*Inspirasi Pagi,,,,,,,,,,,,!!
*NOGO SOSRO SABUK INTEN*
*Jilid. : 363*
MAHESA JENAR dan Rara Wilis duduk pula di pendapa itu bersama Ki Ageng
Pandan Alas. Meskipun dilambung Wilis tergantung sebilah pedang, namun
kebimbangan yang besar tampak membayang di wajahnya.
Kebo Kanigara menundukkan wajahnya dalam-dalam. Tampaklah mulutnya
bergerak- gerak. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu.
Sedang Mahesa Jenar duduk termenung memandang langit dikejauhan yang
semakin lama menjadi semakin suram. Sesuram hati Arya Salaka.
Arya Salaka yang kemudian duduk pula di tangga pendapa itu, menunggu dengan
dada yang bergolak. Terbayang di dalam angan-angannya, apakah kira-kira
yang telah terjadi dengan Endang Widuri. Kenapa seorang gadis yang memiliki
ilmu tata bela diri itu tidak sempat membebaskan dirinya dari Karebet? Dan
sebenarnyalah Endang Widuri telah berusaha sekuat-kuat tenaganya. Tanpa
dilihat oleh seorang pun maka Widuri itu telah bertempur dengan gigihnya.
Pagi itu Widuri sedang mencuci pakaiannya di belumbang, ketika tiba-tiba
saja Karebet muncul disampingnya. Gadis itu terkejut bukan buatan. Tetapi
ketika dilihatnya yang datang itu Karebet ,, maka ia menjadi gembira.
Namun kembali Widuri itu terkejut, ketika Karebet tiba-tiba mengajaknya
pergi ke Demak. "Kenapa ke Demak?" bertanya Widuri.
Karebet memandangi wajah Widuri dengan pandangan yang aneh. Katanya sambil
tersenyum-senyum. "Buat apa kau tinggal di pedukuhan yang sepi ini? Ikutlah
aku ke Demak. Kau akan mukti disana."
"Apakah kau sudah menjadi gila, kakang" bentak Widuri.
Namun Karebet masih juga tersenyum-senyum, sehingga Widuri itu pun menjadi
takut pula karenanya. Tetapi Widuri tidak sempat berbuat apa-apa. Meskipun
kemudian Widuri berusaha membela diri, namun Karebet bukanlah lawannya.
Widuri tidak dapat bertahan, sehingga akhirnya dapat dilumpuhkan. Dalam
keadaan pingsan maka gadis itu dibawa menghilang, masuk ke dalam semak-semak.
Kini Arya Salaka sudah siap untuk merebutnya dengan segenap kekuatan yang
mungkin dikerahkannya. Demikianlah, maka ketika matahari telah hilang
dibalik cakrawala, maka segera Arya Salaka bersiap.
Dengan langkah yang tetap ia berjalan ke alun-alun dihadapan rumahnya.
Diberikannya beberapa perintah, dan para pemimpin laskar Banyubiru dan
Pamingit segera memahaminya. Laskar Banyubiru berada di bawah pimpinan
Bantaran sedang laskar Pamingit berada di bawah pimpinan Wulungan.
Dibelakang Arya Salaka berdiri beberapa orang yang akan menjadi kekuatan
laskar Banyubiru dan Pamingit itu. Gajah Sora, Lembu Sora, Kebo Kanigara,
Mahesa Jenar, Ki Ageng Pandan Alas dan Rara Wilis.
Namun tak seorang pun yang tahu di antara mereka, apakah yang tersimpan di
dalam dada masing-masing. Meskipun mereka berdiri berjajar dalam barisan
yang sama, namun barisan Arya Salaka kali ini adalah barisan yang penuh
menyimpan berbagai persoalan di setiap dada mereka.
Persoalan yang satu sama lain berbeda-beda dan satu sama lain bertolak dari
kepentingan yang berbeda pula. Tetapi yang tampak, yang kasat mata, mereka
kemudian berjalan beriringan di belakang laskar Banyubiru dan Pamingit yang
dengan tekad yang menyala di dalam dada mereka, pergi menuju ke hutan Prawata.
Tepat pada saat purnama naik, maka hutan Prawata benar-benar menjadi sangat
ramainya. Di dalam setiap barak kini sudah terpancang obor-obor dan di
hampir setiap sudut-sudutnya pun diterangi dengan nyala-nyala lampu obor
pula. Di pinggir lapangan rumput dibuat orang sebuah perapian yang besar.
Nyalanya seakan-akan menggelepar menggapai daun-daun pepohonan yang
berjuntai di atasnya. Cahaya yang kemerah-merahan terlempar jauh menusuk ke
dalam sela-sela daun-daun yang tidak begitu rimbun.
BAGINDA kini telah berada di dalam barak yang terbesar di tengah-tengah
barak- barak yang lain. Sebagai seorang pemburu, maka Baginda dapat hidup
di dalam lingkungan yang sangat sederhana. Barak dari batang ilalang dan
dedaunan. Pembaringan yang dibuat dari kulit-kulit kayu dan bambu, serta
segala macam peralatan yang sederhana. Hidup yang sedemikian merupakan
selingan yang menggembirakan bagi Baginda yang kadang-kadang menjadi
terlalu jemu dengan isi istana.
Di dinding-dinding barak itu, kini tergantung busur dan anak panah. Pedang,
tombak dan segala macam senjata. Bukan saja senjata-senjata untuk berburu,
namun juga senjata-senjata untuk berperang dari para pengawal Baginda.
Malam yang demikian akan menjadi sangat menyenangkan bagi para prajurit dan
Baginda sendiri.
Biasanya Baginda mulai berburu pada malam pertama. Pada malam bulan sedang
bulat sebulat-bulatnya. Seperti malam itu, dimana langit bersih dan
bintang-bintang bertaburan. Sinar bulan yang cemerlang menyusup ke dalam
rimba yang tidak begitu pepat, menari-nari di atas tanah yang lembab.
Tetapi malam ini keadaan Baginda tidak sedemikian gembira seperti biasanya.
Tampaklah Baginda menjadi muram dan gelisah. Sekali-kali Baginda memandangi
busur-busur yang tergantung di dinding barak. Serta pusakanya, sebilah
keris, tidak juga dilepaskannya. Terasa sesuatu yang selalu membayangi
kegembiraan Baginda.
Ketika seorang perwira masuk ke dalam biliknya beserta seorang prajurit,
maka segera Baginda memanggilnya duduk dekat-dekat di hadapannya. "Jangan
hiraukan lagi subasita. Kita sekarang sama-sama seorang pemburu."
"Tidak Baginda," perwira itu menyembah. "Ternyata kita belum sempat untuk
berburu malam ini atau malam besok."
"Bagaimana dengan kabar itu?"
"Hamba telah menyaksikan sendiri. Perkemahan ini telah dikepung rapat-rapat."
Baginda menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya kepada perwira itu.
"Paningron. Apakah kau dapat menduga kekuatannya?"
"Tidak secara cepat Baginda. Tetapi kira-kira dua tiga kali lipat kekuatan
kita disini."
Baginda terdiam sesaat. Perwira itu, yang tidak lain adalah Paningron,
menunggu apakah yang harus dikerjakannya. Pasukan yang ikut serta dengan
Baginda memang tidak begitu banyak, sebab Baginda hanya sekadar ingin
berburu. Namun tiba-tiba kini Baginda Sultan telah berhadapan dengan
sepasukan laskar yang sedemikian kuatnya, sehingga Baginda harus
berhati-hati menghadapinya.
Sejenak kemudian baginda itu pun berdiri. Dilepaskannya baju keprajuritan
yang dikenakannya. Kemudian kepada prajurit yang duduk disampingnya Baginda
berkata.
"Berikan bajumu." Prajurit itu menjadi terheran-heran. Namun sekali lagi
Baginda itu berkata, "Berikan baju dan kelengkapanmu."
Prajurit itu menjadi terheran-heran. Dibukanya bajunya dan diserahkannya
kepada Sultan, yang segera dipakainya.
"Terlalu kecil," gumam Sultan.
"Ya" sahut Paningron yang segera dapat mengetahui maksud Sultan.
"Apakah baju ini tidak pernah kau cuci?" bertanya Baginda sambil tersenyum.
"Baju itu hamba pakai sejak hamba mempersiapkan diri semalam Baginda,"
sahut prajurit itu.
"Pantas?" "Baunya," jawab Baginda sambil tersenyum Prajurit itu tersenyum pula.
Tetapi ia tidak dapat tersenyum lagi ketika Baginda berkata, "Kau tinggal
di dalam barak ini. Kalau ada orang yang ingin masuk, jangan kau beri
kesempatan. Jawabnya seperti aku menjawab, "Jangan ganggu aku."
"Tetapi suara hamba Baginda," jawab prajurit itu. Baginda berpikir sejenak.
Kemudian jawabnya, "Baik, kalau begitu tutup pintu. Jangan kau bukakan
apabila aku tidak memanggil namamu."
"Hamba Baginda." Baginda dan Paningron segera meninggalkan bilik itu yang
kemudian segera ditutupnya. Penjaga yang melihat mereka keluar dalam
keremangan bulan Purnama, tidak menyangka bahwa orang itu adalah Baginda
sendiri.
Ternyata Baginda membawa Paningron untuk melihat sendiri kekuatan
orang-orang yang telah mengepung mereka dengan rapatnya. Hampir di setiap
pohon bersandar seorang yang bersenjata. Di sela-sela pepohonan Baginda
melihat cahaya perapian yang menyala-nyala. Dan karena itulah maka Baginda
kadang-kadang dapat melihat bayangan orang yang berjalan hilir mudik.
"Kau benar Paningron," berkata Baginda. "Kekuatan itu benar-bebar tidak
dapat diabaikan." "Hamba telah meneliti tuanku."
BAGINDA mengangguk-anggukkan kepalanya. Sambil berjalan mengendap-endap
Baginda itu berkata, "Siapakah yang memimpinnya?"
"Hamba kurang tahu Baginda. Tetapi sudah hamba saksikan sendiri di
Pamingit, kekuatan Banyubiru benar-benar mengagumkan. Apalagi kini mereka
telah bergabung bersama kekuatan-kekuatan dari Pamingit."
"Apakah Rangga Tohjaya masih di Banyubiru?"
"Hamba tuanku."
"Apakah ia ikut dalam barisan itu?"
"Belum hamba ketahui."
Baginda menarik nafas dalam-dalam. Disadarinya bahwa apabila laskar
Banyubiru itu lengkap dengan segenap pimpinannya, maka kekuatan Banyubiru
benar-benar mengagumkan. Paningron yang melihat
Baginda kemudian termenung, segera berkata, "Baginda, apakah hamba dapat
mengirim seseorang untuk memanggil pasukan yang cukup untuk mengusir
orang-orang Banyubiru."
Baginda diam sesaat. Dipandangnya nyala api yang melonjak-lonjak di
sela-sela pepohonan. Nyala api dari perapian orang-orang Banyubiru. Namun
perlahan-lahan Baginda menggelengkan kepalanya. "Jangan Paningron. Orang
itu tidak akan dapat menembus kepungan orang-orang Banyubiru."
*Bersambung*,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
*(@Ww/tris)*🥥🥥🥥
*Inspirasi Pagi,,,,,,,,,!!
*NOGO SOSRO SABUK INTEN*
*Jilid. : 364*
"Hamba sendiri sanggup melakukan Baginda. Hamba dapat melampauinya dengan
kuda yang berpacu kencang-kencang."
"Akan sama saja bahayanya, Paningron."
Paningron tidak lagi berkata-kata. Diikutinya saja kemudian Baginda
berjalan berkeliling. Tiba-tiba di sudut lapangan rumput itu Baginda
berhenti. Digesernya pusakanya dan dengan serta merta dirabanya hulu pusaka
itu.
Paningron pun segera melihat, sebuah bayangan yang berdiri tegak dihadapan
mereka.
"Siapa?" bertanya Paningron perlahan-lahan.
"Apakah aku berhadapan dengan Baginda?" desis bayangan itu.
"Oh" sahut Baginda.
"Eyang ternyata benar-benar datang."
"Tentu cucunda Baginda" sahut bayangan itu.
"Hamba sudah berjanji."
"Nah. Bagaimana dengan orang-orang itu, eyang?"
"Sudah hamba katakan Baginda, itulah yang dapat hamba sampaikan kepada
Baginda malam ini. Seperti yang pernah hamba sampaikan sebelumnya."
"Hem. Apakah nilai nama Sultan Trenggana dapat dipakai untuk kepentingan
seorang Karebet."
"Jangan Baginda menilai Karebet kini. Tetapi Karebet pada masa datang akan
mempunyai nilai tersendiri dalam hati Baginda. Dan bukankah Baginda juga
seorang ayah yang baik."
"Persetan dengan anak itu."
"Tetapi puteri Baginda akan dapat menderita seumur hidupnya. Dan bahkan
mungkin mengancam jiwanya."
Baginda itu pun kemudian termenung sesaat. Ternyata Baginda tidak dapat
mengingkari kenyataan bahwa puteri Baginda telah mencoba untuk membunuh
dirinya. Untunglah maksud itu dapat di urungkan. Entah karena malu, entah
karena Karebet yang hilang. Namun untuk seterusnya tak dapat memandang
hari-hari yang dilampauinya dengan gairah. Apalagi sebenarnya Sultan
sendiri tidak terlalu membeci Karebet. Justru Baginda sendiri pernah
melihat kelebihan-kelebihan yang ada pada anak itu.
"Bagaimana Baginda?" bertanya bayangan itu.
"Hem. Eyang telah membingungkan aku. Kalau aku membiarkan pemberontakan
ini, maka peristiwa yang serupa akan dapat terjadi dihari-hari yang akan
datang."
"Mereka sama sekali tidak memberontak terhadap Baginda. Mereka datang untuk
mencari Karebet."
Sekali lagi Baginda termenung.
Dan didengarnya bayangan itu berkata, "Selain dari itu Baginda, bukankah
hamba telah menolong Baginda mencarikan jalan untuk mencari kemungkinan
memanggil kembali anak itu, dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan."
"Aku merendahkan harga diriku. Trenggana adalah Sultan yang disegani lawan
dan kawan. Apakah aku tidak dapat memusnahkan mereka?"
"Tentu Baginda. Sebab mereka tidak akan berani melawan Baginda seandainya
Baginda sendiri keluar di medan pertempuran. Apalagi salah seorang pengawal
Baginda di panji-panji Gula Kelapa. Maka Gajah Sora pasti akan mati
ketakutan melihat panji-panji itu."
"Jadi bagaimana?" bertanya Baginda.
"Hamba adalah orang tua, Baginda. Orang tua yang telah tidak mempunyai
pamrih apa-apa lagi. Berpuluh-puluh tahun hamba menghilang. Sekarang hamba
ingin melihat Demak menjadi bertambah baik menilik persoalan-persoalan yang
terpendam di dalamnya."
"Jangan sebut lagi, keturunan Kakangmas Sekar Seda Lepen."
"Tidak. Aku tidak akan menyebutnya, tetapi hal itu tidak akan dapat
menghapus kenyataan itu."
"Ya. Eyang benar. Anak itu ada disini pula sekarang."
"Penangsang?"
"Ya"
Sesaat mereka terdiam.
Paningron menjadi bingung mendengar pembicaraan itu. Tetapi ia tidak berani
bertanya.
Yang didengarnya kemudian adalah suara Sultan. "Lalu bagaimana eyang?"
"Tergantung pada Baginda."
"Baiklah, besok pagi-pagi pasukanku akan bersiap menyongsong mereka menurut
rencana yang telah eyang buat. Mudah-mudahan semua berjalan dengan baik."
Bayangan itu pun kemudian mengangguk-angguk dalam-dalam. Perlahan-lahan
terdengar ia berkata. "Baginda ternyata telah berbuat sesuatu yang
mengagumkan hamba. Orang tua yang sama sekali sudah tidak berarti lagi.
Besok hamba tidak akan lagi bersembunyi. Namun hamba akan mengabdikan diri
dibawah duh Baginda."
"Ah. Eyang terlalu merendahkan diri."
"Sekarang Cucunda Baginda, biarlah aku pergi."
"Jangan eyang. Eyang harus berada disini. Kalau ada sesuatu kesalahan, maka
eyang akan dapat membantunya".
"Atau untuk menjadi tanggungan?"
"Tidak."
"Baiklah. Aku ikut Baginda."
Bayangan itu pun kemudian berjalan mengikuti Baginda disamping Paningron.
Namun mereka yang berjaga-jaga dimuka barak, sama sekali tidak
memperhatikan siapakah yang lewat dihadapan mereka. Ketika mereka melihat
Paningron, meka yang lain sama sekali tidak penting bagi mereka sebab
mereka tahu, bahwa Paningron adalah seorang perwira dari jabatan rahasia di
Demak.
Bulan yang bulat mengapung di langit dengan sangat lambatnya. Namun
pasukan-pasukan pengawal Baginda tiba-tiba menjadi ribut. Mereka segera
berlari-lari kedalam barak masing-masing untuk mengambil senjata mereka.
Paningron telah menjatuhkan perintah, supaya mereka bersedia menghadapi
setiap kemungkinan.
"Kekuatan mereka jauh lebih besar dari kekuatan kita," berkata Paningron
kepada para pemimpin Demak.
Tetapi seorang perwira Wira Tamtama menanggapinya dengan sebuah senyum.
Katanya di dalam hati, "Apakah yang dapat dilakukan oleh orang-orang pedesaan?"
Orang itu sama sekali tidak mau memikirkannya lagi.
"Besok mereka akan aku musnahkan," katanya. Orang itu adalah Tumenggung
Prabasemi. Seorang perwira Wira Tamtama yang terlalu menyadari
kelebihan-kelebihan yang ada pada dirinya. Malam itu semua prajurit siap
ditempatnya. Beberapa penjaga selalu mondar-mandir mengawasi keadaan.
Sedang yang lain beristirahat untuk menanti, apakah tugas yang akan mereka
lakukan besok pagi.
Namun senjata-senjata mereka telah melekat di tangan. Ketika matahari mulai
membayang di pagi dini hari, maka mulai membayang pulalah ketegangan di
wajah para prajurit Demak dan setiap orang dalam laskar Banyubiru.
*Bersambung*,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
*(@Ww/tris)*🧡🧡🧡
Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:
Posting Komentar