3.22.2019

@bende mataram@ Bagian 13




@bende mataram@


Bagian 13


Mendengar disebutnya nasib keluarganya, tubuh Wayan Suage menggigil.
Teringatlah ia pada masa sebelum peristiwa itu terjadi. Dia hidup tentram
damai. Jauh dari segala masalah keriuhan kota-kota besar. Siapa sangka,
mendadak datanglah badai topan yang menghancurkan segalanya yang telah
dipupuknya semenjak enam tujuh tahun yang lampau. Ini gara-gara datangnya
kedua pusa¬ka Pangeran Semono, hadiah tamu asing pada hari pesta penobatan.


"Diserahkan? Diserahkan?" ia berteriak seperti meradang. "Kepada siapa?"


"Orang-orang Banyumas. Bukankah kedua pusaka itu hak milik mereka?"


"Tidak! Tidak! Kedua pusaka ini bukan miliknya!" teriaknya lagi. Tubuhnya
menggigil, kemudian menangis terisak-isak. Terdengar dia berkata di antara
sedu-sedannya, "Pusaka ini, kami yang punya! Kami telah membayarnya dengan
sangat mahal. Bagaimana mungkin terlepas dari tangan begitu gampang. Lihat,
adikku Made Tantre mati karena pusaka ini. Keluarganya hancur pula.
Sekarang di mana isteri dan anaknya? Kauapakan mereka?"


Sakit hati Wirapati dituduh merusak keluar¬ganya. Ia mengibaskan kakinya
dan melompat pergi.


"Hai, ke mana kamu pergi?" teriak Wayan Suage.


"Ke mana aku pergi, apa pedulimu?" sahut Wirapati mendongkol. Ia
melanjutkan langkahnya. Sekonyong-konyong ia mendengar Wa¬yan Suage
menangis begitu sedih sambil memeluk kedua pusaka yang dipertahankan
semenjak semalam. Tangisnya begitu memilukan dan menggetarkan hati. Hati
nurani Wirapati yang perasa mencairkan rasa mendongkolnya. Ia menoleh,
kemudian menghampiri lagi. Tanyanya sabar, "Mengapa kamu menangis begitu
sedih?"


"Biarlah aku menangis. Biarlah aku me¬nangis. Aku akan menangis sampai
mati," jawab Wayan Suage.


Wirapati menghela napas. Ia duduk di sam-pingnya sambil merenggut-renggut
seonggok rumput. Pandangannya dilayangkan ke jauh sana. Fajar hari kala itu
mulai menyingkap tirai malam. Angin pagi terasa menyelinapi tulang. Langit
agak cerah, karena sejak kemarin hujan turun sangat deras.


"Mengapa kau menangis begitu sedih?" Wirapati mengulangi pertanyaannya.


"Mengapa aku menangis? Ya… bagaimana aku tidak menangis." jawab Wayan
Suage. "Inginlah aku mengulangi pertanyaanmu itu kepada Yang menghidupiku,
apa sebab aku harus menangis. Benarkah kamu tak menghendaki kedua pusaka ini?"


"Aku bukan hak waris pusaka itu, mengapa kamu mencurigaiku? Sekalipun
pusaka itu kauberikan kepadaku, aku akan menolak. Karena pusaka yang bukan
miliknya atau bukan hak warisnya akan dapat membawa malapetaka. Itulah
kepercayaanku."


Jawaban Wirapati tepat mengenai hati Wayan Suage. Teringatlah dia kepada
nasib¬nya yang hancur berantakan dengan tiba-tiba karena menerima pusaka
pemberian orang yang bukan termasuk hak warisnya. Dengan mengusap-usap
mata, ia mencoba mengamat-amati Wirapati.


"Apa kau bukan termasuk salah seorang dari mereka?" Kata Wayan Suage dengan
pelahan. Wirapati menggelengkan kepala. "Apa kamu yang datang hendak
mengabarkan sesuatu kepada kami?" Wirapati mengangguk. "Ah!" Wayan Suage
kaget. Ia menegakkan lehernya. "Apa yang mau kausampaikan kepada kami?"


"Rumahmu telah terkepung orang-orang dari Banyumas. Keselamatan keluargamu
terancam bahaya," jawab Wirapati kering.


Mendengar jawaban Wirapati, mendadak Wayan Suage menangis seru. Dan di
antara tangisnya ia mengisahkan peristiwa terkutuk itu yang menghancurkan
kesejahteraan keluarganya.


"Mencapai suatu martabat tinggi bukan tergantung pada pusaka sakti. Alat
yang sempurna adalah kemampuan diri sendiri," kata Wirapati. "Kenapa orang
mesti menggantungkan nasibnya kepada kekeramatan suatu benda yang takkan
berkutik apabila tak digerakkan oleh tangan orang hidup?"


Tak terduga Wayan Suage merasa tersinggung oleh kata-katanya. Matanya
menyala. Alisnya tegak. Dan terdengarlah suaranya melontarkan isi hatinya.
"Apa kaukira aku mabuk martabat tinggi, kekuasaan besar kesaktian khayal
lantas ingin mengangkangi pusaka ini? Kau salah duga, Saudara! Aku bukan
termasuk orang-orang macam begitu."


"Kenapa kaupertahankan pusaka itu begitu mati-matian?"


"Karena aku dipercayai orang untuk menyimpan dan merawatnya. Sekiranya kamu
diberi kepercayaan seseorang untuk menyimpan dan merawat sesuatu benda dan
kemudian datanglah orang-orang mau merampasnya, apa yang akan kaulakukan?"


Wirapati terdiam. Pikirnya, akupun akan mempertahankan diri demi
kepercayaan itu. Matipun rasanya senang, karena pulang sebagai laki-laki
sejati.


Wayan Suage manangis lagi. Kali ini tambah menyayat hati.
"Saudara," katanya. "Katakanlah kepadaku, bagaimana nasib yang lain?"


Bersambung




Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar