@bende mataram@
Bagian 11
Kedua kepala kampung itu melihat datangnya bahaya. Mereka hendak meloncat
mundur. Tetapi serangan Wayan Suage sangat ce¬pat. Sebelum mereka sadar apa
yang terjadi, kedua pusaka sakti telah menggempurnya. Dengan menjerit
mereka mencoba bertahan. Tetapi bagaimana mereka kuasa melawan kesaktian
kedua pusaka itu. Mereka terjungkal ke tanah dan mati.
Hawa pembunuhan kini mulai merangsang. Wayan Suage menggeram penuh dendam.
Sedangkan Sapartinah memekik tinggi sambil menutupi mukanya. Tak rela ia
menyaksikan suaminya menjadi seorang pembunuh, namun tak ada jalan lagi.
Tiba-tiba di luar dinding terjadilah suatu keributan. Rombongan penari yang
mengepung rumah mulai berteriak dan merangsak maju. Terasa kini udara jadi
panas. Wirapati menoleh.
Ah! Ia mengeluh dalam hati. Rupanya tali yang melingkar rumah bukan tali
beracun, melainkan tali berminyak tanah. Mereka bermaksud membakar rumah.
Darah kesatria Wirapati kian menjadi meluap-luap. Ia harus cepat bertindak,
mengingat di dalam rumah terdapat dua orang perempuan dan dua orang
kanak-kanak. Maka de¬ngan memusatkan perhatian, ia menerjang si pemuda
sambil berteriak, "Cepat keluar! Rumah akan terbakar!"
Kepala Kampung Karangtinalang dan Kepala Kampung Krosak yang kena
dipatahkan lengan serta kakinya oleh si pemuda, terkejut mendengar teriakan
itu. Mereka sadar akan bahaya, maka dengan sempoyongan dan meloncat-loncat
lari menghampiri pintu.
Tetapi waktu itu, rombongan penari dari Banyumas sudah menyerbu memasuki
rumah. Mereka berteriak-teriak kalang kabut. Kekacauan segera terjadi. Api
mulai menjilat dinding rumah dan telah pula membakar atap ruang tengah.
Wayan Suage segera membungkuki Rukmini yang masih saja jatuh pingsan. la
menggapai isterinya. Tetapi isterinya tidak melihat. Masih saja dia
mendekap mukanya, sedang Sanjaya dipeluknya erat-erat.
Waktu itu, Wirapati sedang mendesak si pemuda dengan serangan bertubi-tubi.
la ingin menyelesaikan pertempuran secepat mungkin. Sebaliknya si pemuda
tak gampang dapat dikalahkan. la dapat bergerak dengan gesit.
Gerak-geriknya aneh pula, bahkan kini mulai memperlihatkan tongkatnya.
Mendadak saja si pemuda yang bermata tajam melihat Wayan Suage membungkuki
mayat Made Tantre, sedang kedua tangannya menggenggam dua pusaka sakti. la
tak berniat mengadu kepandaian dengan Wirapati. Tujuannya memasuki rumah
panjang semata-mata hendak merampas kedua pusaka sakti. Maka dengan dahsyat
ia mencoba mengundurkan Wirapati. Maksud itu sudah barang tentu tak mudah
dilakukan. Penjagaan Wirapati rapat dan tidak memberinya bidang gerak. la
mengeluh dalam hati. Kemudian meloncat tinggi dan berjumpalitan di udara.
Ketika ke¬dua kakinya telah meraba tanah, sekali melesat ia menghampiri
Wayan Suage sambil melepas senjata rahasianya. Ternyata senjata rahasianya
berbentuk butiran-butiran lada dan disembunyikan di dalam tongkatnya yang
dibuatnya sebagai jepretan.
Wayan Suage menyadari datangnya bahaya. Gntung, bidikan si pemuda dilakukan
dengan gugup karena dirintangi Wirapati. Meskipun demikian, senjata
rahasianya mengenai juga mata kaki Wayan Suage yang seketika itu juga
menjerit roboh.
