12.08.2013

Visi bukan Bunga Tidur


Dari: "A.Syauqi Yahya"

> Visi bukan Bunga Tidur
> OPINI
> Wisnu Sudiro
> 19 November 2010 | 06:43
>
> Pernah baca novel Sang Pemimpi karya Andre Hirata? Bagus yak? Kita disuguhi perjuangan anak melayu bersahaja memperjuangkan mimpi kuliah di Perancis. Kita diinspirasi agar berani bermimpi dan gigih mengejarnya serta bersedia membayar berapapun harganya. Maka, seperti yang dikatakan Arai: "Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu. Dan, "Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia", tulis Andrea Hirata.
>
> Jumat, 19 November 2010. Kita sudah di ujung tahun 2010. Kita sudah melahap 10 bulan lebih di 2010 untuk mengejar mimpi maupun menghabiskannya untuk bermimpi. Mimpi seperti pedang bermata dua, bahkan trisula bermata tiga. Ia bisa menjadi pemacu semangat yang membuat kita terus bergerak. Ia bisa menjadi candu yang membuat kita merasa "fly" membayang-bayangkannya, sambil berharap-harap Jin dari Timur Tengah datang mengabulkan dalam sekejab. Ia juga bisa menjadi senjata makan tuan, yang mengejar-ngejar pemiliknya hingga makan tak enak tidur pun tak nyenyak.
>
> Semuanya tergantung diri masing-masing. "Mimpi" yang benar seyogyanya merupakan kata manis dari "visi", bukan "bunga tidur". Sebuah visi adalah sebuah langkah besar. Mari kita memulainya dengan langkah pertama, lalu langkah kedua, dan langkah-langkah nyata selanjutnya. "Mulai dari hal-hal yang bisa kita lakukan" nasehat Mario Teguh. Agar kita tak sekedar bermimpi tanpa aksi dan agar Tuhan yakin bahwa kita ingin sekali. "Tapi jangan selalu mendongak ke atas, sering-seringlah menengok ke bawah" nasehat ibu penulis. Agar hati pandai bersyukur dan tak melulu dikejar ambisi serta lupa dengan saudara yang kurang mampu.
>
> Dalam novel Maryamah Karpov, Andre Hirata menulis "Maka di negeri ini, para pemimpi adalah pemberani. Mereka Kesatria di tanah nan tak peduli. Medali harus dikalungkan di leher mereka." Kita musti sepakat, bahkan medali emaslah yang harus dikalungkan di leher para pemimpi yang berani bertindak nyata di bumi pertiwi yang hampir poranda. Mereka yang memulai proyek-proyek perbaikan kecil tanpa banyak omong besar. Toh, kita sudah disumpeki banyak ahli debat yang hanya bisa unjuk gigi tanpa mampu membuat perbaikan. Maka, mari simak nasehat founding fathers Indonesia, Muhammad Natsir,: "Disini, diperlukan daya cipta para pemimpin untuk ber-ijtihad, diperlukan pekerja lapangan tanpa nama, tanpa mau dikenal khalayak ramai dan bersedia meniadakan diri"
>
>
> http://sosbud.kompasiana.com/2010/11/19/visi-bukan-bunga-tidur/-12
>
> --

Tidak ada komentar:

Posting Komentar