejujurnya, Sekar merasa tak nyaman dengan ini semua.
Sekar merasa begitu rendah diri. Meski Hadi telah tegas mengungkapkan
cinta, Ia tetap merasa tak pantas berada di sini bersamanya.


"Kenapa... Den Hadi memilih saya? Bukankah di sekitar Den Hadi banyak
perempuan-perempuan yang jauh lebih layak?"


Sekar akhirnya buka suara, setelah berusaha mengumpulkan serpih demi serpih
keberanian untuk menanyakannya.


"Menurutmu kenapa?" Hadi balik bertanya, dengan manik mata yang tak pernah
berhenti menatapnya. Sekar semakin gugup dibuatnya.


Den Hadi, bisakah sejenak berhenti menatapku? Aku takut aku tak kuasa
menghalau pesonamu.


"Saya... saya tidak tahu, Den." Lagi lagi, Sekar meremas jemarinya.


"Apa kamu ragu dengan lamaranku? Perangaimu menunjukkan itu. Jika ada yang
ingin kamu ungkapkan, ungkapka segera. Beritahu aku apa yang kamu rasa,"
ucapnya. Sekar menghela napas.


"Saya... saya hanya merasa tidak pantas. Saya hanya rewang. Sedangkan Den
Hadi majikan. Saya hanya gadis kampungan, sedangkan Den Hadi dari keluarga
terpandang dan berpendidikan. Lagipula, apa Den Hadi tidak malu nanti punya
istri anak ingusan seperti saya yang hanya lulus SMA? Saya... saya merasa
tidak pantas, Den. Bagaimana nanti pandangan orang-orang?" kata Sekar.
Kemudian terisak. Kedua telapak tangannya menutupi wajahnya.


Berkat nasehat simbok, Sekar kini lebih bisa menerima kenyataan jika ia
digariskan menikah di usia sangat muda. Tapi soal perbedaan status sosial
yang begitu mencolok antara Hadi dan dirinya, itu sungguh mengganggu
pikirannya. Tidak mungkin hal itu tidak menjadi masalah, kan?


Hadi diam saja, sengaja memberikan Sekar ruang untuk menumpahkan apa yang
dirasakannya. Setelah Sekar berhenti dari isak tangisnya, Hadi menyodorkan
segelas minuman.


"Sekar, dengar ini. Gegaraning wong akrami. Dudu bandha dudu rupa. Amung
ati pawitane," kata Hadi. Sekar meletakkan gelas yang baru saja ia minum
separuh isinya.


"Apa maksudnya?" tanyanya.


"Itu potongan lirik tembang Asmaradhana, ciptaan Raden Ngabehi Yasadipura.
Tembang ini adalah tembang yang melukiskan cinta atau asmara, yang
menyala-nyala seperti api atau dahana. Karenanya tembang ini disebut
Asmaradhana. Pernah dengar?" tanyanya lagi.


"Simbok sering melantunkannya, tapi saya tidak tahu apa maksudnya," jawab
Sekar. Kedua tangannya ia letakkan di atas meja.


"Gegaraning wong akrami, bekal orang membangun rumah tangga itu. Dudu
bandha dudu rupa, bukanlah harta atau rupa. Amung ati pawitane, hati-lah
bekal sesungguhnya," urai Hadi.


Sekar terkesima mendengarnya. Selama ini, simboklah yang sering melantunkan
tembang Jawa dan menjelaskan apa maksudnya. Sebab ternyata, ada makna
mendalam di tiap baris demi baris liriknya. Kini ia baru saja mendengarnya
dari Hadi. Ia tak menyangka sosok kekar di depannya piawai juga soal
budayanya, meski ia telah seringkali melalang buana ke belahan dunia lainnya.


"Sekar, aku tidak peduli tentang harta, rupa, atau status sosialmu. Yang
kulihat darimu adalah hatimu. Itu alasanku memilihmu." Hadi menatap Sekar
lekat-lekat.


"Kumohon. Jangan lagi risau soal itu dan ijinkan aku menjadi penjaga
hatimu," sambungnya lagi.


Sekar kembali menghela napas. Jemarinya kembali bersembunyi di bawah meja.
Ia kembali meremas-remasnya. Ia hampir saja bersuara, tapi Hadi sudah lebih
dulu mendahuluinya, mengajaknya keluar dari Gazebo dan berdiri di tepi danau.


Sekar terkesiap, tiba-tiba saja Hadi berlutut di hadapannya. Beberapa
penghuni gazebo lainnya langsung mendongakkan kepala, ingin melihat apa
yang dilakukan keduanya.


"Menikahlah denganku, Sekar," katanya, sembari mengeluarkan sebuah kotak
berlambang hati dengan sebuah cincin di dalamnya.


**********


Laraning lara
Ora kaya wong kang nandhang wuyung
Mangan ra doyan
Ra jenak dolan
Nèng omah bingung


[Sakitnya sakit,
tak sebanding dengan sakitnya orang yang sedang jatuh cinta.
Tak enak rasanya untuk makan,
Tak nyaman rasanya untuk jalan-jalan,
Ketika di rumah, dilanda kebingungan]


(Bersambung)


**********




Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar