Dari: "hernowo mengikatmakna"
> WRITING 2.0: Menulis tapi TIDAK untuk menjadi Penulis?
>
> Oleh Hernowo
>
>
>
>
>
> Apa yang terbayang di benak Anda tentang "Writing 2.0"? Apakah pada saat ini—atau, mungkin, masih akan tersedia beberapa tahun lagi—ada sebuah "mesin"—atau, sebutlah, "gadget"?—canggih yang ketika Anda sentuh kemudian pikiran Anda dapat mengalir ke "mesin" tersebut? "Mesin" itu kemudian dapat menampung pikiran Anda yang berisi tentang sebuah materi berbentuk artikel tentang siapa presiden RI yang baru yang akan terpilih pada Pemilu 2014? Mula-mula pikiran Anda tersebut hanya menyimpan inti gagasan milik Anda dan kalimat-kalimatnya masih berantakan. Ketika diterima oleh sang "mesin", sang "mesin" pun mengolah dan kemudian menata pikiran Anda menjadi sebuah artikel yang sistematis, rapi, dan indah. Apabila "mesin" tersebut dihubungkan dengan "printer", "printer" pun dapat mencetak artikel Anda tersebut. Apakah "Writing 2.0" adalah sebuah proses yang demikian itu?
>
>
>
> Bisa jadi, "mesin" itu adalah model terbaru smartphone atau tablet seperti iPad yang dilengkapi dengan sebuah transformator canggih. Tentu saja kita tidak tahu secara persis karena "mesin" itu memang belum ada. Hanya, sah-sah saja kita membayangkan adanya model aplikasi yang dapat mengeluarkan pikiran kita menjadi sebuah tulisan yang sudah jadi dan dapat dibaca dengan enak dan mengalir. Sebagaimana news reader, aplikasi untuk menulis ini pun dapat membantu diri kita mengorganisasi pikiran dan menatanya sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi syarat untuk dapat disebut sebagai tulisan yang berbentuk artikel opini, feature, makalah, cerita pendek, atau bentuk-bentuk tulisan yang lain. Betapa menyenangkannya kegiatan menulis jika dapat dibantu oleh sebuah "mesin"? Mungkin agar bayangan tentang keberadaan "mesin" tersebut agak realistis, syarat penting agar pikiran dapat diolah dan ditata lewat "mesin" tersebut menjadi sebuah tulisan adalah pentingnya dihadirkannya terlebih dahulu sebuah gagasan.
>
>
>
> Kita tidak akan membahas tentang gagasan dalam "Writing 2.0" ini. Bagi saya, gagasan adalah pikiran yang sudah matang dan solid. Pikiran tersebut mewakili keunikan diri seseorang. Inilah yang diolah dan ditata oleh sang "mesin". Jika seseorang yang ingin menulis sebuah artikel itu tidak punya gagasan, "meisn" itu tetap dapat memproses namun yang dihasilkan hanyalah susunan kata-kata hampa. Mungkin dapat dibaca. Hanya, seperti sayur tanpa garam—tulisan itu tidak ada rasanya. Bagaimana menghadirkan gagasan? Apakah tidak ada "mesin" yang dapat membantu diri kita menciptakan gagasan? Jika ada "mesin" yang dapat menciptakan gagasan, aspek kemanusiaan pun menjadi musnah. Gagasan adalah ciri bahwa diri kita adalah manusia—yang, tentu saja, berbeda dengan mesin. Gagasan menjadikan diri kita sebagai "makhluk bahasa". Gagasan meneguhkan eksistensi kita sebagai makhluk yang berpikir.
>
>
>
>
>
> Baik. Mengapa saya tiba-tiba menulis tentang "Writing 2.0"? Rasa-rasanya tak lengkap jika saya tak menulis topik "Writing 2.0" setelah "Reading 2.0". Namun, adakah "Writing 2.0"? Dahulu saya pernah ingin membuat aplikasi bernama "Writing Toolbox" (Kotak Perkakas untuk Menulis). Saya ingin sekali menulis dapat dilakukan oleh siapa saja dengan ringan, mudah, dan menyenangkan. Dalam aplikasi tersebut saya mengusulkan lima "perkakas" untuk memecahkan problem menulis dan membangkitkan semangat menulis. Kelima "perkakas" tersebut adalah, AMBAK, mengikat makna, free writing, mindmapping, dan bahasa (perkakas kelima ini tidak terkait dengan tata bahasa melainkan lebih kepada bagaimana seseorang memperkaya dirinya dengan kata-kata lewat membaca). Apakah aplikasi tersebut sempat tercipta modelnya? Tidak. Menulis, ternyata, tak sekadar berkaitan dengan pemecahan problem menulis dan pembangkitan semangat untuk memulai menulis. Menulis lebih kompleks daripada itu. Menulis itu mencipta—awalnya mencari, mengolah, dan akhirnya menemukan sebuah gagasan (lihat di atas).
>
>
>
> Kini, pada akhir 2013, saya punya satu lagi gagasan tentang menulis yang masih mentah dan saya istilah sebagai "Menulis tapi TIDAK untuk menjadi Penulis". Gagasan ini, sekali lagi—sebagaimana gagasan yang dikandung "Writing Toolbox"—untuk membuat siapa saja dapat melakukan kegiatan menulis dengan ringan, mudah, dan senang. Saya ingin kegiatan menulis yang saya usulkan ini tidak menjadikan pelakunya sebagai seorang penulis. Kenapa? Dia tetap menjalankan kegiatan menulis tetapi tidak apa yang dilakukannya itu tidak untuk menghasilkan karya tulis. Dia menulis untuk merasakan pelbagai manfaat menulis. Dia menulis untuk, terutama, memperbaiki kinerja dirinya. Gagasan saya ini tentu tidak mudah dipahami oleh pembaca tulisan saya kali ini. Kejelasan gagasan saya akan tampak jika nanti saya sudah menguraikan secara satu per satu apa saja yang saya sebut "karya yang dapat memperbaiki kinerja seseorang" itu.
>
>
>
> Dalam bahasa lain, mungkin dapat dikatakan seperti ini: Saya ingin menunjukkan secara praktis bagaimana memanfaatkan menulis untuk memberdayakan diri. Sekali lagi, saya ingin menulis dapat dilakukan oleh siapa saja sesuai kadar yang dimiliki orang tersebut. Di mana saya akan menjelaskan lebih rinci hal ini? Saya akan membentuk satu lagi "grup menulis" di Facebook. Lewat grup tersebut, pertama, saya ingin menunjukkan pelbagai manfaat menulis (yang sudah saya jalani dan alami) dan manfaat tersebut akan saya tularkan kepada orang lain. Kedua, saya akan membimbing orang yang berpraktik menulis—sebagaimana yang saya lakukan—lewat pertanyaan-pertanyaan agar yang saya bimbing benar-benar dapat merasakan manfaat kegiatan menulis yang dilakukannya. Dan, ketiga, saya akan menciptakan beberapa topik terkait dengan gagasan "Menulis tapi TIDAK untuk menjadi Penulis". Nah, beberapa topik yang sudah ada di kepala saya saat ini adalah hal-hal berikut ini:
>
>
>
>
>
> Menulis untuk "membuang" pikiran yang menekan, menyesakkan, dan membebani (merujuk ke riset psikolog Dr. James W. Pennebaker)
> Menulis untuk "mengenali" diri (merujuk ke gagasan novelis Ursula K. Leguin)
> Menulis untuk "menata" pikiran yang kacau atau semrawut (merujuk ke riset ahli linguistik Dr. Stphen D. Krashen)
> Menulis untuk "mengeluarkan" pikiran orisinal (merujuk ke gagasan Dr. Rhenald Kasali)
> Menulis untuk "mengikat" hal-hal penting dan berharga yang diperoleh dari membaca (merujuk ke konsep "mengikat makna")
> Menulis untuk "menggali" gagasan yang tersembunyi di dalam pikiran (merujuk ke gagasan Rendra)
> Menulis untuk "menangkap" gagasan yang berkelebat (merujuk ke gagasan Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a.)
> Menulis untuk "merumuskan" sesuatu di dalam pikiran yang masih terpecah-pecah, berantakan, dan ambyar (merujuk ke gagasan Jean Piaget tentang konstruktivisme)
> Menulis untuk "mengomunikasikan" kedalaman dan kelengkapan pikiran (merujuk ke gagasan Haidar Bagir)
> Menulis untuk "membuka dan menunjukkan" sesuatu di dalam pikiran agar tampak jelas, jernih, dan tertata
> Menulis untuk "berpikir" secara cermat, detail, dan berpegang pada referensi yang sangat kuat
> Menulis untuk "mengait-ngaitkan" berbagai hal yang ada di dalam pikiran
> Menulis untuk "mengendalikan" amarah dan kekesalan
> Menulis untuk "menjelaskan" secara gamblang tentang apa yang sedang dipikirkan
> Menulis untuk "mengungkapkan dan memahami" perasaan
> Menulis untuk "menangkap dan merumuskan" secara cepat gagasan yang berkelebat di dalam pikiran
> Menulis untuk "membebaskan" pikiran dari segala hal
>
>
>
> Apakah itu model "Writing 2.0"? Saya tidak tahu. Semoga di tahun baru, 2014, nanti saya akan dapat lebih baik dalam membangun dan merumuskan gagasan saya tersebut. Siapa tahu dengan embrio yang masih belum terbentuk dan mentah seperti ini, saya dapat menemukan sesuatu yang berbeda dan baru dalam berkegiatan menulis.[]
>
Tidak ada komentar:
Posting Komentar