Wirapati terkejut. Cepat ia melesat dan menyambar punggung si pemuda. Si
pemuda terpaksa mengelak, sehingga gagal merampas kedua pusaka. Ia
bermurung dan memaki-maki dalam hati. Dalam kemurungannya itu mendadak ia
teringat akan kecantikan Sapartinah. Tanpa kesulitan lagi, ia menerkam
lengan Sapartinah. Kemudian ibu dan anak diangkat tinggi. Dalam hatinya ia
akan mempergunakan mereka sebagai perisai, jika Wirapati tiba-tiba menyerang.
Tetapi kala itu, Wirapati memikirkan akibat bidikan senjata rahasia si
pemuda yang mengenai mata kaki Wayan Suage. Buru-buru ia melolos belatinya
dan memangkas kaki Wayan Suage sekali pagas. Itulah satu-satunya jalan buat
menahan menjalarnya racun berbahaya. Kemudian ia menotok urat nadi sambil
berdiri di depannya siap melindungi serangan-serangan si pemuda yang
mungkin datang lagi.
Mendadak ruang tengah telah terbakar habis. Rombongan penari benar-benar
telah menyerbu. Kedua kepala kampung yang bemasib malang kena ditumpas
mati. Tubuh mereka terjengkang di dekat ambang pintu dan sebentar saja
telah digerumit nyala api.
Melihat bahaya, si pemuda tak mempedulikan kedua pusaka sakti yang masih
tergenggam erat-erat dalam tangan Wayan Suage. Pikirnya, yang penting aku
harus menyingkir. Kedua pusaka itu perlahan-lahan akan dapat kujejak di
kemudian hah.
Tubuh Sapartinah dan Sanjaya diringkusnya erat-erat kemudian ia meloncat
menubruk dinding. Dinding rumah terbuat dari papan. Di ujung sana telah
terbakar hangus. Itulah sebabnya sisa dinding tidak sekokoh semula. Maka
dengan mudah si pemuda dapat menggempur roboh dan melesat melintasi lautan api.
Wirapati tak dapat berpikir lama-lama. la harus segera mengambil keputusan.
Dilihatnya tubuh Rukraini dan anaknya menggeletak di atas tanah. Untuk
menolong mereka sekaligus tidaklah mungkin, sedangkan rombongan penari
mulai menghujani senjata. Pedang, tombak dan belatinya dilontarkan membabi
buta.
Wirapati tak menjadi gugup. la mengendapkan kepalanya sambil menyabetkan
belatinya. Dengan kecekatan yang telah dilatihnya semenjak berguru di
Gunung Damar, ia dapat menangkis hujan senjata itu dengan sekali sabet.
Kemudian ia mencengkeram ikat pinggang Wayan Suage sambil berpikir, mereka
datang untuk merebut pusaka sakti. Aku tak dapat membiarkan mereka mencapai
maksudnya. Baiklah kuselamatkan dulu orang ini. Mereka boleh mengejarku,
masa aku tak mampu.
Ia melesat ke dinding. Seperti laku si pemuda, ia menggempur dinding dan
melintasi lautan api. Ia mendengar rombongan penari itu berteriak-teriak
tinggi. Tapi tak usahlah dia khawatir, karena lautan api menjadi batas
pagar yang cukup sentosa.
"Kejar dia!" terdengar suara si tinggi jangkung yang telah dikenalnya.
"Pusaka ada padanya. Perempuan dan anak itu, biar aku yang mengurusi."
Mendengar seruan si tinggi jangkung, hati Wirapati bersyukur. Rukmini dan
anaknya pasti dapat diselamatkan. Sekarang ia memusatkan perhatiannya ke
tujuan melarikan diri. Ke mana dia akan lari? Dalam gelap, ia kehilangan
kiblat arah. Lagi pula jalan Desa Karangtinalang sama sekali belum dikenalnya.
Bersambung
Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:
Posting Komentar