@bende mataram@
Bagian 15
Melihat keadaannya yang menyedihkan, tak sampai hati ia mengabarkan nasib
keluarganya. Tetapi ia diminta memberi penjelasan, maka mau tak mau harus
berbicara.
"Rumahmu terbakar habis menjadi abu. Itu pasti. Kulihat tadi, seorang
perempuan yang mendekap anaknya dibawa lari si pemuda jahanam. Kemudian
kudengar pula salah seorang rombongan penari Banyumas mau merawat isteri
yang mati kena senjata racun si pemuda. Si anak kecil pastilah diselamatkan
pula." Kata Wirapati dengan tenang.
"Bagaimana nasib saudaraku yang mati di dalam rumah?" potong Wayan Suage.
Perhatiannya ditumpahkan kepada mayat Made Tantre dan bukan kepada
anak-isterinya. Diam-diam Wirapati memuji keluhuran budinya.
"Selanjutnya tak tahulah aku. Kukira, mayatnya terbakar menjadi abu. Siapa
yang mau bersusah payah menyingkirkan mayat seseorang, sedangkan seluruh
isi rumah dalam keadaan bahaya."
"Ah!" Wayan Suage memekik. Tubuhnya terkulai dan jatuh menelungkup di atas
tanah. Wirapati gugup. Cepat-cepat ia memeluknya dan memangku kepalanya.
"Dia sudah mati sebelum terbakar!" serunya. "Biar tubuhnya terbakar habis,
dia tak menderita lagi."
Perlahan-lahan
Wirapati berpaling kepada Wayan Suage yang masih belum berkutik. Apa yang
harus kulakukan? Ia melihat ke depan. Sebagian dari mereka berjalan
berpencar. Makin lama makin mendekati gerumbulan tempat dia bersembunyi.
Aku harus membelokkan perhatiannya, pikir Wirapati. Memikir demikian,
lantas saja dia meloncat keluar dari gerumbulan dan menerjang. Mereka
segera mengepung sambil memperdengarkan siul bersuitan. Dan mau tak mau,
terpaksalah Wirapati mundur mendekati gerumbulan.
"Kauserahkan tidak pusaka itu!" ancam salah seorang dari mereka.
"Pusaka apa yang harus kuserahkan?" Wirapati menyahut.
"Di mana orang itu?" dengus orang itu seperti tak mendengarkan ucapannya.
Ditanggapi demikian, Wirapati jadi sakit hati. Orang ini tak memandang mata
padaku. Perlu apa lagi aku meladeninya, pikirnya.
"Di mana orang itu?" pertanyaan itu terdengar diulangi.
"Dia sudah kutelan," jawab Wirapati.
Mendengar jawaban Wirapati, mata orang itu menyala. Bentaknya, "Aku maafkan
perbuatanmu, kenapa kamu bersikap kurang ajar?"
Wirapati tersenyum. Mendadak seorang yang berdiri di barat lantas
menyerang. Wira¬pati tahu, mereka semua bertenaga besar. Tetapi ia ingin
mencoba. Maka ia menangkis dengan mengadu tenaga. Tubuhnya bergetar, tetapi
orang itu terpental empat langkah.
"Bangsat!" makinya. Ia merangsak maju. Teman-temannya merapat pula. Dengan
bersuit, mereka menerjang. Wirapati menjejak tanah dan melayani mereka
dengan mengandalkan kecepatannya.
Sepuluh kali gempuran telah berlangsung dengan cepat. Baik Wirapati dan
mereka, tak mau mengalah. Mendadak terdengarlah suara suitan nyaring dua
kali dari kejauhan. Mereka lantas mengundurkan diri dengan berbareng.
Wirapati heran. Pandangnya menebak-nebak. Tak usah dia menunggu lama atau
nampaklah batang-batang pohon telah terbakar hangus. Semak belukar dan
ranting-ranting liar sebentar saja terbakar pula. Asap hitam bergulungan
menutupi penglihatan.
Alangkah terkejut Wirapati. Tiba-tiba, api bisa membakar batang-batang
pohon begitu cepat. la mengeluh dalam hati, matilah aku sekarang. Apa dosaku?
Teringatlah dia akan sungai yang letaknya tak jauh dari gerumbulan tempat
persembunyiannya. Dengan cepat ia lari ke sana. Sekonyong-konyong di antara
bunyi gemeretak pepohonan yang sedang terbakar, terdengar suit panjang
bersahut-sahutan. Wirapati menghentikan langkahnya. Ia menajamkan pendengaran.
"Ohoi! Mereka sudah terkepung rapat. Kenapa tak diserbu saja?" terdengar
suara dari arah barat.
"Tunggu sampai mereka mati hangus. Pemuda itu tak gampang dirobohkan,"
sahut suara dari sebelah utara.
Hati Wirapati tergetar. Ia bimbang. Dijenguknya arus sungai yang keruh
berlumpur. Ingin ia cepat-cepat terjun ke dalamnya, tapi teringat¬lah
kemudian nasib Wayan Suage.
"Hai bangsat muda! Cepat menyerah! Kau akan segera kami tolong!" ancam
suara dari arah selatan. "Apa perlu buang nyawa dengan sia-sia?"
Wirapati mulai mempertimbangkan ancam-an itu. "Aku tak bermusuhan dengan
mereka. Maksud mereka semata-mata hanya mau merebut pusaka itu. Apa perlu
aku berkepala batu. Apa keuntunganku? Baiklah kuserahkan saja, barangkali
mereka mau mengampuni orang itu pula."
Ia menoleh ke arah gerumbulan. Tetapi pikiran yang lain segera
mengendapkan. Bagaimana mungkin aku berbuat begitu. Aku murid Kyai Kasan.
Kalau aku mendengarkan ancaman mereka, berarti aku tahluk. Apa nama
perguruanku tak terseret juga? Ah, tak mungkin aku menurunkan martabat
perguruanku.
Mendapat pikiran demikian, hilanglah keragu-raguannya. Ia melesat ke
gerumbulan. Niatnya sudah tetap. Ia hendak mendukung Wayan Suage dan akan
bersama-sama terjun ke dalam sungai. Sekiranya di ujung sana mereka
menghadang dia takkan menyerah. Nama perguruan akan diutamakan. Kalau perlu
akan meninggalkan Wayan Suage dan menerjang mereka sebisa-bisanya.
Selagi ia mau memasuki gerumbul, tiba-tiba ia mendengar suara suitan
panjang tiga kali berturut-turut. Kemudian terdengarlah suara teriakan
bergema melintasi udara. Pohon-pohon tergetar oleh pantulan suara itu.
Wirapati tertegun. Suara apa itu, ia berte-ka-teki, mendongak ke udara.
Suara teriakan itu berulang lagi. Kali ini lebih dahsyat. Tiba-tiba saja
terdengarlah kesibukan di setiap penjuru.
"Hajar! Hajar! Hajar!" terdengar suara orang yang tadi mengancam. Dan
lainnya segera menyambung. Suara mereka agak bergetar membayangkan kesan
rasa takut.
Wirapati benar-benar tercengang. Tak habis mengerti mengapa mereka jadi
ketakutan. Suara yang menggema tadi memang dahsyat. Apa suara raksasa? Ah,
apa mungkin raksasa hidup di jaman ini. Apa itu suara binatang?
"Hajar datang! Celaka!" terdengar suara menjerit.
Hajar! Apa itu, Wirapati berteka-teki. Pada saat itu nyala api kian
menjadi-jadi. Hawa sangat panas dan asap hitam bertambah menyesakkan
pernapasan. Sekonyong-konyong ia mendengar teriakan dahsyat lagi. Kali ini
sa¬ngat dekat. Dia heran membayangkan kecepatan itu. Tadi suara teriakannya
berada lebih kurang seribu langkah. Dalam tiga kali teri¬akan rasanya sudah
begini dekat. Bagaimana mungkin, kalau bukan seekor burung garuda yang
mempunyai kecepatan terbang tak terkatakan. Kuda yang dapat lari sangat
cepat pun takkan mampu menempuh jarak seribu langkah dalam sekejap.
Tiba-tiba rasa herannya kian melonjak. Dengan suara gedebukan, terjadilah
kesibukan seorang demi seorang ter¬dengar jatuh terpental. Kemudian
menyusul suara tertawa berkakakkan. Ah, manusia! Manusia macam apa?
"Hayo ngaku! Di mana dia?" terdengar bentakan gemuruh.
"Ampun ... ampun ..."
"Bagus! Kalian tak mau jawab."
Bluk! Terdengar orang menjerit dan tak bersuara lagi. Jelas orang itu mati
kena hantaman.
Bersambung
Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:
Posting Komentar