Dari: "Daniel H.T."
>
>
> http://politik.kompasiana.com/2013/12/07/bakal-capres-rhoma-irama-lain-di-bibir-lain-di-hati-616314.html
>
> Rhoma Irama (Kompas.com)
> Lain di mulut lain di hati. Itulah yang bisa dibaca dalam beberapakali pernyataan Rhoma Irama mengenai dirinya yang rencananya hendak dijadikan calon presiden oleh Partai Kebangkinan Bangsa (PKB).
> Sudah beberapakali dia mengatakan bahwa dirinya sama sekali tidak berambisi menjadi presiden. Tetapi, bersamaan dengan itu dia terus menyibukkan dirinya bersama PKB dan Ketua Umumnya Muhaimin Iskandar, untuk secara berkesinambungan mengaktualkan dirinya sebagai calon presiden dari parpol itu. Setiap undangan acara on-air, maupun off-air yang topik pembicaraannya tentang rencana pencapresannya, selalu dihadirinya.
> Bahkan ketika PKB belum membuat pernyataan baik resmi, maupun tidak resmi bahwa mereka akan mengusung Rhoma sebagai calon presiden mereka di Pilpres 2014 itu, Rhoma sendiri yang sudah lebih dulu mengatakan dia akan maju sebagai capres melalui PKB (Kompas.com, 03/12/2013).
> Sebelum itu, di Juli 2013 lalu, Rhoma pernah menyatakan diri sudah positif sebagai calon presiden yang akan diusung PKB. "Rhoma Irama adalah capres dari PKB. Saya sudah positif diusung dari PKB sejak 2 April 2013," kata Rhoma ketika itu (Kompas.com).
> Pernyataan itu sempat dibantah PKB. Namun, PKB kemudian menyatakan ketertarikannya kepada Rhoma meski belum memastikan calon presiden yang akan diusung.
> Kalau benar-benar tak berambisi, tentu saja dia akan menolak ketika dijadikan salah satu bakal calon presiden dari PKB, oleh karena itu dia tidak perlu sibuk ke sana ke mari untuk mempublikasikan dirinya sebagai bakal calon presiden seperti sekarang ini. Tetapi, yang dia lakukan adalah sebaliknya. Begitu giat dan aktif mengikuti berbagai acara yang bertopik calon presiden untuk dirinya itu. Setiap pertanyaan tentang pencapresanya di respon dengan penuh antusias yang berujung pada pernyataan bahwa dia layak menjadi presiden.
> Contoh sosok yang benar-benar tak berambisi menjadi presiden adalah Gubernur DKI Jakarta, Jokowi. Yang berulang kali menyatakan dirinya tidak punya keinginan untuk menjadi presiden, karena saat ini dia hanya mau konsentrasi membenahi Jakarta.
> Jokowi benar-benar konsisten dan konsekuen dengan pernyataannya itu: Tidak ada suatu kegiatan pun yang dilakukan Jokowi yang mengjurus kepada perihal pencapresannya. Ketika ada wawancara, dia pun sudah mengwanti-wanti lebih dulu, jangan ada satu pertanyaan pun yang menyingung soal pencapresannya. Meskipun demikian di berbagai hasil survei, elektabilitasnya terus saja meningkat jauh melebihi semua orang yang berambisi menjadi presiden.
> *
> Rhoma Irama juga salah dalam memaknai arti hakiki dari kata "ambisi." Ambisi, sesungguhnya mempunyai makna yang positif. Setiap manusia yang ingin sukses, di bidang apapun, harus punya ambisi. Ambisi menyerupai bahan bakar paling utama agar seseorang itu terpicu, mempunyai motivasi besar untuk bekerja sekeras-kerasnya untuk meraih target kesuksesannya. Hanya orang yang mempunyai ambisi untuk sukses besarlah yang bakal mencapai pencapaian prestasi yang tinggi dalam kehidupannya.
> Tanpa ambisi, manusia akan menyerupai kendaraan bermotor tanpa bahan bakar. Lesu, malas-malasan untuk bekerja, karena tidak punya motivasi. Orang seperti ini akan selalu menjadi beban bagi orang lain di perusahaan manapun, dan kalau dia menjadi pejabat di pemerintahan, akan menjadi beban bagi masyrakat, menjadi beban bagi bangsa dan negara. Karena dia tidak punya ambisi apapun, maka dia tidak punya motivasi apapun untuk bekerja. Dia akan bekerja asal-asalan asalkan setiap bulan mendapat gaji, gaji buta.
> Seorang pejabat negara harus mempunyai ambisi besar agar dia sukses dalam menjalankan tugas jabatannya itu, dengan target untuk mensejahterakan sebanyak mungkin masyarakat yang dipimpinnya. Kalau dia presiden dia harus punya ambisi besar agar bisa membawa rakyatnya hidup dalam berkeadilan, aman, sejahtera, makmur sentosa. Menjadi bangsa dan negara yang disegani dunia internasional.
> Contoh kongkritnya adalah ambisi besar Jokowi-Ahok untuk membangun Jakarta Baru. Tanpa ambisi untuk memasang target itu, maka mereka pasti tidak akan termotivasi untuk bekerja keras seperti saat ini untuk membawa Jakarta yang benar-benar baru seperti target yang telah mereka tetapkan tersebut.
> Yang negatif adalah jika seseorang itu tidak bisa, atau tepatnya tidak mau mengukur dirinya sendiri, apakah antara ambisi yang dia punya itu selaras dengan kemampuan dirinya untuk mencapai ambisi itu. Karena dia tidak mau mengukur dirinya sendiri itu, maka apapun yang akan dia lakukan demi bisa mencapai ambisinya itu akan dijalani, termasuk hal-hal yang irasional dan konyol sekali pun. Dalam peribahasa disebut: "Bagaikan katak yang ingin menjadi lembu."
> Yang berbahaya juga adalah jika ambisi itu adalah ambisi demi kepuasan pribadinya, atau ambisi berlandasakan ideologi yang bertentangan dengan Pancasaila dan UUD 1945. Karena mengejar jabatan demi kepuasaan pribadi, hanya akan melahirkan penguasa yang korup. Ambisi memimpin negara dengan landasan ideologi yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945 hanya akan membawa malapetaka kehancuran bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini.
> Pancasaila dan UUD 1945 adalah rangkaian mata rantai kuat yang mempersatukan negara ini yang terdiri dari berbagai suku bangsa yang sangat pluralis, baik dari segi suku bangsa, budaya, etnis, maupun agama.
> *
> Sosok yang tidak layak menjadi seorang pemimpin adalah jika dia terhadap dirinya sendiri saja tidak bisa jujur. Apalagi terhadap rakyatnya.
> Dalam bincang-bincangnya dengan sejumlah wartawan, Kamis (05/12/2013) di Hotel Sari Pacific, Jakarta Pusat, Rhoma Irama kembali mengatakan bahwa dia sama sekali tidak berambisi menjadi presiden. Bahkan, katanya, jabatan presiden itu adalah musibah baginya.
> "Kalau seandainya saya ditakdirkan jadi presiden, saya bukan alhamdulillah. Tapiinna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Jabatan presiden itu musibah!" ujar Rhoma.
> Tetapi segera kelihatan ketidakkonsistensinya itu, lain di bibir lain di hati. Bahwa sesungguhnya Rhoma Irama itu sudah lebih dari sekadar ambisi untuk menjadi presiden. Dia sudah benar-benar "kebelet" untuk dimuliakan sebagai seorang presiden. Rhoma melanjutkan kata-katanya dengan mengatakan, "Tapi tugas seorang presiden itu adalah tugas yang mulia. Oleh karena itu saya harus menerimanya."
> Tetapi, kemudian katanya lagi, "Presiden itu bukan sebuah jabatan untuk bertolak pinggang, aksi bermegah-megah. Saya tidak berambisi."
> Jadi, mana yang benar sebenarnya? Mana yang seharusnya kita pegang dari pernyataan-pernyataannya itu: tidak berambisi menjadi presiden, tetapi ingin menjadi presiden? Menjadi presiden adalah sebuah musibah, sebuah "inna lillahi wa inna ilaihi raji'un ", atau suatu jabatan yang mulia? Banyak komentar pembaca di beritaKompas.com ini menulis, "Rhoma Irama benar, ini musibah. Yakni, musibah bagi negara ini kalau sampai Rhoma menjadi presiden."
> Saat ini, mungkin Rhoma Irama setiap malam bermimpi sudah menjadi presiden, obsesinya sudah mencapai ubun-ubun kepalanya, tetapi di alam bawah sadarnya, sebenarnya dia juga sangat khawatir bahwa kemungkinan besar mimpinya itu tak mungkin terjadi. PKB hanya main-main, parpol ini akan batal mengusungnya sebagai capres mereka. Oleh karena itu dia berusaha untuk lebih dulu menghibur diri sendiri, agar kuat dan siap menerima ketika kelak mimpi indah itu menjadi fakta terburuk.
> Maka itu, dia berkata lagi bahwa karena dia tidak memiliki ambisi menjadi presiden atau calon presiden, dia tidak akan terbeban jika kemudian PKB batal mengusungnya.
> "Misalnya PKB menelikung saya, saya tidak akan punya beban. Saya ikhlas," kata si Raja Dangdut. Perhatikan istilah yang dia pakai: Jika PKB menelikung saya …." Belum apa-apa PKB sudah dipandang dengan penuh curiga, dengan menggunakan sebutan yang kurang layak terhadap "kawan politiknya".
> Tetapi, barangkali di dalam hatinya, dia akan mengumpat PKB: "PKB itu sungguhterlalu!" ***
> Sumber Berita: Rhoma Irama: Jabatan Presiden Itu Musibah
>
Tidak ada komentar:
Posting Komentar