3.21.2019

@bende mataram@ Bagian 12




@bende mataram@
Bagian 12


Tanpa berpikir ia lari terus dan lari terus. Ia mendengar desa menjadi
ribut oleh kentungan tanda bahaya. Kentungan tanda bahaya itu segera
disahut dari desa ke desa.
Celaka! pikirnya dalam hati. Kalau aku lewat jalan besar aku kena cegat
penduduk desa. Baiklah aku menyeberang sawah, moga-moga hilanglah jejakku.
O hujan, turunlah kau!
Kalau tadi ia merasa dirintangi turunnya hujan kini ia berdoa sebaliknya.
Larinya dipercepat dan dipercepat. Ia tak mengenal lelah sampai akhirnya
tak terdengar lagi kentung tanda bahaya. Dengan hati lega ia memperlambat
larinya. Ia mencium daun-daun hutan. muncullah harapan untuk membebaskan
diri. Sekarang ia menaruh Wayan Suage di atas tanah. Ia memeriksa lukanya.
Ternyata Wayan Suage jatuh pingsan, karena darahnya bercecer sepanjang jalan.


Ih! jejakku mungkin akan hilang dihisap air tanah tapi darah ini ..., pikir
Wirapati
Karena merasa tidak aman. Wirapati segera merobek lengan baju Wayan Suage
dan dibalutkan pada kakinya yang buntung. Kemudian ia memapahnya dan
dibawanya berlari lagi. Sewaktu fajar menyingsing sampailah dia di tepi
sebuah kali. Diseberanginya kali itu dan ia beristirahat di dalam gerumbul
pohon tembelekan yang rimbun.
Ia memeriksa keadaan Wayan Suage. Hatinya bersyukur karena Wayan Suage
ter-nyata masih hidup. Racun senjata rahasia si pemuda bisa dipunahkan,
berkat ia memotong ujung kakinya sebatas setengah betis. Segera ia membebat
luka.


Tak lama kemudian, terdengar rintih Wayan Suage. Wirapati gembira. Ia
memijat kedua pundak Wayan Suage.


"Bagaimana keadaanmu?"


Antara sadar tak sadar, Wayan Suage membuka matanya. Ia mencoba bangun,
tetapi tenaganya habis. Agaknya dia hampir kehabisan darahnya.


"Tak usah kaubangun!" kata Wirapati lagi. "Sekarang kamu telah terhindar
dari bahaya. Aku tak dapat menemanimu lebih lama lagi. Ijinkanlah aku pergi."


"Pergi?" gumam Wayan Suage. "Mengapa tak kaurampas kedua pusaka ini?"


"Sungguh pun kedua pusaka itu mempunyai riwayat khayal yang menarik hati,
tetapi apa hakku merebutnya. Pusaka itu bukan milikku atau hak warisku."


"Bagaimana keadaanmu?"


Wayan Suage terbelalak heran. Ia tak percaya mendengar ujar Wirapati. la
menduga, Wirapati sedang mengatur tipu muslihat.


"Kau ... kau ... apa lagi yang mau kaulakukan?" Tuduh Wayan Suage. Ia
mencoba berdiri, tiba-tiba kakinya terasa sangat sakit. Tatkala melihat
kakinya yang sebelah menjadi buntung, ia memekik kaget dan menjatuhkan diri
ke tanah. "Kausiksa aku? Mengapa kau ... kau ..." Pekik Wayan Suage marah.


"Aku dan kamu baru semalam berkenalan. Lagi pula antara aku dan kamu tidak
ada permusuhan. Mengapa kau menuduh aku menyiksamu? Kakimu itu memang
akulah yang memagas buntung, tapi demi keselamatanmu semata. Semalam
kaukena senjata beracun."


Lamat-lamat Wayan Suage teringat peristiwa semalam. Mata kakinya seperti
kena tusukan halus dan tiba-tiba menjadi kaku. Tahulah dia, mata kakinya
kena senjata rahasia. Siapa pembidiknya, ia tak tahu. Maka ia menuduh Wirapati.


"Jiwaku berada dalam genggamanmu. Nan, bunuhlah aku! Jangan kau menyiksaku
begini caranya. Aku tak mau kauhina!" katanya garang.


Wirapati menarik napas dalam. Ia tahu, pikiran Wayan Suage belum jernih.
Maka ucapannya yang pedas tajam itu, tak dihiraukan. Malahan ia mencoba
tersenyum. Kemudian ia bergerak hendak melangkah pergi.


Wayan Suage mendadak memeluk kakinya sambil mengerang. Mendengar erang itu.
Wira¬pati tak sampai hati meninggalkan seorang diri.
Dia luka parah. Seorang diri pula di tengah alam yang serba asing. Apa
jadinya kalau kutinggalkan begitu saja. Ah, biariah kurampungkan sekalian
soal ini. Menolong seseorang dengan separuh hati apa guna, pikir Wirapati.


"Kawan, siapa namamu?" tanyanya lunak.


"Apa perlu kau menanyakan namaku. Aku bernama setan, iblis atau jin, apa
pedulimu?" sahut Wayan Suage galak.


Wirapati tersenyum pahit mendengar ucapan Wayan Suage. "Aku hanya ingin
tahu namamu, apa itu jahat? Kau terluka parah. Seandainya kau tidak
mendapat pertolongan cepat, nyawamu akan melayang karena kehabisan darah.
Dan kalau aku tahu namamu, aku akan dapat membawa pusaka itu kepada
keluargamu."


Wayan Suage mengerang dalam sambil memeluk kedua pusaka yang digenggamnya
semenjak semalam. Wirapati jadi trenyuh. Ia beriba.
"Apa untungnya mempunyai pusaka itu. Serahkan saja kepada orang-orang
Banyumas yang berhak memiliki. Kudengar tadi mereka merawat salah seorang
keluargamu. Kalau kamu bisa berdamai dengan mereka, kau akan dapat
berkumpul kembali dengan keluargamu," katanya lembut.


Bersambung




Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar