3.21.2019

CANTING (PART 2)




CANTING (PART 2)


Sebenarnya, tak ada satupun cacat yang tampak pada diri Hadi Suwito.
Sekarpun mengakui hal itu. Bisa dibilang, Hadi adalah sosok lelaki idaman.
Siapa yang tidak ingin bersuamikan lelaki seperti Hadi? Kaya, pintar,
santun, tampan, apalagi yang kurang? Namun sungguh, bukan itu alasan Sekar
tidak mau menikah dengan Hadi.


"Dedalane guna lawan sekti,
Kudu andap asor.
Wani ngalah dhuwur wekasane,
Tumungkula yen dipun dukani,
Bapang den simpangi,
Ana catur mungkur."


Simbok membelai kepala Sekar sambil melantunkan sebuah tembang jawa. Sekar
terkesima mendengarnya, meski simbok sering nembang seperti itu.


"Kamu tahu artinya tembang macapat yang Simbok nyanyikan, Nduk?" tanya
Simbok. Sekar menggeleng.


"Dedalane guna lawan sekti, inilah jalan agar orang dapat berguna dalam
hidupnya. Kudu andap asor, harus rendah hati. Wani ngalah dhuwur wekasane,
mengalah itu akan mendatangkan kemuliaan. Tumungkula yen dipun dukani,
tundukkanlah wajahmu jika engkau dimarahi. Bapang den simpangi, perbuatan
yang merugikan orang lain harus dihindari. Ana catur mungkur, tinggalkanlah
sikap suka membicarakan orang lain," jelas Simbok.


Tiba-tiba perempuan tua itu terisak. Sekar bangkit dari pangkuan simbok.


"Simbok kenapa menangis?" tanyanya.


"Simbok malu, Nduk. Simbok ndak bisa melakukan apa-apa buat kamu.
Sebenarnya Simbok juga ndak tega. Kamu baru saja lulus SMA tapi sudah harus
menikah. Maafkan Simbok ya, Nduk," isak Simbok. Mau tak mau, airmata
Sekarpun ikut mengalir. Keduanya kembali berpelukan dalam tangis keharuan.


"Ndak apa-apa, Mbok. Simbok sama sekali ndak salah," ucap Sekar.


"Simbok nembang tadi untuk menguatkan hatimu, Nduk. Simbok ingin kamu tahu,
menjadi orang yang berguna itu banyak jalannya, ndak cuma dengan cara harus
sekolah tinggi. Jadi orang rendah hati, tidak merugikan orang lain, tidak
suka membicarakan orang lain, semua itu sudah menunjukkan kalau kita adalah
orang yang berguna. Sama saja to kalau sekolah tinggi tapi kelakuane ora
mbejaji?" jelas Simbok lagi.


"Tapi Sekar ingin sekali kuliah, Mbok, Sekar ingin jadi orang yang berguna.
Sekar ndak mau cita-cita Sekar jadi hancur karena menikah muda," sungut Sekar.


"Nduk, dengarkan Simbok. Menikah itu tidak seburuk yang kamu bayangkan.
Menikah juga ndak akan membuat cita-citamu jadi hancur. Simbok yakin Den
Hadi itu orang baik. Dia pasti bisa membimbing kamu menjadi lebih maju,"
kata Simbok lagi.


"Sekar takut, Mbok. Sekar ndak mau seperti teman-teman Sekar yang cuma
berakhir di dapur, sumur dan kasur. Sekar ndak mau, Mbok." Sekar kembali
terisak.
Simbok menghela nafas.


"Kamu tahu filsafat jawa tentang arti perempuan?" Tanya Simbok. Sekar
kembali menggeleng.


"Dalam budaya jawa, perempuan itu mempunyai tiga sebutan, wadon, wanito,
dan estri. Wadon itu berasal dari bahasa kawi wadu yang artinya kawula atau
abdi. Maksudnya, perempuan itu memang sudah kodratnya menjadi pelayan
suami," jelas Simbok.


"Tapi Sekar ndak mau terus-menerus jadi pelayan sumur, dapur, dan kasur
suami, Mbok. Sekar ndak mau!" Sekar mbesengut. Simbok tersenyum melihat
putrinya.


"Dengarkan Simbok dulu to, Cah ayu. Menjadi pelayan suami itu adalah tugas
yang mulia, sama sekali bukan tugas yang hina. Yang kedua, perempuan juga
disebut wanito, yang artinya wani ditoto dan wani noto. Wani ditoto atau
berani ditata, maksudnya perempuan itu kelak akan menjadi istri yang harus
mau diatur. Mau diatur bukan berarti sebagai babu, tapi diatur sebagai
istri yang bertanggung jawab terhadap peran-perannya, yang tidak lupa
kewajibannya apapun kesibukannya. Wanito juga artinya wani noto atau berani
menata. Maksudnya, kalau kamu nanti menjadi seorang ibu, kamu juga
bertanggung jawab menata atau mendidik anak-anakmu, tentu saja ndak
sendiri. Tapi bersama sama dengan suamimu. Mendidik anak-anak menjadi
anak-anak yang sholeh, pinter, sregep, bukankah itu artinya kamu juga
membangun negeri ini dengan melahirkan generasi yang cerdas?" Jelas Simbok
panjang lebar. Sekar manthuk-manthuk mendengarkan penjelasan Simbok.


"Lalu yang perempuan itu estri, maksudnya apa, Mbok?" tanya Sekar.


"Estri itu berasal dari bahasa kawi yang artinya panjurung atau pendorong.
Maksudnya, sehebat apapun seorang lelaki, dibelakangnya pasti ada peran
serta seorang istri yang mendukungnya," kata Simbok.


Airmata Sekar kembali meleleh.


"Sekar akan berusaha menjalaninya, Mbok," ucapnya lirih. Simbok kembali
merengkuh Sekar di pelukan hangatnya.


"Seandainya kamu mau melawan kemauan Bapak, kamu tetap ndak akan bisa,
Nduk. Kamu tahu Bapakmu itu gimana. Untuk saat ini, kamu memang hanya bisa
menerima dan menjalaninya saja. Eling, Nduk. Wani ngalah dhuwur wekasane.
Selain itu, apa yang kita anggap baik, belum tentu baik di mata Gusti
Allah," ucap Simbok menutup perbincangannya dengan Sekar sore itu.


Di luar, hujan deras mengiringi tangisan Sekar. Ya, Sekar memang tidak bisa
melakukan apa-apa selain menjalani apa yang ada di hadapannya.


*********


Sekar kembali meraih cantingnya untuk membuat batik truntum di teras rumah
produksi milik keluarga Hadi. Konon, dahulu Sri Susuhunan Pakubuwono III
tidak mau lagi memberikan cinta dan kehangatan pada Ratu Beruk. Ratu
Berukpun resah. Hatinya sungguh gundah. Ia kemudian menenangkan dirinya di
taman Balekambang sembari menuangkan kegelisahannya di atas selembar kain.
Dari situlah awal muncul motif batik truntum yang berarti timbul atau
terkumpul, semakna dengan mekarnya kembali cinta Pakubuwono III pada Ratu
Beruk.


Sekar menghela nafas. Dipandanginya canting di tangannya. Nasehat Simbok
kembali terngiang. Benar, banyak cara agar orang dapat berguna dalam
hidupnya. Seperti halnya canting yang dipegangnya, dan kain mori putih yang
terhampar di depannya. Ia bagaikan canting yang hendak melukis keindahan di
atas kain mori putih. Ada banyak cara dan motif untuk melukiskan keindahan
di atasnya. Begitu pula kehidupan ini.


Sekar paham itu. Hanya saja, baginya ini terlalu berat.


"Jangan pernah membatik sambil melamunkanku. Nanti batikmu jadi bermotif
wajahku."


Sebuah suara mengagetkannya, membuat semua yang ada di sana menyorakinya.


Sekar menoleh. Ada Hadi di belakangnya. Sekar tak berani menatapnya. Bahkan
untuk membalas dengan sepatah kata saja ia tak bisa. Lidahnya mendadak kelu
karena ia terlalu malu.


Hadi tersenyum melihatnya.


"Kenapa melamun, hmm?" tanya Hadi, sambil mendudukkan dirinya di atas
sebuah dingklik. Kini keduanya saling berhadapan, meski Sekar masih tak
berani beradu pandang.


"Saya... saya tidak melamun, Den," jawabnya terbata.


Jemarinya mencoba kembali menari di atas kain mori yang berada di
hadapannya. Namun, kali ini jemarinya tak selincah biasanya. Keberadaan
Hadi di sana membuat jemarinya bergetar. Bukan hanya jemarinya, melainkan
juga hatinya.


"Jangan bohong, Sekar. Aku sudah bertahun-tahun mengenalmu. Bukankah itu
sudah lebih dari cukup untukku tahu tentangmu? Aku tahu kamu sedang tidak
baik-baik saja. Ada apa?"


Hadi memberikan sebuah tatapan lembut pada Sekar. Sekar melihatnya sekilas,
lalu kembali tertunduk. Ia kembali kikuk.


Simbok berasal dari dusun Mangli, sebuah dusun kecil di lereng gunung
Sumbing di daerah Kaliangkrik, Magelang. Sekar adalah anak satu-satunya
simbok. Sebetulnya, Sekar bukanlah anak satu-satunya. 3 kakak Sekar sudah
tiada. Mereka meninggal saat usia mereka masih belia. Anak pertama simbok
meninggal saat dilahirkan, lantaran simbok tidak segera mendapat
pertolongan. Anak kedua bernasib sama, meninggal di usia belia. Malam itu
hujan turun dengan derasnya. Anak kedua simbok tiba-tiba kejang setelah
seharian panas tinggi. Akses jalan yang susah membuat simbok terlambat
membawanya ke rumah sakit. Ia meninggal di pelukan simbok, dalam perjalanan
menuju rumah sakit di kota. Sedang anak ketiga, meninggal karena penyakit
malaria. Sebelas tahun setelahnya, Sekar hadir di dunia. Memberikan warna
baru pada hari-hari simbok yang dipenuhi kesedihan setelah 3 anaknya
meninggal dunia.


Saat Sekar berumur 7 tahun, bapak memutuskan untuk merantau ke Kalimantan
demi perekonomian keluarga. Sedang simbok memutuskan untuk kembali merantau
ke Yogyakarta, bekerja sebagai rewang di rumah seorang juragan batik. Sri
Sundari namanya. Sebelum Sekar lahir, Simbok pernah beberapa tahun bekerja
di sana. Menjadi rewang untuk membantu Sundari merawat Hadi, putra semata
wayangnya.


Sundari sangatlah baik. Ia iba saat simbok bercerita bahwa simbok harus
menitipkan putri kecilnya di rumah saudara karena simbok harus bekerja di
rumahnya, hingga Sundari meminta simbok untuk membawa Sekar turut serta.


"Bawa saja, Mbok. Kasihan kalau dia harus jauh dari Simbok. Apalagi suami
Simbok kan di Kalimantan," tawarnya.


"Tapi Den..." Simbok ragu dengan tawaran Sundari.


"Tidak apa-apa, Mbok. Lagipula, 7 tahun itu sudah waktunya SD kan? Sekar
bisa sekolah di SD Negeri dekat sini. Nanti berangkatnya bisa bareng Hadi,"
tawarnya lagi.


"Iya, Mbok. Bawa saja anak Simbok kemari. Itung-itung, jadi adik saya wong
saya nggak punya adik."


Hadi yang saat itu sudah berusia 17 tahun, muncul dengan seragam OSIS yang
masih melekat di badannya. Ia lalu duduk di sebelah ibunda tercinta setelah
sebelumnya mengecup punggung tangannya. Simbok menatapnya dengan senyuman
tersungging di wajahnya. Waktu berlalu begitu cepat. Hadi masih berusia 7
tahun saat simbok pertama kali datang. Kini anak itu sudah perjaka. Tampan
dan begitu santun pembawaannya.


Sejak saat itu, Sekar dan simbok tinggal di sana, berdua menempati sebuah
kamar berukuran sedang di dekat dapur rumah megah milik Sundari. Mereka
pulang ke kampung mereka hanya saat lebaran dan saat ayah Sekar pulang dari
perantauan.


Detik demi detik yang berlalu membuat Sekar dan Hadi saling mengenal. Saat
Sekar masih SD, Hadi sering membantunya mengerjakan PR matematika. Sekar
juga sering berangkat membonceng sepeda motor Hadi saat menuju sekolahnya.
Namun saat Sekar beranjak dewasa, tercipta jarak di antara keduanya. Selain
karena rasa malu mulai tumbuh di hatinya, Sekar sadar siapa dirinya. Ia
hanyalah anak seorang rewang, sedang Hadi adalah seorang majikan. Tak
pantas rasanya jika terlalu dekat meski hanya bersahabat. Jarak itu semakin
jelas terlihat saat Hadi memasuki dunia kuliahnya, apalagi saat Hadi
merantau selama setahun ke London untuk double degree S2 nya. Namun siapa
sangka, ternyata Hadi selama ini menaruh hati padanya.


"Nah, kan, kamu diam saja. Kamu pasti memikirkan sesuatu," kata Hadi,
membuat Sekar kembali tertunduk malu.


"Kamu memikirkan soal lamaranku?"


Sekar tersentak, hingga canting di tangannya hampir terjatuh. Benar,
lamaran Hadi memang sangat mengganggu pikirannya.


"Ti... tidak, Den. Saya... saya hanya kurang enak badan saja," jawab Sekar,
berbohong.


"Yo wis. Kalau begitu. Kalau ada yang mau kamu bicarakan, jangan sungkan
untuk menemuiku. Aku ada di dalam," kata Hadi. Sekar mengangguk perlahan.


"Cie... Mbak Sekar," ledek pekerja lainnya, segera setelah Hadi berlalu
dari sana, membuat hati Sekar semakin tak menentu karenanya.


Bersambung.




Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar