3.22.2019

@bende mataram@ Bagian 14




@bende mataram@
Bagian 14


Wayan Suage membuka matanya. Dengan suara lemah ia menjawab, "Aku tahu...
Aku tahu, semua akan kembali ke asal. Aku tahu, itulah upacara kematian
yang sempurna bagi kepercayaan kami di Bali. Tapi aku tahu pula, dia mati
penasaran ... dia mati penasaran ... dia mati penasaran ..."


Kata-kata terakhir itu diucapkan berulang kali. Makin lama makin lemah.
Kemudian berhenti dengan tiba-tiba. Ia pingsan tak sadarkan diri.


Seringkali Wirapati menyaksikan orang mati karena sesuatu malapetaka. Tapi
hatinya belum pernah terguncang seperti kali ini. Terasa benar dalam
dirinya, betapa besar deru hati orang itu yang terguncang oleh sesuatu
nasib buruk dengan tiba-tiba.


Dalam keadaan hening, mendadak pendengarannya yang tajam menangkap suara
langkah berderapan. Langkah-langkah itu mendatangi dan mengepung gerumbulan
pohon tembelekan.


"Ssst, mereka datang lagi," bisiknya kepada Wayan Suage yang sebenarnya
tidak ada gunanya. Ia memapah tubuh Wayan Suage dan diletakkan ke dalam
rimbun mahkota daun. Dia sendiri kemudian bertiarap sambil menajamkan
pendengaran.


Langkah-langkah itu sekonyong-konyong berhenti. Mereka saling berbisik,
suatu tanda kalau tempatnya bersembunyi belum diketahuinya dengan pasti.
Terdengar kemudian suara siul bersuit, dan disusul dengan langkah-langkah tadi.


"Celaka! Mereka datang," mendadak Wayan Suage berkata. Ternyata dia telah
memperoleh kesadarannya kembali. "Bawalah aku lari ke sana."


"Kita telah terkepung rapat," sahut Wirapati berbisik.


"Kalau hati-hati, pasti kita masih dapat lolos dari kepungan mereka."


"Dengarkan!" Wirapati memotong. "Yang datang adalah mereka yang
menyelamatkan istri dan anak saudaramu. Serahkan pusaka itu kepada mereka
sebagai alat penukar."


"Hai," kata Wayan Suage dengan suara bergetar. "Saudaraku telah
mengorbankan diri demi pusaka ini. Akupun harus sanggup berkorban pula.
Mati tak jadi soal. Kalau kau tak sudi melindungi aku, biarlah tinggalkan
saja aku di sini. Aku tidak akan menyesal dan tidak takut mati."


"Mengapa kamu begitu keras kepala? Apa untungnya?" Wirapati mendongkol.


"Aku sendiri tidak punya keuntungan sedikit pun. Tapi pusaka ini
dipercayakan kepadaku agar kelak kuberikan kepada anak-anak kami. Setelah
aku menyerahkan pusaka ini atas nama saudaraku pula, aku lantas bunuh diri
menyusul ke nirwana."


Wirapati tertegun mendengar kekerasan hatinya. la terharu dan kagum.
Direnungi raut mukanya. Terlihat dua lapis bibirnya yang mengatup rapat,
suatu tanda dari keteguhan hati. Sebagai murid Kyai Kasan Kesambi, dia
diajar menghargai suatu kebajikan dan keluhuran budi. Maka kesan-kesan yang
diperolehnya itu lantas saja membakar semangat perwiranya. Wirapati memanggut.


"Tenteramkan hatimu. Aku akan selalu berada di sampingmu."


Betapa gembira rasa hati Wayan Suage tak terperikan. Jantungnya sampai
berdetakan keras. Tapi justru oleh kegoncangan itu, ia jatuh pingsan.
Maklumlah, kekuatan tubuhnya makin melemah karena darahnya terus saja mengalir.


Apa orang ini bisa tertolong nyawanya! pikir Wirapati. Kemudian ia
memusatkan perhatiannya kepada mereka yang datang. Terdengarlah suara pohon
gemeretakan. Seseorang telah menendangnya patah. Wirapati kaget. Hebat
tenaga orang itu, diam-diam memuji dalam hati.


Langkah-langkah itu makin lama makin jelas. Suara ribut terjadi di segala
penjuru. Mereka mematahkan dahan-dahan dan membabat belukar. Tiba-tiba
Wirapati melihat mereka merentangkan tali. Cepat-cepat Wira¬pati
berjaga-jaga. Tahulah dia, mereka akan membakar semak-belukar yang berada
di sekitarnya.


Bersambung




Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar