3.20.2019

@bende mataram@ Bagian 10




@bende mataram@


Bagian 10


Jahanam mana lagi yang datang? pikir Made Tantre. Dia menoleh kepada Wayan
Suage minta keyakinan. Waktu itu Wayan Suage sedang memusatkan
pendengarannya, menangkap suara kata-kata yang terucapkan dengan pelahan
dan terang. Ia terkejut. Suara itu begitu riuh seperti guruh. Pastilah yang
datang bukan sembarangan orang.


"Wayan!" bisik Made Tantre. "Apa kata hatimu?"


"Jangan bergerak. Tunggu! Dia pasti datang ke mari," jawab Wayan Suage
berbisik pula.


Waktu itu Wirapati berjongkok ketika meli-hat sinar mengejap. Sebenarnya
tak usahlah dia berbuat begitu, karena sinar yang menge¬jap adalah nyala
pelita yang sedang disulut Made Tantre. Tapi oleh pengalamannya di tengah
perjalanan tadi, ia perlu bersikap waspada. Bukankah pemuda ganas yang
membunuh si pendek gemuk belum menampakkan diri?


Ia menunggu beberapa saat. Jawaban tetap tak diperolehnya. Dalam rumah
sunyi hening. Hati-hati ia merangkak maju menjenguk ke dalam. Sekarang
dilihatnya nyala pelita menerangi ruang sana. Nampak pula ada bebera¬pa
bayangan berombak-ombak pada dinding. Cepat ia berdiri dan melompat ke
belakang tiang guru. Dilihatnya sepuluh orang bersikap diam tak bergerak.
Yang empat orang terdiri dari dua perempuan dan dua kanak-kanak. Yang enam,
laki-laki semua. Apa yang sedang dikerjakan? Sebagai murid Kyai, Kasan
Kesambi yang sudah berpengalaman, segera ia dapat membaca kesan muka mereka
masing-masing. Mendadak pada saat itu di atap rumah terdengarlah suara
membentak.


"Semua jangan bergerak dan jauhilah meja!"


Wirapati segera mengenal suara itu. Ah, pikirnya. Itulah si pemuda ganas
yang membunuh si pendek gemuk. Aku harus berhati-hati. Nampaknya di dalam
rumah ini telah terjadi sesuatu yang menegangkan.


Tetapi keenam laki-laki yang berdiri tegang tetap berada di tempatnya,
seolah-olah tak mendengarkan ancaman itu. Diam-diam hati Wirapati tergetar.
Kalau pemuda itu sampai menurunkan tangan jahatnya, bagaimana mereka dapat
mengelakkan diri?


Terdengariah kemudian suara tertawa dingin di atas atap. Kemudian dengan
kesiur angin ringan, turunlah si pemuda ke tanah dengan sekali melompat.


Ia adalah seorang pemuda yang berumur kurang lebih 24 tahun. Wajahnya agak
pucat, tetapi tampan dan bermata ningrat. Pakaian yang dikenakan terbuat
dari kain mahal. Ia menyengkelit sebilah keris melintang perutnya. Mulutnya
menyungging senyum manis. Seumpama Wirapati tak menyaksikan dengan mata
kepalanya sendiri, tak percaya kalau pemuda itu dapat berlaku ganas.


"Hai! Apa kalian tak dengar perintahku!" bentaknya tajam.


Masih saja keenam orang itu tak menghiraukan. Tiba-tiba kakek yang berada
di timur (dia Kepala Kampung Karangtinalang) mengayunkan tangannya dan
bergerak hendak mencakar muka si pemuda. Cepat pemuda itu mengelak, terus
maju selangkah. Melihat si pemuda melangkah maju, Kepala Kampung Krosak
yang berada di sebelah utara mengemplang kepalanya. Tetapi gerak-gerik si
pemuda itu gesit. Sedikit ia menggeser tubuh dan kemplangan Kepala Kampung
Krosak menumbuk udara kosong.


Medapat bantuan Kepala Kampung Krosak, hati Kepala Kampung Karangtinalang
jadi mantap. Ia menerjang dan menyodokkan ta¬ngannya. Tangannya sebelah
kiri dipentang siap menerkam dada. Ini hebat!


Diam-diam Wirapati memuji dalam hati. Tetapi ilmu berkelahi si pemuda
benar-benar aneh dan bagus. Dengan tersenyum merendahkan lawan, mendadak ia
menangkis dan membalas menyerang. Kedua kakek itu dilawannya dengan gampang.


"Iblis! Siapa kamu? Hayo mengaku, apa kauingin juga memiliki pusaka ini,"
bentak Kepala Kampung Krosak.


Si pemuda membalas bentakan itu dengan tertawa dingin. Tiba-tiba tubuhnya
melesat dan lengan Kepala Kampung Krosak kena disambar dan dipatahkan
sampai berbunyi bergeratakan. Alangkah terkejut Kepala Kampung
Karangtinalang menyaksikan lengan Kepala Kampung Krosak kena dipatahkan.
Buru-buru ia menarik serangannya dan bersikap mempertahankan diri. Tetapi
terlambat. Dia pun terserang si pemuda. Tahu-tahu ia terbanting ke tanah.
Betisnya patah tak berdaya, sehingga ia jatuh tengkurap tak berkutik lagi.


Mendapat kemenangan itu, si pemuda mendongakkan kepala. Kemudian tertawa
dingin.
"Siapa yang salah. Bukankah aku tadi mem¬beri perintah supaya kalian
menjauhi meja? Nah, siapa maju lagi?"


Wirapati mendongkol mendengar sumbar si pemuda. Sikapnya yang sombong itu
benar-benar memuakkan hati. Hati ksatrianya lantas bangkit. Mendadak ia
melihat si pemuda itu mengamat-amati perempuan yang berdiri memepet dinding
mendekap bocah. Itulah Sapartinah, isteri Wayan Suage.


Dia sesungguhnya seorang perempuan berwajah manis. Hidungnya mancung.
Matanya bersinar. Alisnya tebal dan mempunyai tahi lalat di atas mulutnya.
Umurnya belum lagi mencapai 22 tahun . Kulitnya kuning langsat. Perempuan
seumur dia cepat menarik hati laki-laki yang sudah berpengalaman. Itulah
sebabnya maka tak mengherankan kalau si pemuda tertegun melihat kecantikannya.


"Isteri siapa dia?" tanyanya sambil membagi pandang.
Tidak ada jawaban.


"Isteri siapa dia?" ia mengulang. Karena tetap tidak ada jawaban, ia
meneruskan, "Bagus! Tidak ada yang mengaku. Kalau begitu kepunyaan umum."


Mendengar ucapannya Made Tantre tak dapat mengendalikan hatinya. Tak rela
ia mendengar isteri sahabatnya direndahkan demikian rupa. Secepat kilat ia
menjejak tanah dan terbang menerkam si pemuda.


Pemuda itu nampak terkejut. Ia mengibaskan tangannya, tahu-tahu Made Tantre
jatuh terkulai. Wirapati kaget bukan kepalang. Ia tahu apa sebabnya. Pemuda
itu melepaskan senjata rahasia seperti yang dilakukan terhadap si pendek
gemuk. Menyaksikan keganasan si pemuda, darahnya seketika mendidih. Ia
lantas meloncat sambil berjaga-jaga.


Serangan Wirapati cepat dan tak terduga. Pemuda itu tak dapat mengelakkan
diri. Terpaksa dia menangkis. Tetapi kena benturan tangan Wirapati, ia
bergetar mundur dua langkah. Ia heran atas kejadian itu. "Jahanam, siapa kamu?"


"Selama kamu tak mau memperkenalkan namamu, apa perlu aku meladeni
tampangmu?" Wirapati menyahut. la menoleh dan melihat tubuh Made Tantre tak
berkutik. Rukmini merenggutkan dekapan anaknya dan lari menubruk.
Cepat-cepat Wirapati menghalang-halangi.


"Jangan sentuh! Dia terkena racun!"


Mendengar ucapannya semua jadi terkejut. Tetapi Rukmini tak mempedulikan.
la memaksa maju merangsak. Terpaksa Wirapati mendorongnya pergi. Karuan
Rukmini menjerit dan jatuh pingsan. Anaknya lari menghampiri dan menangis
ketakutan.


"Bagus! Rupanya kaukenal senjataku!" teriak si pemuda.


"Mengapa tidak? Bukankah tadi kau juga menurunkan tangan jahatmu ke salah
seorang rombongan penari?" Wirapati mendamprat.


Si pemuda tertegun. Kemudian tersenyum dingin. Berkata, "Eh, agaknya ada
juga yang tahu. Hm!"


Dada Wirapati serasa akan meledak. la melesat dan mengirimkan gempuran. Si
pemuda tak berani menangkis. la mengendapkan diri dan bergulingan ke tanah.
Tetapi Wirapati tak memberi kesempatan dia bernapas. Secepat kilat ia
menyapu dengan kakinya, sambil melindungi dadanya. Diserang demikian, si
pemuda tak menjadi gugup. Kakinya menjejak tanah. Kemudian seperti seekor
ikan melentik dari genggaman tangan, ia meloncat tinggi sambil menyerang
kepala Wira¬pati. Kedua tangannya disodokkan menggempur kaki. Kemudian
dengan berjumpalitan ia mementalkan diri. Si pemuda berjumpalitan pula di
udara dan jatuh berdiri dengan sempoyongan.


"Bahaya!" terdengar suaranya di antara giginya.


Pada saat itu tubuh Made Tantre telah men¬jadi kaku. Wayan Suage tertegun
karena terkejut. Ia berdiri terpaku di tempatnya. Matanya terbeliak tak
tahu apa yang harus dilakukan. Sebaliknya Kepala Kampung Kemarangan dan
Kepala Kampung Qumrenggeng berbuat lain. Seperti telah berjanji mereka
menggunakan kesempatan itu untuk menyambar kedua pusaka Pangeran Semono.
Niatnya begitu berhasil membawa kedua pusaka itu, kemudi¬an akan kabur.


Tetapi justru karena kedua-duanya mempunyai tujuan yang sama, malahan
mereka jadi saling bentrok. Kepala Kampung Gum¬renggeng lantas saja menyiku
saingannya. Dan Kepala Kampung Kemarangan mengemplang Kepala Kampung
Gumrenggeng
Perhatian mereka berdua sedang terpusat pada pusaka itu, sehingga tak
sempat menangkis. Maka siku dan kemplangan tangan mengenai tepat
sasarannya. Keduanya kaget dan batal mencapai pusaka.


Wayan Suage mendadak sadar karena pergulatan itu. Tadi dia tertegun. Kini
ia tergugah, kalau matinya Made Tantre karena membela kehormatan isterinya.
Mana bisa ia hanya berpeluk tangan. Seketika itu juga timbullah rasa
dendamnya, benci dan jijik. Ia melihat kedua kepala kampung yang sedang
meliukliuk kesakitan. Deru hatinya lantas saja ditumpahkan kepada mereka.
Secepat kilat dan di luar dugaan, ia menyambar keris pusaka Kyai
Tunggulmanik dan Bende Mataram. Dengan kedua pusaka itu, ia menggempur
mereka berdua.


Bersambung




Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar